DIPREDIKSI BEBERAPA TAHUN KEDEPAN BIM MASIH MERUGI .
   
  
  Oleh : Zul Amry Piliang ( * )
   
  
  Bandara baru yang megah dikawasan Sumatera bagian tengah telah diresmikan 
beberapa waktu yang lalu , bandara baru ini diberi nama dengan Minangkabau 
Internasional Airport ( BIM ) Biaya yang telah dikeluarkan untuk pambangunan 
bandara baru tersebut menurut laporan media masa lebih kurang 1 trilyun rupiah 
. Sebagian besar dana tersebut didapat dari loan pemerintah Jepang dalam bentuk 
pinjaman lunak . Namun demikian dana yang berupa pinjaman tersebut harus 
dibayar oleh pemerintah Indonesia dengan cicilan dalam bebarapa tahun kedepan 
sesuai kesepakatan . Setelah proyek selesai maka team inter Dep terdiri dari 
DEP HUB , Dep Keu , BPK , BPKP akan menghitung nilai riel hasil proyek bandara 
tersebut , dan akan ditetapkan jumlah kekayaan atau asset yang akan diserahkan 
kepada AP II sebagai penyertaan modal pemerintah dalam perusahaan pengelola 
bandara tersebut . Ada beberapa hasil proyek bandara yang akan diserahkan 
assetnya kepada instansi lain diluar AP II seperti Fuel Farm ( pengisian
 bahan bakar pesawat ) akan diserahkan kepada Pertamina dan jalan masuk ke 
dalam lokasi bandara tentunya akan diserahkan kepada Dinas Pekerjaan Umum Pemda 
Sumbar . Saya tidak tahu persis total asset yang ada di bandara BIM ini , dan 
apakah nilai 1 trilyun tersebut telah termasuk biaya pembebasan tanah yang 
begitu luas . Apabila asset telah diserahkan kepada AP II sebagai pengelola , 
maka mau tidak mau untuk beberapa tahun kedepan AP II dalam hal ini bandara BIM 
sudah mulai menganggarkan biaya cicilan kepada pemerintah berupa biaya 
penyusutan dan amortisasi . Taroklah asset yang diserahkan sebesar 600 milyar , 
berupa tanah , landasan , gedung , peralatan M&E serta Elektronika , maka 
setiap tahun AP II bandara Minangkabau akan menyisihkan pendapatan sebesar 60 
milyar rupiah kalau saja penyusutan / amortisasi ditetapkan 10 tahun , makin 
lama perhitungan penyusutan , maka semakin kecil pula cicilan yang menjadi 
beban BIM , umpamanya 20 tahun ataupun 30 tahun , tapi tak kan lebih dari 50
 tahun . Perlu diingat menghitung biaya penyusutan sesuatu asset berbeda antara 
satu jenis barang atau alat . Misalnya tanah , tidak akan dihitung biaya 
penyusutan cuma nilainya ditetapkan berdasarkan NJOP saat perolehan , gedung 
dan bangunan adalah 20 tahun , peralatan elektronika 5 - 10 tahun . Dan itu 
baru merupakan satu beban biaya belum lagi yang lain-lain antara lain biaya 
pegawai , biaya perawatan , biaya persediaan dan paling tidak diperlukan 
sedikitnya hampir 100 M untuk biaya rutin . Sekarang marilah kita tinjau 
pendapatan BIM kalau dilihat dari asumsi jumlah penumpang yang berangkat dan 
pergerakan pesawat pertahun , karena dari dua hal inilah BIM akan meraup 
pendapatan terbesar . Hampir seluruh bandara di Indonesia mengandakan 
pendapatannya dari penerimaan aeronautika yang terdiri dari PJP ( terbang 
lintas ) , PJP2 (Airport Tax ) dan PJP4 ( pesawat mendarat & parkir ) dari 
ketiga hal diatas akan memberikan kontribusi hampir 80 % dari seluruh 
pendapatan bandara , sedangkan
 20 % nya diperoleh dari pendapatan non aero seperti sewa - sewa , parkir 
kendaraan , konsesi dll . Dilihat dari demand yang ada sebagaimana yang 
disampaikan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa dalam pidato pengantar peresmian 
bandara baru tersebut , bahwa BIM akan melayani 1,5 juta orang penumpang 
berangkat pertahun serta 14600 pergerakan pesawat setahun / setara 40 pesawat 
perhari (bandingkan dengan Kansai Internasional Airport di Jepang sesuai data 
th 1998 yakni 30 juta penumpang dan 160.000 pergerakan pesawat pertahun Dengan 
tariff PJP2 bandara BIM yang diberlakukan saat ini untuk penumpang dalam negeri 
Rp 25.000 dan Rp 75.000 untuk penumpang luar negeri , maka BIM akan memperoleh 
pemasukan sebesar 45 milyar setahun ditambah penerimaan dari PJP 4 dan 
penerimaan non aero , maka BIM akan membukukan pendapatan yang diperkirakan 
hanya 75 M setahun . Berdasarkan asumsi diatas maka kemungkinan besar BIM untuk 
5 atau 10 tahun kedepan belum akan memberikan keuntungan alias masih merugi dan
 baru akan bisa meraih keuntungan apabila penumpang telah mencapai 2,5 - 3 juta 
orang dan nantinya diikuti pula penambahan/peningkatan aircraft movement . Dan 
kerugian yang dialami BIM ini tidak perlu merisaukan Pemda ataupun Pemkab , 
karena seluruh kerugian BIM akan disubsidi silang oleh bandara lain dibawah 
pengelolaan AP II yang telah meraup keuntungan seperti bandara Soekarno Hatta 
dan Polonia Medan . Inilah salah satu missi dari keberadaan Ap II sebagai 
pengelola bandara didaerah disamping mancari profit juga punya tugas untuk 
mengembangkan wilayah dimana bandara tersebut berada baik dibidang ekonomi , 
pariwisata dan pembangunan lain . BIM boleh merugi , namun efek domino yang 
terjadi di Sumbar dengan keberadaan BIM ini sangat "luar biasa" baik dibidang 
ekonomi , pariwisata dan peningkatan PAD dimana bandara tersebut berada .
  
   
   
  ( * ) Mantan Karyawan Bandara Ngurah Rai tinggal di Bali .
   


                
---------------------------------
 Yahoo! Music Unlimited - Access over 1 million songs. Try it free.
Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke