Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu.

Saya copykan cerita tentang Nabi Muhammad
Shallallahu'alaihiwasallam. Mungkin bisa kita sedikit
melihat terjemahan disana bagaimana, ketika terjadi
percakapan antara dua orang atau ketika seseorang
bercerita akan pengalamannya.

Wassalam. Rahima.


Dari Kitab Al-Mawahib Al-Qastallani [8]: Keajaiban
Bayi Muhammad SAW oleh: DHB Wicaksono 
Pengantar

Kitab Mawahibul Laduniyyah bil Minah
al-Muhammadaniyyah (Karunia Ilahiah dalam Bentuk
Karunia Muhammadaniyyah) ditulis oleh Imam Ahmad
Shihabuddin ibn Muhammad ibn Abu Bakr al-Qastallani
(wafat 923H/1517 M), seorang ahli hadits yang
mengarang syarah Sahih Bukhari (Irsyad as-Sari). Kitab
Mawahib karangan beliau ini adalah kitab yang berisi
biografi Nabi Muhammad sall-Allahu 'alayhi wasallam.


===============================================

A'uudzu billahi minasy syaithanirrajiim
Bismillahirrahmanirrahiim
Wassholatu wassalamu 'ala asyrafil anbiyaa-i wal
Mursaliin Sayyidina
Muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi ajma'in

dari
Mawahib al-Laduniyyah bi al-Minah
al-Muhammadaniyyah[*]
(Karunia Ilahiah dalam Bentuk Karunia Muhammadaniyyah)
oleh Ahmad Shihab Al Deen Al Qastallani


Seorang Bayi yang Penuh Keajaiban




Halimah (RA) mengatakan, "Aku datang ke Makkah bersama
beberapa perawat penyusu bayi dari suku Bani Sa'd ibn
Bakr, mencari bayi-bayi yang baru lahir. Saat itu
adalah tahun yang buruk untuk mencari bayi susuan. Aku
dan anakku tiba dengan mengendarai seekor keledai
betina, sedangkan suamiku menuntun keledai betinanya
yang tua dan tak memiliki setetes pun susu. Selama
dalam perjalanan ini, kami bertiga tak dapat tidur di
malam hari dan aku pun tak memiliki apa pun dalam
dadaku untuk menyusui anak kami."

"Ketika kami sampai di Makkah, setiap wanita dari
kelompok kami ditawari untuk menyusui Nabi Muhammad
(sall-Allahu 'alayhi wasallam), untuk menjadi ibu
susuannya. Tapi, semua menolak tawaran itu ketika tahu
bahwa beliau adalah seorang anak yatim. Pada akhirnya,
tak seorang pun teman wanitaku meninggalkan Makkah
tanpa membawa seorang bayi, namun tak seorang pun mau
menyusui Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam). Saat
akhirnya aku tak dapat menemukan bayi susuan lain, aku
berkata pada suamiku bahwa aku benci jika aku menjadi
satu-satunya wanita dalam kelompok kami yang harus
pulang kembali tanpa membawa seorang bayi, dan bahwa
aku ingin membawa anak yatim itu." 

"Saat aku pergi untuk menjemputnya, ia (sall-Allahu
'alayhi wasallam) sedang mengenakan pakaian wol, lebih
putih daripada susu. Bau wangi misik menebar darinya.
Di bawahnya terdapat sepotong kain sutra hijau, dan ia
pun sedang terbaring di punggungnya dalam suatu tidur
yang amat nyenyak. Aku berhati-hati untuk tak
membangunkannya, karena keindahan dan kemuliaannya.
Dengan berhati-hati aku mendekatinya, dan menaruh
tanganku di dadanya, ia pun tersenyum dan membuka
kedua matanya. Dari kedua matanya muncul suatu cahaya
yang terpancar hingga ke Langit, sementara aku sedang
melihatnya. Aku menciumnya di antara kedua matanya dan
memberikan padanya dada kananku, dan memberikannya
susu sebanyak yang ia mau. Kemudian aku pindahkan
posisinya ke dada kiriku, tapi ia menolak. Begitulah
selalu caranya menyusu padaku. Setelah ia puas, aku
pun memberikan pada anak laki-lakiku bagiannya. Segera
setelah aku membawanya ke tendaku, kedua dadaku pun
mulai mengucurkan susu. Dengan karunia Allah, Muhammad
minum hingga ia puas, demikian pula saudara
laki-lakinya (anak Halimah, peny.). Suamiku pergi ke
unta tua kami untuk memerah susu bagi kami, dan lihat,
ia penuh dengan susu. Suamiku memerah susu dari unta
kami cukup banyak buat kami berdua untuk kami minum
hingga kami puas, dan kami pun melalui suatu malam
yang indah. Kemudian suamiku berkata, 'Oh, Halimah,
sepertinya kau telah mengambil suatu ruh yang
barakah.' Kami melalui malam pertama dalam barakah dan
karunia, dan Allah terus memberikan pada kami lebih
banyak dan lebih banyak sejak kami memilih Muhammad." 

"Aku pun memohon pamit pada ibunda Nabi, dan
menunggangi keledai betinaku, sambil membawa Muhammad
(sall-Allahu 'alayhi wasallam) di kedua tanganku.
Keledaiku mengejar dan melampaui semua hewan milik
orang-orang lain yang datang sebelumnya bersamaku,
mereka melihat hal ini dengan penuh rasa takjub. Saat
kami tiba di kampung Bani Sa'd, suatu kampung yang
merupakan salah satu bagian paling kering dari tanah
ini, kami menemukan domba-domba kami penuh dengan
susu. Kami memerahnya dan dapat meminum banyak-banyak
dalam suatu masa di mana tak seorang pun lainnya mampu
menemukan setetes pun susu dalam suatu kelenjar perah.
Yang lain mulai menceritakan hal ini pada yang
lainnya, 'Pergilah merumput ke tempat gembala putri
Abu Tsu'aib biasa pergi.' Tetap saja, domba-domba
mereka kembali dalam keadaan lapar, tanpa susu
ditemukan dalam tubuh mereka, sedangkan domba-dombaku
kembali penuh dengan susu." 

Paman Nabi, Al 'Abbas (RA) berkata, "Wahai,
NabiyAllah, yang membuat diriku masuk dalam agamamu
adalah karena aku menyaksikan salah satu tanda
kenabianmu. Aku melihatmu dalam tempat tidur bayimu
(ketika Nabi (sall-Allahu 'alayhi wasallam) masih
kecil) sedang bercakap dengan lembut pada bulan dan
menunjuknya dengan jarimu. Dan bulan itu bergerak di
langit ke arah mana pun kau menunjuknya." Muhammad
(sall-Allahu 'alayhi wasallam) bersabda, "Saat itu,
aku memang sedang bercakap dengannya, dan ia pun
berbicara kepadaku, mengalihkan perhatianku agar tak
menangis. Aku dapat mendengar suara sujudnya di bahwa
'Arasy." 

Dalam Fath Al Bari diriwayatkan pula bahwa Nabi
Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam) berbicara
ketika saat pertama ia dilahirkan. 

Ibn Sab' menyebutkan bahwa tempat tidur bayi Nabi
Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam) diayun-ayun
oleh para Malaikat. 

Ibn 'Abbas (RA) mengatakan bahwa Halimah (RA) biasa
meriwayatkan bahwa ketika ia pertama kali menyapih
Muhammad (sall-Allahu 'alayhi wasallam), ia
(sall-Allahu 'alayhi wasallam) berbicara, dan berkata,
"Allah (SWT) paling Agung dalam Keagungan-Nya, dan
segala puji hanya bagi Allah, dan Maha Suci Allah di
permulaan dan di akhir." (Allahu Akbar Kabiiran, wal
hamdu lillahi katheeran, wa subhanallahi bukratan wa
ashiilan.) Saat ia telah tumbuh lebih besar, ia biasa
pergi keluar, dan ketika ia melihat anak-anak lain
bermain, ia akan menghindari mereka. 

Ibn 'Abbas (RA) berkata bahwa al Shayma'a (RA),
saudara tiri perempuan Nabi, menyaksikan bahwa sebagai
seorang anak laki-laki, beliau dinaungi suatu awan.
Awan itu berhenti ketika beliau berhenti dan bergerak
ketika beliau bergerak. Beliau tumbuh tidak seperti
anak laki-laki biasa. Halimah berkata, "Ketika aku
menyapihnya, kami membawanya ke ibunya, sekalipun kami
masih menginginkan agar ia tinggal bersama kami lebih
lama karena semua barakah yang telah kami saksikan ada
padanya. Kami meminta pada ibunya untuk mengizinkannya
tinggal lebih lama dengan kami sampai ia tumbuh lebih
kuat, karena kami khawatir atasnya tinggal di
lingkungan yang tak sehat seperti Makkah. Kami terus
meminta sampai akhirnya ibunya menyetujui untuk
mengirimkannya kembali bersama kami." 


Allahumma salli afdalas salaati 'ala habiibikal
Mushtofa Sayyidina Muhammadin wa 'ala aalihi wasahbihi
wasallaam


Catatan Kaki:
[*] diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dari versi
terjemahan bahasa Inggris di sunnah.org




__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke