Assalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh,

Dana Besar Menuju Perbaikan Kualitas
* SDM Agenda Kedua Setelah Agama Sabtu, 31-Desember-2005, 06:44:46 12
clicks   
 
Alasan klasik karena keterbatasan dana yang selama ini menjadi topeng
buruknya kualitas pendidikan di Sumbar akan terjawab tahun anggaran
2006. Sebab Rp131 miliar anggaran pendidikan masuk dalam RAPBD Sumbar,
setara dengan 13 persen dari total RAPBD yang akan disahkan menjadi
APBD.  
 
Tahun ini akan menjadi pertaruhan bagi Sumbar untuk mendongkrak prestasi
pendidikannya yang masih terpuruk. Pendidikan di daerah ini memang
menjadi fenomena serius, banyak persoalan yang masih membelenggunya,
padahal pendidikan (SDM) harus menjadi kebanggan kita karena Sumber Daya
Alam (SDA) potensinya sangat terbatas. 

Kenangan manis masa lalu bahwa dari Sumbar lahir tokoh tokoh nasional
hendaknya jangan menjadikan kita terlena, tetapi mesti dijawab dengan
kerja keras dan keseriusan seluruh stakeholder untuk meraih prestasi itu
kembali. 

Tahun 2005 potret buram pendidikan masih mewarnai Sumbar, sebut saja
misalnya prestasi dalam Ujian Nasional. Berdasarkan rekap hasil ujian
nasional tahun 2004 / 2005 untuk tingkat SMP/MTs/SMP Terbuka Sumbar
berada pada peringkat 16. Dari 72263 peserta dari Sumbar yang tidak
lulus 12815 siswa atau 17,73 persen, di atas rata-rata nasional 13,43
persen. Dari 31 provinsi, Riau sendiri berada pada peringkat 15 dengan
jumlah peserta 68553 siswa yang tidak lulus 11476 siswa atau 16,74
persen, di bawah rata-rata nasional. Peringkat pertama ditempati DKI
dengan siswa yang tidak lulus hanya 3,38 persen, peringkat paling bawah
ditempati provinsi tetangga Sumbar, Bengkulu yakni yang tidak lulus
sebanyak 35, 97 persen. 

Untuk tingkat SMA / MA, Sumbar berada satu tingkat di bawah Riau. Dari
31 provinsi, Sumbar berada di peringkat 13, dari 38604 peserta yang
tidak lulus 7937 atau 20,56 persen. Peringkat pertama ditempati Sulawesi
Utara dengan persentase siswa yang tidak lulus hanya 7,39 persen.
Peringkat terbawah ditempati Nusa Tenggara Timur, dengan jumlah siswa
yang tidak lulus yakni 55, 91 persen. 

Namun untuk SMK Sumbar berada di peringkat 13 dengan jumlah peserta
15542 yang tidak lulus 3759 atau 24,19 persen, di atas rata-rata
nasional 22,16 persen. Riau sendiri berada di peringkat 22 dengan jumlah
siswa yang tidak lulus 24,19 persen. Dari 30 provinsi (minus Bangka
Belitung), peringkat pertama ditempati Jawa Barat dengan persentase
hanya 8,47 persen yang tidak lulus, terbawah kembali ditempati Bengkulu
dengan persentase, 67, 48 persen. Meski sebenarnya prestasi dijenjang
SLTP dan SLTA tahun ini sedikit lebih baik dibanding tahun sebelumnya. 

Buruknya pendidikan hampir terjadi di seluruh lapisan, mulai tingkat SD
sampai ke perguruan tinggi. Selain itu 9,9 persen masyarakat masih buta
huruf, rendahnya minat baca, minimnya prasarana pendidikan. Di
nagari-nagari kita masih menemukan gedung sekolah yang rusak dan tidak
representatif untuk penyelenggaraan pendidikan. Selain itu para lulusan
di setiap jenjang pendidikan juga dihadapkan pada persoalan sempitnya
lapangan kerja. 

Potret buram pendidikan di daerah ini memang menjadi perhatian serius
oleh pemerintah, bukan hanya secara lisan tetapi juga masuk salah satu
prioritas Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Sumbar tahun
2006-2010. Dalam program Peningkatan Kualitas SDM disebutkan beberapa
rencana, yakni penyempurnaan system pendidikan melalui pengembangan
kurikulum yang berorientasi pada kebutuhan lokal. Peningkatan
profesionalisme tenaga kependidikan. Pengembangan sarana dan prasarana
pendidikan, peningkatan partisipatif masyarakat terhadap pendidikan. 

Selanjutnya Pembinaan dan pengembangan aktivitas pemuda dan olahraga
dalam rangka mendorong terciptnya generasi muda yang sehat, peningkatan
prestasi olahraga. Program ini juga disinergikan dengan besarnya
anggaran untuk pendidikan. Naiknya anggaran tentu harus dibarengi dengan
peningkatan kualitas. Benarkah? 

** Ir Insannul Kamil M.Eng, In Put Kropos, Out Put pun Lebih Kropos 

Bicara seputar pendidikan, Ir Insannul Kamil, M.Eng, melihat bahwa
persoalan pendidikan tak bisa dilihat secara terpisah. Tetapi harus
dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh. "Untuk melihatnya, tak bisa
pada level perguruan tinggi saja, tetapi juga harus dari level
pendidikan dasar dan menengah. 

Selama ini, sudut ini yang cenderung terabaikan," jelas Insannul Kamil,
kelahiran 22 November 1967, yang menamatkan pendidikan Master of
Engineering, Graduate School of Mechanical Engineering, di Toyohashi
University of Technology, Jepang. 

Terabaikannya pendidikan di tingkat dasar dan menengah ini, lanjutnya,
disebabkan minimnya perhatian mau pun kepedulian untuk pembenahan.
Malahan, tak sedikit tenaga pengajar yang pengabaikan perannya. Artinya,
mengajar seadanya. Kondisi itu semakin diperburuk bila di antara mereka
justru tak belajar atau memperdalam ilmu dengan pengetahuan-pengetahuan
lain. 

Tak berlebihan bila fenomena ini dikaitkan dengan tuntutan pada komitmen
moral tenaga pengajar. "Kalau komitmen moral ini diabaikan, mau dibawa
kemana pendidikan kita?" tanya Insannul Kamil yang juga Ketua Jurusan
Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Andalas. 

Insannul Kamil yang pernah mengikuti seminar Internasional Quality in
Research melihat, misalnya, peran BPG. Seharusnya lembaga ini memiliki
peran penting dalam upaya memperbaiki dan meningkatkan peran guru.
Lembaga ini seharusnya dapat berperan dan menemukan terobosan-terobosan
dalam upaya peningkatan kinerja guru. 

Terhadap hal ini, Insannul Kamil menyebutkan, persoalan utama kualitas
pendidikan ada pada pengajar.Jika pengajarnya tak punya improvisasi dan
tidak pula belajar, tentu mereka akan tertinggal, sebab, perkembangan
pendidikan dan pengetahuan bergerak sangat cepat. 

Jika peserta didik mendapatkan ilmu yang minim dari pengajar yang
tertinggal pengetahuannya, tentu peserta didiknya akan jauh lebih
tertinggal. Mereka tentu akan keropos. Kalau in put dari pendidikan
dasar dan menengah sudah kropos, tentu out put di pendidikan tinggi
lebih kropos lagi. 

Disisi lain, Insannul Kamil melihat bahwa persoalan pendidikan dasar
merupakan persoalan urgen. Menjadi tanggungjawab negara secara utuh.
Pasalnya, pendidikan dasar merupakan pendidikan untuk masyarakat
berbasis ilmu pengetahuan. Wajib belajar sembilan tahun idealnya tak
dipungut biaya sepeserpun. Terkait persoalan investasi pendidikan yang
tinggi, ada pada pendidikan yang harus dibiayai untuk pendidikan di atas
sembilan tahun. 

** Prof Dr H Novirman Jamarun MS, Koordinator Kopertis Wilayah X
Jawab dengan Kualitas 

Kompetisi pendidikan di jenjang perguruan tinggi bukan hanya terjadi
antar perguruan tinggi swasta atau dengan perguruan tinggi di dalam
negeri saja, tetapi juga dengan perguruan tinggi luar negeri. Tak ada
pembatasan masyarakat kita untuk sekolah atau kuliah ke luar negeri.
Agar dunai pendidikan di dalam negeri tidak terimbas besar maka harus
dilakukan perbaikan untuk terus meningkatkan kualitas. 

Kualitas sebuah perguruan tinggi sangat ditentukan banyak faktor dan
butuh dukungan berbagai elemen. Prasarana yang lengkap, tenaga dosen
yang berkualitas dan kurikulum yang sesuai dengan perkembangan zaman.
Meski banyak perguruan PTS yang mapan dan berkualitas, tetapi masih ada
sebagian yang perlu perhatian. Ini hanya bisa ditingkatkan dengan
dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah. 

Kami sangat menyambut baik dukungan yang diberikan Pemprov Sumbar
menganggarkan dana pendidikan untuk tenaga dosen di Perguruan Tinggi
akan memberikan semangat baru dan motivasi bagi PTS untuk terus
berkompetisi. Apalagi seperti kita ketahui, umumnya yang kuliah di
PTS-PTS adalah putra-putri negeri ini yang juga anak kemenakan kita
bersama. 

Perhatian peningkatan kualitas pendidikan tinggi di Sumatera Barat
secara bertahap mulai mengikis persepsi yang selama ini menilai
Perguruan Tinggi bukan kewenangan Pemerintah Daerah. Masuknya anggaran
peningkatan kualitas dosen untuk perguruan tinggi negeri dan swasta
membuktikan perhatian peningkatan kualitas pendidikan yang selama ini
masih minim mengalami peningkatan. 

Selama ini ada persepsi yang salah, bahwa perguruan tinggi tanggung
jawab pemerintah pusat, sementara yang menjadi tanggung jawab pemerintah
daerah adalah SD, SMP, dan SMA sederajat. Persepsi itu jelas keliru
karena dalam UU No 20 Tahun 2003 Tentang Pendidikan Nasional BAB XIII
Pendanaan Pendidikan pasal 46 pasal 1, Pendanaan pendidikan menjadi
tanggung jawab bersama antar pemerintah, pemerintah daerah dan
masyarakat. 

Kekuatan hukum dalam UU No 23 Tahun 2003 itu dipertegas dalam Peraturan
Pemerintah No 19/2005, agar setiap pemerintah provinsi, kabupaten dan
kota membantu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ada di wilayahnya.
Program ini telah dilakukan sejak dulu di jajaran pemerintah provinsi
Riau, bantuan yang diberikan untuk PTS yang ada wilayahnya sangat besar,
sehingga jelas mendorong peningkatan kualitas pendidikan di daerah
tersebut. 

Perhatian dan komitmen Pemerintah Provinsi Sumbar tahun ini diharapkan
juga diikuti oleh kabupaten dan kota yang ada PTS di lingkungannya. Hal
ini sangat beralasan, bukan hanya keterbatasan dana yang dimiliki
masing-masing perguruan tinggi tetapi yang jelas kehadiran sebuah PTS
pada suatu daerah akan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
di daerah itu, selain memberikan multiplier effect bagi masyarakat
sekitar. 

Perlu kita garisbawahi bahwa kehadiran PTS-PTS sangat membantu anak
negeri ini yang belum atau tidak tertampung oleh Perguruan Tinggi Negeri
(PTN) yang ada. Namun pada sisi lain tentu kita juga mengharapkan agar
PTS yang beroperasi tidak hanya sekedar menampung mahasiswa tetapi juga
secara bersama-sama memiliki tanggung jawab moral untuk melahirkan
lulusan yang be rkualitas dan siap pakai. 

** Walikota Padang H Fauzi Bahar
Menjadikan Padang Magnet Pendidikan di Indonesia 

Menjadikan Padang Sebagai kota pendidikan, ibarat memperjuangkan
kejayaan masa lalu dunia pendidikan yang saat ini mengalami penurunan.
Pemerintah mesti menetapkan dan memperjuangkan hal mendasar yang
benar-benar terkait dengan dunia pendidikan. Apa terobosan yang telah
dan akan dilakukan pemerintah, berikut wawancara Padang Ekspres dengan
Walikota Padang, Drs H Fauzi Bahar MSi. 

Anda melihat pendidikan sebagai sesuatu yang urgen? 

Zaman sekarang, hampir semua orang menyadari bahwa pendidikan amat
penting. Untuk bisa eksis di tengah persaingan global, menuntut individu
yang berilmu pengetahuan dan memiliki skil handal. Dua hal ini hanya
bisa didapatkan dari dunia pendidikan formal dan non formal. Karena itu,
pendidikan menjadi sangat penting bagi setiap orang. 

Untuk Kota Padang sendiri, dunia pendidikan dipandang sebagai sektor
unggulan untuk dikembangkan selain pariwisata, perdagangan, jasa serta
sektor kelautan. Jika pemerintah dan semua elemen masyarakat mampu
mewujudkan Padang sebegai kota pendidikan, akan banyak efek positif yang
akan diraih. Selain manusia berkulaitas dalam hal keilmuan dan skil,
juga akan meningkatkan perekonomian masyarakat karena terbukanya
kesempartan usaha, antara lain rumah kos dan penyediaan kebutuhan
harian, pakaian dan kebutuhan lainnya. 

Bagaimana Anda mengapresiasi pendidikan? 

Setelah menyadari pentingnya pendidikan dan besarnya efek positif yang
akan diterima, tentu pendidikan ini akan menjadi perhatian yang besar
bagi Pemko Padang. Banyak program fisik dan non fisik yang telah dan
akan dilakukan. 

Apasaja langkah konkrit yang dilakukan pemerintah? 

Untuk fisik, telah dimulai dengan program pengadaan buku gratis bagi
murid SD samppai SLTA. Tahap awal ini baru pengadaan untuk SD dengan
dana Rp4,7 miliar pada APBD 2005. Tahun 2006 dianggarkan Rp3,5 miliar.
Begitulah seterusnya setiap tahun, sehingga problem beratnya pembelian
buku bagi masyarakat bisa teratasi. Selaian buku, untuk fisik masih
terus dilakukan upaya memenuhi sarana belajar serta rehab sekolah dan
pendirian sekolah baru. 

Bagaimana dengan non fisik? 

Untuk non fisik, dilakukan pemberatasan masit untuk menciptakan kota
padang yang bersih dari maksiat. Selain itu juga diupayakan penambahan
pengetahuan agama generasi muda, memperkuat aqidah dan meningkatkan
kemampuan pelaksanaan ibadah mereka. Ini an tara lain dilakukan dengan
pelaksanaan pesantren ramadah yang selepas itu dilaksanakan dalam bentuk
wirid remaja dua kali satu bulan, pada malam kamis minggu I dan II
setiap bulan bagi siswa SLTP dan SLTA. Sementara bagi murid SD
dilaksanakan didikan subuh. 

Kegiatan pendidikan agama ini sangat penting, sehingga disepakati wirid
remaja dan didikan subuh akan menjadi nilai agama dalam rapor murid dan
siswa. Untuk guru, telah dibentuk semacam forum musyawarah guru bidang
studi. keberadaan forum tersebut digunakan bagi guru masing-masing
bidang studi untuk berbagai pengalaman dan mencari solusi kendala
pengajaran yang ditemui. 

Seberapa penting korelasi pemberantasan maksiat dengan menjadikan Padang
sebagai kota pendidikan? 

Korelasinya sangat jelas. Bisa dilihat dewasa ini, betapa maksiat
seperti tak terbendung pada setiap kota di Indonesia. Kondisi itu
mencemaskan semua orang tua yang akan melepas anaknya menuntut ilmu
pengetahuan. Ada kekhawatiran anak-anak mereka justeru akan terjebak
dalam maksiat atau menjadi korban perbuatan maksiat. 

Menyikapi hal itu, sebuah gerakan menyeluruh dan terus manerus mesti
dilakukan untuk membebaskan kota dari perbuatan maksiat. Untuk itulah
mengapa saya ngoto memperjuangakan pemberantasan judi, miras, pelacuran
dan berbagai perbuatan maksiat lainnya di Kota Padang. Jika Padang mampu
menciptakan kota yang bebas dari maksiat, atau setidak-tidaknya mampu
menekan perbuatan maksiat, maka para orang tua akan memilih Padang
sebagai alternaatif kota tempat menempa anak mereka. 

Bagaimana dengan fisik kota yang juga menjadi daya tarik tujuan
pendidikan? 

Ya, antara pendidikan dan wisata akan saling mendukung. Pendidikan yang
maju akan memajukan pariwisata. Sebaliknya wisata yang bagus, juga akan
menjadi daya tarik bagi pendidikan. Makanya, upaya memperindah kota
dilakukan. Mulai dari gerakan kebersihan yang melibatkan semua elemen
masyarakat, mahasiswa, pelajar sampai ke murid SD. Selain itu juga
dilakukan upaya penanaman bibit pohon. 

Gerakan kebersihan dan penanaman pohon nantinya akan melahirkan kota
bersih dan hijau. Jika kombinasi antara kota bebas maksiat, bersih dan
hijau bisa dikombinasikan, obsesi Padang sebagai Kota Pendidikan akan
terwujud. 

Apa langkah pembangunan pendidikan ke depan? 

Semua kegiatan yang dilakukan tahun 2005, akan tetap dilaksanakan tahun
2006. Tahun 2006 ini anggaran pendidikan men capai Rp20 m. Dengan dana
ini dan dana dari pusat serta dana bantuan luar negeri, akan tetap
dilakukan rehab sekolah. Dari dana itu, Rp3,5 miliar dialokasikan untuk
meneruskan pengadaan gratis. 

Dalam dana tersebut juga dianggarkan untuk membiayai pembangunan sekolah
sebagai pilot project pendidikan berbentuk SMA standar
internasional.Yang dipilih dalam hal ini adalah SMAN 1 dan SMAN 10. 

Tahun 2006 untuk rehab baru fokus ke SD dengan menggunakan Dana Alokasi
Umum (DAK) sebesar Rp6,390 Miliar untuk 32 SD. Satu SD mendapat dana
Rp220 juta dengan rincian penggunaan 64 persen mesti digunakan untuk
rehab dan 36 persen untuk pembelian media belajar. Dana tersebut
digunakan untuk 32 SD yang tahun 2005 sebanyak 50 SD. 

Bagaimana halnya dengan SLTP dan SLTA? 

Untuk SLTP dan SLTA juga akan ada penambahan ruang kelas dengan
menggunakan dana dekosentrasi sebesar Rp4,2 Miliar. Selain itu juga
untuk peningkatan mutu sekolah, perbaikan manajemen dan melengkapi
sarana dan prasarana pendidikan. Penggunaan dana ini juga mensyaratkan
dana pendamping dari komite, selain dana APBD Kota Padang. 

Untuk SMP tahun 2005 diharapkan ada dana dekosentrasi untuk tambahan 58
ruang kelas, namun disetujui Rp1,2 Miliar hanya untuk 34 ruang kelas.
Berarti masih sisa 24 ruang kelas. Dan untuk SMA butuh tambahan 84 ruang
kelas, namun yang telah dibangun 11 lokal dengan dana Rp550 juta untuk
satu sekolah. Dengan pembangunan ini diharapkan tidak adalagi murid dan
pelajar yang masuk sianga. 

** H Mas'oed Abidin, Ketua MUI Sumbar
Tugas Berat 

Perguruan tinggi candra di muka pembentukan generasi ke depan, bukan
saja melatih menjadi kaum yang intelektual tapi juga mampu membentuk
pribadi yang bermoral. Selama ini masyarakat terutama generasi muda
menghadapi kemiskinan moral. Dunia pendidikan menghadapi tantangan dan
beban yang berat untuk pembinaan kegenerasi ke depan mengingat fenomema
kemiskinan moral masyarakat semakin parah. 

Para pelaku di dunia pendidikan, baik tenaga pengajar, pemerintah,
maupun masyarakat luas telah melakukan penerapan sistem pendidikan
dengan kondisi kepatuhan, namun hari ini malah kepatuhan itu sendiri
yang kurang, hal inilah yang menjadi beban berat , karena memang konsep
kepatuhan harus tetap dipertahankan selain juga meningkatkan
kedisiplinan siswa . 

Anggapan yang mengatakan menuntut ilmu adalah Hak Azazi Manusia (HAM),
akan membuat semangat belajar atau disiplin sangat rendah. Hal inilah
yang menyebabkan sekarang ini masyarakat mengalami kemiskinan moral.
Kebanyakan mereka kaya dalam bidang fisik namun mereka miskin akan
moral, sehingga memang kedisiplinan menjadi masalah yang yang harus
dihadapai secara bersama-sama. 

Sekolah tempat pembentukan generasi masa datang, perlu penegakan
disiplin. Saya berharap hal ini dapat dilakukan. Selain itu pembentukan
seorang inteletual bukan saja mengandalkan ilmu namun juga harus
berupaya untuk perbaikan moral. 

Muhammad Hatta dulu berhasil dalam pendidikan, karena dia mampu
melakukan pendekatan secara emosional kepada semua pihak, bukan hanya
pendektan struktural, hal ini pulalah yang semestinya dilakukan para
pendidik. Terakhir buya berpesan kepada para pendidik, terima jabatan
dan profesi dengan mengucapkan Lahaulaquataillabillah, karena agama
mengajarkan bahwa tak akan ada pernah ada amanah tanpa ada kekuatan ilmu
dan kebersamaan dan tidak akan ada kekuatan tanpa ada ketakwaan. 

** Kamardi Rais Dt P Simulie, Ketua LKAAM Sumbar
Agent of Change 

Dunia pendidikan ke depan terutama perguruan tinggi harus mampu menjadi
Agent Of Modernisasi, dimana dalam pengembangan ilmu dan pemikiran dapat
dilayani secara setia oleh masyarakat. Sebagai daerah industri otak,
kita hendaknya tidak terlena dengan kejayaan masa lalu. Berapapun
disiplin ilmu yang ada, asal masyarakat menjadi pelanggan yang setia
dari universitas, hal tersebut menjadi hal yang utama. Karena
masyarakatlah yang menilai bagaimana pengembangan dari Unand itu
sendiri. 

Keberadaan Unand harus ada imbasnya kepada masyarakat dalam artian para
lulusan Unand berperan serta dalam pengembangan masyarkat bukan hanya
sekedar memperoleh sarjana namun tidak mampu berperan aktif dalam
masyarakat. 

Dengan keaktifan tersebut masyarakat benar-benar merasakan pentingnya
keberadaan Unand tersebut, sehingga Unand mampu menjadi pelanggan setia
dari masyarakat. 

** Drs Ali Amran, Kasubdin Program Dinas Pendidikan Sumbar
BOS Rp245 Miliar 

Bulan Januari mendatang Rp245 miliar dana Bantuan Operasional Sekolah
(BOS) periode 2006 akan disalurkan. Penyaluran dana tersebut akan
dilakukan dalam dua tahap untuk dua semester, yaitu periode Januari-Juni
dan periode Juli-Desember. Hal tersebut dipastikan, karena telah
disetujuinya Surat Rincian Alokasi Anggaran (SRAA) dan Daftar Isian
Pelaksanaan Anggaran (DIPA) untuk dana BOS. Dana BOS tersebut telah
menjadi beban anggaran 2006. 

Oleh karena itu dana tersebut telah bersifat permanen yang telah
dianggarkan dalam APBN bukan lagi dana Program Kompensansi Pengurangan
Subsidi Bahan Bakar Minyak (PKPSBBM). Dana tersebut akan dimanfaatkan
bagi 249.116 SMP sederajat, dan 663.423 SD sederajat yang di Sumbar.
Mekanisme penyaluran dana BOS tersebut masih sama pada penyaluran dana
BOS sebelumnya. Dana tersebut di tansfer ke rekening sekolah oleh pihak
Bank Nagari. 

Untuk siswa SD/sederajat akan tetap diberi kompensasi sebesar Rp225
ribu/tahun, sedangkan siswa SMP/sederajat Rp324 ribu/tahun. Dalam dana
tersebut juga akan disalurkan Bantuan Khusus Murid (BKM), yang diberikan
dalam bentuk beasiswa kepada siswa SMA, SMK, MA dan SMLB sebesar Rp60
ribu per bulan, yang tergolong miskin. 

Sementara itu dari laporan pihak Bank Nagari pertengahan Desember,
penyaluran dana BOS tahap pertama hampir 90 persen dananya telah diambil
oleh pihak sekolah. Dana BOS tersebut telah dicairkan oleh pihak
sekolah, namun sekarang tergantung pihak sekolah untuk mempergunakan
dana tersebut, ujarnya. 

Dinas pendidikan Sumbar sendiri masih menunggu laporan di tingkat
kabupaten kota dalam penggunaan dana BOS oleh sekolah yang ada. Belum
semua sekolah melaporkan realisasi pelaksanaan dana BOS yang dicairkan,
ujarnya lagi. 

Dijelaskan Ali, pihak sekolah harus menyelesaikan Surat Pertanggung
Jawaban (SPJ) penggunaan dana BOS tahap I agar dapat mengambil dana BOS
tahap II. (Tim Padek)

 
 
 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke