Rabu, 07 Desember 2005
Republika kolom Hikmah

Belajar tiada Henti

Suatu proses yang harus dan dituntut tetap ada dalam diri setiap manusia
adalah belajar. Dengan belajar, manusia akan menjadi lebih baik, tidak
terjebak pada kesalahan/kegagalan yang sama, cerdas, bijaksana, adil, taat
kepada Allah SWT, juga mendapat sejuta kebaikan lain.

Sebagai suatu proses tanpa henti, belajar seharusnya dilakukan setiap
waktu, di setiap tempat dan kesempatan. Sedangkan formalitasnya dilakukan
di sekolah, sebagai rangkaian kegiatan belajar yang dilembagakan dalam
rangka membentuk konsep manusia seutuhnya.

Ironisnya, belajar, meskipun merupakan bagian yang tidak bisa ditawar-tawar
dalam kehidupan manusia, seringkali menjadi kegiatan yang tidak menarik
perhatian. Rasa malas dan rendahnya motivasi menjadi fenomena umum.
Implikasinya, prestasi siswa pun menurun.

Tak berhenti di situ, keengganan serta rasa malas itu juga dapat menjalar
pada sikap-sikap negatif lainnya, misalnya tawuran, pergaulan bebas,
penyalahgunaan narkoba, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena anak yang
tidak tertarik belajar, itu mengalihkan rasa ketertarikannya pada hal lain
yang lebih menantang dan menarik bagi mereka.

Kalau sudah begini, guru dan orang tua baru tersentak dan segera mencari
solusi. Berbagai teori, kiat, maupun nasihat diingat kembali. Tak jarang
usaha-usaha yang mereka lakukan itu gagal atau berhasil sementara, karena
mengubah perilaku tak semudah membalik telapak tangan.

Berbagai teori yang diperuntukkan bagi peningkatan motivasi dan semangat
belajar tak lagi kuasa menunjukkan kekuatannya, karena hanya dimunculkan,
didiskusikan, dan diharapkan akan diterapkan. Penerapan inilah yang sulit
dibahasakan pada praktik belajar sehari-hari.

Kemalasan belajar sebenarnya muncul dari kata belajar itu sendiri. Dalam
masyarakat kita, makna belajar tereduksi menjadi hanya berupa aktivitas di
dalam kelas, harus ada buku, guru, dan siswa, serta ada target-target yang
harus dikuasai. Dengan pemahaman ini, maka kata belajar menjadi sangat
membosankan. Yang dimunculkan bukan motivasi internal, tapi malah motivasi
eksternal.

Pemahaman Islam mengenai belajar, sangatlah berorientasi pada motivasi
internal. Dalam beberapa hadis disebutkan bahwa manusia ditekankan untuk
menuntut ilmu dari buaian sampai liang lahat. Pemahaman ini kemudian
dijadikan konsep untuk menggiatkan belajar seumur hidup (long life
education). Surat Al Mujadilah [58] ayat 11 mengungkapkan, ''Allah akan
meninggikan orang-orang yang beriman dan berilmu sebanyak beberapa
derajat.''

Mengapa seorang Muslim mau belajar seumur hidup? Motivasi belajar dalam
Islam bukanlah untuk mencari pekerjaan. Dalam Islam, belajar itu ibadah
atau sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Karena bagian dari ibadah,
maka umat Islam harus melakukannya sepanjang hidup.

Jika motivasi belajar adalah untuk mendapatkan pekerjaan, maka pembodohan
terhadap pemahaman belajar sudah sangat membahayakan. Orang yang sudah
mendapatkan pekerjaan sesuai dengan tujuannya, tidak mau lagi belajar.

(Dr H Arief Rachman )


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke