Kalau melihat metode mengatasi permasalahan saya ingat
film 'cowboy' dimasa 'wild west', didalam suatu era karena
sering terjadi tindak kekerasan berupa perampokan dan
pembunuhan, sedangkan para sherif terbatas, serta tentara
yang tidak mudah dihubungi, maka warganya diperbolehkan
memiliki senjata dengan alasan untuk melindungi diri dari
perampokan, namun ternyata hal tersebut malah menimbulkan
anarkis dan kekacauan dimana-mana .
Dengan mengambil permisalan seperti itu, solusi
menyediakan kondom 'cepat saji', yang bertujuan
mempermudah perolehannya memiliki resiko yang sangat
tinggi dari bentuk penyelewengan.
Penyediaan alat kontrasepsi yang bebas di negara-negara
barat tidak berbenturan dengan budaya setempat yang
menganut faham sex bebas, karena hubungan sex legal
dilakukan asal suka sama suka, tidak dibawah umur dan
tidak ada unsur pemaksaan.
Jadi kalau penyediaan ATM kondom dengan tujuan mencegah
AIDS/HIV (walaupun sebagian mengatakan bahwa virus
tersebut bisa menembus kondom) di negara-negara tidak akan
bermasalah buat masyarakatnya dari sudut budaya.
Dibandingkan negara kita, yang memaki ukuran agama dan
budaya, yang dilarang oleh agama adalah hubungan sex
diluar nikah, apakah memakai kondom atau tidak sama saja
hukumnya dilarang bagi pasangan yang belum menikah.
Kalau diurut kebelakang masalahnya adalah penyebaran
AIDS/HIV yang meluas diakibat dari hubungan sexs yang
tidak terkontrol, yang tidak melalui ikatan perkawinan.
Dengan dibolehkannya hubungan sexs tidak melalui ikatan
perkawinan maka kebutuhan akan lembaga perkawinan menjadi
tidak penting.
Dengan menganut sistem sex bebas ini sebagian akibatnya
adalah aturan tayangan (public display), pergaulan (common
relationship ) tidak mengacu pada
aturan yang mencegah timbulnya pengaruh ransangan sex yang
liar, karena penyaluran sex bisa kapan,
dimana dan dengan siapa dapat dilakukan secara bebas yang
hanya diatur bila ada masalah atau delik aduan.
Oleh karena itu sulit atau hampir tidak timbul masalah
pornographi yang dinegeri kita menjadi topik yang hangat sampai
sekarang ini.
Untuk itu apa yang di plot dari negeri lain hendaknya
dipertimbangkan dengan culture yang kita punya, cocok
dinegeri lain belum tentu cocok dineger awak.
Dari segi agma Islam lebih maju dalam hal melakukan
penyelesaian suatu masalah dengan melihat dan menganalisa
lantar belakang sebab yang muncul dari masalah tersebut.
Ia tidak hanya melihat dan menyelesaikan yang terlihat
dipermukaan saja, seperti fenomena gunung es yang
sebetulnya volumenya lebih besar dibawah laut, Islam
menyelesaikan masalah sampai keakar-akarnya, penyelesaian
yang bersifat preventif agar masalah itu tidak muncul .
Maka hal-hal yang akan memungkinkan sebab timbulnya
perzinahan dilarang, mulai dari menundukkan pandangan
mata, menampakkan aurat, serta menganjurkan dan memudahkan
proses pelaksanaan perkawinan, dan tetap melekatkan
perkawinan sebagai suatu bentuk ibadah.
Wassalam
Arnoldison
Tuesday, December 20, 2005, 12:42:26 PM, you wrote:
TH> Rang Palanta, jo sanak Arnoldison nan ambo hormati,
TH> Apopun tujuan di baliak artikel koran ko, kito ndak paralu cameh doh.
Tapi paralu waspada terhadap menularnyo penyakiik nan alun bisa cegak dek ubek
apopun. Kecuali malambek an perkembangannyao
TH> ( baca HIV/AIDS ).
TH> Kembali ke soal kondom, dalam beberapa postingan ambo soal iko, ambo
tetap berprinsip, lebih baik mencegah dari pado mengobati. Prinsip pencegahan
ko nan patuik di ambiak dek BKKBN (pemerintah)
TH> dan paralu mandapek dukungan dek awak sadonyo nan melek pengetahuan. Klo
ndak diambek kini, dan kalau alah jatuah korban penyakik seks menular, mungkin
5 atau 10 tahun kamuko, pemerintah
TH> dituntuik dek rakyaiknyo, kok ndak ado gerakan untuk perlindungan
masyarakat. Kok informasi soal itu ndak disebarkan dsb. Iko akan jadi bumerang
dek pemerintah. Kini kondom disosialisasikan
TH> sebagai mungkin"satu-satunyo" alat nan bisa membantu kito dari penyebaran
penyakit yg menular dari hubungan seks. Hal iko indak ado pengaruh nyo terhadap
agamo, adaik jo sagalo nan kaku nan
TH> mangekang kehidupan kito. Tanpa penyebaran kondompun, gejala iko alah
semakin parah menyebarnyo. Iko bukan salah urang barat. Indak sadonyo urang
barat bebas seks, tapi mereka melakukannyo
TH> berdasarkan pengetahuan akan resiko.
TH> Yang dilarang hanyo perbuatan seks dimuko umum, ditempat umum seperti
taman dsb. Tapi klo alah di rumah surang, dihotel ataupun ditampek nan indak
dilalui umum, yah silahkan sajo. Berita
TH> pemerkosaaan di Perancis, jauh lebih sedikit daripada di Padang misalnyo.
Dan kalopun terjadi, hukumannya sangatlah berat , dan dipenjarapun, perlakuan
terhadap pemerkosa anak, pedofili dsb, oleh
TH> sesama napi, pemerkosa anak ini sangat dibenci. Pembunuh malah lebih
berharga daripada pemerkosa , baik pemerkosa anak maupun dewasa.
TH> PSK, seperti diketahui, merupakan salah satu pekerjaan yang paling tua di
dunia. Jadi untuk menghilangkannya, sangatlah utopia sekali. Jadi, mulailah
dari diri sendiri, dan orang lain akan
TH> mengikuti.
TH> Sehubungan jo "free sex" nan disabuik dalam artikel ko, perlu pencerahan
lebih lanjut. Apo sadonyo ingin berhubungan seks jo urang nan nampak dek inyo
tanpa adonyo raso saling menyukoi? Tanpa
TH> raso iko, artinyo adalah pemerkosaan!! Jadi istilah free sex atau seks
bebas di siko adolah salah kaprah bana.
TH> Maa nan labiah kalabakan mancaliak anak gadih dibawah umua, ataupun abg,
ataupun perempuan dewasa hamil diluar kawin? atau inyo berbuat sesuatu jo lawan
jenisnyo dengan memakai perlindungan
TH> kondom? Atau nan sejenis saling berhubungan seks dengan memakai kondom akan
lebih terlindungi dari penyakit aids dibanding yang tidak memakai kondom?
TH> Tanpa harus mengenyampingkan moral, adaik dan agamo, sosialisasikan lah
pemakaian kondom sesuai jo keadaan setempat. Janganlah dijadikan momok yang
sangat menakutkan. Tanpa sosialisasi dan
TH> pencerahan yang baik, berarti kita yang melek pengetahuan tidak bersedia
memberikan bantuan pengetahuan pada yang buta pengetahuan. Dan ini dosanya
lebih besar dari pada membunuh orang. Secara
TH> hukum, di negara maju, ybs mendapat hukuman dunia yang setimpal. Secara
tidak sadar, secara tidak langsung, kita membiarkan korban lebih banyak
berjatuhan. Inikah yang kita ingini?
TH> Sangajo artikel ko ndak ambo kuduang, bia nan lain labih bisa mengikuti
komentar ko. Klo ado nan komentar, silahkan pakai nomor urut sajo di balakang
kato"komentar".
TH> Sakitu se sanak sadonyo,
TH> Heri
TH> Paris
TH> Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> a écrit :
TH> http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=214744&kat_id=16
TH> Senin, 26 September 2005
TH> Anak Kecil Bisa Jajan di ATM Kondom!
TH> Fatmawati
TH> Dosen Program Studi Kebidanan, Politeknik Kesehatan, Nanggroe Aceh
TH> Darussalam (NAD)
TH> Siti Nuryati
TH> Jurnalis
TH> Papua, Surabaya, Semarang, Bandung, Jakarta, Mataram dan beberapa
TH> daerah lainnya telah menyediakan mesin vending kondom (semacam ATM
TH> khusus). Alat ini tersedia di beberapa lokasi seperti rumah sakit,
TH> klinik, maupun kantor-kantor kelurahan. Program itu digulirkan Badan
TH> Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN).
TH> Langkah tersebut dibungkus argumen agar konsumen lebih mudah
TH> mendapatkan kondom yang merupakan alat kontrasepsi dan pencegahan
TH> penyakit menular. Selain mudah diakses oleh mereka yang malu
TH> membelinya di apotek dan minimarket, akses kondom ini juga merupakan
TH> upaya untuk menanggulangi persoalan HIV/AIDS yang terus merebak.
TH> Tapi ada pertanyaan mengganjal. Bukankah langkah tersebut berarti
TH> upaya melegalkan seks bebas (free sex)? Dengan kondisi sebelumnya
TH> saja, free sex sudah cukup merebak. Apa jadinya kalau ada ATM Kondom?
TH> Adanya ATM Kondom membuat kondom lebih mudah didapat. Langkah itu pun
TH> tampak kontradiktif dengan berbagai upaya untuk menjaring/membasmi
TH> pekerja seks komersial (PSK) maupun penggrebekan lapak VCD porno yang
TH> selama ini sudah sering digaungkan.
TH> Tak hanya itu. Adanya fasilitas ATM Kondom sangat mengkhawatirkan jika
TH> sampai diakses oleh remaja-remaja kita yang belum berkeluarga. Bahkan
TH> anak di bawah umur pun dapat dengan mudah mendapatkannya. Sebab hanya
TH> dengan memasukkan tiga koin Rp 500, ATM Kondom akan secara otomatis
TH> mengeluarkan tiga buah kondom. Bagi anak-anak kita, untuk mendapatkan
TH> kondom sama mudahnya dengan jajan makanan kecil/minuman dari mesin
TH> otomatis yang biasa ditemui di pinggir jalan.
TH> Sejalan dengan itu, kontrasepsi untuk remaja pun turut ditawarkan.
TH> Adanya pemerintah daerah yang telah membuka program kontrasepsi bagi
TH> para remaja (belum menikah) adalah fakta yang semakin membuat kita
TH> miris. Jalan kemudahan bagi para remaja untuk melakukan free sex
TH> semakin terpampang. Mereka akan berpikir: ''toh dengan alat itu tak
TH> akan hamil.''
TH> Upaya parsial
TH> Jika kita cermati, langkah pemerintah (BKKBN) dalam mengatasi berbagai
TH> problem kesehatan reproduksi di Indonesia, masih parsial.
TH> Menyelesaikan suatu masalah dengan menciptakan masalah baru.
TH> Bila membaca salah satu poin tips dalam menjaga kesehatan reproduksi
TH> yang tertera dalam situs BKKBN sungguh kita akan dibuat
TH> terheran-heran. Tipsnya antara lain berbunyi: ''Gunakan kondom,
TH> terutama jika berhubungan dengan kelompok berisiko tinggi, misalnya
TH> pekerja seks komersial.'' Sebegitu liberalnya pandangan terhadap
TH> aktivitas seks bebas yang telah menjamur di negeri ini.
TH> Mengapa bukan pembinaan etika, moral, dan agama yang dijadikan program
TH> besar-besaran untuk menghentikan segala bentuk merebaknya penyakit
TH> seksual? Mengapa justru langkahnya dengan memberikan alternatif cara
TH> melakukan seksual yang aman (dengan memakai kondom), padahal perbuatan
TH> tersebut jelas-jelas bertentangan dengan nilai-nilai agama, etika,
TH> maupun moral --karena dilakukan bukan oleh sepasang suami-istri?
TH> Bahwa persoalan seks bebas ini telah menjadi fenomena yang cukup sulit
TH> dikendalikan oleh pemerintah, kita bisa memahaminya. Tapi
TH> persoalannya, tidak bisakah kita mengatasi persoalan tersebut dengan
TH> pendekatan pendekatan yang ''luhur'' dan ''mulia''? Yaitu dengan
TH> terus-menerus menyadarkan mereka dan kemudian dibarengi dengan
TH> berbagai langkah ''sigap'' pemerintah untuk memberantas berbagai
TH> bentuk penyimpangan seksual tersebut.
TH> Pernahkan terbayang oleh kita, generasi muda kita yang kian hari kian
TH> ''rusak'', salah satunya akibat seks bebas? Jangan lantaran argumen
TH> untuk memberikan hak-hak warga negara untuk mendapatkan akses
TH> kesehatan reproduksi, lantas membuat berbagai kebijakan yang
TH> dikeluarkan menjadi ''salah kaprah''.
TH> Isu kesehatan reproduksi tak hanya menjadi agenda di Indonesia, namun
TH> telah menjadi isu global. Melalui tangan International Conference on
TH> Population and Development (ICPD), wajah dunia dipromosikan akan
TH> diubah agar lebih segar, sejahtera, adil dan indah.
TH> Pertama kali digelar pada 1994 di Kairo, forum yang dihadiri 10 ribu
TH> perwakilan masyarakat sipil dunia (dari 179 negara, termasuk
TH> Indonesia) tersebut menyetujui visi 20 tahun (program aksi). Yaitu
TH> untuk membina keluarga berencana nasional dan internasional, kesehatan
TH> reproduksi, pencegahan HIV/AIDS, pemberdayaan perempuan dan
TH> upaya-upaya pembangunan terkait lainnya.
TH> Program kerja ICPD diantaranya menjelaskan kerangka bagi tercapainya
TH> status kesehatan reproduksi yang lebih baik. Tujuan ini diwujudkan
TH> antara lain dengan program kerja yang mengupayakan agar semua wanita
TH> yang aktif secara seksual memiliki akses ke pelayanan kesehatan
TH> reproduksi yang aman --termasuk dalam hal ini pencegahan (kondomisasi)
TH> dan kuratif (aborsi).
TH> Liberal dan permisif
TH> Apabila kita pertanyakan, siapa yang dimaksud dengan wanita yang aktif
TH> secara seksual? kita dapati fakta bahwa mereka adalah remaja yang
TH> belum menikah namun sudah melakukan hubungan seks, wanita yang sudah
TH> menikah dan sebelum pernikahannya sudah pernah melakukan hubungan
TH> seks, dan wanita yang berprofesi sebagai PSK.
TH> Program aksi ICPD yang ditujukan bagi wanita yang aktif secara seksual
TH> tersebut secara tidak langsung mengakui perbuatan yang melanggar
TH> norma-norma agama. Perbuatan yang merupakan gaya hidup liberal yang
TH> membebaskan individu untuk berbuat apapun. Gaya hidup serba boleh
TH> (permisif) ini merupakan perwujudan dari kebebasan berperilaku yang
TH> merupakan salah satu pilar pemikiran liberal yang diagung-agungkan
TH> masyarakat Barat. Masyarakat yang hidup dalam naungan ideologi sekuler
TH> yang memisahkan agama dari pentas kehidupan dan menjauhkan agama dari
TH> pengaturan masalah kehidupan manusia.
TH> Dari sini jelas sudah bahwa upaya mengamankan aktivitas seks bebas dan
TH> juga aborsi merupakan rekayasa global untuk mengeksiskan gaya hidup
TH> liberalis. Terlebih, tingginya kasus angka kematian ibu (AKI) dan
TH> aborsi terjadi di negara-negara berkembang yang notabene termasuk
TH> negara miskin yang sangat tergantung pada bantuan hutang luar negeri
TH> dari negara-negara maju (Barat).
TH> Konon, dana yang ditargetkan untuk mencapai tujuan dan target ICPD
TH> sebesar 15 milyar dolar AS. Dan dana yang sudah disetujui untuk
TH> mencapai target ICPD tahun 2005 adalah sekitar 18,5 milyar dolar AS
TH> yang sebagian besar ditujukan untuk pelayanan di negara-negara yang
TH> paling miskin. Bukankah kita memaklumi bahwa tidak ada dana yang
TH> diberikan secara cuma-cuma, sekalipun untuk tujuan kemanusiaan? Adanya
TH> ''sesuatu'' di balik ''mega bantuan'' tersebut yang patut menjadi
TH> sorotan kita.
TH> Racun-racun liberalisme diinjeksikan ke tubuh masyarakat kita yang
TH> nota bene ''beragama'' ini dengan berbagai kemasan, termasuk yang
TH> ditumpangkan pada isu-isu seputar kesehatan reproduksi. Kewaspadaan
TH> perlu kita tebarkan. Kehati-hatian perlu kita tingkatkan, agar kita
TH> tak teracuni dengan ide-ide Barat tersebut. Dan yang lebih penting
TH> adalah segera kembali kepada aturan Sang Maha Pengatur, Allah Azza Wa
TH> Jalla, untuk dapat keluar dari semua persoalan tersebut.
TH> ( )
TH> --------------------------------------------------------------
TH> Website: http://www.rantaunet.org
TH> =========================================================
TH> Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
TH> http://rantaunet.org/palanta-setting
TH> --------------------------------------------------------------
TH> UNTUK DIPERHATIKAN:
TH> - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
TH> - Besar posting maksimum 100 KB
TH> - Mengirim attachment ditolak oleh sistem
TH> =========================================================
TH> ---------------------------------
TH> Nouveau : téléphonez moins cher avec Yahoo! Messenger ! Découvez les
tarifs exceptionnels pour appeler la France et l'international.Téléchargez la
version beta.
--
Best regards,
Arnoldison mailto:[EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================