Ambo porowaikkan artikel nandisampaikan Angku Abrar dari Pek Baruah Ausie.
Kalau ambo caliak sumbernyo postiang ko muncul dari dari mailing list 
http://groups.yahoo.com/group/CahayaIslam/
Salam,
--MakNgah

---------------------------- Original Message ----------------------------
Subject: [Cahaya Islam] Menjajal Australia dengan Jilbab
From:    "Sulastri Surono" <[EMAIL PROTECTED]>
Date:    Tue, November 22, 2005 3:35 pm
To:      [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------------------

Maaf kemaren di milis ini saya attach artikel, tapi attachment nya tidak
nyantel atau apakah milis cahayaIslam tidak bisa menerima attachment?
Mohon informasi. But anyway, dengan senang hati saya kirim lagi. Wass
Sulastri Menjajal Australia dengan Jilbab




Syahrani Azmi Rahim
Mahasiswa Curtin University of Technology di Perth, Australia Barat

The Sunday Times yang terbit di Perth, Australia Barat, mengangkat cerita
menarik untuk disimak pada edisi Ahad, 13 November 2005. Surat kabar
mingguan itu menempatkan cerita tersebut di headline. Judulnya bombastis:
''Move Away from the Bomber'' (''Menjauhlah (jaga jarak) dari pengebom.'')

Siapakah yang dimaksud cerita itu sebagai pengebom? Tak lain dan tak bukan
adalah seorang wanita berpakaian Arab Muslim; semua bagian badan tertutup,
menggunakan jilbab (hijab), berpakaian longgar dan menggunakan cadar
(niqab) sebagai penutup muka. Pakaian yang khas orang Arab yang notabene
berkorelasi dengan Islam.

Namun ternyata, wanita yang terpampang besar fotonya di bagian headline
itu adalah wartawati The Sunday Times, Louise Pemble. Dia menyamar menjadi
seorang Muslimah. Tujuannya, agar dia bisa merasakan sendiri bagaimana
menjadi seorang Muslimah dengan pakaian seperti itu dan melihat bagaimana
reaksi masyarakat Australia terhadapnya dengan pakaian tersebut.

Dengan pakaian seperti itu, Louise berkeliling kota Perth, utamanya di
tempat umum semacam pertokoan dan cafe. Tak banyak tempat yang ia
singgahi, tetapi tempat-tempat itu adalah tempat ternama bagi penduduk.
Sebut saja Northbridge, pertokoan di kawasan Hay street yang terletak di
jantung kota Perth. Semuanya dilakukan dengan mengendarai transportasi
umum semacam bus dan kereta.

Sebelum melaksanakan misinya ini, Louise meminta izin kepada Australian
Federation of Islamic Councils, organisasi Islam di Australia. Dia
direstui oleh badan itu untuk menjalankan misinya. Bahkan, masyarakat
Muslim Perth membantu dia untuk memakai baju yang pas untuknya. Bagaimana
reaksi masyarakat Australia khususnya di Perth?

Reaksi beragam
Dalam bagian lain tulisannya yang berjudul ''How it feels to be an
outsider'', Louise Pemble menulis dia merasakan berbagai macam cemohan,
celetukan, dan bisikan dari orang Australia. Tapi dia ternyata mendapatkan
kejutan karena masyarakat muda Australia wellcome terhadapnya. Yang
mencemooh dan menghina Louise adalah masyarakat yang lebih tua.

Hinaan yang datang cukup membuat kuping panas bagi seorang awam. Beberapa
celetukan yang ia peroleh dari orang-orang tua (elderly people) antara
lain ''stupid woman'' yang berarti ''wanita bodoh''. Puncaknya ketika dia
mendapat cemohan dari wanita berusia lanjut dengan berkata seperti di
headline surat kabar itu: ''move away from the bomber.''

Saat mengunjungi tempat-tempat umum di Australia, Louise Pemble menulis
reaksi masyarakat terlihat berlebihan dalam melihatnya, memandangnya, dan
mengamatinya. Seolah-olah, ketika wanita itu lewat, daerah tersebut
menjadi 'siaga I'.

Dalam tulisan Louise yang menarik itu, dia menceritakan pernah mendengar
bahwa ada seorang Muslimah yang ketika berada di sebuah pusat perbelanjaan
bernama Carousel, mendapat perlakuan buruk. Misalnya diludahi, dilecehkan,
bahkan ada yang sampai ditarik dan dirobek jilbabnya. Disamping berbagai
hinaan dan cemohan yang ia terima, secara mengejutkan ketika berada di
kereta, Louise ditawari tempat duduk oleh seorang penumpang. Di kereta
itu, ia diterima oleh orang-orang di dalamnya. Padahal, hal yang ia
pikirkan saat itu adalah kemungkinan sebagian besar orang berpikir bahwa
Louise akan melakukan bom bunuh diri dengan pakaian seperti itu. Tetapi
ternyata tidak begitu adanya.

Di dalam akhir tulisannya, Louise menyampaikan kesannya terhadap misinya
ini. Dia menulis, sisi positif berada di dalam pakaian Muslimah seperti
itu adalah sebuah ''kebebasan''. Kebebasan dalam artian dia tidak menjadi
perhatian hanya karena tubuh dan rambutnya. Namun sisi negatifnya, dengan
berpakaian seperti itu, keamanan dan kenyamanan diri menjadi tidak pasti.

UU Antiteroris
Memang, akhir-akhir ini isu terorisme, undang-undang anti-terorisme baru
di Australia, Islam, dan berbagai macam pernak-perniknya menjadi
perbincangan utama yang dominan. Belum lagi ditangkapnya beberapa Muslim
di Melbourne dan Sidney yang menjadikan masyarakat Australia ketakutan dan
terjadi beberapa diskriminasi. Padahal, jangankan orang Australia,
masyarakat Islam awam sebagai manusia biasa di manapun berada, juga takut
akan terorisme. Terlepas dari itu semua, tak dapat dipungkiri bahwa Islam
saat ini adalah indentik dengan terorisme, bom, bahkan bom bunuh diri. Itu
terjadi karena ketidaktahuan masyarakat dunia dan begitu gencarnya media
dalam mengumandangkan terorisme atas nama sebuah agama. Padahal, teroris
adalah tetap bernama teroris yang menjadi musuh semua agama, termasuk
Islam.

Sebagai contoh kesalahpahaman yang terjadi adalah dalam memaknai jihad
yang berarti ''perang''. Padahal, jihad adalah ''bersungguh-sungguh dalam
melakukan sesuatu''. Belajar bersungguh-sungguh adalah jihad seorang
pelajar. Bapak yang bekerja bersungguh-sungguh adalah melalukan jihad.
Seorang ibu yang memasak bagi seluruh anggota keluarganya itu juga jihad.
Yang dibutuhkan saat ini oleh Islam (termasuk di Australia) adalah seorang
marketer (pemasar) Islam yang andal, tangguh, dan pandai membaca selera
dunia saat ini, yang tentunya cerdas dalam membaca consumer behaviour.
Marketer dalam arti religious and spiritual marketer, dan bukan business
marketer. Marketer itu harus diterima semua agama termasuk aliran-aliran
dalam Islam. Marketer yang toleran dan selalu sejuk di hati manusia karena
memang begitulah aslinya Islam.

Memang tidak mudah mencari figur itu. Tetapi setidaknya, perbuatan sekecil
apapun yang bisa kita lakukan hendaknya kita lakukan demi terciptanya
Islam yang damai dan sejuk. Ini menjadi tugas kita semua, karena
sebetulnya kita semua adalah marketer bagi produk yang ada di diri kita:
keyakinan kita dan tentunya masyarakat kita.


-- 
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.1.362 / Virus Database: 267.13.4/175 - Release Date: 11/18/2005



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke