Novel ini benar-benar membuat saya terkesan.  tidak hanya menyajikan  sebuah 
petualang sejarah tetapi juga penemuan  identitas. saya ingin  berbagi pendapat 
tentang novel Negara Kelima ini  di mailing list ini.
  
      
  “undang-undang  tarimo tariak  baleh, kok palu babaleh palu, nan tikam 
babaleh jo tikam, hutang  ameh  baia jo ameh, hutang padi baia jo padi, hutang 
kato baia  jo kato”
      Kutipan itu bukan  berasal dari sebuah buku Tambo  atau buku adat 
Minangkabau lainnya. Saya,  -seorang putera Minangkabau  yang lahir dan 
dibesarkan di Bukittinggi dan baru  dua belas tahun  merantau di Jakarta- 
justru mendapatkannya dari sebuah novel  terbitan  Serambi di akhir tahun 2005, 
berjudul Negara Kelima. Sebuah novel yang   menurut pengamat/kritikus sastra 
dari UI, Maman S Mahayana,
       “menjanjikan  ketegangan yang tiada habis, mengalir deras,  
berkelok-kelok, penuh kejutan,  spekulatif, penuh intrik dan narasinya  yang 
tidak terduga”
      Sungguh ironis,  tiga perempat dari umur  ini saya habiskan di ranah 
Minang, tetapi persentuhan  dengan sejarah,  perjalanan adat dan lika-liku 
perjalanan budaya Minangkabau  baru saya  dapatkan dari novel setebal lebih 
dari lima ratus halaman ini.  Beragam  perasaan muncul pada saat saya  membaca 
novel ini, ketakjuban yang  membuncah-buncah, kebanggaan yang  meluap-luap dan 
terkadang juga perasaan melo berisi kesedihan dan  kerinduan yang  tidak 
terjelaskan oleh kata-kata. Hingga pada akhirnya  saya merasa, Minangkabau  
bukan sekedar ruang budaya dimana saya  dilahirkan. Tetapi lebih dari itu,  
Minangkabau adalah sebuah identitas  diri. Dan identitas hanya bisa ditemukan  
lewat penelusuran dan  pemahaman sejarah.
       Ide dari novel ini menurut  saya sangat jenius dan boleh dikatakan  
sangat—sangat provokatif. Negara kelima  dimulai dengan rentetan  pembunuhan di 
Jakarta yang diduga melibatkan sebuah  kelompok yang  beberapa waktu belakangan 
juga melakukan cyberteror. Dalam beberapa  kemunculannya, kelompok ini 
menyerukan  sebuah tuntutan.
                  Bubarkan Indonesia
                  Bebaskan Nusantara
                  Bentuk Negara Kelima
       Simbol piramid dengan  belahan diagonal yang ditemukan pada mayat  
menjadi penghubung rangkaian cerita  dalam teka-teki. Simbol itu,  sebagaimana 
penjelasan dalam novel, berasal dari  masa sebelas ribu  enam ratus tahun yang 
silam. Pada kitab Timaues and Criteas  karangan  Plato, simbol itu disebut 
Pillar Orichalcum, berasal dari satu   material yang nilainya melebihi apapun 
kecuali emas pada masa Atlantis.  Lalu  cerita itu berlanjut pada pemecahan 
misteri guna mengungkap  pelaku sebenarnya.
       Keterlibatan empat orang sejarawan  Indonesia  lulusan Sorbonne dalam 
menggagas teori keberadaan Atlantis  di kepulauan  Nusantara  disajikan dengan 
argumen dan teori yang meyakinkan sekaligus menarik.   Ide dan gagasan dari 
novel ini mengalir deras dalam upaya pemecahan  teka-teki  yang keluar dari 
mulut dua orang yan dituduh terlibat dalam  Kelompok Patriotik  Radikal 
(Keparad). Pencarian identitas nusantara,  tampaknya itu yang menjadi  gagasan 
utama dari pengarang novel ini. Dan  medium dari pencarian identitas ini  
adalah sebuah jalinan sejarah  dengan menjadikan Minangkabau sebagai mediumnya.
       
       Lantas, bagaimana ES Ito,  pengarang muda yang menyembunyikan  
identitasnya- ini menyajikannya secara apik,  cerdas dan memukau?
       
       Kitab dialog Timaeus and Critias,  -satu-satunya sumber tertulis yang  
menyebutkan keberadaan benua Atlantis,  dikarang oleh Plato pada  kisaran tahun 
360 SM. Pada kisaran tahun yang sama,  Aristoteles  menjadi murid Plato. Kelak 
setelah Plato meninggal, Aristoteles  pindah  ke Pella. Ibukota Macedonia. 
Menjadi mentor dari Aleksander Yang  Agung.  Motif penaklukan separuh dunia 
yang dilakukan oleh Aleksander  menjadi  pertanyaan menarik yang diajukan oleh 
ES Ito. Sebuah  pertanyaan yang ia jawab  sendiri –lewat tokoh Profesor Duani 
Abdullah-  dengan meyakinkan. Bahwa  penaklukan Aleksander terkait dengan upaya 
 pencarian Nusantara kuno, sebuah  cerita yang ia dapatkan dari  Aristoteles.
       Maka kemudian, kita pun  dibuat kaget, bagaimana plot sejarah dari satu  
belahan dunia dengan belahan  dunia lainnya bisa terhubung dengan masuk  akal. 
Timaeus and Critias Plato  kemudian terhubung dengan Tambo Adat  Alam 
Minangkabau. Sebuah cerita mengenai  asal usul nenek moyang orang  Minang yang 
mampu menjelaskan kenapa penaklukan  Aleksander berakhir di  anak benua India. 
Cerita tambo pun kemudian mengalir  lewat  mulut seorang Tukang Kaba yang 
terpaksa merantau di Bekasi, karena ia   tidak lagi dihargai di kampung.
       Pararelitas negara Atlantis  sebagaimana gambaran Plato dalam Timaeus  
and Critias dengan Minangkabau sesuai  cerita kaba, sungguh menarik.  Mulai 
dari pembentukan hukum Minangkabau dari  simumbang jatuah,  sigamak-gamak, 
tarik baleh hingga munculnya Tuah Sakato.  Hukum-hukum  itu diperinci lagi 
menjadi adat nan dibuhua mati dan adat nan  dibuhua  sintak. Pembentukan hukum 
dan otonomi tiap nagari di Minangkabau   membuat Eva Duani, salah satu 
protagonis dalam cerita itu bergumam, 
        “Minangkabau adalah Welfare state, idaman  Plato. Persis seperti  
otonomi tiap negeri yang diperintah oleh sepuluh raja  Atlantis”
       Penyajian cerita tambo dalam novel Negara  Kelima ini mengingatkan saya  
pada novel karangan Gus tf Sakai, Tambo Sebuah   Pertemuan (Grasindo tahun 
2000). Bila pada novel Gus tf Sakai itu saya   merasakan sebuah perasaan rendah 
diri dan inferioritas -yang entah  menjadi ciri  dari Sakai-, maka pada Negara 
Kelima saya merasakan  sebuah semangat yang  meluap-luap. Sebuah masa lalu yang 
gemilang, dan  sekarang tinggal menjadi  puing. Gus tf Sakai dalam karyanya 
tampak  mewakili kepengecutan dan  inferioritas urang awak pasca PRRI.   
Sedangkan ES Ito dalam penyampaian tambo-nya mewakili sebuah semangat  muda 
yang  terlepas dari kelamnya penindasan PRRI oleh Jakarta.
       Jalinan cerita tambo itu membantu  protagonis dalam memecahkan  
teka-teki kelompok radikal. Menyajikan fakta-fakta  bagaimana  Darmasraya 
menjadi sentral peradaban Nusantara pada masa itu.          Pengarang 
mengungkap fakta pendirian  Sriwijaya oleh Dapunta Hyang yang  berasal dari 
Darmasyara sesuai keterangan  pada prasasti  Kedukan Bukit. Enam abad kemudian, 
Darmasraya juga berperan dalam   pembentukan peradaban Majapahit lewat 
pengiriman Dara Petak dan Dara  Jingga.  Dengan berani penulis memaparkan 
sebuah realitas semangat  tribalisme Jawa  kuno di dalam istana Majapahit 
hingga misteri   kematian Jayanegara yang ber-ibukan Darmasraya sebagaimana 
tertulis  dalam sumber  Pamancangah.
       
      Pencarian Identitas!
       Itulah tema sentral yang saya lihat dari  Negara Kelima. Pencarian  
sebuah identitas nasional yang berbasiskan identitas  kultural daerah.  Kita 
bisa membacanya lewat pengungkapan asal usul tokoh utama,   Inspektur Timur 
Mangkuto. Ia menyebut dirinya berasal dari daerah  Kamang.  Dengan cerdas, 
identitas ini terungkap dalam dialog antara  Timur Mangkuto  dengan Profesor 
Duani Abdullah yang berisi sinisme.
       “Hee..Hee”,  Profesor Duani Abdullah tergelak mendengar  nama tempat 
itu, “Kamang!,  Negeri para pemberontak yang justru dilupakan  sejarah bukan?”
       Lewat  dialog ini Timur Mangkuto bisa mengingat kembali sejarah  
pemberontakan  kampungnya. Terutama peristiwa Perang Kamang  (pemberontakan 
belasting) pada 15  Juni 1908 -sebuah peristiwa yang  menurut Indra Jaya 
Piliang bisa disamakan  dengan riwayat revolusi  Amerika yang dimulai dengan 
tuntutan tidak ada pajak  tanpa perwakilan  (lihat Seratus Tahun Bung Hatta, 
penerbit Kompas)-. Sebuah  kisah  sejarah yang tidak pernah dimasukkan oleh 
Jakarta sebagai bagian dari   sejarah nasional.
      “Sejarah tidak adil, bukan?”, Lanjut  Profesor Duani Abdullah, “Sebagian  
daerah diagung-agungkan, sebagian  besar malah dilupakan. Semua untuk  
kepentingan politik dan penguasa.  Aku bisa membayangkan, Kamang-mu itu 
sekarang  tidak lebih dari daerah  yang diisi oleh manusi kerdil yang dilupakan 
dari  sejarah  pemberontakannya.
       Sinisme serupa muncul dalam dialog lainnya.  Ketika dua orang anak muda  
menelusuri jejak PDRI di Halaban dan Bidar Alam.  Mereka menyebut dua  negeri 
itu dengan sebuah ungkapan tajam, 
       “Negeri yang dikalahkan oleh manipulasi sejarah!”
       Sinisme dan pencarian  identitas yang bercampur aduk mempermainkan  
emosi saya. Walaupun gagasan besar  dari novel ini adalah sebuah  identitas 
sejarah nusantara tetapi jelas kelihatan  ES Ito, pengarang  novel ini, 
menjadikan Minangkabau sebagai mediumnya. Model  ideal dari  sebuah masyarakat 
demokratis pada masa lalu. 
      Membaca Negara  Kelima  seolah-olah melihat kembali kelahiran identitas 
Minangkabau.  Ada satu semangat  besar yang dimiliki oleh ES Ito. Suatu 
semangat yang  tidak lagi dimiliki  oleh  novelis-novelis kontemporer. ES Ito 
mengangankan sebuah perubahan  tanpa harus  menghilangkan akar identitas.
       Negara Kelima tampaknya  harus dibaca oleh siapa saja yang berada pada  
simpang jalan pencarian  identitas. Dan ES Ito, pengarang muda itu  mewakili 
sebuah semangat muda yang  tengah bangkit kembali. Semoga  kelak ia tidak 
menjadi bagian dari seniman yang  disebut Rendra sebagai  seniman salon yang 
hanya bersenandung tentang anggur,  wanita dan  rembulan. 
       
       

                
---------------------------------
 
 What are the most popular cars? Find out at Yahoo! Autos 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke