ayam kurik rambaian taduang ikua bajelo dalam padi ambiak tampuruang bari makan
dalam daerah tujuah kampuang adiak surang tampek hati nan lain kanda haramkan demikian rangkaian pantun dari cerita sabai nan aluih ,nan sempat dipertunjukkan oleh tim kesenian dari STSI Padang panjang , ketika minggu lalu mereka mengadakan show di kota Bandung , yg dikemas dalam acara semalam di ranah minang . Ondeh sanang bana hati bisa menyaksikan kesenian minang di tanah priangan , yo saraso terbawa ke alam ranah minang , hanyalah karena mendengar lagu sunda Cianjuran dari warung rokok di tempat keluar gedung kesenian tersebut , menyadarkan diri ini , masih tetap berada di tanah priangan , tanah air kaduo ambo. salamo ko mandanga lagu minang hanyo dari kaset sajo, jarang live show saroman malam itu , beda sekali rasa nya . Ambo raso, memang tim kesenian STSI ko, sabana profesional , karena mereka pun ternyata sudah pernah show pula sampai ke luar negeri. Ada berbagai macam kesenian minang ditampilkan dari lagu, tari, randai, saluang dll. Menarik juga menyimak tampilan saluang, suara seruling yg melengking tinggi , namun kemudian menukik tajam , serasa penuh dendam gelisah , bahkan kepasrahan diri menghadapi kepedihan hidup jauh di rantau . Penuh melankolik bagaikan musik blues nya orang negro amerika. bertanya2 dalam hati , apakah saluang ini sebentuk pelepasan beban psikologis semata ? begitu menderita kah orang minang , begitu kesepian kah mereka, sehingga tercipta lengkingan suara saluang yg bagaikan menaiki gunung menuruni lembah. Teringat ada juga musik dari India yg alunan nada nya mirip saluang , atau kah ini bawaan dari India sana ? Dan begitu pula , kira 2 kebanyakan lagu minang, penuh nada melankolik ; kesepian di rantau, putus cinta dll , kawan sebelah sempat nyeletuk, apakah orang minang ini , hidupnya diliputi kepedihan melulu, kok musiknya cenderung melankolik. Namun , adagium tersebut sempat pupus, ketika menyimak persembahan randai dan tari minang yg energik penuh semangat , ternyata orang minang menyimpan semangat yg besar pula , penuh gejolak Jadi tetap sebuah pertanyaan , apakah musik minang itu dasarnya melankolik spt alunan saluang dan lagu mendayu tsb, ataukah energik penuh semangat spt tari minang dengan hentakan kaki nya yg penuh semangat. Sempat mengobrol dg seorang ahli seni, sebenarnya apa sih fungsi seni itu ? sisi positif yg bisa disumbangkan oleh seni, ialah memberi pencerahan pada jiwa , semangat untuk mengarungi hidup ini. Namun bila sehabis mengikuti acara kesenian tsb, kita seolah terbawa ke masa lalu , nostalgia minang masa lalu, semalam di ranah minang , namun kemudian ketika tersadar kita kembali ke dunia nyata , seolah minang memang hanya lah masa lalu , terus apa arti nya kesenian tsb. apakah hanya sekedar tamasya ke masa lalu ? yang hanya membuat kita terpasung di masa kini ? Sudah, saat nya kita mengembangkan kesenian yg memberi pencerahan dalam mengarungi hidup ini,pencerahan jiwa , yg akan membawa pada kebahagiaan dunia akhirat , kalau tidak , kesenian tersebut hanyalah menjadi kesia sia kan hidup belaka , teringat pula surat wal ashri ,betapa banyak orang yg merugi karena menyia nyia kan waktu hidupnya dg hal yg percuma yo Tuhan, ubek kan denai, burung murai bakicau pagi, ombak badabua manari nari tolong rinaikan hujan pagi den tampuang untuak pambasuah luko di lahia sajo tampaknyo sanang di batin luko denai suruakkan mako den acok balangang-langang Tuhan dangalah , nyanyian malam.... -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

