Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Walaupun tulisan itu intinya menerangkan latar belakang Bukittinggi, saya ingin menyoroti sedikit mengenai latar belakang Perang Padri yang dalam pandangan posting itu mengelirukan. Walaupun mungkin masih ada orang yang menganut paham itu, namun pendapat itu agaknya bertendensius yang perlu ditinjau kembali. Dalam salah satu paragraf berisi dua kalimat ini saja ada dua kekeliruan:

Semuanya memang bermula dari konflik antara kaum adat dan kaum agama
(paderi). Kata paderi sendiri sebenarnya bukan dari bahasa asli Minang,
melainkan dari bahasa Portugis yang berarti orang suci atau pendeta.

(1) "Perang Padri" tidaklah dimulai dengan "konflik antara kaum adat dan kamum agama". Inti Perang Paderi adalah penghidupan-kembali (revitalisasi) cara-cara beragama dalam Masyarakat Minangkabau yang pada saat itu sedang banyak dipengaruhi oleh hal yang jahil-jahil menyimpang dengan ajaran Agama Islam. Ide revitalisasi itu dibawa pulang dari Mekah ke Minangkabau oleh para pakar penggeraknya menurut contoh ide baru yang berkembang di Mekah pada waktu itu.

Dalam Perang Padri banyak terlihat kerjasama antara Penghulu dengan Tuanku. Contoh yang jelas dan kerjasama yang erat misalnya antara Haji Miskin dengan Datuk Batuah di Pandai Sikek. Tuanku Nan Renceh di Kamang membunuh eteknya sendiri bukanlah karena eteknya itu kaum adat, tetapi karena dianggapnya berbuat macam-macam yang berlawanan dengan ajaran agama Islam.

(2) Kata "padre" yang ucapannya "padri" yang artinya pendeta memang ada dalam kamus Bahasa Portugis, namun tidak ada sangkut paut keportugisan ini dengan latar belakang Perang Padri. Portugis ada di Melaka sekitar tahun 1511 bersamaan juga waktunya di Pulau Cingkuak (awal abad ke 16), sedangkan Perang Padri adalah pada penghujung akhir abad ke-17 dan awal abad ke -18. Kata "Padri" erat hubungannya dengan "Pedir" ("Pidie") di Aceh, kota pelabuhan tempat orang-orang Minangkabau berlayar ke Mekah dalam perjalanan untuk menunaikan Ibadah Haji.

Sekedar catatan untuk ditinjau-renungkan.

Bagi yang berminat memperdalam tinjauan mengenai Perang Padri itu, silakan pelajari:

Christine Dobbin
Islamic Revitalism in a Changing Peasant Society, Central Sumatra, 1784-1847. Scandinavian Institure of Asian Studies. First Published 1983, Reprinted 1987. Copyright Christine Dobbin 1983. Curzon Press Ltd. London and Malmo.

Salam,
MakNgah


44488
From: "Z Chaniago" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Tue Nov 29, 2005 10:33am
Subject: [EMAIL PROTECTED] Dari Perang Paderi sampai Fort de Kock [EMAIL 
PROTECTED]

<http://www.kompas.com/kompas-cetak/0511/29/sumbagut/2251875.htm>http://www.kompas.com/kompas-cetak/0511/29/sumbagut/2251875.htm


Dari Perang Paderi sampai Fort de Kock


Khaerudin

Jika saja tidak ada Perang Paderi (1821-1837) mungkin tidak pernah ada
kerancuan penamaan dalam sejarah Kota Bukittinggi. Sebab, gara-gara Belanda
membangun benteng perlindungan di dekat tempat yang sekarang jadi pusat Kota
Bukittinggi, maka kota yang terletak di ketinggian 909-914 meter di atas
permukaan laut itu juga sempat dinamai Fort de Kock.

Nama Belanda ini sebenarnya digunakan untuk wilayah di sekitar benteng
perlindungan. Bentengnya sendiri diberi nama Sterreschans, yang berarti
bintang pelindung. Lantas apa hubungan Perang Paderi dengan sejarah
Bukittinggi? Kalau dilihat benteng ini dibuat mengarah ke wilayah Pasaman
atau Bonjol yang jadi salah satu pusat kekuatan kaum paderi, ujar sejarawan
dari Universitas Andalas, Zulqoyyim.

Semuanya memang bermula dari konflik antara kaum adat dan kaum agama
(paderi). Kata paderi sendiri sebenarnya bukan dari bahasa asli Minang,
melainkan dari bahasa Portugis yang berarti orang suci atau pendeta.

Perebutan pengaruh antara kaum adat dan kaum ulama/paderi di ranah Minang
ini kemudian mengundang intervensi Belanda. Kaum adat yang kalah pengaruh
mulai meminta bantuan kepada Belanda.

Perang ini kan dipicu oleh mulai hilangnya pengaruh penghulu nagari setelah
kaum ulama ikut masuk mengurus nagari. Sebelumnya ulama yang juga para
pedagang ini hanya punya kekuasaan di surau. Untuk berdagang ke pedalaman,
jalur-jalur perdagangan ini dikuasai para penghulu nagari sehingga ulama ini
terpaksa harus membayar pajak. Jika ulama ikut mengurus nagari, tentu dia
tidak perlu lagi membayar pajak untuk berdagang, ujar Zulqoyyim.

Tinjauan lain tentang terjadinya Perang Paderi, menurut Zulqoyyim, adalah
keinginan ulama untuk memperluas kekuasaannya hingga ke luar surau. Sehingga
ulama juga ikut memengaruhi kebijakan nagari. Kalau hanya berkuasa di surau,
maka ulama tidak akan bisa melarang perjudian atau hal-hal yang dilarang
agama lainnya yang dilakukan di luar surau. Dengan masuk dalam struktur
nagari, ulama juga ikut membuat kebijakan, tutur Zulqoyyim.

... 

Internal Virus Database is out-of-date.
Checked by AVG Anti-Virus.
Version: 7.1.362 / Virus Database: 267.13.4/175 - Release Date: 11/18/2005
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke