Saya kirimkan sebuah essai yang saya ambil dari Solok-selatan.com dari
Bilik Elzataher. Menarik untuk dibaca.
Ikra Dinnata
Kahlil Gibran pernah menulis kenangan adalah anugrah Tuhan yang
tak dapat dihancurkan oleh maut. Pulang shalat taraweh malam ini, entah
kenapa, tiba tiba saya terkenang kepada seorang wanita. Ingatan saya melayang
ke kampung, nun jauh ke masa silam, tiga-puluh tahun lalu. Waktu itu saya
berusia menjelang dua belas tahun, sedang wanita itu mungkin tujuh tahun lebih
tua dari saya. Konon ia lahir dan tinggal di Desa Balun, Muaralabuh, seratus
dua puluh kilometer dari Padang. Sekali dalam seminggu, ia pergi berjalan kaki
melewati desa desa Muara Labuh sampai ke Pakan Salasa, sesekali bahkan sampai
ke Lubuak Gadang, menjalankan pekerjaannya; meminta sedekah dari orang
kampung. Perjalanan panjang sejauh 40 Km itu ditempuhnya seharian penuh. Begitu
rutinnya ia datang sehingga namanya terkenal seluruh kampung. Orang kampung
memanggilnya Upiak angguak angguak.
Di kampung waktu itu bersedekah diyakini sebagai perbuatan mulia dan
dibalas Allah berlipat ganda. Karenanya Upiak tak terlalu sulit mendapatkan
sedekah orang lain, meski hidup mereka juga pahit. Kala itu menjadi
peminta, atau pengemis istilah kini, dipandang sebagai pekerjaan hina.
Jangankan jadi penerima sedekah, beberapa desa bahkan melarang warganya
bekerja yang sifatnya melayani orang lain seperti pekerjaan pembantu sekarang,
karena dianggap merendahkan derajat kampung. Upiak, merupakan pengecualian
waktu itu.
Sebagai gadis yang masih belasan tahun, wajah Upiak memang tidak ramah, raut
mukanya agak seram, terkesan pemarah, badan tak terurus, rambut panjang
sampai ke pinggang, tapi yang menakutkan anak anak ialah kepalanya yang terus
menggangguk-angguk. Itulah sebabnya orang menyebutnya upiak angguak angguak.
Tak ada waktu yang terlewatkan tanpa anggukan kepalanya, lagi mandi, lagi
makan, lagi bicara bahkan saat sedang sholatpun ia mengangguk. Konon, ia hanya
berhenti mengangguk kalau tidur. Tidurpun tak bisa lama, begitu bangun
kepalanya otomatis mengangguk. Sampai saat ini saya tak tahu apa nama penyakit
Upiak, dan belum pernah bertemu orang yang punya penyakit sepertinya.
Dari raut mukanya saya tahu Upiak tersiksa dengan nasibnya. Konon, ia hidup
sebatang-kara, kedua orang-tuanya sudah meninggal, tak punya keluarga. Ada
keluarga jauh tapi tak mau mengakuinya karena malu atas penyakitnya. Ada yang
bilang Upiak sudah begitu sejak kecil, tapi sebagian lagi berkata karena
kutukan sebab ia durhaka menyakiti ibunya. Saya tak percaya Upiak durhaka dan
dikutuk Tuhan. Hati kecil saya mengatakan Upiak orang baik. Tuhan tidak kejam,
Tuhan maha pengasih dan penyayang. Saya yakin itu cuma penyakit.
Jika melewati desa desa sepanjang Muara Labuh, Upiak sudah faham betul mana
rumah yang ia singgahi, mana rumah yang ia abaikan. Dari Balun, Pakan Rabaa,
sungai Aro, Lundang, laweh, Rawang saya tahu betul penduduk yang berbaik hati
pada si upiak dan mana yang menutup pintu bila Upiak datang. Beberapa ibu ibu
di Batang Laweh bersikap ramah setiap kali Upiak lewat, mempersilahkannya
masuk, memberinya minum dan bahkan ada yang memberi makan disamping sedekah.
Biasanya ia singgah tak lama, paling lima menit lalu pergi ke rumah yang lain.
Yang pasti setiap kali Upiak datang ia menjadi tontonan anak anak dari jauh,
dan setiap kali pula selalu bersikap menghina. Betapapun Upiak mencoba
bersikap ramah anak anak tetap menjauh.
Setiap kali ia datang anak anak se-usia saya berlari ketakutan menjauh
darinya, tak ada yang berani mendekat. Dari jauh mereka meneriaki Upiak
dengan kata menyakitkan upiak padusi gilo lewe, Upiak angguak angguak
datang kata mereka bersorak seperti mendapat hiburan, dan berkerumun
mengikutinya. Pada mulanya Upiak mencoba bersikap baik kepada kami. Bahasa
tubuhnya menampakkan sikap bersahabat dan ramah, tapi anak anak sudah kepalang
takut melihat wajahnya. Seiring berjalannya waktu toh Upiak terbiasa dengan
sikap yang menyakitkan itu, dan menerimanya sebagai perjalanan hidup yang harus
dilaluinya.
Berbeda dengan anak anak lain, saya tidak takut pada Upiak. Saya tak
pernah mengejeknya, dan bahkan selalu bersikap hormat dan bersahabat padanya.
Saya sering memarahi teman yang mengejeknya. Setiap berpandangan saya selalu
tersenyum ramah. Dibalik wajahnya yang menakutkan, saya tahu Upiak orang baik,
dan dia ingin diperlakukan sama seperti yang lain. Lama lama Upiak nampaknya
tahu saya berbeda dengan anak yang lain. Ia tahu bahwa saya bersahabat
kepadanya dan tak suka ia diperlakukan seperti itu.
Suatu saat, musim semi tahun 1974, saat Jakarta baru saja dilanda
huru-hara Malari, saya kepergok dalam jarak tak sampai dua meter dari si Upiak
di desa Batang-laweh, waktu itu ia baru keluar rumah seseorang penduduk.
Awalnya saya terkejut, sedikit gugup tapi berusaha bersikap tenang dan tidak
lari seperti anak anak lainnya. Saya tidak menampakkan wajah yang takut, karena
saya memang tidak takut padanya. Meski pun demikian saya gugup juga ketika ia
mendekat dan menatap saya dengan tajam. Dari mano diak, katanya menyapa
ramah. Pulang menjual ikan , kata saya agak gugup sambil memperlihatkan
ember yang sudah kosong. Kadang kadang kalau lagi butuh uang saya mengambil
ikan di kolam dan menjualnya keliling kampung sambil berteriak
Lawuuaak...ikaan..ikaaan. Saya berteriak sambil menaruh ember yang diisi ikan
di kapala saya. Syukurlah, lakuu ya...., kata Upiak, sambil kepalanya
mengangguk. Ia makin dekat dan saya mencium bau tak sedap. singgah lah, kata
saya sambil
menenangkan hati. Upiak ketawa terbahak bahak, saya lihat kegembiraan
diwajahnya. Saya tak pernah melihatnya tertawa seperti itu. Mungkin ia tahu
saya cuma basa basi, sebab di rumah hanya ada saya dan ibu dan kalau siang ibu
saya pergi ke sawah. Tidak, terima kasih, ambo pergi ya.. katanya. Tiba-tiba
tangannya memegang tangan saya mendadak, memberikan sesuatu dan pergi. Ketika
saya buka, saya terkejut.. uang. Dengan agak gugup saya berkata Uni, ini
pitinya saya kembalikan, sebenarnya saya ingin memberi uni piti hasil jualan
ikan tadi kata saya kepadanya. Upiak berbalik menatap saya dan berkata
Terimalah, selama hidup saya hanya menerima dari orang, saya lebih senang
memberi tapi.. , Upiak tak melanjutkan katanya, matanya menerawang ke langit.
Ia nampak terharu. Saya senang, baru pertama kali seumur hidup saya dipanggil
Uni, bukan Upiak gilo, katanya sambil berlalu. Saya sempat menatap mukanya,
ada nada sendu dimatanya. Kejadian itu berlalu begitu cepat, saya
terpana dan tersadar oleh panggilan teman teman yang metertawakan saya. Saya
acuh saja. Mereka mengira pasti saya ketakutan.
Malamnya saya tak dapat tidur memikirkan makna kejadian bersejarah sore itu.
Bersejarah karena sayalah orang pertama usia sebaya yang mau berbicara dalam
jarak dekat dengan Upiak. Perasaan saya berkecamuk, campur-aduk. Betulkah ia
merasa dihargai?. Betulkah ia senang dipanggil Uni dan bukan si Upiak gilo
seperti yang dialaminya tiap hari? Kata Upiak memberi lebih mulia dari
menerima, terngiang-ngiang di telinga saya. Upiak tak kuasa melawan takdir, ia
ingin diperlakukan sama sebagai manusia terhormat, bukan dihina dan dicerca.
Saya tak tahu apa dosanya hingga ia diperlalukan seperti itu. Saya tahu ia
kesepian dan hidup baginya terasa kejam. Wajah Upiak yang sendu saat menatap
saya tak dapat saya lupakan. Dibalik wajahnya yang buruk, saya melihat ada
kecantikan didalamnya. Kecantikan yang tak terlihat dan hanya bisa dirasakan
melalui penghayatan. Melalui perasaan, melalui hati.
Tak lama kemudian saya pergi merantau ke Jakarta. Tentu saja saya tak dapat
lagi bertemu Upiak. Saya tenggelam oleh rutininas kehidupan. Empat tahun
kemudian ketika pulang kampung pertama kali, takdir mempertemukan saya kembali
dengannya di tempat yang sama, di loniang depan masjid Batang-laweh, tempat
dulu kami bicara pertama kali. Waktu itu sore hari, saya usai shalat di masdjid
Laweh. Dari jauh saya lihat Upiak berjalan sambil kepalanya mengangguk-ngangguk
seperti biasanya. Dan anak anak..huh.., dunia tak juga berubah, berkerumun
mengikutinya sambil menghina. Wajahnya sudah berubah, sudah nampak tua,
rambutnya sudah agak tipis, nampak lelah, kurang bersemangat, dan dari raut
mukanya..saya tahu ia sangat menderita. Upiak sudah kehilangan semangat hidup.
Tapi saya senang sekali melihatnya. Begitu melihat saya mendekat memanggilnya.
Uni, masih ingat saya?, kata saya dengan suara keras. Upiak menatap, curiga,
memperhatikan saya lama sekali. Ia berpikir keras. Ia
menggelengkan kepalanya. Saya kira ia lupa. Saya mencoba tersenyum, bersikap
ramah Empat tahun lalu Uni memberi saya piti. Saya sekarang dirantau dan
sedang pulang karena libur, ingat?, kata saya sambil mengulurkan tangan,
mengajaknya bersalaman. Upiak menarik tangannya, ia menolak bersalaman. Upiak
berpikir sesaat dan tiba tiba ia tersenyum, nampaknya ia ingat. ambo ingek,
katanya masih menatap saya dengan senang. Saya mempersilahkan Upiak mampir ke
rumah tapi ia menolak. Kami berbincang-bincang cukup lama disaksikan banyak
orang dari jauh. Saya tak mempedulikan suara suara mengejek yang saya dengar.
Saya sangat menikmati percakapan dengannya. Ada nuansa yang lain, nuansa
keluguan, kepolosan dan kejujuran. Saya seperti tak bicara dengan gadis gila
tapi dengan orang yang wise yang tinggi. Tak pernah saya lihat Upiak segembira
hari itu. Angin bertiup pelan, udara sejuk dan cerah. Hidup menjadi sangat
indah.
Tapi, tiba tiba suasana berubah, Upiak menatap saya dengan pandangan tak
bersahabat ketika saya bertanya apakah ia sudah punya pacar atau sudah kawin
Apo?, katanya, sambil memekik, raut mukanya mendadak berubah. Ia nampak
sangat marah Orang gilo mana yang mau dengan ambo?, katanya dengan suara
meninggi. Saya terpana dengan sikapnya, tak menyangka ia sensitif dengan
pertanyaan itu. Ketika ia pergi saya mengejarnya dan berkata Uni, dengarkan
ambo, ambo tak ado niat menyinggung perasan Uni. Beri saya maaf, besok saya
kembali ke Jakarta, kata saya setengah mohon. terimalah ini , kata saya
sambil menyerahkan sesuatu kepadanya. Sebuah kado yang memang sudah saya
siapkan untuknya. Dengan marah ia menolak pemberian saya dan pergi dengan muka
menangis. Saya menatap kepergiannya sampai ia menghilang dari pandangan. Saya
tercenung, merasa bersalah, sangat sedih dan tiba-tiba merasa sunyi. Saya
menoleh ke atas, ke langit biru nan indah, tiba-tiba langit nampak mendung dan
awan
nampak gelap. Hujan akan turun. Hati terasa hampa, ada sesuatu yang hilang,
yang tiada ternilai..
Tuhan mengatakan ia takkan menguji seseorang diluar batas kemampuannya, tapi
saya merasa penderitaan Upiak sudah melewati batas kemampuannya. Ia hidup
sendirian di dunia ini, tanpa cinta, tanpa keluarga, dan didera hinaan setiap
saat. Tak ada manusia yang bisa bertahan hidup tanpa cinta kasih orang lain.
Cinta adalah rahmat terbesar dari Tuhan. Rugilah manusia yang hidup tanpa
cinta. Saya tak tahu apa hikmah dibalik cobaan yang menimpa Upiak, saya ingin
protes kenapa Tuhan membiarkan Upiak mengalami nasib tragis ini? Sungguh saya
tak dapat menjawabnya, tapi saya percaya Tuhan maha pengasih dan penyayang.
Cuma Tuhan yang tahu misteri dibalik semua ini.
Sejak itu saya tak pernah lagi bertemu Upiak, karena esoknya saya kembali
kerantau. Setelah itu cukup sering saya pulang kampung, tapi saya tak pernah
mendengar khabar tentangnya. Upiak sudah hilang dan tak ada seorangpun lagi
yang peduli dan mau tahu tentangnya. Sejarah tak pernah mencatat hidup rakyat
kecil. Upiak, menurut seorang warga, pernah menanyakan saya kepada beberapa
orang di kampung, dan Upiak nampak sedih saat diberi tahu saya sudah kembali
ke Jakarta. Apakah ia ingat saya?. Apakah saya dapat bertemu kembali
dengannya?Tak seorang pun tahu dimana dia. Konon ia telah pulang ke kampung
halamannya yang abadi, menghadap sang khalik. Saya teringat akan ucapannya
memberi lebih mulia daripada diberi. Saya merasa ada utang yang belum
terbayar kepadanya.
Tiba tiba saya merasa jatuh cinta padanya. Cinta sebagai sesama mahluk
Tuhan, cinta pada nasibnya, seperti cinta Tuhan pada hamba-Nya, seperti cinta
hamba pada Tuhannya dan cinta pada seluruh derita hidup yang telah menderanya.
Saat mau pulang dari masdjid malam ini saya memasukkan sesuatu dalam kotak amal
dengan niat agar Tuhan menerimanya sebagai amal buat Upiak dan berdoa semoga
Tuhan memberinya kasih sayang yang berlimpah. Saya percaya Tuhan telah
menyiapkan sebuah tempat yang indah untuknya. Walahualam
.
Pondok Cabe 17 Oktober 2005
Elza Peldi Taher
Email: [EMAIL PROTECTED]
.
.
---------------------------------
Nouveau : téléphonez moins cher avec Yahoo! Messenger ! Découvez les tarifs
exceptionnels pour appeler la France et l'international.Téléchargez la version
beta.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke:
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================