Assalamualaikum wr.wb : Penjelasan Rahima sudah cukup jelas , namun saya ingin menambahkan sedikit bahwa suara wanita nantinya di yaumil akhir secara khusus akan diminta pertanggungan jawab oleh Allah SWT . Ada enam pertanyaan yang diajukan Allah terhadap kaum wanita , dan salah satunya tentang suaranya disamping matanya . Berbeda dengan lelaki , maka kaum wanita telah dinugerahkan suara yang merdu ,dan untuk apa suara merdu tersebut digunakan .
Wassalam : zul amry --- In [EMAIL PROTECTED], Rahima <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Saya copykan kemilist ini, semoga bermanfaat adanya. > > Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakaatuhu. > > Banyak sekali diantara kita ummat Islam yang sering > salah pengertian terhadap ajaran agama kita sendiri, > sering salah dalam menafsirkan suatu ayat ataupun > hadist. > > Benar ada hadist "Shautulmarah auratun". > > Kalau kita membaca atau mendengar suatu hadist, dan > kita tidak mengetahui derajat hadist itu apa, > sebaiknya kita diamkan saja dulu, diam dengan arti > kata kita berfikir : Apa benar secara logika kita > sajalah, suara wanita itu aurat, aurat berarti yang > tidak boleh diperlihatkan/diperdengarkan. > > Kalau dari hati dan logika kita saja merasakan, tidak > mungkin begitu, apakah wanita disuruh diam saja? kalau > begitu bagaimana dengan posisi wanita berdakwah, > berdagang, mengajar, bukankah berdagang perlu > keramahan, bergaul perlu dengan kelemah lembutan dan > keramahan dengan siapapun. Bukankah firman Allah > ta'ala dikatakan : " Maka dengan rahmat Allah > hendaklah kamu berlemah lembut dengan mereka dalam > berdakwah(lemah lembut bukan berarti kita tidak boleh > tegas, beda antara keras dengan tegas, harus kita bisa > memilah kedua kata ini). > > Dakwah, dan menyiarkan Islam, adalah umum untuk lelaki > dan perempuan. Lantas bagaimana kita bisa mengatakan > suara perempuan itu aurat, yang tidak boleh > diperlihatkan, di perdengarkan? > > Dari hal tersebut diatas, maka sebaiknya kita meneliti > derajat hadist tersebut. Atau kita melihat > penafsirannya dari para ulama, andaikan hadist > tersebut shahih. > > Namun berkaitan dengan hadist diatas, bukan berderajat > hadist shahih. Dan seringnya sebahagian para ustadz > yang sedikit ekstrim menjadikan hadist tersebut > sebagai dalil. > > Padahal jelas dalam AlQuran yang sudah pernah saya > sampaikan bahwa perempuan hanya dilarang untuk melemah > lembutkan atau sengaja berkata manis, untuk menarik > perhatian kaum pria, dan ini menimbulkan fitnah, juga > membuat hati kaum pria menjadi bernafsu. > > Bagaimana dengan di Mesir yang mayoritas ummatnya > muslim bersikap terhadap MTQ ini. Setahu saya mereka > tidak membolehkan, begitupun dengan menyanyi. Lain > dengan dakwah atau berpuisi yang kata-kata puisi > tersebut mengandung makna, dibolehkan.Sebahagian ulama > kita di Indonesia, pernah saya tanyakan bagaimana > sikap beliau dengan MTQ ini bagi perempuan. Baginya > boleh-saja. Allahua'lam, dalam hal MTQ, saya sendiri > tidak berani berkomentar, hanya mampu berkomentar yang > sudah pasti-pasti saja hukumnya dalam AlQuran yaitu > mengalun-alunkan suara dengan maksud menarik perhatian > kaum pria dan membuat hati kaum pria tergoda. > > Pernah suatu kali mahasiswi/mahasiswa Indonesia ikutan > nasyid Islami dan sampai masuk televisi. Ternyata > Mahasiswi Indonesia ini, sempat bermasalah dengan > aparat asrama puteri Mesir itu. Hampir tidak > dibolehkan lagi untuk tinggal diasrama tersebut. Apa > alasan mereka? > > Karena, pertama : Menyanyi di televisi untuk kaum > perempuan khususnya mahasiswi Al Azhar walaupun lagu > nasyid yang didendangkan, bagi mereka tetap haram > hukumnya, yang kedua karena mahasiswi tersebut tampil > juga tanpa izin pihak asrama yang berwenang.Al Azhar > memang sangat ketat dalam hal ini, asrama puterinya > memang disiplin tinggi dan perempuan itu kalau keluar > persis seperti di pesantren, mempunyai waktu-waktu > keluar, tidak sembarangan saja.Berbeda dengan > pemerintahannya, para penyanyi perempuan bagai jamur > ditelevisi. > > Dakwah, puisi Islami, tidak sama dengan mendendangkan > suara merdu, atau nasyid bermusik. > > Jadi, semoga kita dapat membedakan suara semacam apa > yang tidak dibolehkan untuk kaum perempuan dihadapan > kaum pria itu. > > Wassalamualaikum. Rahima.(36thn) > > --- PakTani <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > Assalamualaikum wr wb > > rekan-rekan di surau , saya ingin menanyakan > > apakah suara wanita termasuk aurat ? > > apakah benar di arab wanita dilarang > > mempublikasikan suaranya (didengar oleh orang > > banyak) > > misalnya wanita tersebut mengaji dan didengar > > suaranya oleh orang banyak ? > > atau wanita tersebut membaca puisi dan didengar > > suaranya oleh orang banyak > > apakah itu dilarang ? > > padahal wanita tersebut membacakan ayat ayat suci > > alquran ? apakah itu dilarang ? > > atau puisi yang dibacakannya adalah puisi yang > > bertuliskan ayat ayat suci alquran ? > > > > mohon pencerahannya > > terima kasih > > wassalam > -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

