Arsenal dan Mimpi Osama bin Laden
  Kompas, 25 Nov 2005

  Arief Natakusumah

  Bukannya tanpa alasan apabila seorang Sheikh Usamah bin Muhammad bin
  Ladin  atau  Osama  bin  Laden  amat  menyukai  Arsenal. Bahkan, ada
  kemungkinan  ia  akan membelinya. Sayangnya sejarah berbelok ke arah
  lain  setelah  dia  dinyatakan  sebagai  orang yang paling dicari di
  dunia.

  Banyak  yang  menduga-duga kenapa Bin Laden bisa sampai menyukai Les
  Rouges  of  London.  Ada  yang  berteori salah satunya soal kesamaan
  prinsip.  Siapa  pun  tahu, atau setidaknya baru ngeh mengingat logo
  klub  yang  telah 13 kali jadi juara Inggris itu jelas: sebuah kanon
  yang  mengarah  ke  timur.  Meriam,  dalam arti konteks apa pun amat
  jelas, sebagai alat pembunuh massal, ”The Gunner”.

  Secara   militeristik,  Arsenal  juga  berarti  gudang  atau  tempat
  penimbunan  senjata.  Sebutan  gampangnya, gudang peluru. Apakah Bin
  Laden  kepincut  dengan  jargon  pada  logo  lama  Arsenal: Victoria
  Concordia Crescit, kemenangan berkembang dari harmoni?

  FBI  dan  CIA  sudah  pasti  memasukkan  salah satu hobi pimpinan Al
  Qaedah  ini  dengan  soccer,  bukan  football, istilah orang Amerika
  untuk sepak bola.

  If  you can work it out in London, you can work it out in the world.
  Jadi,  Bin  Laden  cukup pergi ke London untuk mengetahui isi dunia.
  Pada  awal  tahun  1994,  pria  kelahiran  Riyadh  10 Maret 1957 itu
  menghabiskan   waktu  tiga  bulan  di  London.  Ada  dua  misi  yang
  dilakukan:  pertama,  sebagai  bankir  dan pengusaha kelas kakap, ia
  banyak bertemu klien bisnisnya. Kedua, yang menarik, meski sibuk Bin
  Laden  tak  melupakan  agenda ”The Gunners” di Premiership dan Piala
  Winner Eropa.

  Menurut  BBC, anak ke-17 dari 57 putra Sheikh Muhammad Bin Laden ini
  sempat menonton kemenangan David Seaman, Anthony Adams, Paul Merson,
  dan  kawan-kawan di perempatfinal dan semifinal. Pada 15 Maret 1994,
  lima hari usai merayakan ulang tahunnya yang 37, Bin Laden berada di
  Highbury kala Arsenal mengalahkan Torino 1-0 lewat gol Tony Adams.

  Tepat  selang dua pekan, lelaki berdarah Yaman ini kembali berada di
  Clock-End. Pada tahun 1994 itu, bayangkanlah, orang yang kini paling
  dicari-cari  oleh Amerika Serikat dan ditakuti dunia Barat berada di
  Clock-End.

  Bukan  itu  saja.  Seorang  penjaga The Gunner Shop, pusat penjualan
  seluruh  suvenir  Arsenal yang bersebelahan dengan Highbury, mengaku
  ingat   betul  ”pria  Arab  dengan  aksen  aristokrat  dan  berwajah
  terhormat  dengan  syal  ”The  Gunners” di leher, membeli empat kaus
  Arsenal untuk anak-anaknya.”

  Gila Sepak bola
  Anehnya,  sewaktu Bin Laden sedang getol-getolnya menonton langsung,
  tidak  ada  faktor paling signifikan yang mengharuskan ia menyenangi
  Arsenal.  Kostum?  Strategi  permainan?  Atau sosok pelatihnya? Jika
  ukurannya sebuah unsur fanatisme pun, jawabannya kurang kuat.

  Dua  bulan  setelah  tragedi  911,  peristiwa peruntuhan World Trade
  Center  di  New York pada 9 September 2001, seorang petinggi Arsenal
  jadi  salah tingkah. ”Ya, ya, kami juga sudah baca di koran- koran”,
  katanya dengan gugup di hadapan para wartawan.”

  Arsenal  menjadi  salah satu klub paling kontroversial di dunia soal
  pendukungnya.  Michael  Moore, tokoh Hollywood yang gencar menyerang
  kebijakan agresif pemerintahan George Bush ini, merupakan salah satu
  fannya.

  John Gotti, pimpinan terakhir klan mafia Bambino di New York, selalu
  memastikan  ada  majalah  Arsenal setiap bulan di mejanya. Juga Zhou
  En-Lai,  PM  China  tersohor.  Ketika ia wafat pada tahun 1976 dalam
  usia  78  tahun, suatu hari The Mirror membuat berita utama berjudul
  ”Arsenal  lose  a  supporter”. Namun, tokoh paling sensasional kedua
  yang  menjadi  fan ”The Gunners” setelah Bin Ladin, bisa jadi adalah
  Fidel Castro.

  Pada   pernyataan  terbukanya  pada  dunia,  tepat  dua  bulan  usai
  pengeboman New York, dalam transkrip video berbahasa Arab, Bin Laden
  bilang  bahwa  ilhamnya  muncul  dari  sepak bola. ”Saya lihat dalam
  mimpi,  kami  akan  bertanding  sepak bola dengan Amerika. Lalu saat
  berada  di lapangan, seluruh anggota tim kami berubah menjadi pilot.
  Saya   bertanya-tanya,  ini  sebuah  pertandingan  sepak  bola  atau
  pertandingan pilot? Seluruh pemain kami pilot,” akunya.

  Lalu  U.S  Department of Defense yang dikelola duet Donald Rumshfeld
  dan  asistennya,  Paul  Wolfowitz,  sadar bahwa mimpi tersebut telah
  diejahwantahkan  pimpinan  Al  Qaedah  itu.  Bukankah pemusnahan dua
  menara  yang  menjadi simbol ekonomi AS ini diawali oleh aksi pilot,
  dikenal  dengan  nama  Abu  Al-Hasan,  yang menabrakan pesawat jumbo
  jet-nya?

  Masih dalam transkrip itu, Bin Laden amat gembira melihat keruntuhan
  WTC  itu  seperti  menyaksikan  gol  dalam sepak bola. "Saya melihat
  dalam  tayangan TV bagaimana sebuah keluarga di Mesir bersorak-sorak
  kegirangan melihat keruntuhan itu. Tahukah Anda perasaan dalam sepak
  bola  ketika  tim  kesayangan anda menang?" begitulah cara Bin Laden
  membuat gol ke gawang Amerika.

  Seperti halnya politik, dari sepak bola sering timbul nafsu kolektif
  yang diperlihatkan para diktator, revolusioner atau oligarkis. Dunia
  diajarkan  bagaimana  Joszef  Stalin  mampu mempertahankan kekuasaan
  dengan  menaruh  kepala  polisi  rahasianya, Lavrenti Beria, sebagai
  presiden klub Dynamo Moskva.

  Usamah  bin  Laden  atau Osama bin Laden menurut lidah Barat, adalah
  pencinta  Arsenal  dengan  status  die-hard.  Saksi mata yang sempat
  mendengar   diskusi   Bin   Laden   dengan  seseorang  di  Highbury,
  mengatakan,”  betapa  dia  mencintai  Arsenal,  tahu banyak dan siap
  berkorban.  Amat  disayangkan  ia  keburu jadi buronan Amerika.” Ya,
  mengapa ia tak mendamaikan dunia dengan sepak bola?

  Bisa dibayangkan jika skenario besar terjadi sekarang ini di English
  Premier  League.  Chelsea  dipunyai  Abramovich,  seorang Yahudi dan
  Arsenal  dibeli  Bin  Laden,  Arab.  Perebutan kekuasaan di ibu kota
  Inggris  antara  Arsenal  dengan Chelsea kini membagi London menjadi
  dua warna, merah dan biru.

  Perseteruan inilah yang mengilhami seorang wartawan lulusan fakultas
  psikologi   Oxford,   Chris   Cleave,  membuat  novel  super  geger:
  Incendiary.  Cerita  fiktif  ini  mengambil  setting pada tahun 2008
  tentang  pengeboman  The  Emirates  Stadium  saat berlangsung partai
  Arsenal   vs   Chelsea.  Ketika  Robin  van  Persie  tengah  bersiap
  menceploskan  bola  ke gawang Petr Cech, tiba-tiba muncul ledakan di
  tribun East Stand.

  Bom bunuh diri yang dilakukan 11 orang rekrutan Al Qaedah menewaskan
  1.000  orang, mayoritas suporter The Gunners. Ribuan lainnya cedera.
  Beberapa  pemain  kedua  tim  juga tewas. Banjir darah di mana-mana.
  Banyak  pendukung Chelsea yang dibunuhi pendukung Arsenal. Di tengah
  kekacauan   tak  terperi  itu,  segerombolan  pendukung  kedua  klub
  terlibat  baku hantam gara-gara: memperebutkan sebuah kepala seorang
  pemain top yang putus akibat ledakan!

  Keruan  saja  Incendiary  bikin heboh Inggris, terutama kubu Arsenal
  dan  Chelsea.  Apalagi  peluncurannya bertepatan dengan tragedi 7/7,
  yakni  pengeboman  London  7 Juli 2005 lalu. Sontak, kantor penerbit
  novel  seharga  10,99  poundsterling  itu  pun  didemo partisan ”The
  Gunners”.

  Cerita   Incendiary   memang  diawali  oleh  kisah  seorang  wanita,
  pendukung Arsenal yang setengah mati membenci Chelsea. Setelah suami
  dan  anaknya  yang  berusia  empat  tahun  tewas  akibat ledakan, ia
  menulis  surat  kepada  Osama bin Laden, ”Yang terhormat Osama. Saya
  ingin  menjadi  seorang  ibu  terakhir  di dunia yang pernah menulis
  surat seperti ini, ibu yang telah kehilangan putranya….”

  Misi  novel  ini  membawa  pesan  langsung  kepada  Bin  Laden  agar
  menghentikan aksinya. ”Yang saya tulis memang kisah teror, sebab apa
  yang  terjadi sebenarnya juga tentang cinta. Teror mengingatkan kita
  pada  kemanusiaan,  pembangkangan  kehidupan  dan tuntutan mencintai
  sesama  dengan  lebih intens. Saya masih ingat pernyataan Osama yang
  tak mau menjatuhan bom bila melihat anak kecil,” ungkap Cleave.

  Menurut  The  Economist, novel berbau teror massal ini lebih membumi
  realitanya  di Inggris ketimbang karya Nevil Shute, On the Beach dan
  kisah  sejenis  yang terjual 55 juta eksemplar di seluruh dunia, End
  of Days karangan Tim LaHaye


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke