Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu.
Di Kedutaan Besar Republik Indonesia Mesir, sering
sekali setiap ada perayaan hari Nasional semacam, 17
Agustus, hari Pahlawan, Hari Ibu hari Dharma Wanita
diadakan berbagai pertandingan olahraga badan dan olah
raga otak.
Olah Raga badan semacam pertandingan volley, sepak
bola, tennis meja, badminton, bowling, bilyard,
dllnya. Olahraga otak semacam scrable, dan gaplek atau
Domino. Masak memasak dan memilih bumbu, juga
kuis-kuisan, puisi, menulis karya.
Biasanya saya mengikuti olahraga badan seperti volley,
tennis meja, badminton, dan sering mendapat nomor
untuk itu, terkadang juara I atau II, ada juga juara
III..
Disaat perayaan 17 Agustus, kebetulan suami mendapat
juara III dalam perlombaan Domino. Kemudian saya
tanyakan pada beliau. : " Uda,..Domino itu kata orang
judikan..? kenapa diadakan, dan kenapa uda ikuti?".
Apa jawab suami saya. : " Ima, yang dikatakan judi itu
adalah dengan kita saling bertaruhan memakai taruhan
uang atau benda apalah namanya, kalau di kedutaankan
hanya sekedar pertandingan untuk meramaikan suasana,
dan tidak ada pertaruhan uang disana atau pertaruhan
materil lainnya dari kedua belah pihak yang saling
berlawanan".
"Ohhh
begitu, saya bilang". Ima ngak tahu bagaimana
bermain gaplek itu, ngak pernah main itu soalnya.
Karena dengar dari orang itu judi, jadi ima hindari
mempelajari cara bermain itu bagaimana.
Kemudian disaat dua minggu yang lalu, ada peringatan
hari Dharma Wanita, dan diadakan tiga perlombaan saja,
yaitu puisi, domino, dan tennis meja.
Masing-masing anggota, boleh ikut tanding puisi, siapa
saja.
Namun untuk tennis meja dan domino, harus pilih salah
satunya. Mulanya saya milih tennis meja. Tetapi karena
saat itu saya bertugas menjaga kantin paginya, sedang
pertandingan tennis meja pagi hari, saya tidak ikut.
Kemudian karena sore harinya ngak ada kerjaan, cuman
menonton orang yang akan bertanding domino, ada
seorang teman menyarankan saya agar ikut meramaikan
saja, meskipun ngak tahu bagaimana bertandingnya, asal
meramaikan sajalah katanya, sembari ia menunjukkan
bagaimana cara permainanan itu.
Kalau ada angka lima, maka harus angka lima yang kita
keluarkan atau sebelahnya angka 2 maka angka dua yang
dikeluarkan jangan angka 4 katanya. Okay deh saya
bilang, saya ngerti. Tetapi gimana kita tahu kalah
menangnya? Saya Tanya lagi, kemudian ia jawab :"Yang
lebih dulu habis maka ia yang menang".
Lantas dari empat orang di satu meja, gimana
hitungannya?
Diambil dua orang, yang habis sama sekali dan yang
paling sedikit angkanya. Maka dua orang itu harus
bertanding dengan meja lainnya, yang menang dua orang
juga. Kalau babak semi final masih menang, harus
tanding lagi babak Final, yaitu bertanding yang menang
dengan yang menang lagi.
Saya menyeletuk,"Wah,..lama sekali permainannya, belum
dibabak penyisihan apalagi semi final, saya sudah KO
dong, ngak pernah main ini sih, bakalan kalah deh,
apalagi tanding dengan juara I 17 Agustus kemaren?,
ngak mau akh..malu-maluin saja, ngak pernah main,
bergaya ikut tanding lagi..?.
"Eh..ngak papa lagi, cuman ngeramain", kata teman
saya. Okay deh, saya bilang, saya ikut demi keramaian
suasana.
Sekali main, ngak berapa menit, batu saya habis,
berarti saya menang, saya bilang.
" Belum,.", kata teman saya, masih harus banyak lagi,
harus tanding lagi.
Tanding lagi, juara I lagi, yang paling duluan habis
dan paling sedikit nilai angkanya.
Teman-teman nyelutuk : " Gile lu Rahima, sekali main
langsung menang, cerdik dan licik kamu mainnya, bisa
menutup jalan lawan, padahal tadi ngak bisa main
katanya, jangan-jangan lu pura-pura kagak pernah main,
padahal dalangnya judi kamu dulu dikampung
yah..?".Beberapa kali main menang terus
" Eh,
enak aja, kalau memang pernah main ini, pasti
ikut dari dulu dong, belajar juga baru tadi, emang
dasar ditakdirkan mau menang yah tetap memang lagi,
ternyata permainan ini, pakai otak, berfikir dan
berusaha menebak bagaimana batu lawan serta jeli untuk
mengetahui nomor/angka berapa lawan-lawan yang ia
tidak punya"
Tapi masih satu kali bermain lagi, babak Final,
bertemu yang juara I dengan juara I. Yang diambil dari
empat orang itu hanya juara I dan II saja. Tidak ada
juara III nya.
" Yah..saya bilang, masak ngak ada jura III dan IV
nya. Sudah capek-capek dari tadi main dan menang, ngak
tahunya pas terakhir harus kalah..?"
" Iyah, teman saya bilang, memang begitu mainnya,
lagian ditetapkan hanya ada juara I dan II saja,
makanya harus dipertahankan untuk menang".
Saat terakhir permainan memang saya serius untuk
bertanding, sampai telephone berdering di HP sayapun
saya diamkan, karena sedang menghadapi jagoan DOMINO
tahun lalu,(hehehe), saya pikir, saya ingin juga
mengalahkan mereka, meski saya sadar ini adalah kali
pertama saya bermain domino ini. Ngak sampai hitungan
10 menit pertandingan usai, saya keluar sebagai juara
I saat itu.
Akhirnya apa celetuk teman-teman saya, sambil
menyanyikan lagu : " Aku merana karena judi,.."
ternyata Mahasiswi Al Azhar pintar dan bahkan dapat
juara I main Domino?!". Yang kesel yang tanding sama
saya, karena ternyata hadiahnya lumayan besar. Coba
deh, kalau Rahima tadi tidak ikut dan tidak diajari
main domino sebelum tanding, pasti deh gue yang menang
dan dapet hadiah itu, katanya".
Hehehe,,,,itulah yang namanya rezeki, saya sendiri
mulanya tidak berniat untuk juara, apalagi sampai
juara I langsung, karena sadar kemampuan diri, ngak
pernah tahu apa itu main Domino.
Dan pada keesokan harinya juga dengan niat untuk
membacakan puisi sebagai hiburan pada hari H nya,
malamnya saya menulis puisi. Tetapi teman saya bilang,
: " Sudah ikutkan saja puisi itu sekalian untuk
bertanding nantik". Saya bilang, kagak, ini
dipersiapkan buat puisi menghibur para hadirin, bukan
untuk dipertandingkan, saya ngak pandai baca puisi,
menulis bisa, membacanya ngak bisa, saya bilang.
Tetapi atas desakan teman saya itu, saya ikut juga.
Eh..lagi-lagi rezeki, dapat juara III, meski tidak
juara I. Banyak para hadirin yang menduga puisi itu
juara I, karena isinya bagus kata orang.
Saya Tanya pada juri setelah beberapa waktu diumumkan
para juara tersebut,, dimana kelemahan saya? Jawabnya.
Untuk komunikasi, keberanian dan tanggapan penonton,
dan juga isinya : Ibu Rahima yang memegang nilai
tinggi dan yang terbaik, namun sisi intonasi disaat
membacanya masih kalah dari yang juara I dan II,
dengan selisih nilai memang sangat minim, tetapi cukup
bagus juga mengalahkan beberapa peserta lainnya yang
lumayan juga. Saya jawab aja, yah jelas dong, saya
ngak pandai lagi, tetapi kalau belajar bisa jugakan..?
Semua itu bisa dipelajari
.Akhirnya saya pikir-pikir, ternyata didunia ini, bisa
saja dipelajari apa-apa yang tidak kita ketahui
sebelumnya, walau bukan bidang kita sekalipun. Ini
contoh kecil saja, begitulah seseorang pasti bisa
pandai ilmu agama, ilmu bahasa Arab, ilmu apapun,
asalkan ada niat ikhlas dan kemauan keras disaat
belajar itu. Kemaren itu saya bertanding benar-benar
niat untuk meramaikan suasana serta menyenangkan hati
para penonton saja, agar suasana tidak kaku dan tegang
saja, tetapi rileks, penuh tawa, dan keakraban saja.
Cerita ini,hanyalah sekedar cerita berbagi pengalaman
saja, berbuatlah dengan penuh keikhlasan dan rileks,
santai..
Wassalamu'alaikum. Rahima.(36 thn)
__________________________________________
Yahoo! DSL Something to write home about.
Just $16.99/mo. or less.
dsl.yahoo.com
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================