----- Original Message -----
From: "yudith intanwidya"

Hhhmmmm.... berita yg bagus untuk motivasi berkarya.... ayo siapa lagi yg
mau mengikuti langkah Harianto Wijaya?? Kita juga bisa kan?? Kita juga
manusia, punya rasa punya hati...hehehe. Gak nyambung.....

Mohammad Syarwani  wrote:  Genius Medan di belantara jerman

Jarang-jarang ada pemuda punya segerobak prestasi, bahkan di Jerman pula.
Pemuda itu adalah Harianto Wijaya, asal Medan, Sumatra Utara. Usia Ian
demikian panggilannya baru 25 tahun. Namun sebentar lagi ia meraih gelar
doktor informatika di Jerman. Bahkan, dua temuannya di bidang teknologi
informatika telah dipatenkan di sana.

Sebelumnya pada juli 2000. Ian menjadi orang asing pertama yang memperoleh
green card di negara diesel itu. Dengan izin khusus itu, ia boleh bekerja
sekaligus membawa keluarganya bertempat tinggal di Jerman. Berbeda dengan
green card versi Amerika Serikat, yang diberikan bagi semua lapisan, izin
khusus di Jerman itu hanya dianugrahkan kepada orang asing yang punya skill
tinggi di bidang hi-tech. Karya pertama Ian yang dipatentkan itu dimilikinya
bersama Pro. Dr. Ing. B. Walke, dosen pembimbingnya semasa kuliah di
Rheinisch Westfalische Technische Hochschule (RWTH), Aachen. Temuannya
merupakan terobosan baru di bidang wireless local area network. Dengan
temuan itu, berbagai sistem komunikasi yang berbeda standar dapat
dioperasikan pada frekuensi dan tempat yang sama, tanpa saling mengganggu.
Temuan itu juga dilengkapi kemampuan Multi-Hop, yang menjadikan jangkauan
pengiriman data yang lebih jauh.

Adapun paten kedua dimilikinya bersama Siemens, salah satu perusahaan
seluler besar di dunia. Temuannya berupa feature atau algoritma yang dipakai
oleh wireless modem hardware untuk melakukan scanning (pemindaian) terhadap
channel frekuensi tertentu. Dengan temuan itu, kondisi interfensi terhadap
sistem komunikasi lain bisa diketahui. Dari hasil pemindaian itu pula,
wireless modem dapat memilih modulasi yang paling optimal untuk kondisi
channel frekuensi tadi. Hasilnya, wireless modem dapat menjamin quality of
service optimal untuk program aplikasi-aplikasi yang menggunakan wireless
medium (udara) sebagai medium pengirim data.

Sayangnya, Ian enggan menyebutkan nilai jual patennya itu. Ian yang saat ini
sudah delapan bulan menempuh program doktor, hanya memberikan sekadar
gambaran. Pada paten kedua, misalnya, bila Siemens menjual lagi kepada vendr
lain, diperkirakan harga jualnya bisa ratusan ribu DM, atau miliaran rupiah.

Saat ini, Ian sedang menggarap proyek yang bertujuan memadukan keunggulan
dua sistem Hiperlan/2 dan IEEE 802.11. Selama ini Hiperlan dikenal sebagai
wireless mobile communication system terbaik, yang menjamin kualitas untuk
aplikasi suara, data dan video bagi pengiriman lewat udara. Sistem ini
bahkan jauh lebih baik dari tandingannya IEEE 802.11 (wireless ethernet),
yang distandarisasi di AS. Sayangnya, Hiperlan perlu complexity circuit
hardware yang rumit, sehingga ongkos produksinya relatif tinggi.

Untuk kerja 65 jam per minggu pada proyek ini, Ian beroleh penghasilan
sekitar US$ 43 ribu per tahun. Angka ini tergolong kecil. Sebab, ia peroleh
tawaran dua kali lipatnya dari perusahaan Amerika.

Sumber : Tempo




Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke