Kok iyo bana berita ko,paralu nampaknyo kito-kito mencegahnyo.
Mari basamo-samo kito bangkik an batang nan tarandam di nagari awak ko.
HRM.Jambak *HRM.Jambak* Jl.Nipah III No.2 Petogogan Jakarta 12170
Indonesia [EMAIL PROTECTED]
http://www.kemahmarcomm.com tel:
mobile: (62-21) 7266372
(62-81) 1961908 *Add me to your address
book...*<https://www.plaxo.com/add_me?u=34359973389&v0=468438&k0=880806276&v1=0&k1=468439>
*Want a signature like this?* <http://www.plaxo.com/signature>
On 11/30/05, A Bandaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
> Kpd M Datuak Marah Bangso (pusri, plb) di ML Rantaunet.
>
> Posting iko sabana paralu dibaco dan penting diketahui.
> Sayang saketek judul di subjectno "Selamat jalan sanak ......"
>
> Dek karano paralu dibaco ambo rubah judul subjectno dan
> ambo postiangkan sakali lai kasadono,
> juo untuk konsumsi banuanet ( rang banuampu)
>
> Wass
> Mak Ban
> bgr
> ~~~~~~~~~~~
>
>
> > -----Original Message-----
> > From: Mulyadi
> > Sent: 28 Nopember 2005 10:58
> > To: [email protected]
> > Cc: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED];
> > [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]
> > Subject: Re: [EMAIL PROTECTED] Selamat jalan Sanak Irdam Syah
> >
> > Assalamualaikum,wr,wb.
> >
> > Sebuah rubrik yang diambil dari Harian Singgalang online hari ini.
> >
> > Wassalam,
> > HM Dt.MB (48,5 th)
> >
> > RATUSAN RUMAH GADANG TERANCAM ROBOH
> >
> > PADANG - Ratusan rumah gadang di Sumatra Barat terancam roboh. Apakah
> itu
> > juga sebagai pertanda adat di Minangkabau juga akan ambruk?Bangunan
> yang
> > diidentikkan sebagai lambang kebanggaan kaum itu saat ini berada dalam
> > berbagai kondisi, antara lain dinding dan tonggak dimakan rayap, atap
> > bocor
> > dan lainnya. Salah satu penyebabnya adalah anggota kaum merasa kurang
> > beruntung tinggal di rumah yang dibangun dengan gaya rumah panggung
> itu.
> > Mereka dipandang orang miskin dan tidak berdaya membangun rumah untuk
> > keluarga intinya. Akankah cerita 'Robohnya Surau Kami' karya A.A Navis
> > akan
> > mendapatkan versi baru menjadi 'Robohnya Rumah Gadang Kami' dengan
> penulis
> > baru menjadi dokumen sastra negeri ini? Berikut temuan wartawan
> Singgalang
> > dari beberapa daerah di Sumbar. Keberadaan rumah gadang yang nyaris
> roboh
> > banyak terdapat di Kabupaten Tanah Datar. Kendati kabupaten itu
> dijuluki
> > sebagai pusat budaya Minangkabau, rumah adat yang tidak terawat mudah
> > ditemukan di daerah itu. Sebutlah di Pagaruyung, minimal ada satu
> rumah
> > gadang dengan kondisi tanpa dinding dan atap bocor. Di Nagari Rao-rao,
> > Kecamatan Sungai Tarab, paling tidak ada tiga rumah gadang dengan
> kondisi
> > yang tak kalah memprihatinkan. Begitu juga di Kecamatan Lima Kaum, ada
> > sekitar dua rumah gadang terancam roboh. Sekitar tiga rumah gadang
> lagi
> > terdapat di Kumango. Di Nagari Padang Ganting dan Atar juga tidak
> kurang
> > puluhan rumah gadang terancam ambruk. Sekarang rumah tersebut hanya
> > digunakan sebagai gudang dengan kondisi lapuk dan atap bocor. Dari
> > pantauan
> > Singgalang, setidaknya setiap nagari yang berjumlah 75 nagari itu
> terdapat
> > satu rumah gadang yang terancam runtuh. Sementara di Kabupaten Solok
> > Selatan
> > yang dikenal dengan julukan seribu rumah gadang juga dilanda fenomena
> yang
> > sama. Kendati belum ada data riil tentang jumlah rumah gadang,
> berdasarkan
> > survey Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Solok Selatan, dari jumlah yang
> > mencapai ribuan itu, 5 persennya dalam kondisi rusak parah. Kabid
> > Dikporabud
> > Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Solok Selatan, Mukyar Muluk
> mengatakan,
> > sekitar 30 persen rumah gadang tidak didiami lagi, 55 persen dihuni,
> dan
> > 10
> > persen lagi dipakai sekali setahun. Menurut mantan Ketua KAN Pakan
> Rabaa
> > Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh (KPGD), Yuliar Dt. Rajo Salam,
> penyebab
> > tidak dihuninya rumah gadang salah satu faktornya perselisihan anggota
> > kaum.
> > Sementara Sekretaris Suku Durian Nan Limo Ruang, Drs. Firdaus Dt. Nan
> > Batuah
> > Majo Lelo, berpendapat lain. Ia menilai, terancam robohnya rumah
> gadang
> > adalah imbas kemajuan zaman. Rumah gadang dipandang tidak relevan lagi
> > sebagai tempat tinggal, karena tidak memiliki WC, kamar mandi dan
> > fasilitas
> > lainnya. Baik Yuliar maupun Firdaus berpendapat, dalam waktu dekat ini
> > rumah
> > gadang berpotensi punah. Pasalnya, ada imej yang terbangun di
> masyarakat
> > bahwa orang yang tinggal di rumah gadang adalah keluarga miskin.
> Selain
> > itu,
> > biaya perawatan rumah gadang tergolong besar nilai nominalnya dan
> ditambah
> > lagi dengan kurangnya kesadaran anggota kaum untuk melestarikan rumah
> > tersebut. Sedangkan Kabupaten Dharmasraya yang jumlah rumah gadangnya
> > mencapai 400 buah, separuhnya terancam ambruk. Kebanyakan rumah gadang
> itu
> > terdapat di Gunung Medan dan Pulau Punjung. Ada rumah tanpa penghuni
> dan
> > diselimuti semak belukar. Tetapi anehnya, kebanyakan rumah gadang di
> > daerah
> > itu malah dihuni oleh pendatang yang merantau ke sana. Rumah gadang
> > bukannya
> > dihuni oleh anggota kaum, melainkan orang lain yang mencari
> penghidupan di
> > sana. Sementara anggota kaum sendiri merasa terhina tinggal di rumah
> > gadang.
> > Pasalnya, tinggal di rumah gadang dianggap sebagai orang yang tidak
> > berdaya
> > secara ekonomi. Selain itu juga faktor gengsi, masyarakat lebih merasa
> > modern kalau tinggal di rumah yang berlantai keramik daripada tinggal
> di
> > rumah panggung.Di Kota Solok juga ditemukan sekitar 25 dari 75 rumah
> > gadang
> > dalam keadaan memprihatinkan. Seperti rumah gadang di tepi Jl. KTK.
> > Menurut
> > Ketua LKAAM Kota Solok, H. Yusril Dt. Khatib Pamuncak mengatakan,
> banyak
> > rumah gadang dengan keadaan yang menyedihkan. Setidaknya sebanyak 15
> rumah
> > gadang juga sedang direnovasi dengan perpaduan bangunan batu dan kayu
> > serta
> > tidak lagi beratap ijuak. Rumah gadang riskan hilang kalau tidak ada
> > kepedulian kaum untuk menyelamatkannya. Apalagi untuk membangun rumah
> > gadang
> > atau renovasinya butuh dana yang tidak kecil. Sekretaris LKAAM
> Kabupaten
> > Solok, Naspi Datuk Mudo Nan Itam mengatakan, setidaknya di Kabupaten
> Solok
> > terdapat 1.000 rumah gadang. Sebagiannya kondisi rumah tersebut masih
> > utuh,
> > namun sebagian besar lagi dalam keadaan rusak yang nyaris roboh.
> > Dindingnya
> > dimakan rayap dan atapnya kebanyakan bocor. Menurut Naspi, tradisi
> > merantau
> > adalah penyebab terlantarnya rumah gadang. Selain itu, perkembangan di
> > masyarakat, rumah gadang bukan lagi dijadikan tempat utama dalam
> > penyelesaian masalah keluarga maupun kaum. Kecenderungan lain, anak
> yang
> > sudah berkeluarga enggan tinggal di rumah gadang. Lebih suka membangun
> > rumah
> > sendiri meski lokasinya tak jauh dari rumah gadang. Rumah gadang yang
> > sekarang berada dalam tahap renovasi, antara lain di nagari
> Saningbakar,
> > terdapat 18 unit rumah gadang yang direnovasi yang biayanya berasal
> dari
> > pemerintah provinsi Sumbar. Di Kabupaten Sawahlunto Sijunjung rumah
> gadang
> > sudah banyak terlihat lapuk dan tidak terawat sehingga kondisinya
> terancam
> > roboh. Diperkirakan ada sekitar 300 unit rumah gadang di daerah yang
> > terkenal dengan julukan lansek manih itu. Salah satu penyebab terancam
> > robohnya rumah gadang tersebut adalah besarnya biaya perawatannya.
> > Sehingga
> > tidak salah rasanya kalau masyarakat setempat lebih memilih membangun
> > rumah
> > baru daripada merenovasi rumah gadang. Sehingga rumah gadang mulai
> sulit
> > ditemukan. Kalaupun ada, rumah gadang dimaksud sudah direnovasi dan
> nyaris
> > kehilangan identitasnya sebagai rumah kebesaran kaum. Selain itu,
> rumah
> > gadang tesebut jarang dihuni masyarakat dan terkesan hanya sebagai
> lambang
> > kebesaran kaum di daerah itu. Menurut Zainal Wann, Kepala Dinas
> Pariwisata
> > Kabupaten Sawahlunto Sijunjung mengatakan, rumah gadang yang terdapat
> di
> > daerah ini diperkirakan masih banyak dan masih dihuni oleh masyarakat
> > setemapt. Di nagari Sijunjung misalnya, ada sebuah perkampungan
> masyarakat
> > yang masih didominasi banguann rumah gadang. Sekitar 95 persen
> bangunan
> > yang
> > ada masih berupa bangunan rumah gadang lama dengan usia yang tergolong
> > tua.
> > Namun kondisi bangunannya sudah lapuk. Hal itu terjadi karena
> > ketidakberdayaan keuangan kaum untuk memperbaikinya. Di Kabupaten
> Agam,
> > tepatnya di Paninjauan, Koto Kacik, Tanjung Raya dan Tilatang Kamang,
> dan
> > Banuhampu di Kabupaten Agam, masih terdapat rumah gadang. Namun rumah-
> > rumah
> > tersebut terkesan lusuh, tidak terawat dan dibiarkan begitu saja
> dimakan
> > zaman. Ada pula rumah gadang yang dirombak dan hal itu nyaris
> > menghilangkan
> > identitasnya sebagai rumah gadang. Seperti halnya rumah gadang kaum
> mantan
> > Presiden RI, Mr. Assaat yang sukunya Pili di Banuhampu. Rumah
> gadangnya
> > sudah banyak yang dirombak, sehingga tidak lagi terlihat seperti
> aslinya.
> > Menurut Muhammad Irfan, 25, salah seorang cucu, Mr. Assaat, kini rumah
> > gadang yang pernah dihuni Mr. Assaat, kakeknya tidak ada lagi, karena
> > sudah
> > dirombak, kendati demikian modelnya dengan mudah dapat dilihat persis
> > seperti yang terdapat di Area Kebun Binatang Bukitinggi. Rumah adat
> yang
> > terdapat di sana modelnya diambil dari rumah kediaman Mr. Assaat.
> > Seandainya
> > tidak ada aral melintang dalam tahun 2006 nanti, keinginan keluarga
> akan
> > direalisasikan untuk merehab rumah adat tersebut, persis seperti
> aslinya,
> > termasuk perabotannya. Wali Nagari Banuhampu, Gusmal Sutan Batungkek
> Ameh,
> > menuturkan upaya pelestarian rumah gadang sudah pernah disampaikan
> kepada
> > pemerintah kabupaten, namun belum ada jawaban yang pasti. Sementara
> Kepala
> > Dinas Pariwisata dan Seni Budaya, Ir. Edwardi, mengatakan kebijakan
> untuk
> > merehab gedung-gedung bersejarah seperti rumah adat itu sudah
> dituangkan
> > dalam Renstra Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya tahun 2006, namun
> > realisasinya masih menunggu dana dari APBD nantinya. Ketua Umum LKAAM
> > Sumbar, H. Kamardi Rais Dt. P. Simulie juga tidak menafikan fenomena
> > kultural yang memprihatinkan itu. Datuk melihat penyebabnya adalah
> unsur
> > pembiaran yang didorong pikiran sempit anggota kaum. Orang sekarang
> merasa
> > risih tinggal di rumah gadang, apalagi dengan kepala keluarga yang
> lebih
> > dari satu. Dahulunya berlaku rimbun-rimbun batutuah. Artinya, kalau
> ada
> > dua
> > orang anak gadis dari pemilik rumah gadang, ketika terjadi pernikahan
> > putri
> > pertama, kamar pengantinnya di anjuang. Menikah putri yang satu lagi,
> > putri
> > pertama tadi bersama suami dan anaknya pindah ke kamar dalam.
> Dahulunya
> > juga
> > di rumah gadang, tepatnya di tonggak tuo atau sako, diresmikan
> > pengangkatan
> > seorang penghulu suatu kaumnya. Selain itu, rumah gadang juga
> difungsikan
> > sebagai tempat baralek. Pendeknya, rumah gadang disaktikan, sehingga
> > dengan
> > demikian anggota kaum secara moral terpanggil dan berkewajiban
> > memeliharanya. Sekarang yang terjadi malah sebaliknya, orang malu
> tinggal
> > di
> > rumah gadang karena dinilai sebagai orang miskin. Semestinya di
> > Minangkabau
> > yang dikenal dengan sistem matrilokal, yaitu pihak pria pulang ke
> rumah
> > perempuan, kata Datuk, rumah tetap lestari. Namun apa boleh dikata,
> unsur
> > pembiaran telah menggerogoti pola pikir masyarakat. Masyarakat merasa
> > lebih
> > terhormat tinggal di rumah sendiri ketimbang di rumah gadang. - Tim
> >
> >
> >
> > Website http://www.rantaunet.org
> > _____________________________________________________
> > Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> > http://rantaunet.org/palanta-setting
> > ____________________________________________________
>
>
> Website http://www.rantaunet.org
> _____________________________________________________
> Berhenti/mengganti konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
> http://rantaunet.org/palanta-setting
> ____________________________________________________
>
--
Wassalam & Regards,
HRM.Jambak
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================