Mubes Gebu Minang yang baru saja dilaksanakan di Kota 
Tambang Sawah Lunto telah usai dan telah pula berhasi 
memilih pangurus dan menyusun program untuk beberapa tahun 
kedepan . Namun apa yang dirasakan oleh sebagian 
masyarakat Minang sampai kini , bahwa keberadaan Gebu 
Minang belum mangakar ditengah masyarakat , dan baru 
kedengaran gaungnya kalau sudah dekat Mubes lagi .
Menurut hasil penelitian H . Khaidir N Latief SH,Msi dan 
kawan kawan dengan judul Urgensi , Arah dan Masalah Minang 
dalam rangka OTDA menyimpulkan bahwa : hanya 35,5 % 
masyarakat yang pernah mendapat informasi tentang 
keberadaan Gebu Minang dan 15,8 % dari mereka yang pernah 
menjadi donator Gebu Minang dan sedihnya hanya 9,5 % saja 
yang mengetahui operasi Gebu Minang . Setelah itu 
informasi hilang sama sekali tidak diketahui lagi sepak 
terjang dan sejauh mana tingkat keberhasilan Gebu Minang .

Dan ada yang sangat disayangkan bahwa  keberadaan Gebu 
Minang ternyata  kurang mengakar di masyarakat yang berada 
di Sumatera Barat sendiri  . Keberadaan Gebu Minang 
dianggap inisiatif dan prakarsa yang datang dari orang 
rantau , seolah olah keinginan orang atas yang diterapkan 
kebawah . Banyak gayung yang tak bersambut , ibarat 
bertepuk sebelah tangan , atau lebih ekstrim lagi bak 
kecek salah sorang Netter rantaunet  “ Lah Basipongang 
Sajo “ . Dan adalah tugas para peserta Mubes Gebu Minang 
yang juga kebetulan anggota R/N untuk mensosialisasikan 
program dan kegiatan Gebu Minang minimal di palanta lapau 
kita ini untuk lebih memasyarakat lagi .

Tadinya Gebu Minang adalah singkatan dari Gerakan  Seribu 
Minang namun dalam perkembangannya telah berobah menjadi 
Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang , sejak kapan perobahan 
arti singkatan ini kita tak pernah tahu .

Untuk pembanding saya akan sampaikan satu contoh kegiatan 
yang mirip dengan Gebu Minang  yang dilakukan masyarakat 
Bali . baru baru ini dengan membentuk KKB ( Koperasi Krama 
Bali ) . Ide ini datang dari masyarakat dan berada di Bali 
, maka mendapat  sambutan antusias dari seluruh lapisan 
masyarakat . Programnya tak muluk muluk dan dimulai dari 
hal -  hal yang kecil tapi  menyentuh bagaimana 
memberdayakan ekonomi masyarakat kecil dan memberi 
keterampilan untuk menciptakan lapangan kerja . Salah satu 
kegiatannya adalah memberi keterampilan membuat bakso dan 
 soto . Kalau  selama ini masyarakat Bali hanya mengenal 
bakso Solo atau bakso Malang serta soto  Surabaya , Soto 
Lamongan , Soto Madura , maka dalam waktu tidak lama lagi 
akan muncul bakso Bali , Soto Bali dan bisa  digemari 
masyarakat Bali. Tujuanya jelas untuk mengurangi  dominasi 
masyarakat pendatang atas  sector informal di Bali demi 
terwujudnya ajeg Bali .


zul amry piliang
========================================================================================
Ikuti Lomba Foto Wisata 2005, kirimkan foto-foto terbaik Anda. Pengiriman mulai 
1 November s.d 31 Desember 2005. Keterangan lengkap ada di 
http://lombafoto.telkomnetinstan.com/ dan dapatkan hadiah jutaan rupiah!! 
(khusus Jawa Timur)
========================================================================================
 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke