Assalamu'alaykum wr.wb

Acok mandanga kasus-kasus malpraktek ko, tapi jarang ado nan sampai
manuntuik dokter akibat kasalahannyo tu, dek mungkin karena urang kito
menggangap umua ado di tangan Yang Maha Kuaso, takdir tibonyo.

Pandapek tu ado baiknyo, karano mambuek kita manarimo sesuatu tu
dengan lapang dado, tapi kok maliek di nagari urang, kasalahan sabok
tindakan dokter haruih  diproses dan disalasaikan secaro
tuntas, dimano latak kasalahonnya dan bilo memang ado unsur
kalalaiannyo mako dapek  dihukum dan di cabuik ijin prakteknyo.


Wassalamu'alaykum wr.wb

Arnoldison

---------------------------------------------------------------------
Hanif Musyaffa Tewas Mengenaskan

HANIF Musyaffa (10 bulan), anak semata wayang pasangan Arief Surachman
(30) dan Mia Melani (23) telah pergi untuk selamanya. Hanif pergi di usianya
yang masih sangat muda. Hanya sepuluh bulan, ibunya, Mia, diberi kesempatan
untuk merawat Hanif dan hanya sepuluh bulan pula dia menyaksikan kelincahan,
kelucuan, dan keluguan anak lelakinya itu.

Minggu (18/12), Hanif meninggal dengan keadaan yang sangat
mengkhawatirkan.
Seluruh kulit di tubuhnya melepuh seperti terbakar. Mulut, lidah, dan
kelopak matanya pun ikut melepuh, ditambah dengan cairan yang keluar
begitu luka-luka itu terbuka dan mengelupas. Untuk minum dan makan hanya bisa
ditetesi dengan menggunakan kapas."Tubuh Hanif melepuh dan saya hanya
bisa menyaksikan tanpa bisa berbuat apa-apa untuk mengurangi rasa sakit yang
dideritanya," ujar Mia sambil berkaca-kaca.

"Saya tidak tega melihatnya," tambahnya. Tidak terbayang betapa parah
rasa sakit diderita Hanif. Untuk menangis saja dia tidak sanggup. Mengedipkan
mata pun yang keluar hanyalah darah," kata Mia, sambil sesekali berhenti
berkata dan menghela napas panjang 

Mia yang beralamat di Jln. Raya Ujungberung No. 228, menceritakan dari
awal kenapa anaknya bisa mengalami hal itu. Awalnya Hanif hanya terserang
panas biasa disertai mencret. "Malam Jumat (9/12-red) Hanif mulai sakit, lalu
dikasih obat panas yang diresepkan oleh dokter pribadi kami," ujarnya.

Setelah diberi obat, suhu tubuh Hanif naik turun. Karena tidak kunjung
membaik, orang tua Hanif lalu membawanya ke rumah sakit atas rujukan
dokter pribadi.

Dokter jaga di salah satu RS Bandung, memberi Hanif obat panas racikan
dan obat mencret sirup. "Di rumah, Hanif diberi obat tetapi malah
kejang-kejang," kata Mia. 

Karena khawatir, keluarga membawa kembali Hanif ke dokter semula, yaitu
dokter pribadinya. Dokter pribadi, lanjut Mia, mengganti lagi obat
racikan dari RS dengan empat macam obat baru. Obat panas, antibiotik, obat
mencret, dan obat kejang.

"Malam harinya, Hanif menangis terus dan gelisah. Tiap sepuluh menit
sekali mencret," ujarnya.

Keesokan harinya, sekira pukul 4.30 WIB, mulai muncul bintik-bintik
seperti campak dan mulutnya melepuh seperti sariawan. Mia langsung menelefon
dokter  pribadinya untuk memeriksakan Hanif. Dokter mengatakan, Hanif harus
dibawa ke laboratorium untuk pemeriksaan darah, karena dikhawatirkan terserang
demam berdarah atau tifus.

Hasil pemeriksaan laboratorium menyebutkan, Hanif terkena penyakit
campak.
"Oleh dokter diberi obat campak dan obat sariawan," kata Mia. 

Dokter juga menyarankan Hanif untuk tidak dirawat dan dianjurkan untuk
tetap meminum empat macam obat yang sebelumnya diberikan. Namun, Sabtu (11/12)
siang, keadaan Hanif semakin mengkhawatirkan. Selain tidak bisa makan
dan minum, seluruh badannya mulai melepuh seperti luka bakar. Pihak keluarga
kemudian membawa Hanif ke salah satu RS di Bandung. Hanif langsung
diinfus dan hidungnya diselang untuk saluran makan, sementara dokter jaga RS
memeriksa seluruh tubuh Hanif. Dokter pribadi Hanif kemudian memberi
resep melalui dokter jaga tanpa pemeriksaan terlebih dahulu oleh dokter
pribadi.
"Obat tersebut disuntikkan ke Hanif, tapi dokter sendiri tidak datang
untuk memeriksa langsung keadaan Hanif hanya melalui dokter jaga," ujar Mia.

Setelah disuntik keadaan Hanif semakin memburuk, pihak keluarga kemudian
memindahkan Hanif ke RS yang lebih besar dengan fasilitas yang lebih
komplet. Begitu pindah RS, Mia menyebutkan, Hanif langsung diinfus dan
diberi oksigen, karena napasnya semakin sesak. Suster yang menangani
Hanif mengatakan, Hanif mengalami keracunan obat. Setelah melalui pemeriksaan
tiga  dokter spesialis (spesialis anak, kulit, dan mata), Hanif diduga terkena
Steven Johnson Syndrome, yaitu alergi atau keracunan terhadap jenis obat
tertentu. Dokter juga menyebutkan kalau paru-paru Hanif sudah mengalami
kerusakan berat akibat keracunan ini. 

Mia mengatakan, ketika itu suara Hanif sudah hilang dan kelopak matanya
juga ikut melepuh. Dokter yang menangani Hanif menyebutkan kalau tidak segera
ditangani Hanif bisa mengalami kebutaan. 

Sekira enam hari Hanif dirawat di ruang anak, namun keadaannya tidak
membaik. Akhirnya, Sabtu (17/12) malam Hanif masuk ICU dan hanya
bertahan sekira 12 jam, sampai akhirnya Minggu (18/12) pukul 10.45 WIB Hanif
meninggal dunia. Ternyata infeksi yang diderita Hanif sudah menjalar ke
otak dan organ tubuh lainnya. Kalaupun diberi kesempatan hidup, akan
mengalami kecacatan.

Iman Sulaiman (25), paman Hanif mengatakan, pihak keluarga tidak akan
menuntut pihak rumah sakit ataupun dokter yang menangani Hanif. Namun,
sebagai wakil dari pihak keluarga sangat menyayangkan sikap dokter
pribadinya yang terkesan cuci tangan terhadap kejadian tersebut. Iman
hanya mengimbau kepada masyarakat dan tim medis agar jangan sampai terjadi
lagi kasus-kasus serupa. "Cukup Hanif yang menjadi korban," ujarnya.

Lebih lanjut, Iman menjelaskan, kenapa pihaknya tidak berniat menuntut
siapa pun dalam kasus ini. Selama ini, menurut Iman, kasus malapraktik yang
diajukan ke meja hijau tidak pernah tuntas. "Bahkan setelah melalui
puluhan sidang pun tetap menemui jalan buntu," ujarnya. Kejadian ini, lanjut
Iman, merupakan bahan pembelajaran bagi semua orang agar lebih jeli dan teliti
dalam memilih pengobatan yang terbaik terutama bagi anak-anak.

"Steven Johnson Syndrome"

Sementara, menurut dr . Budi Setiabudiwan, dokter spesialis anak di RS
Hasan Sadikin Bandung, Stevens Johnson Syndrome merupakan suatu penyakit
sistemik yang menyerang kulit. Kelainan kulit ini sebagian besar akibat alergi
terhadap satu jenis obat tertentu. "Jika alergi terhadap obat,
manifesnya pada kulit," ujar dokter ahli alergi imunologi ini.

Di tiap negara, tambah Budi, penyebabnya berbeda-beda. Bisa dari
antibiotik atau juga antiepilepsi. Namun, biasanya juga akibat bawaan dari anak.
Terdapat empat jenis alergi yang biasanya terjadi, Eritema Multifome,
Stevens Johnson Syndrome, Overlapping Toxic Epidermo Necolisis dan
Steven  Johnson, dan yang terakhir adalah Toxic Epidermo Necolisis. Steven
Johnson  adalah alergi tingkat sedang yang selain menyerang kulit juga menyerang
mata, anus, dan alat kelamin.

Budi menjelaskan anak yang terkena sindrom ini kulitnya akan melepuh.
Untuk penanganannya harus dilakukan secepat dan sesegera mungkin. Sebab,
lanjut Budi, jika kulit terkelupas , cairan tubuh akan banyak keluar dan rentan
terjadi infeksi akibat kuman yang masuk. Untuk itu, pasien harus segera
masuk ke ruangan ICU untuk mendapatkan perawatan yang intensif.

Sebetulnya kesalahan pemberian obat, menurut dokter Budi, bukan
sepenuhnya kesalahan dari seorang dokter. Harus ada komunikasi yang baik antara
dokter dengan pasien. "Orang tua harus ditanya terlebih dahulu, apakah anaknya
alergi terhadap satu jenis obat atau tidak?" ujar Budi. Selain itu,
dokter juga harus terus memonitor keadaan pasien terlebih jika diketahui pasien
tersebut menunjukkan gejala alergi terhadap obat tertentu. (CW-7)***

Pikiran Rakyat, Rabu, 21 Desember 2005


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke