http://www.mediaindo.co.id/berita.asp?id=83374
UMUM Selasa, 06 Desember 2005 17:00 WIB
Presiden: Budaya Kekerasan di Lembaga Pendidikan Militer Harus Dihentikan
MAGELANG--MIOL: Presiden Susilo Bambang Yudoyono minta budaya
kekerasan di lembaga pendidikan militer dihentikan. Sedangkan
pemberian hukuman kepada taruna diberikan secara tepat untuk tujuan
pendidikan.
"Saya meminta hentikan budaya kekerasan di lembaga pendidikan ini,"
katanya saat Ceramah Pembekalan Presiden RI kepada Taruna Akademi TNI
di Gedung Lily Rochly Komplek Akademi Militer di Magelang, Selasa
(6/12).
Ia mengatakan, gaya kepemimpinan yang diharapkan termasuk di kalangan
perwira militer bukan gaya kepemimpinan preman, gaya kepemimpinan
"Pasar Senen" jaman dulu dan bukan gaya kepemimpinan dengan kekerasan.
Para perwira TNI, katanya, memimpin prajurit, memimpin anak buah,
taruna senior memimpin yunior di lembaga pendidikan militer dengan
gaya kepemimpinan keteladanan.
"Yang menjadi contoh lebih menguasai dengan cara yang lebih persuasif
dan kalau perlu memberikan hukuman yang tepat hukumannya untuk
mendidik mereka. Kepemimpinan seperti itu yang efektif, tidak dengan
kekerasan, dan tidak dengan gaya-gaya yang tidak sepatutnya," katanya.
Pada kesempatan itu Presiden mengaku telah mengeluarkan instruksi
kepada Mendagri M Ma'ruf untuk menindak tegas praja senior di Sekolah
Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) yang melakukan pemukulan
hingga cacat dan meninggal dunia kepada yuniornya.
"Ilmu apa itu, mau jadi camat, mau jadi bupati melakukan
kekerasan-kekerasan pada yuniornya, tidak kesatria, yunior dipanggil
ditutup kepalanya dengan plastik dipukuli ramai-ramai oleh seniornya.
Model apa itu. Saya minta hentikan, mereka disana untuk belajar,
mengayomi adiknya, bukan untuk disiksa apalagi dibikin cacat apalagi
dibunuh," katanya.
Ia mengatakan, banyak cerita di lembaga pendidikan militer termasuk
generasi dirinya yang menjalani masa taruna di Akmil Magelang 1973
menyangkut kekerasan senior terhadap yunior.
"Taruna yang sadis yang kerjanya hanya menyiksa, memukuli
kadang-kadang sampai cacat, tidak jadi, 'mrothloli' di tengah jalan,
dipecat di akademi dan saya lihat kariernya tidak ada yang berhasil,
jangan itu yang dipilih, biarlah gaya kepemimpinan yang baik,"
katanya.
Sedangkan menyangkut persaingan antar-taruna dalam pendidikan di
Akademi TNI, Presiden SBY meminta mereka bersaing secara sehat.
Persaingan bagi militer selalu dalam suasana kerjasama dan jiwa korsa
yang tinggi.
Persaingan yang baik di kalangan taruna, katanya, ditandai dengan
persiapan diri sebaik-baiknya untuk mencapai standar yang sudah
ditetapkan.
"Kalian bersaing terhadap standar, yang dilihat itu bukan taruna yang
lain, kalau hanya mengalahkan nanti lawannya kalah tetapi kalian tidak
bisa 'push up', tidak bisa lari, kalah semua, jelek semua. Tetapi
kalau berkompetisi pada standar akan baik, menang semua, bagus semua,
akademik begitu juga," katanya.
Ia meminta para taruna sejak dini tidak membiasakan berkompetisi
secara tidak sehat, tidak ksatria dan main fitnah. Sedangkan kepada
taruna yang berhasil maka taruna yang tidak berhasil harus memberi
selamat.
Ia mengaku, ketika menjadi taruna yunior di Akmil juga pernah
mendapatkan hukuman dan tindakan disiplin. Ikhwal itu disadari SBY
sebagai hukuman konstruktif dan bagian penyempurnaan kepribadian,
menguatkan fisik dan mental sehingga ia berterima kasih kepada senior
yang memberi hukuman secara konstruktif itu.
"Wajib dalam dunia militer, yunior berterima kasih kepada senior,
respek kepada senior, menghormati senior, jangan tidak hormat, jangan
tidak respek. Begitu hirarkinya," katanya.
Sedangkan taruna senior tidak boleh berpikir untuk menghukum yunior
tetapi memberikan nasehat agar berhasil dalam menjalani pendidikan.
Jika yunior bersalah dan harus dihukum maka hukumannya bisa saja berat
tetapi mendidik.
"Hukumannya bisa berat tapi mendidik, tidak membikin mati dan ada
memori saat saya dihukum 'push up' lima puluh kali karena saya punya
kesalahan ini," katanya.
Ia mengatakan, taruna senior harus mencintai, mengayomi dan membimbing
yunior dalam satu hirarki militer.
Semboyan bahwa senior tidak dapat salah bukan berarti senior boleh
berbuat apa saja terhadap yunior tetapi senior malu dan pantang
berbuat salah, demikian Presiden SBY. (Ant/OL-06)
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================