KENA TULAH GADIS MINANG  

Di suatu hari yg panas berdebu , sambil makan siang di rumah makan 
sederhana , Bendungan hilir.

Deni sedang ngobrol serius dg teman baik nya Agus ; 

Den, nampaknya kamu kena tulah gadis minang , lho ! , ujar Agus 
dengan mimik muka serius, 
karena dari ceritamu tadi, sudah hampir selama 4 tahun ini , kamu 
ketemu dan naksir sama gadis minang melulu , memang apa salah mu dulu 
Den ?

Deni tampak bingung kena tulah ?
apa sih tulah itu ?

Tulah, adalah semacam kepercayaan pada orang Sunda dan Jawa ,bahwa 
bila kita berbuat sesuatu yg kurang baik , maka di suatu saat kelak 
kita akan dapat balasan nya juga , semacam karma menurut orang Bali , 

ah masak kamu percaya sama yg spt itu , takhyul itu mah , kata Deni , 
tapi ia pun mulai berpikir apa salah nya sebelum ini dg gadis minang ?
ia tinggal di ranah priangan, jarang bertemu gadis minang.

tapi benar juga apa kata Agus, teman nya , bahwa selama 4 tahun ini, 
dalam waktu yg berlainan, ia sempat naksir berat pada teman 
wanitanya, yg ternyata baru tahu kemudian adalah gadis minang , dan 
itu semua memang membuatnya pusing sabaleh yo kapalo, istilah minang 
nyo. Karena walau bagaimana pun ia telah terikat janji dg si 
Euis,mojang priangan , ibu dari anak2 nya yg manis.

Deni pun mulai berpikir ,melihat sejarah ke belakang , apa ada yg 
salah selama ini ?
rasanya tak pernah ia berbuat hal yg menyakiti gadis minang atau 
perbuatan jelek lain nya

Ia pun mulai teringat , saat kuliah dulu, ia sempat dekat juga dg 
teman kuliahnya gadis minang  Erna namanya, namun kemudian menjauh, 
karena ternyata Erna punya sifat yg dominan, ingin segala ngatur dan 
cepat emosi , ia tak suka dg gadis spt itu , karena selama ini dg 
teman2 nya orang Sunda, ia rasakan pertemanan yg nyaman , baik hati 
dan ramah . Itu adalah satu kejadian dimana ia mulai kecewa dg gadis 
minang.

saat pulang kampung ke kota lubuk basung, ia banyak lihat di beberapa 
keluarga kerabatnya , yg tinggal di kalangan keluarga istri, betapa 
pihak suami sebagai rang sumando ( menantu ) seperti kehilangan 
wibawa di hadapan istri nya yg terlihat mendominasi , begitulah 
sistem keluarga matriarkat dimana.

Sebagai orang minang yg hanya numpang lahir di Sumbar, tapi besar di 
rantau spt kota Cianjur tempat ayah dan ibunya membuka toko kain , ia 
sebenarnya lebih dekat dg budaya sunda daripada budaya minang , 
karena itu pulalah ibu nya sering meminta agar ia banyak belajar pula 
ttg budaya minang,banyak bergaul dg orang2 minang, setidaknya kerabat 
dan keluarga minang di daerah Cianjur.

sampai suatu saat sempat pula mandeh ( ibunda ) meminta, "Den, beko 
kalau lah ka manikah, pilih lah urang awak juo jadi bini"
( Deni , nanti kalau hendak menikah , pilihlah gadis minang sbg istri 
mu )  , begitu lah pesan ibunya yg masih tergiang lama di telinganya

Deni hanya terdiam saja, ia tak mau mengecewakan ibunya tercinta , 
namun ia seperti menghadapi sebuah dilema , karena dari berbagai 
pengalaman serta apa yg sempat ia pelajari dari kuliah sosiologi 
antropologi nya , ia sebenarnya kurang suka punya istri orang 
minang , karena berbagai karakter yg ia pandang negatif. Kalau boleh 
memilih ia lebih suka dg gadis sunda , mojang priangan yg ramah,baik 
hati, mau menurut dan tak cepat marah. Apalagi belakangan ini , ia 
mulai dekat dg si Euis , anak pak Haji Sanusi , teman ngaji nya di 
madrasah waktu kecil dulu.

Akhirnya Deni memang menikah dg Euis , ibunya yg semula tak setuju dg 
berat hati menerima nya juga, apalagi setelah tahu , Euis mojang 
priangan yg akan jadi menantu nya ini ,ternyata gadis yg baik , soleh 
dan geulis ( cantik ).  Mereka menjadi keluarga bahagia yg dikarunia 
2 orang anak yg manis2.

singkat cerita, beberapa tahun kemudian, dalam rangka pengembangan 
usaha , Deni sering bepergian ke luar kota , antara lain juga utk 
membuka toko2 baru di kota2 lain. Sesuai dg kegiatan bisnis nya Deni 
banyak bertemu dg banyak orang , nah disinilah cerita baru bergulir 
pula.

Saat sering ke pasar tanah abang , utk beli pakaian secara grosir, ia 
jadi kenal dg si Lina, anaknya datuak bandaro pemilik toko kain 
dimana ia sering belanja. Mulanya sih biasa saja , tapi ternyata enak 
juga ngobrol dg si Lina ini, yg memang orang nya supel dan senang 
ngobrol , apalagi memang Deni , penampilan nya cukup menarik juga. 
Sampai suatu  saat kaget juga Deni,waktu Lina mengajaknya makan siang 
bersama, di rumah makan padang Kapau jaya, di bagian bawah pertokoan 
tsb. Lama2 tanpa disadari Deni mulai kagum juga pada Lina.

Sampai suatu saat , ketika makan siang dg Lina, HP nya berbunyi 
istrinya menelepon dari Cianjur, mengabarkan anaknya jatuh dari pohon 
dan perlu cepat dirawat ke puskesmas , Deni kaget dan langsung 
berbicara di meja makan tsb sampai lupa di sana pun ada Lina.
baru tahu Lina, ternyata , si Deni yg kelihatan nya masih muda dan 
tampan ini , sudah berkeluarga , kecewa juga jadinya , Deni pun hanya 
bisa tersenyum tipis, ' Oh , itu tadi telepon dari cianjur, nggak 
apa2 kok, baik mari kita teruskan makan nya, kita lanjutkan lagi 
ngobrol nya, Tapi Lina sudah tak bersemangat lagi dan memendam 
kemarahan dalam hatinya . Setelah itu hubungan mereka agak renggang, 
dan kalau berbelanja di toko, sikap Lina jadi biasa saja, spt pada 
pembeli lain nya. Dan Deni pun berusaha membatasi diri , dan kemudian 
tak belanja ke sana lagi karena ada toko lain yg bisa memberi harga 
lebih murah.

Suatu saat Deni, pergi ke Bandung , melakukan negosiasi dg salah satu 
perusahaan tekstil di sana, karena ia perlu sebuah jenis bahan kain 
dalam jumlah yg agak banyak, pesanan dari sebuah instansi, sehingga 
ia langsung kontak ke sebuah pabrik tekstil yg banyak terdapat di 
kota Bandung. Ia sering ke sana , untuk bernegosiasi sampai urusan 
administrasi , sehingga ia banyak bertemu dg salah seorang staf 
marketing perusahaan tsb, namanya Lola, orang nya cukup ramah pula . 
Ternyata tak mudah urusan pemesanan tsb, karena pesanan produk khusus 
tsb harus dimasukkan dalam rencana penjadwalan produksi pabrik tsb. 
Sehingga ia sering bolak balik ke Bandung dan ketemu lagi dg Lola , 
dasar memang mata buaya, entah kenapa Deni senang juga ngobrol dg 
Lola, selain memang anaknya manis dan ramah, senang diajak ngobrol . 
Deni memperkirakan lihat dari nama dan tampilan nya, ia menyangka 
Lola orang Manado atau Palembang lihat dari penampilan nya , diam2 
Deni mulai naksir juga pada Lola , dan nampaknya Lola orang nya open 
saja .  

Sampai suatu saat tokonya dikirimi ucapan selamat idul fitri , yg 
ditandangani oleh Lola, kaget juga Deni, oh orang Islam juga toh ? , 
ia pun coba menelepon Lola menyampaikan terima kasih , sambil 
ngobrol2 santai, ia tanya juga ttg Lola, dulu sekolah dimana , 
darimana asalnya dll, yah, biasalah standar pembicaraan umum , kaget 
juga Deni, ternyata Lola , urang awak juo , walau lahir di Palembang, 
kedua orang tua nya asli berasal dari Solok ,akhirnya mereka kalau 
ngobrol pakai bahasa minang saja , dan menambah hubungan mereka 
semakin akrab saja , dan seperti biasa , mereka sempat pula makan 
bersama di rumah makan nasi kapau kesukaan Deni, yg ternyata disukai 
Lola pula. Terbetik pula obrolan ttg berbagai peluang bisnis 
sampingan yg sebenarnya bisa digarap juga , kebetulan memang Lola 
ingin mulai buat bisnis sendiri pula.

Tanpa disadari Deni ternyata sudah jatuh hati pula pada gadis tsb , 
tapi ia berusaha mengerem rasa tsb, berdasar pengalaman sebelumnya dg 
si Lina anak pemilik toko di pasar tanah abang dulu. Ia tak ingin 
terlibat lagi  dalam kondisi yg membingungkan tersebut. Tapi tambah 
dihambat, tambah kuat pula rasa rindunya pada Lola , begitu pula 
sebaliknya. Tapi Deni merasa bahwa hal tsb suatu kesalahan, sampai 
suatu saat ia bicara terus terang tentang dirinya pada Lola , 
ternyata Lola bisa memahami nya , dan berpendapat tak salah untuk 
sekedar hanya menjadi relasi bisnis, tanpa tendensi lain 2.
yah, kemudian semuanya berjalan biasa saja dan Deni sudah mulai kebal 
utk menjaga perasaan, tak gampang jatuh hati.

Entah kenapa, setelah sekian lama tak bertemu dg Lola, sampai ia 
hampir lupa, Deni bertemu lagi dg gadis lain yg ia temui waktu sama2 
naik pesawat  ke Makasar , ketika hendak mengikuti sebuah pameran 
dagang. dan cerita sebelumnya terulang lagi .

Sehingga, di hitung2 dalam 5 tahun belakangan ini  , ia telah jatuh 
hati pada 3 orang gadis minang yg berbeda , yang awalnya tak ia 
sangka bahwa ia adalah orang minang juga, bertanya2 Deni dalam 
hatinya ,tentang hal tsb,  sehingga akhirnya hal tsb disampaikan pula 
pada teman dekat nya, Agus , yang memang dari dulunya senang pada 
hal2 yg mistik. Dan Agus bilang Deni kena tulah gadis minang.

yah, mungkin saja ia kena tulah gadis minang , suka jatuh hati pada 
gadis minang , 
mungkin karena dulu, ia tak menuruti pesan ibunya untuk menikah dg 
gadis minang tapi malah menikah dg mojang priangan ,
mungkin karena dulunya ia sering memiliki prasangka negatif terhadap 
gadis minang dan banyak kemungkinan2 lain nya

sekarang baru kerasa ,bahwa ia banyak kesengsem oleh gadis minang yg 
ternyata tak sejelek yg ia bayangkan , ternyata gadis minang lebih 
cantik daripada mojang priangan spt yg sering ia dengar. tak semua 
gadis minang suka ngatur ( dominan ) tak semuanya cepat marah, tak 
semuanya matre (mata duitan ) , dan segepok prasangka negatif lain nya

entahlah apa ini benar2 yg disebut tulah atau hanya kebetulan 
belaka , kebetulan saja ia ketemu dg gadis minang yg cantik menarik 
hati.

sebenarnya ia tak mau percaya dg hal2 yg berbau takhyul tersebut, ia 
coba juga mencari jawaban secara rasional nya, sehingga suatu saat ia 
sempat ngobrol juga dg si Yadi, teman SMA nya yg membuka klinik 
psikologi , dan menanyakan ttg hal tsb, 

Setelah ngobrol cukup panjang, akhirnya Yadi bisa mengerti dan dari 
sisi psikologi ia melihat bahwa Deni, mengalami semacam katarsis ( 
pelepasan beban psikologis ) bila bertemu dg orang minang , karena 
sebagai orang yg dilahirkan dalam kultur sebuah budaya , ia memiliki 
semacam memori bawah sadar , ttg budaya tsb , berikut juga dg orang 
nya, sehingga bila bertemu dg orang minang, mendengar orang ngobrol 
pakai bahasa minang atau mendengar musik minang, memori bawah sadar 
tersebut akan terbangkitkan , ada semacam energi yg terlepaskan , 
apalagi bagi Deni, yg kemudian waktu mudanya banyak terlewatkan pada 
kultur sunda, karena itu lah ia mudah akrab dan dekat dg sesama orang 
minang lagi , ada semacam dahaga psikologis , nampaknya Deni bisa 
lebih mengerti alasan rasional tsb dibandingkan logikanya Agus 
ttg "tulah" tsb .

tapi entah sampai kapan tulah tersebut masih berlaku , sekarang Deni 
mulai tersadar , bahwa ia pun sebagai seorang suami harus bisa 
menjaga diri, menjaga pandangan, sesuai dengan pengajian yg sering ia 
dengar dari pak Haji Sanusi, yg kemudian menjadi mertuanya sendiri.
sekarang ia selalu berhati hati bila bertemu dg gadis minang, ia tak 
ingin terjebak lagi pada kubangan yg sama.

Sempat pula hal tsb disampaikan pada Euis , istrinya , ternyata Euis, 
hanya tertawa lepas, ah dasar padang si Aa mah, katanya
ternyata Euis tidak marah, dan menganggap suaminya , hanya sering 
nglamun saja karena jauh dari keluarga saat pergi jauh, tapi ia 
percaya pada suaminya dan bahkan rela, bila suami nya menikah lagi , 
hal tsb malah tambah membuat Deni tambah "nyaah" ( sayang bhs sunda ) 
pada istrinya , ia tak berniat utk menikah lagi, ia tak mau menyakiti 
hati istrinya yg sudah begitu baik hati.
Terbayang kalau istrinya orang minang , pasti sudah marah besar, 
mendengar hal seperti itu

Ia sangat bersyukur pada Allah telah diberi istri yg soleh dan 
terbaik bagi dirinya, kalau kemudian kita tertarik pada yg lain , 
belumlah tentu baik pula baginya, dan itu lah yg namanya ujian dalam 
kehidupan, sejauh mana kita mensyukuri nikmat Allah , ia jadi 
teringat pada bait syair Rabindranat Tagore ttg cinta dan 
kehidupan , "Gitanjali",  yang kemudian dikutip oleh Shahrur Khan , 
pada sebuah film Bollywood.

"Mencintai hanya sekali, hidup hanya sekali , 
sekali berarti , setelah itu mati"




--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke