http://www.kompas.com/kompas-cetak/0511/29/sumbagut/2251875.htm


Dari Perang Paderi sampai Fort de Kock


Khaerudin

Jika saja tidak ada Perang Paderi (1821-1837) mungkin tidak pernah ada kerancuan penamaan dalam sejarah Kota Bukittinggi. Sebab, gara-gara Belanda membangun benteng perlindungan di dekat tempat yang sekarang jadi pusat Kota Bukittinggi, maka kota yang terletak di ketinggian 909-914 meter di atas permukaan laut itu juga sempat dinamai Fort de Kock.

Nama Belanda ini sebenarnya digunakan untuk wilayah di sekitar benteng perlindungan. Bentengnya sendiri diberi nama Sterreschans, yang berarti bintang pelindung. Lantas apa hubungan Perang Paderi dengan sejarah Bukittinggi? Kalau dilihat benteng ini dibuat mengarah ke wilayah Pasaman atau Bonjol yang jadi salah satu pusat kekuatan kaum paderi, ujar sejarawan dari Universitas Andalas, Zulqoyyim.

Semuanya memang bermula dari konflik antara kaum adat dan kaum agama (paderi). Kata paderi sendiri sebenarnya bukan dari bahasa asli Minang, melainkan dari bahasa Portugis yang berarti orang suci atau pendeta.

Perebutan pengaruh antara kaum adat dan kaum ulama/paderi di ranah Minang ini kemudian mengundang intervensi Belanda. Kaum adat yang kalah pengaruh mulai meminta bantuan kepada Belanda.

Perang ini kan dipicu oleh mulai hilangnya pengaruh penghulu nagari setelah kaum ulama ikut masuk mengurus nagari. Sebelumnya ulama yang juga para pedagang ini hanya punya kekuasaan di surau. Untuk berdagang ke pedalaman, jalur-jalur perdagangan ini dikuasai para penghulu nagari sehingga ulama ini terpaksa harus membayar pajak. Jika ulama ikut mengurus nagari, tentu dia tidak perlu lagi membayar pajak untuk berdagang, ujar Zulqoyyim.

Tinjauan lain tentang terjadinya Perang Paderi, menurut Zulqoyyim, adalah keinginan ulama untuk memperluas kekuasaannya hingga ke luar surau. Sehingga ulama juga ikut memengaruhi kebijakan nagari. Kalau hanya berkuasa di surau, maka ulama tidak akan bisa melarang perjudian atau hal-hal yang dilarang agama lainnya yang dilakukan di luar surau. Dengan masuk dalam struktur nagari, ulama juga ikut membuat kebijakan, tutur Zulqoyyim.

Seperti cerita sejarah lain di Nusantara ini, bantuan Belanda tidak pernah gratis. Dalam buku Dinamika Pemerintahan Lokal Bukittinggi (2004) disebutkan, Belanda diberi pinjaman tanah ulayat suku Kurai yang menguasai Kanagarian Kurai Limo Jorong. Kanagarian ini termasuk dalam Luhak Agam. Luhak sebenarnya hanya wilayah imajiner yang terdiri dari beberapa nagari. Ada tiga luhak di ranah Minang ini, yakni Luhak Agam, Luhak Tanah Datar, dan Luhak Lima Puluh Koto.

Maka tak salah jika Bukittinggi itu disebut sebagai Koto Rang Agam, kotanya orang Agam, ujar salah seorang tokoh masyarakat Bukittinggi, Asmara Hadi.

Kanagarian Kurai Limo Jorong ini wilayahnya persis seperti wilayah Bukittinggi sekarang. Kedatangan Belanda membangun benteng di wilayah Kanagarian Kurai Limo Jorong ini memicu terjadinya perubahan tata pemerintahan. Belanda tentu saja tidak tunduk dalam hukum adat yang dijalankan penghulu Nagari Kurai Limo Jorong, meski mereka tinggal dalam wilayah adat suku Kurai.

Komersialisasi Bukittinggi

Belanda menamai wilayah di sekitar benteng Sterreschans dengan nama panglima seluruh angkatan perang Hindia Belanda di Batavia, Jendral De Kock. Dengan demikian, wilayah di sekitar benteng itu dikenal dengan nama Fort de Kock. Jadi, Fort de Kock bukan penamaan untuk benteng yang dibangun Belanda, tetapi penamaan wilayah di sekitar benteng Sterreschans yang jadi penyangga kehidupan di dalam benteng.

Nah, pada tahun 1820 para penghulu adat suku Kurai mengadakan pemufakatan di sebuah tempat yang namanya Bukik Kubangan Kabau. Lokasinya tidak jauh dari benteng. Bukik Kubangan Kabau merupakan pusat perekonomian atau pasar bagi masyarakat Kurai.

Pemufakatan ini bermaksud untuk mengganti nama Bukik Kubangan Kabau menjadi Bukik Nan Tatinggi. Tidak pernah ada catatan sejarah mengapa penghulu suku Kurai ingin mengubah nama Bukik Kubangan Kabau. Bukik Nan Tatinggi inilah yang seterusnya disebut Bukittinggi. Jika diamati, Bukik Kubangan Kabau memang tempat tertinggi di antara bukit-bukit yang ada di sekitarnya.

Perubahan nama ini lebih karena persoalan komersial saja. Nama Bukik Kubangan Kabau kan kurang terdengar bagus, meski daerah itu dulunya memang padang penggembalaan kerbau. Bukik Nan Tatinggi terdengar lebih enak di telinga. Untuk lebih memudahkan penyebutannya orang kemudian mengucapkannya Bukittinggi, kata Zulqoyyim.

Dengan demikian, Pasar Kurai pun berubah namanya menjadi Pasar Bukittinggi. Belanda, di sisi lain juga menggunakan nama Pasar Bukittinggi untuk menyebut pusat kegiatan ekonomi di Fort de Kock.

Sebenarnya jasa Belanda-lah yang membuat Bukittinggi berkembang menjadi kota seperti sekarang. Setelah Perang Paderi usai, Belanda menjadikan Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan, pusat pendidikan, dan perdagangan, kata Zulqoyyim.

Belanda secara administrasi memakai nama Fort de Kock, sementara orang Minang lebih suka menyebut Bukittinggi. Mungkin dalam semangat antikolonialisme yang besar, salah seorang proklamator republik ini, Mohammad Hatta, dalam memoarnya menyebut dengan tegas, Aku dilahirkan di Bukittinggi. Hatta dilahirkan di Bukittinggi pada 12 Agustus 1902.

Meski perjanjian Plakat Panjang tahun 1833 dianggap Belanda sebagai titik tolak penguasaan mereka terhadap daerah pedalaman Minang, namun orang Minang hanya menganggap perjanjian tersebut sebagai izin bagi Belanda berdagang di pedalaman, tutur Zulqoyyim.

Secara psikologis, menurut Zulqoyyim, orang Minang tidak merasa terjajah oleh Belanda. Meski kenyataannya memang berbeda karena dalam administrasi formal Belanda menyebut Fort de Kock untuk Bukittinggi. Namun orang Minang tetap menyebutnya sebagai Bukittinggi. Baru setelah Jepang, nama Bukittinggi benar-benar menggantikan nama Fort de Kock.

Bukittinggi sekarang

Selain benteng Sterreschans yang masih berdiri megah, tidak banyak kesan yang bisa dilihat dari Bukittinggi sebagai salah satu kota kolonial di Indonesia. Seperti di kota lain, jamak terjadi bangunan bersejarah yang mestinya menjadi city heritage tidak lagi tampak gagah seperti pada masanya dulu.

Sebenarnya ada 25 titik yang kami jadikan semacam situs pelestarian budaya. Kantor polisi, kantor Dinas Pendidikan yang lama serta gedung SMA 3 Bukittinggi sebenarnya merupakan bangunan-bangunan lama yang tetap dipertahankan ujar Kepala Kantor Pariwisata Bukittinggi Nasrul Fitra.

Hanya saja jika kita mau berjalan kaki sepanjang Jalan Perwira atau Jalan Sudirman masih terlihat beberapa bangunan tua peninggalan Belanda. Selebihnya, layaknya kota perdagangan di Indonesia, Bukittinggi mulai banyak ”dihias” oleh rumah-rumah toko (ruko). Tentu saja ini tidak selaras dengan arah kebijakan pengembangan Bukittinggi sebagai kota pariwisata. Bukittinggi ini luasnya hanya 25 kilometer persegi. Semua obyek wisata yang ada di sini bisa ditempuh dengan berjalan kaki, kata Nasrul.

Beruntung salah satu hotel bintang empat yang ada di kota ini, Hotel Novotel, yang terletak tak jauh dari lokasi Jam Gadang land mark Bukittinggi dibangun dengan arsitektur gaya kolonial. Jika saja semua bangunan baru di Bukittinggi ini disesuaikan dengan gaya lama arsitektur kota Bukittinggi, niscaya akan semakin menarik, ujar Nasrul.

Belanda memang tidak salah pilih ketika mengembangkan Bukittinggi sebagai pusat pemerintahan. Letaknya yang berada di tengah wilayah tiga luhak di ranah Minang menjadikan Bukittinggi sebagai kota perlintasan untuk kota-kota di sekitarnya.

Sebagai pusat perdagangan sekarang ini, Bukittinggi oleh orang Minang disebut Tanah Abang kedua. Komposisi penduduknya pun bukan hanya suku Kurai. Daya tarik sebagai pusat perdagangan membuat Bukittinggi dihuni banyak pendatang. Sekarang orang Bukittinggi akan dengan bangga mengatakan, Belum ke Sumatera Barat kalau belum ke Bukittinggi.




Z Chaniago - Palai Rinuak -http://palairinuak.blogspot.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke