Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Yth. Mak Darul dan dunsanak sapalanta alias satampek duduak, buliah kami 
dikuliahi based on this book was published by covey go, bia kami indak mamalak 
lai di Mia dan Kiktinggi, kalau indak salah arti palak=susah, mamalak=mambuek 
susah.
Wassalam, syb.


Sabtu, 17 Desember 2005  

Merambah Jalan Baru Menuju Keunggulan 


Jansen H Sinamo

Stephen Covey mengejutkan saya. Buku The 8th Habit menampilkan suara sebagai 
inti keagungan. Ini konsep kuno warisan Martin Luther, abad ke-16, yang 
mengajarkan pekerjaan sebagai panggilan (Beruf). Orang harus bertekun dalam 
panggilan itu sebab demikianlah kehendak Tuhan.

Menurut Max Weber, inilah elemen etos ekonomi yang terlibat dalam proses 
keberjayaan dunia Barat. Menurut kamus Oxford, suara yang memanggil, vocare 
(Latin), menjadi vocation (Inggris), berarti pekerjaan. Tak bisa lain, vocation 
harus dimaknai secara lengkap: bekerja adalah sabda ilahi. Jadi, keterangan 
sosiologi ekonomi cocok dengan kamus. Singkatnya, jika panggilan (suara, titah, 
sabda) ilahi itu ditanggapi penuh gairah melalui akal budi, khususnya nurani, 
dalam konteks kerja, ia akan terpantul menjadi suara jiwa kita yang unik dan 
mendesak diekspresikan. Buahnya ialah keunggulan dan kejayaan.

Dalam bahasa Covey: temukanlah suaramu, lalu ilhami lah orang lain menemukan 
suaranya! Itulah habit ke-8. Itulah suara jiwa: melodi spiritual talenta, 
kegairahan, nurani, dan kebutuhan kita. Jika orang menemukan lalu 
mengekspresikan suara jiwanya, ia akan bergemilang. Dan, jika pemimpin menolong 
setiap warganya menemukan suaranya, keseluruhannya akan menjadi organisasi 
gemilang. Dimampatkan, begitulah argumentasi Covey.

Secara fenomenologis teramati bahwa semua orang ingin menjadi orang besar, 
paling tidak, bagian dari yang serba besar. Buat saya, itulah penjelasan 
mengapa manusia selalu bernafsu tinggi pada apa saja yang besar-besar: rumah 
besar, mobil besar, dan gaji besar; dan pada kategori lain, perusahaan unggul, 
partai unggul, dan tentu saja: negara unggul! Pokoknya, manusia tidak puas 
dengan yang kecil-kecil, biasa-biasa, atau sedang-sedang.

Sebagai nilai, greatness (kejayaan, kemegahan, keagungan) telah menjadi poros 
budaya semesta yang menggerakkan manusia untuk meraih atau menciptakannya. 
Evolusi budaya telah berhasil menanamkan greatness menjadi semangat utama di 
hati manusia, bahkan menjadi pilar spiritualitasnya. Secara religius, ini 
setara dengan pengabdian manusia tiada henti pada atribut keilahian, seperti 
kesucian, keakbaran, dan kebenaran. Manusia selalu terpesona pada obyek-obyek 
besar, seperti gunung, samudra, atau langit. Bukan kebetulan, ketiganya juga 
merupakan metafora kebesaran ilahi. Jadi, di tingkat rohani, jiwa manusia 
selalu merindu pada keagungan. Jelasnya, hati manusia belum merasa puas tuntas 
hingga akhirnya ia menemukan, mengalami, atau berjumpa dengan keagungan itu.

Dalam konteks inilah The 8th Habit: From Effectiveness to Greatness menjadi 
relevan sebab penulisnya menjanjikan kitab itu sebagai roadmap menelusurinya, 
vade mecum menjalaninya, dan secara khusus: strategi bagi para CEO untuk 
mentransformasikan organisasi mereka ke tingkat akbar. Covey mengerti dan 
berempati dengan dahaga jiwa manusia akan kejayaan. Dan, ia menjawabnya dengan 
solusi.

Secara fisik, buku ini berukuran jumbo, dalam edisi Indonesia tebalnya lebih 
dari 600 halaman, tetapi juga besar karena ia sarat dengan pikiran-pikiran 
akbar. Peluncuran buku ini pun, Rabu (30/11), sangat megah untuk acara sejenis. 
Dihadiri sekitar 2.000 orang—membayar jutaan untuk mendengar ceramah Covey 
sekitar 200 menit—Presiden Yudhoyono sendiri berkenan menyambutnya sambil 
membuhul tekad agar bangsa kita pun segera membangun budaya unggul supaya 
negeri ini bisa menyusul Malaysia, India, atau China.

Buku ini hebat karena sejarah pendahulunya The 7 Habits of Highly Effective 
People (1989) memang hebat: berstatus mega-bestseller, terjual 15 juta 
eksemplar dalam 15 tahun saja. Bandingkan dengan rivalnya: How To Win Friends 
and Influence People (Dale Carnegie, 1936) yang baru mencapainya sesudah 60 
tahun. Menurut Wikipedia, cuma ada tiga buku sejenis yang mengungguli keduanya: 
The Power of Positive Thinking (Norman Vincent Peale, 1952), Think and Grow 
Rich (Napoleon Hill, 1937), dan The Greatest Salesman in the World (Og Mandino, 
1974), masing-masing terjual 20 juta, 30 juta, dan 50 juta eksemplar. Semuanya 
kini dianggap sebagai karya klasik dalam literatur sukses.

Guru-guru sukses di atas memiliki kesamaan: sangat inspiratif, kaya ilustrasi, 
dan menulis penuh pathos. Mereka mengakarkan pikiran-pikirannya pada khazanah 
spiritual. Bedanya, empat guru lain bicara pada tingkat pribadi saja dengan 
resep kiat-kiat praktis, sedangkan Covey bicara juga di tingkat organisasi 
dengan topangan konsep-konsep yang terstruktur amat baik. Lepas dari plus 
minusnya, jutaan orang mengaku telah diubahkan oleh ajaran guru-guru tersebut.

Berbeda dengan The 7 Habits, narasi The 8th Habit terasa berat, monoton, dan 
kering. Untunglah kita terbantu dengan banyak gambar: bagan, tabel, dan 
diagram. Jelas, Covey mengandaikan pembacanya dari kalangan manajer dan 
eksekutif puncak yang berkemampuan abstraksi di atas rata-rata. Covey juga 
tampak meniatkan buku ini menjadi semacam ensiklopedia ajaran-ajarannya, bahkan 
terasakan ambisi: ia mau merangkum semua teori sukses yang pernah ada sejak era 
Yunani purba.

Keunikan dan kekuatan buku ini, menurut saya, terletak pada koherensi 
konsep-konsep pengembangan manusia, kepemimpinan, dan organisasi yang dipilih 
dan diletakkannya pada sebuah bingkai yang disebutnya paradigma pribadi-utuh 
(whole-person paradigm): jiwa, tubuh, pikiran, dan hati. Paradigma ini menjadi 
kerangka semua narasi Covey secara konsisten dari awal hingga akhir. Dan, Covey 
begitu piawai meringkas dan memvisualkan narasinya dalam berbagai bentuk 
geometris (semuanya 57 gambar) yang bagus-bagus.

Bagi yang berniat menjadikan buku ini sebagai panduan, saya anjurkan membaca 
Bab 14 dan 15 dulu, sebab keseluruhan konsep besar Covey diringkaskan di sini. 
Intinya, untuk membangun greatness, harus dimulai dari ranah pribadi (personal 
greatness) dengan menerapkan the seven habits dalam bentuk visi, disiplin, 
antusiasme, dan nurani. Selanjutnya, ranah kepemimpinan (leadership greatness) 
dengan menerapkan empat peranan kepemimpinan ala Covey: panutan dalam the seven 
habits, perintis jalan ke kegemilangan, penyelaras semua elemen organisasi, dan 
pemberdaya bagi segenap potensi warga organisasi. Terakhir, ranah organisasi 
(organizational greatness) dengan perumusan visi, misi, dan nilai-nilai pokok 
organisasi yang membuahkan kejelasan, komitmen, sinergi, pemampuan, dan 
akuntabilitas. Jika semua ini dijalankan simultan, janji Covey, maka 
terciptalah kinerja unggul secara berkelanjutan, dan di ujung sana: kejayaan 
dan kegemilangan.

Covey memang seorang humanis spiritual yang serba optimistis, dalam arti 
pemercaya penuh pada potensi nilai dan kebaikan manusia, peyakin teguh akan 
kebutuhan manusia yang universal, dan pejuang gagah bagi cara-cara rasional 
memecahkan masalah-masalah kemanusiaan. Covey melihat kondisi pengap iklim 
organisasi adalah sumber dari begitu negatifnya sikap, rapuhnya emosi, buruknya 
keterampilan, atau rendahnya motivasi manusia di ruang kerjanya yang berakibat 
pada buruknya kinerja dan produktivitas mereka. Itulah yang harus diperbaiki. 
Mulai dari para pemimpin: menata paradigma dan tujuan, merumuskan peran, 
relasi, dan prioritas kerja, serta mengeksekusinya tuntas dengan mengerahkan 
segenap bakat, talenta, dan kecerdasan. Covey percaya, jika hal-hal ini 
dilakukan, benih-benih keagungan manusia akan tumbuh-mekar berbuah-lebat di 
lahan subur organisasi. Sambil mengisahkan tapak-tapak panjang sejarah 
korporasi yang kelabu sejauh ini, Covey menawarkan resep memperbaiki 
kesalahan-kesalahan itu seraya merambah jalan baru menuju keunggulan.

Tatkala warga negeri ini masih banyak yang terjebak dalam dilema klasik 
kemanusiaan universal: mau bahagia, tetapi gemar mengeluh; mau dipercaya, 
tetapi tak sanggup menjaga amanah; mau berkilau, tetapi tak tahan dikritik; mau 
terpilih, tetapi emoh melayani; mau menabung, tetapi gemar bergaya hidup boros; 
mau pintar, tetapi malas belajar, yang berdampingan rapat dengan kenyataan 
begitu banyaknya manusia-manusia berjiwa kerdil, berintelek kurus, bermental 
keropos, dan berkesadaran rendah, maka kehadiran buku Covey ini perlu disimak 
serius. Yang jelas, kita semua harus menjawab panggilan Suara Agung tersebut: 
itulah panggilan Suara Tuhan, Suara Rakyat, dan Suara Ibu Pertiwi yang terus 
merintih demi kemaslahatan seluruh anak negeri. Apabila memekakkan telinga 
terus, kita masih akan terus terpuruk untuk jangka waktu yang masih panjang. 
Amit-amit deh!

Jansen H Sinamo Penulis Buku 8 Etos Kerja Profesional, Tinggal di Jakarta

 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke