Sumbar sebagai industri Otak harus membuat "differentiation strategy". Contoh: Kalau seseorang ingin menjadi businessman/pedagang yang sukses dia akan pilih untuk kuliah di FE Unand. Karena FE Unand tidak hanya megajarkan konsep-konsep teori saja tapi juga pendekatan praktek dimana si Mahasiswa akan dihadapkan dengan kasus-kasus dunia nyata berbisnis/berdaganag seperti bagaimana mengurus kredit, mengurus izin dagang, mendirikan perusahaan dsb.
Kalau ingin belajar perhotelan ngak usah ke Swiss tapi cukup di Sumbar (Bukittinggi) Kalau ingin mendalami tata busana di Sumbar (Bukittinggi) bisa, malahan bisa belajar bordir sekalian. Kalau ingin ahli dibidang tataboga, tdk perlu harus ke Paris, di Bukittinggi juga bisa. Selain dari memikirkan industri otak. Sumbar harus juga mutar otak untuk menjadi pusat industri Parawisata yang benar-benara di persiapakan secara matang. Kalau keadaan sekarang kita lihat Sumbar "menjadi" pusat wisata terjadi secara alamiah, tidak ada upaya serius dan terprogram dari Pemda dimana sarana dan prasarana wisata yang ada, ada dengan seadanya atau tumbuk diluar control Pemda, berakibat banyak peluang pemasukan daerah yang hilang misalnya, atau berpalingnya investor ke daerah lain. Mudah-mudahan otak disumbar sudah tidak mahal lagi tapi sudah murah karena terlalu banyak diasah. Salam, dn ----- Original Message ----- From: <[EMAIL PROTECTED]> To: <[email protected]> Cc: <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Friday, November 18, 2005 1:45 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Mempertanyakan Industri Otak di Sumbar > Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh, > > Diambiak dari Singgalang, paganti pangingek kalau lupo. > Wassalam, syb. > > > Updated, Jumat 18 November 2005 l > Mempertanyakan Industri Otak di Sumbar > > ANEH kedengarannya. Sumatra Barat mengembangkan industri otak. > Kenyataannya bukan demikian. Otak itu tidak bisa dibuat dalam sebuah > industri. Maksudnya adalah Sumatra Barat bertekad melahirkan tokoh-tokoh > cerdas. Hal ini adalah untuk mengimbangi kekurangan Sumber Daya Alam > (SDA). > > Jika Sumber Daya Manusianya (SDM) kuat, daerah itu pasti maju. SDA > adalah faktor kedua. Contohnya Jepang dan Singapura. Kelemahan Indonesia > selama ini kaya SDA, miskin SDM yang berkualitas. > > Khusus Sumbar, miskin SDA. Tidak ada minyak atau perkebunan besar yang > menonjol serta Industri seperti Riau dan Jambi. Untuk itu dunia > pendidikan harus dimajukan. Persoalan kita adalah, cerita industri otak > itu belum terbukti. Peringkat Sumbar dalam dunia pendidikan, jauh di > bawah rata-rata nasional. > > Adalah menyedihkan kita, ketika suratkabar ini kemarin memberitakan, > "Ratusan gedung SD rusak" di Sumbar. Bukti bahwa kita belum menyesuaikan > kata dengan perbuatan. Pada satu sisi menyebut industri otak, pada sisi > lain sarana dan prasarananya tidak dibenahi dengan baik. Kita khawatir, > karena fisiknya seperi itu, tentulah guru-gurunya tidak bergairah pula > mengajar. Ujung-ujungnya kualitas pendidikan juga akan rendah. Sementara > di daerah lain sekarang mulai SD sudah diperkenalkan komputer, kita > lokal belajar saja tidak nyaman. > > Melihat kenyataan di lapangan dan hasil prestasi belajar di Sumatra > Barat selama ini, kita berharap pemerintah meninjau kembali tentang > industri otak ini. Mungkin dalam konsep ataupun program pendidikan > Sumatra Barat, arah dan tujuan yang telah di promosikan semenjak 20 > tahun terakhir ini sudah benar. Tetapi semuanya itu, terkesan wacana > saja. > > Untuk itu harus ditinjau kembali pola pikir dan mental pejabat yang > selama ini di satu sisi mulutnya bicara soal industri otak, ternyata > prilakunya ada yang menjadikan dunia pendidikan sebagai proyek, > seakan-akan tak bertanggungjawab terhadap dunia pendidikan ini. > > Untuk itu Sumbar sebagai daerah yang pernah melahirkan tokoh-tokoh > nasional dan punya nama internasional, seperti Proklamator Bung Hatta, > H.Agus Salim, Tan Malaka, Buya Hamka dan banyak lagi nama-nama lainnya, > harus mengevaluasi kembali tentang penanganan dunia pendidikan secara > utuh. > > Arah atau konsep fikiran untuk dunia pendidikan itu sudah benar, dengan > menyebut Sumbar sebagai industri otak. Yang meleset itu adalah > prateknya. Anggaran pendidikan di setiap APBD baik provinsi maupun > kabupaten dan kota cendrung dinaikkan, tetapi mungkin tak tepat sasaran. > Dana yang ada bukan untuk peningkatan kualitas pendidikan secara > langsung, tetapi mungkin untuk mobilitas dan biaya perjalanan pejabat. > Ini contoh saja, yang perlu dievaluasi. > > Soal industri otak untuk Sumbar seharusnya tidak isapan jempol. Atau > angan-angan, bagaikan pungguk merindukan bulan. Alasannya, semenjak dulu > kualitas pendidikan di Sumbar ini dikenal baik. Selain melahirkan > tokoh-tokoh berkualitas, Sumbar juga mengirim guru ke Malaysia , dan > propinsi tetangga seperti Riau dan Jambi. > > Tetapi, sekarang Sumbar tertinggal. Bayangkan Jambi kini sedang > memproklamirkan program sejuta Doktor dan Riau sedang memprogramkan > untuk staf pengajar SLTA adalah S-2. Jelas dan tegas programnya. Sumbar, > bagaimana dengan industri otaknya?** > > > Website http://www.rantaunet.org > _____________________________________________________ > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: > http://rantaunet.org/palanta-setting > ____________________________________________________ Website http://www.rantaunet.org _____________________________________________________ Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting ____________________________________________________

