Assalamu'alaikum WW
Sekadar manukuak dan manambah...., di Nagari Sungai Batang, Maninjau,
Kecamatan Tanjung Raya...ado babarapo buah musajik nan mengabadikan keluarga
Besar Buya HAMKA... nan pertamo sabuah Mesjid bergaya Klasik Minangkabau di
Jorong Nagari , banamo Mesjid Amrullah... di lidah rang Minang biaso dieja
Musajik Amarullah....namo iko mengabadikan Syekh Muhammad Amrullah nan
marupokan kakek ("babo" dalam bahasa Minang dialek Sungai Batang), nan kaduo
adolah Musajik Inyiak De Er barado di Batuang Panjang..kiro-kiro 2 km
sasudah Musium Tampek Kelahiran Buya Hamka (rumah bako).. musajik iko baru
direbovasi dan salasai akhir tahun 2003... Mesjid Syech DR H Abdul Karim bin
Amrullah iko mengabadikan namo dari Bapak dari Buya HAMKA nan biaso
dipanggia Inyiak Dr... dan dalam babarapo tulisan juo ditulis dengan
HAKA....
Sekilas foto-foto tantang Musium Rumah Kelahiran Buya HAMKA, Mesjid
Amrullah, Makam Inyiak De-Er, dan Mesjid Amrullah...bisa diliek di
http://pg.photos.yahoo.com/ph/bada_masiak/my_photos......
bagi nan ingin file foto tsb dapek babisiak via japri.....
Wassalam
Z Chaniago - Palai Rinuak - http://palairinuak.blogspot.com
======================================================================
Alam Takambang Jadi Guru
======================================================================
>From: "ET Hadi Saputra" <[EMAIL PROTECTED]>
>
>Buya Hamka lahir 16 Februari 1908, di desa kampung Molek, Nagari Sungai
>Batang Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya), Kabupaten Agam, dan meninggal di
>Jakarta 24 Juli 1981. Nama lengkapnya adalah Haji Abdul Malik Karim
>Amrullah, disingkat menjadi Hamka.
>Untuk sampai ke nagari kecil di tepi danau dari Kota Padang bisa melalui
>Pariaman, berjarak sekitar 140 km ke utara. Atau bisa juga melalui
>Bukittinggi, kira-kira 50 km di sebelah barat. Dari Bukittinggi, sebelum
>sampai di Maninjau, Anda akan melalui jalan bertikungan tajam sebanyak 44
>kali.
>Rumah Buya tepatnya berada di Kampung Tanah Sirah, Sungai Batang, sebuah
>bangunan bercorak rumah adat Minangkabau berdiri di pinggir jalan menghadap
>ke barat, arah Danau Maninjau. Di rumah kayu berukuran 17 x 9 meter yang
>berdiri di areal sekitar 75 meter persegi.
>Ayahnya, Syekh Abdul Karim bin Amrullah adalah seorang ulama pembaharu
>Minangkabau. Bersama Abdullah Ahmad dari Padang, Karim menjadi orang
>Indonesia pertama yang memperoleh doktor honoris causa dari Universitas
>Al-Azhar, Mesir, karena kepakarannya dalam ilmu fiqih. Beliau lah pelopor
>Gerakan Islah (tajdid) di Minangkabau, sekembalinya dari Makkah pada tahun
>1906.
>
>Buya HAMKA melanjutkan kebesaran nama ayahnya. Mantan Ketua Majelis Ulama
>Indonesia (MUI) pertama tersebut, bukan saja menjadi ulama Indonesia, tapi
>juga dunia. Namanya begitu dihargai karena sulit mencari seorang ulama yang
>juga penyair, sastrawan, sekaligus ilmuwan seperti Buya.
>
>Kini, ratusan buku karangan HAMKA, semenjak novel fiksi Tenggelamnya Kapal
>Van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka'bah, sampai kepada buku filsafat
>seperti Tasauf Modern dan Falsafah Hidup bisa ditemui di museum rumah
>kelahiran Buya HAMKA tersebut. Tentu saja termasuk Tafsir Al-Azhar yang
>diselesaikan ketika Buya dipenjara tanpa alasan yang jelas oleh rezim
>Soekarno.
>
>Sayangnya, museum itu tak bisa menggambarkan bagaimana kiprah dan
>perjuangan
>penyair angkatan pujangga baru itu. Keterangan puluhan foto HAMKA yang
>dipajang di dinding museum tersebut bahkan banyak yang tak akurat. Foto
>HAMKA bersama mantan Ketua MPR/DPR Amir Machmud misalnya, ditulis: HAMKA
>bersama Hamir Marmut. Padahal, dalam sejarah akurasi amatlah penting.
>
>Selain foto bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan sejumlah tokoh, di sana
>terdapat foto Buya semenjak kanak-kanak, remaja, sampai foto lautan manusia
>mengantar jenazah Buya HAMKA ketika wafat pada 1981. Selain foto juga ada
>jubah, sarung, dan toga ketika Buya HAMKA dikukuhkan menjadi doktor honoris
>causa di Universitas Kebangsaan Malaysia dan Universitas Al-Azhar, Mesir.
>Juga ada foto yang menggambarkan kedekatan HAMKA ketika masih remaja dengan
>Muhammad Natsir, mantan Perdana Menteri dan Ketua Partai Masyumi kelahiran
>Alahan Panjang, Solok, yang aslinya juga berasal dari Maninjau.
>
>Di masa lalu, daerah selingkar danau itu memang menghasilkan banyak tokoh
>nasional. Selain Dr Karim Amrullah, HAMKA, dan Natsir, Maninjau juga
>melahirkan Rangkayo Rasuna Said, pejuang perempuan yang pidato-pidatonya
>amat ditakuti Belanda.
>
>ETHS & H. Makmur, dari berbagai sumber.
---------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
---------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Posting maksimum 100 Kb
- Attachment, ditolak oleh sistem
=========================================================