Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakaatuhu.
Dunsanak RN semoga dirahmati Allah.
Saya termasuk orang yang sangat gampang menerima
nasehat dari siapapun, tanpa pandang bulu orangnya.
Tetapi bukan orang yang mudah untuk disalah-salahkan,
apalagi dalam permasalahan yang ada kaitannya dengan
ajaran agama Islam, saya akan bertahan dengan pendapat
agama yang sudah saya fahami betul kebenarannya.
Saya bisa menerima, kalau berbicara jangan terlalu
menyebutkan kelebihan diri, karena tidak semua orang
bisa menerima hal itu, padahal secara jujur aja kalau
ditanya diri kita sendiri, hati nurani kita yang
jujur, kita juga sering melakukan hal yang sama, hal
yang tidak kita sukai itu. Dan sebagaimana nasehat
dari mak Asmardi Arbi, jangan berbicara tentang diri
sendiri, karena budaya Minang yang masih suka
curiga,...dst (silahkan dibaca ulang kembali postingan
mak Asmardi).
Nasehat mak Asmardi Arbi, Ajo Duta, bisa saya terima,
karena alasannya tepat. Saya bukan termasuk kategori
orang yang gampang curiga dengan postingan orang lain,
orang mo menyebutkan kelebihan dirinya, jasa-jasanya,
mo dia pintar, hebat, ilmunya selangit, entah kenapa
saya koq tidak pernah mempermasalahkannya, dan
sebagainya, saya menganggap hal itu biasa saja, karena
hati manusia hanya Allah yang tahu, dan saya sadar,
bisa jadi para pejabat, para ulama sering saya dengar,
bahkan para sahabat serta nabi Muhammad
Shallallahu'alaihi wasallam sendiripun pernah
mengatakan kelebihannya atau kelebihan sahabat lain
dihadapan sahabat lainnya juga, dengan maksud dan
tujuan tertentu juga.
Dan saya sadar secara langsung "Oh kenapa dia
menyebutkan kelebihan yang ada padanya, saya ambil
baik sangka langsung saja, sangat jarang, boleh
dikatakan sulit sekali langsung berprasangka buruk
pada orang tersebut, mungkin maksudnya menyebutkan
karunia Allah padaNya. Faamma bini'matirabbika
fahaddist, atau ingin orang lain dapat mengikuti
jejaknya. Itulah selama ini prinsip saya, makanya
susah sekali mengoreksi orang lain. Beribu sangka baik
yang datang dibenak kepala saya, ketimbang buruknya
dulu. Entahlah itu yang terjadi pada diri saya, dan
bisa jadi ini penyebab saya sulit memiliki sifat
dendam, iri, atau dengki pada orang lain. Bukan maksud
apa-apa dari penyebutan realita yang saya alami ini,
tetapi begitulah adanya hati saya. Sedangkan
bersedeqah saja dibolehkan untuk secara diam-diam atau
nyata(kalau bisa menjaga hatinya dari riya)
Namun, setelah membaca ulasan dan alasan dari mak
Asmardi tentang karakter orang Minang, saya baru
menyadari dan bisa menerimanya.Walau dalam hati kecil
saya, kenapa harus begitu, bukankah Islam banyak
mengajarkan kita masalah-masalah hati?
Dan saya baru juga teringat, kalau memang ada hadist
agar kita jangan menyebutkan karunia Allah , karena
bisa jadi disana ada orang yang iri, atau hasad(maaf
demi Allah, tidak maksud sama sekali mengatakan ada
yang iri di RN ini, naudzubillahimindzalik, karena
saya menganggap RN selama ini tidak ada yang irilah
maka saya sampai "tidak mengingat hadist tersebut"),
menganggap semua orang berfikiran baik, berfikiran
positive, makanya sikap cuek saya yang ada. Ternyata
hal ini tidak bisa dilakukan.
Dan yang tidak bisa saya terima dari postingan bundo
Nismah adalah masalah agama yang saya sampaikan.
Apalagi kalau dibilik-bilik.
Masalah agama yang berkaitan dengan sexual, dimana
letak postingan saya yang salah dalam agama dalam hal
penyampaiannya? Oh..ditambah-tambahi. Apa yang saya
tambahi, semua hadist mempunyai syarah, atau
penjelasannya. Dan tak jarang dalam setiap penjelasan
saya mengenai masalah senditif saya dahului dengan
kata ( maaf) didalamnya. Ini menunjukkan bagaimanapun
saya harus sampaikan kebenaran itu, dan maaf saya
tidak punya kata-kata yang lebih tersembunyi lagi
untuk mengungkapkannya.
Contoh sebuah hadist seorang wanita datang kepada
Rasulullah mengadu tentang suaminya : " Wahai
Rasulullah, saya inginkan anak, sementara suami saya
maaf (impoten), apa jawab Rasulullah? Apakah dipagi
hari tidak bisa, karena pagi hari bergerak nya maaf
sekali lagi ( syeikh, atau batang penis lelaki" Tidak
ya Rasulullah, jawab sahabaiyah itu. Okaylah kalau
begitu, bersabarlah kamu dulu, sampai Allah membukakan
jalan keluarnya.
Hadist Rasulullah diatas menyatakan maaf (kemaluan)
lelaki dengan jelas, salahkah, terlalu vulgarkah?
Hadist lain yang bagi orang lain vulgar : " Apabila
bertemu dua khitan(kemaluan), maka wajib atasnya mandi
wajib".
Ketika sahabat bertanya : Wahai Rasulullah bagaimana
kalau bertemu dua kelamin itu, namun tidak sampai
keluar sperma, masih tetap wajib mandi? " Iyah..jawab
Rasulullah".
Nah lho, disebutkan bukan kemaluan, sperma dengan
jelas, tanpa tersembunyi, apakah salah, apakah terlalu
vulgar, dan bukankah hal semacam ini yang saya
sampaikan, bahkan saya rasa, sudah saya jaga sekali
dalam hal penyampaiannya.
Bagi bundo menyebutkan sperma saja sudah menjadi
masalah. Harus dibilik. Bukankah ini berarti masalah
agama yang saya rasa penting diketahui oleh semua
kalangan yang dewasa baligh, tidak boleh disampaikan
di RN ini, atau harus dibilik-bilik, dijapri?
Itu yang sama sekali tidak bisa saya menerimanya.
Soal penyampaian, saya rasa apa yang disampaikan oleh
Rasulullah lebih vulgar lagi, saya sudah betusaha
meminimalisir. Namun bila ditanya dengan penjelasan
lagi, akan saya jelaskan lebih jauh dan akan saya
terjemahkan syarah dari para ulama. Itulah yang saya
lakukan. Contoh masalah mencukur, pertama sekali
padahal saya menyampaikan bahwa orang mencukur setiap
yang berbulu. Tak ada menyebutkan "kemaluan disana",
karena ingin diperjelas lagi oleh netter, saya
sebutkan saja hadistnya, ada kata-kata " mencukur bulu
kemaluan"( Ini bukan kata-kata tambahan atau kata
vulgar dari saya, tetapi hadist Rasulullah itu
sendiri), apakah saya salah dalam menyampaikannya?
Begitupun dengan puasa izin suami, ditanya bagaimana
pendapat saya sebagai perempuan menyikapi hadist ini.
Saya jawab dengan singkat : " Sikap Muslimah adalah
Sami'naa waatha'naa". Eh..ditanggapi lebih jauh. Okay
saya pikir, saya keluarkanlah hadist-hadist yang lebih
jelas dan vulgar lagi dalam masalah ini. Inikan
kronologis dan rentetan ceritanya. Apakah saya salah
dalam penjelasan dan penyampaian hadist Rasulullah
tersebut?
Wassalamu'alaikum. Rahima
--- adeer <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Assalamu'alaikum
>
> Untuak dik Ima, Bundo, dan mamak kasadonyo.
>
> Maafkan kalau saya ikut bicara lagi dalam hal yang
> mungkin tak ada sangkut pautnya dengan saya.
>
> Nasehat dari Mak Asmardi Arbi itulah yang perlu kita
> baca dan fahami baik2, saya lihat nasehat itu sangat
> baik untuk yang muda maupun yang tua, tidak terbatas
> hanya untuk dik Ima atau Bundo sajo, tapi untuk kita
> semua.
__________________________________
Yahoo! for Good - Make a difference this year.
http://brand.yahoo.com/cybergivingweek2005/
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================