Warga Rantau Yth.
Ambo katangah-an bara buah profile urang-urang nan di 'format' caro awak.
Mudah-mudahan bisa diambiak 'benang merah' nan bisa mambuek urang-urang tu
dihormati dari segi ilmu dan agama. Sebagian sangajo ambo ambiak urang nan
bukan 'pribumi' minang, tapi labiah banyak diakui keminangan-nya.
Semoga bisa bermanfaat.
ETHS Katik Sati (33 taun 11 bulan)
Di komplek Kompas Ciputat.
 
P.K. OJONG
Salah Satu Pendiri "Kompas"

Sebagai kuli tinta, sejak awal usia 30-an, Peng Koen Auwjong (kelak dikenal
sebagai P.K. Ojong, salah satu pendiri Kelompok Kompas - Gramedia) sudah
dihadapkan pada pilihan rumit: berpena tajam atau dibredel. Salah satunya:
idealisme tak boleh berjalan sendirian, tapi harus didampingi kecerdasan,
kepiawaian berusaha, dan watak nan indah. Jika tidak, bersiap-siaplah
menjadi martir.

Sejak lahir di Bukittinggi, 25 Juli 1920, dengan nama Peng Koen Auw Jong,
Ojong sudah dikaruniai anugerah tak terkira. Kelak, meski sudah menjadi
juragan tembakau, trilogi hemat, disiplin, dan tekun tetap dipedomani
keluarga besar (11 anak dari dua istri; istri pertama Jong Pauw meninggal
setelah melahirkan anak ke-7. Peng Koen anak sulung dari istri kedua) yang
menetap di Payakumbuh ini. Saat Peng Koen kecil, jumlah mobil di Payakumbuh
tak sampai sepuluh, salah satunya milik ayahnya.

Artinya, mereka hidup berkecukupan. Tapi, Sang Ayah, Jong Pauw selalu
berpesan, nasi di piring harus dihabiskan sampai butir terakhir. Sampai
akhir hayat, Peng Koen tak pernah menyentong nasi lebih dari yang kira-kira
dapat dihabiskan. Ojong mempunyai enam anak, empat di antaranya laki-laki.

P.K. Ojong saat bersekolah di Hollandsch Chineesche School (HCS, sekolah
dasar khusus warga Tionghoa) Payakumbuh. Di masa ini, ia berkenalan dengan
ajaran agama Katolik. Beberapa waktu kemudian, dia masuk Katolik dan
mendapat nama baptis Andreas. Ia gemar membaca koran dan majalah yang
dilanggani perkumpulan penghuni asrama. Kalau murid lain cuma memperhatikan
isi tajuk rencana, Auwjong menelaah juga cara penulisan dan penyajian
gagasan. Sifat-sifat itu membentuk karakter Auwjong. Kebiasaan hemat
membuatnya hati-hati dan teliti. Disiplin dan tekun membentuk dia jadi orang
yang lurus dan serius.

Dari guru ke wartawan

Walau sejak di HCK Meester Cornelis dia sudah mulai menulis, pekerjaan
pertama Auwjong adalah guru. Mudah dimengerti karena HCK memang sekolah
calon guru. Dia memilih HCK karena biayanya murah. Kebetulan, kondisi
keuangan keluarganya sepeninggal sang ayah tahun 1933 tidak terlalu
baik.Selulus HCK pada Agustus 1940, ia mengajar di kelas I Hollandsch
Chineesche Broederschool St. Johannes di kawasan Jakarta Kota. Saat Jepang
menyerbu Hindia Belanda, sekolah-sekolah ditutup. Seperti guru-guru lain,
Auwjong kehilangan mata pencaharian. Tamatlah kariernya di bidang
pendidikan. Waktu bergulir, Auwjong makin lihai memainkan pena. Kepercayaan
besar datang, menyusul pengangkatannya sebagai redaktur pelaksana Star
Weekly. Di tengah kesibukan mencari berita, dia menyempatkan diri menimba
ilmu di Rechts Hoge School (RHS), kini Fakultas Hukum Universitas Indonesia.

Dia juga aktif membantu kegiatan berbau sosial yang diadakan Sin Ming Hui
(kini Candra Naya), perkumpulan sosial yang didirikan Khoe Woen Sioe dan
Injo Beng Goat. Sin Ming Hui didirikan untuk menyalurkan ketidakpuasan
mereka pada para pemuka Tionghoa yang tua-tua dan kaya-raya. Khoe dan Injo
merasa para pemuka itu tidak membela orang-orang yang diwakilinya.

Khoe dan Injo dikenal sebagai duo antikomunis. Injo Beng Goat bahkan pernah
berpidato di corong RRI, menganjurkan golongan Tionghoa selalu mendukung RI.
Kelak, Sin Ming Hui menjadi pencetus lahirnya sejumlah organisasi sosial, di
antaranya RS Sumber Waras dan Universitas Tarumanegara, Jakarta.

Tahun 1951, Auwjong lulus RHS. Ia segera diangkat menjadi pemimpin redaksi
Star Weekly.  Ia meminta para ahli menulis tentang masalah yang hangat. Saat
Amerika meledakkan bom hidrogen, misalnya, Auwjong mencari orang yang bisa
menjelaskan secara populer kepada pembaca. Agar ceritanya tidak terlalu
ilmiah, dia menyiapkan dulu pertanyaan-pertanyaan yang lazim muncul di benak
awam, kemudian menerjemahkan keterangan rumit si ahli tadi. Auwjong sangat
ahli dalam soal seperti ini. Sebagai pengasuh rubrik tetap, dipilih mereka
yang benar-benar ahli. Umpamanya, ruang pajak diasuh Mr. Sindian
Djajadiningrat, Direktur Jenderal Iuran Negara saat itu. Sedangkan Prof.
Poorwo Soedarmo, dokter ahli gizi yang memperkenalkan konsep "Empat Sehat
Lima Sempurna", mengasuh ruang gizi.

Auwjong termasuk kutu buku 

Auwjong termasuk kutu buku. Buku hariannya penuh judul buku, tanggal, dan
harga pembeliannya. Bahkan, selama perjalanan berangkat atau pulang kantor
pun ia memelototi bacaan. Dari koleksi bukunya, tercermin luasnya minat
Auwjong. Mulai yang berbau hukum, sejarah, kesenian, kesusasteraan,
kebudayaan, sosiologi, sains, jurnalistik, filsafat, cerita kriminal,
psikologi, tanaman, kesehatan, hingga buku masakan. Cerita tentang Perang
Eropa dan Pasifik yang dimuat Star Weekly tahun 1950-an merupakan buah
kesukaan Auwjong membaca. Sebagai pimpinan majalah yang cukup disegani,
Auwjong tak bisa menutup mata dari aktivitas berbau politik. Akhir 1953, dia
termasuk orang yang prihatin pada nasib golongan Tionghoa peranakan yang
terancam kehilangan kewarganegaraan Indonesianya.

Waktu itu, pemerintah membuat RUU yang menganggap peranakan Tionghoa di
Indonesia memiliki kewarganegaraan rangkap. Kalau mau menjadi WNI, mereka
harus aktif menolak kewarganegaraan RRC. Aturan ini sangat tidak
menguntungkan buat peranakan Tionghoa yang tinggal di pelosok dan tidak
terpelajar. Puncaknya, dalam pertemuan di Gedung Sin Ming Hui, berkumpul
sejumlah tokoh peranakan Tionghoa, di antaranya Siauw Giok Tjhan, Tan Po
Goan, Tjoeng Tin Jan, Tjoa Sie Hwie (keempatnya angota parlemen), Yap Thiam
Hien, Oei Tjoe Tat.

Mereka membentuk panitia yang bertugas meneliti masalah kewarganegaraan
Indonesia bagi keturunan Tionghoa dengan Siauw Giok Tjhan, (anggota
parlemen) menjadi ketua. Panitia ini juga melahirkan Badan Permusyawaratan
Kewarganegaraan Indonesia (Baperki).

Bersama sembilan tokoh peranakan Tionghoa lainnya (di antaranya Injo Beng
Goat dan Onghokham) dia menandatangani pernyataan berisi dukungan terhadap
proses asimilasi, namun mengimbau agar prosesnya berjalan tanpa paksaan.

Dibredel, malah jadi direktur

Pada saat bersamaan, isi Star Weekly makin menasional. Kalau tadinya edisi
khusus hanya untuk menyambut Tahun Baru Imlek, maka kemudian ada edisi Idul
Fitri, 17 Agustus, bahkan hari Kebangkitan Nasional. Sampai tahun 1958,
tirasnya sudah 52.000; angka yang mengesankan. Itu berkebalikan dengan nasib
Keng Po. Pada 1 Agustus 1957, surat kabar antikomunis itu diberangus
pemerintah tanpa alasan jelas. Namun bisa diduga, pembredelan ini tak lepas
dari peran PKI yang saat itu besar pengaruhnya di pemerintahan. PT Keng Po
mengubah nama menjadi PT Kinta (kependekan dari kertas dan tinta).

Itu sebabnya, Auwjong jadi makin hati-hati. Rubrik "Gambang Kromong" yang
berisi sentilan dihilangkan. Sedangkan "Timbangan" berganti nama menjadi
"Intisari". Benar, Star Weekly tak luput dari peringatan. Rubrik "Tinjauan
Luar Negeri", misalnya, kerap dianggap menyentil kebijakan luar negeri
Indonesia. Puncaknya, Auwjong dipanggil pihak yang berwenang. Satu kalimat
yang ia ucapkan sekembali dari sana ialah, "Wij zijn dood, "Kita semua
mati". Seisi kantor terdiam. Pemerintah tak pernah menyebut dengan jelas
alasan penutupan majalah bertiras 60.000 (hingga nomor terakhir, 7 Oktober
1961) itu.

Meski dibredel, Auwjong dan para karyawan tetap masuk seperti biasa. Khoe
Woen Sioe, direktur Keng Po dan pimpinan Star Weekly berusaha menyalurkan
mereka ke unit usaha lain. Khoe sadar, kepandaian sebagian besar anak
buahnya cuma tulis-menulis dan cetak-mencetak. Maka, didirikanlah PT Saka
Widya yang menerbitkan buku-buku. Sejak itu, Auwjong punya jabatan baru,
direktur perusahaan penerbitan buku.

LAHIRNYA "INTISARI" DAN "KOMPAS"

Saat PT Kinta dilanda kemunduran tahun 1963, Auwjong dan Jakob Oetama
menerbitkan majalah yang diniatkan untuk membebaskan masyarakat dari
keterkucilan informasi. sejak awal 1960-an, Auwjong dan Jakob keduanya
sama-sama menjadi pengurus Ikatan Sarjana Katolik Indonesia. Juga pernah
sama-sama jadi guru dan punya minat besar pada sejarah.

Seperti Star Weekly, Intisari melibatkan banyak ahli. Di antaranya ahli
ekonomi Prof. Widjojo Nitisastro, penulis masalah-masalah ekonomi terkenal
Drs. Sanjoto Sastromihardjo, atau sejarawan muda Nugroho Notosusanto. Saat
itu, pergaulan Auwjong sudah sangat luas. Dia berteman baik dengan Goenawan
Mohamad, Arief Budiman, Soe Hok Gie, dan Machfudi Mangkudilaga.

Intisari terbit 17 Agustus 1963. Seperti Star Weekly, ia hitam-putih dan
telanjang, tanpa kulit muka. Ukurannya 14 X 17,5 cm, dengan tebal 128
halaman. Logo "Intisari"-nya sama dengan logo rubrik senama yang diasuh
Ojong di Star Weekly. Edisi perdana yang dicetak 10.000 eksemplar ternyata
laris manis.

Kira-kira dua tahun umur Intisari, Ojong dan Jakob menerbitkan Harian
Kompas. Saat itu, hubungan antara Intisari dan Kompas mirip-mirip Star
Weekly dan Keng Po. Saling membantu, berkantor sama, bahkan wartawannya pun
merangkap. Setelah beberapa pengurus Yayasan Bentara Rakyat bertemu Bung
Karno, beliau mengusulkan nama "Kompas". Pengurus yayasan - I.J. Kasimo
(Ketua), Frans Seda (Wakil Ketua), F.C. Palaunsuka (Penulis I), Jakob Oetama
(Penulis II), dan Auwjong Peng Koen (bendahara) - setuju. Mereka juga
menyepakati sifat harian yang independen, menggali sumber berita sendiri,
serta mengimbangi secara aktif pengaruh komunis, dengan tetap berpegang pada
kebenaran, kecermatan sesuai profesi, dan moral pemberitaan. Sesuai sifat
Auwjong yang selalu merencanakan segala sesuatunya dengan cermat, kelahiran
Kompas disiapkan sematang mungkin.

Soalnya, modal awal mereka cuma Rp 100.000,-, sebagian uang Intisari. Maka,
28 Juni 1965 terbit Kompas nomor percobaan yang pertama. Setelah tiga hari
berturut-turut berlabel percobaan, barulah Kompas yang sesungguhnya beredar.
Seperti di Intisari, karena alasan politis, nama Auwjong tak dicantumkan di
jajaran redaksi.

Intisari dan Kompas membuat Ojong bersemangat. Pagi-pagi, sebelum pukul
06.30, dia sudah menjemput para karyawan dengan Opel Caravan. Di perjalanan,
Auwjong biasa mengajak mereka mengobrol. Pukul 07.00 Ojong sudah di kantor.
"Jangan datang pukul sembilan, kalau ingin karyawan datang pukul tujuh,"
cetusnya. Tapi Kompas sendiri awalnya sering terlambat terbit hingga
dijuluki komt pas morgen (besok baru datang).

Ketika terjadi peristiwa G30S/PKI, Ojong dan Jakob harus mengambil keputusan
di saat paling krusial. Pelaku kudeta baru mengeluarkan ketentuan, setiap
koran yang terbit harus menyatakan kesetiaan. "Jakob, kita tidak akan
melakukannya. Sama saja ditutup sekarang dan mungkin juga menderita sekarang
atau beberapa hari lagi," tegas Ojong.

Pilihan ini terbukti benar karena upaya PKI gagal total. Tanggal 6 Oktober,
semua koran yang tak pernah menyatakan setia pada upaya kup boleh terbit
kembali. Keruan saja, dalam kondisi langka koran, Kompas mulai dilirik.
Beberapa hari kemudian, saat koran-koran mapan terbit kembali, banyak
pembaca tetap membeli Kompas, karena telanjur mencintai surat kabar yang
baru mereka kenal ini.

Ojong tidak pernah berambisi membuat korannya bertiras paling tinggi. "Biar
orang lain saja yang oplahnya paling besar. Kita menjadi nomor dua terbesar
saja," katanya. Menjelang akhir hayat, Ojong mulai sadar cara kerja orang
lain tak harus sama dengannya. Tak semua orang bisa bekerja sepanjang hari
tanpa berhenti sebentar pada saat-saat tertentu untuk beroleh kesegaran
baru.

Tak heran, kematiannya 31 Mei 1980 terasa begitu "mudah". Begitu mendadak,
tanpa didahului sakit yang menyiksa. Barangkali memang cuma wartawan "lurus"
yang bisa begini, meninggal dengan benda kesayangan (buku) di sampingnya.

Dipetik Dari: Cuplikan perjalanan hidup Petrus Kanisius Ojong, Helen Ishwara
dalam buku P.K. Ojong: Hidup sederhana, Berpikir Mulia (2001).



Website http://www.rantaunet.org
_____________________________________________________
Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
____________________________________________________

Kirim email ke