Pesta Hoyak Tabuik

Prosesi  tabuik yang diawali dengan pengambilan tanah menandakan bahwa
manusia  berasal  dari  tanah.  Pesta  Hoyak Tabuik Pariaman, Sumatera
Barat  yang  semula  ritual kini sudah bergeser ke pesta budaya. Meski
begitu pesta ini masih membawa pesan-pesan moral dan agama.

Tabuik Pariaman sudah digelar sejak 1831, namun dalam perkembangannya,
mulai  tahun 1974 dipaket menjadi atraksi wisata, hingga menjadi event
tetap pemda setempat.

Di  Padang  Karbela, Irak sekarang, pada 61 H, cucu Nabi Muhammad SAW,
Husein   dipenggal  kepalanya  oleh  tentara  Muawiyah.  Nun  jauh  di
Pariaman,  Sumatera  Barat,  manuskrip kejadian itu diperingati secara
ritual dalam acara yang disebut Hoyak Tabuik antara 1-10 Muharram. Ini
adalah  pesta  rakyat yang diadakan setiap tahun dan sudah berlangsung
sejak  1831  silam.  Minggu  lalu,  puncak acara hoyak tabuik mencapai
klimaksnya.

Aroma  kemenyan  tercium  kental  di udara kota Pariaman. Ratusan ribu
pengunjung  seperti  larut  dalam kedukaan yang mendalam. Ratap tangis
sekelompok orang menyeret pengunjung lainnya ikut meneteskan air mata.
Pada  sebuah  lapangan  di  depan pasar Pariaman dua buah tabut, yakni
sebuah ornamen yang berbentuk burung besar yang disebut sebagai buraq,
berdiri  kokoh  berhadap-hadapan.  Tinggi  burung  yang  terbuat  dari
kerangka rotan itu 15 meter.

Di  antara  ratap  tangis  dan aroma kemenyan yang menusuk hidung, dua
tabut   kemudian   dihoyak   (diarak  dengan  penuh  semangat  sembari
menyatakan,  hidup  Hasan hidup Husein). Karena itu, pesta tabuik juga
disebut  dengan  hoyak  hosen. Kegiatan hoyak hosen menjadi bagian tak
terpisahkan  dari  kerumunan  ratusan massa. Ini memang sebuah upacara
yang  tak  teratur,  karena  setiap orang merasa berhak berada sedekat
mungkin  dengan  tabuik. Maka tak heran untuk masuk ke arena, alangkah
sulitnya.   Tabuik  yang  di  Bengkulu  disebut  Tabot,  pada  awalnya
merupakan  kegiatan  sangat ritual, kemudian berubah menjadi peristiwa
budaya belaka.

Begitulah,  Ahad  pekan  lalu,  dua tabuik., yaitu Tabuik Subarang dan
Tabuik  Pasa.  Keduanya  merupakan fersonifikasi dua pasukan yang akan
berperang.    Menjelang    shalat   Zuhur,   kedua   tabuik   dipajang
berhadap-hadapan.  Pestanya sendiri baru dimulai sesudah shalat Ashar.
Di   tengah   ratusan  ribu  orang,  benda  mati  itu  diarak,  diadu,
sebagaimana layaknya perang di Karbela. Upacara menjadi tidak teratur,
karena tabuik yang dibawa masing-masingnya delapan orang itu, didekati
oleh  massa.  Tubuh tabuik yang menjulang tinggi, kelihatan dari jauh,
bergoyang seperti mau rebah. Tapi hal itu tak pernah terjadi.

Akhirnya  tabuik  memang  dibuang  ke  laut  Samudera Indonesia. Kedua
tabuik  karam di laut, maka saat itu usai perselisihan, berakhir sudah
perang antara Tabuik Subarang dan Pasa.

Prosesi  membuang  tabuik  ke laut, menurut tokoh masyarakat Pariaman,
Buya  Bagindo  M.Letter, merupakan bentuk kesepakatan masyarakat untuk
membuang  segenap sengketa dan perselisihan di antara mereka. Jika ada
satu  masyarakat  punya  potensi  untuk  tawuran, maka diperlukan satu
event yang bisa mewakili tawuran itu, sehingga tersalur dengan baik.

Ia  menyatakan,  masyarakat  Pariaman  sebenarnya merupakan masyarakat
Islam  seperti  di  daerah  lainnya. Karena itu, di Pariaman tidak ada
aliran  dan  penganut  Syiah,  seperti  nafas  dalam  tabut itu. ''Ini
hanyalah sebuah peristiwa budaya belaka,'' kata Buyo Bagindo M Letter.
Meski  sebagai  peristiwa  budaya belaka, ia tidak menapik bahwa dalam
prosesi tabuik sebenarnya termuat ajaran moral dan agama.

Prosesi  tabuik  dimulai  1 Muhamaram dengan upacara pengambilan tanah
secara  silang.  Pengambilan tanah berbarengan dengan azan Magrib hari
itu.  Upacara  ini,  menurut  Letter  merupakan  pemberitahuan  kepada
manusia bahwa dia berasal dari tanah.

Pengambilan tanah secara silang ini, dalam wujud awalnya diwarnai oleh
peperangan.  Tanah  tadi  kemudian  diarak  oleh  ratusan orang. Tanah
kemudian  disimpan  dalam daraga berukuran 3x3 meter, kemudian dibalut
dengan kain putih. Lalu diletakkan dalam peti bernama tabuik.

Tabuik,  konon  artinya  adalah peti pusaka peninggalan Nabi Musa yang
digunakan  untuk menyimpan naskah perjanjian Bani Israel dengan Allah.
Dalam pengertian perayaan pemperingati wafatnya Husein bin Ali, tabuik
melambangkan  janji  Muawiyah  untuk  menyerahkan  tongkat kekhalifaan
kepada  musyawarah  umat  Islam, setelah ia meninggal. Namun janji itu
ternyata  dilanggar  dengan  mengangkat Jazid, anaknya, sebagai putera
makhkota. khairul jasmi

Makna Tabuik Mulai Bergeser


Menurut  Bupati  Padangpariaman Muslim Kasim, tabuik hadir di Pariaman
sejak  1831.  Jika  benar,  itu berarti pada saat Perang Paderi sedang
berkecamuk.  Tabuik  Pariaman berasal dari Bengkulu. Upacara ini, pada
awalnya   hidup  di  kalangan  Syiah  Iran  dan  Karbela  Irak.  Semua
dimaksudkan untuk memperingati dan meratapi kematian Husein, cucu Nabi
Muhammad SAW pada tahun 680 M.

Kematian  lelaki ini diperingati dengan upacara, pidato dan puja-puji.
Tak  ketinggalan  menabuh rebana serta alat musik lainnya. Upacara itu
kemudian  meluas, berkembang hingga sampai ke anak Benua India. Ketika
Inggris  menguasai  Bengkulu  dan Belanda menguasai Singapura, Inggris
membawa serdadu asal Sepoy India ke Bengkulu. Serdadu ini adalah Islam
Syiah.

Di  Bengkulu  banyak  yang  membelot. Mereka kemudian mengadakan acara
ritual  tabot. Belakangan bukan hanya si India ini saja yang melakukan
acara tabot, tapi juga bersentuhan dengan penduduk Islam lokal. Meluas
dari  Bengkulu  ke  Painan,  Padang,  Pariaman, Maninjau, Pidie, Banda
Aceh, Meuleboh dan Singkil.

Menurut orientalis Snouck Hurgronje, tabot, masuk ke Nusantara melalui
dua  gelombang.  Pertama  sekitar abad 14 M, tat kala Hikayat Muhammad
diterjemahkan ke dalam Bahasa Melayu. Melalui buku itulah ritual tabot
dipelajari anak negeri.

Kedua  lewat  serdadu India tadi. Dalam perkembangannya kemudian, alur
masuk itu menjadi tidak penting. Yang penting justeru perkembangannya.
Kegiatan tabot menghilang di banyak tempat. Hingga pada akhirnya hanya
ada  di  dua  tempat,  di  Bengkulu  dengan nama Tabot dan di Pariaman
Sumbar dengan sebutan Tabuik. Keduanya sama, namun cara pelaksanaannya
berbeda.

Di  Bengkulu,  acaranya  lebih  rapi  dan  lebih bermakna ketimbang di
Pariaman.  Di  Pariaman,  pergesaran  telah terjadi sebegitu jauh. Ini
dimungkinkan  karena menurut Bagindo Letter, upacara tabuik sejak awal
memang  ditakuti oleh sebagian besar ulama. Sejak tahun 1974, ulama di
sana  kemudian  mendesak  pemerintah untuk melaksanakan upacara tabuik
yang kental unsur budayanya.

Sejak   itulah   kemudian,   tabuik  menjadi  atraksi  budaya  belaka.
Karenanya,   pesta   tabuik   telah   menjadi   kalender  tetap  Pemda
Padangpariaman.  Hajatan  ini  pula  menjadi sumber pendapatan daerah.
Dari sisi ini, pemda merasa perlu turun-tangan mengelola tabuik, meski
tidak bisa melepaskan keikutsertaan rakyat.

Tabuik di Pariaman, bagaimana pun adalah bagian tak terpisah dari rakyat.

Republika - Selasa, 02 April 2002


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke