Assalamu Alaikum W. W. Lama kita tak mendengar cerita dari add Darwin Bahar dan Kur dan rupanya sekarang telah berwiraswasta dan kapan-kapan orang RN kan boleh datang sambil mencicipi nasi uduk. Semoga warung tendanya maju dan kita ketanah suci lagi. Jadi kalau ke Pekanbaru ada nanda Elthaf kalau ke Depok ada Darwin dan Kur.
Teringat soal menahan "panggilan tanah air" ini bukan main susah - dan keinginan makan, minum, sdb.nya dapat ditahan tapi yang satu ini tidak bisa. Bisa juga pakai pampers tapi bundo dengar dari para karyawan yang terlibat kemacetan suka menyediakan botol agua yang kosong. Ngomong2 bundo pernah ikut mobil keponakan dan bundo kehausan. Diperlihatkannya 2 botol aqua satu yang bersih satu lagi yang agak kekuning2an. Rupanya cucu2 bundo itu menjadikan botol aqua yang satu lagi itu untuk buang air kecil. Akhirnya bundo tak ada nafsu lagi minum. Sekianlah daripada RN langang Wassalam Hayatun Nismah Rumzy -----Original Message----- From: [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Darwin Bahar Sent: 06 Februari 2006 3:28 To: [email protected] Subject: [EMAIL PROTECTED] Terapi Air, Alaamaak…. Setiap Minggu pagi isteri saya Kur membuka warung tenda di pinggir jalan Merdeka Depok Tengah yang ramai digunakan oleh warga sekitarnya untuk berolahraga jalan pagi. Kemarin pagi ketika mengantarkan obat yang lupa diminumnya, Kur sedang ngobrol dengan kenalan kami Bapak dan Ibu Simatupang yang mampir untuk sarapan nasi uduk. Pak Simatupang beribukan perempuan Minang, karena itu fasih berbahasa Minang. Begitu pula isterinya seorang perempuan Tionghoa yang selalu mengenakan jilbab itu. Lalu kami ngobrol dalam bahasa Minang tentang gejala darah tinggi yang diderita Kur. Ngobrol ngalor-ngidul, Pak Simatupang Lalu menyarankan agar Kur menjalankan terapi air. “Diminum sekaligus setiap pagi Bu Haji,” jelas Pak Simatupang. Terapi air? Lalu saya ingat pengalaman saya dengan terapi air. Sejak tahun 1998, saya bekerja pada sebuah program bantuan Pemerintah AS di Indonesia sampai program itu selesai awal tahun lalu. Mula-mula saya ditempatkan di Malang selama dua tahun. Kita tahu Malang adalah kota yang sejuk, makan apa saja enak, apalagi kalau makan soto Lombok di jalan Sulawesi yang sangat cocok dengan lidah Padang saya. Karena Kur hanya mendampingi saya selama satu tahun pertama, makan saya jadi tidak terkontrol. Akibatnya saya menjadi kelebihan berat Bahkan tensi saya sempat tinggi, tetapi Alhamdulillah, bisa saya atasi dengan rajin berpuasa sunat Senin-Kamis. Ketika ditarik ke Jakarta, awalnya saya ditempatkan Task kami yang berkantor di Depdagri jalan Merdeka Utara. Mula-mula saya ke kantor pakai mobil sendiri, sekali jalan dibutuhkan waktu sekitar 2 jam, itupun liwat tol. Merasa bete di jalan, saya memilih naik KRL AC Depok Express Depok-Gambir-Jakarta Kota, yang perjalanan Depok-Gambir hanya ditempuh kurang dari setengah jam. Apalagi ketika itu karcis abonemen masih mudah didapat, sehingga untuk yang jam 7:20 dari Depok dan Jam 18:00 dari Gambir selalu dapat tempat duduk di bangku yang nomernya tertera di karcis abonemen. Ongkosnyapun lebih ringan. Apalagi saya tidak bisa nyetir sendiri karena tidak pernah diperbolehkan Kur, sebab ketika masih bujangan dan di tahun-tahun pertama perkawianan kami, saya beberapa kali mengalami kecelakaan sepeda motor. Saya hanya perlu diantar jemput pakai mobil ke/dari setasiun Depok Lama. Dari setasiun Gambir ke Depdagri, saya lebih sering jalan kaki. Walaupun berat badan saya sudah mulai normal karena makan lebih terkontrol, tak urung saya ingin juga mengikuti nasehat seorang teman agar mencoba terapi air, 1,5 liter setiap pagi, yang katanya bisa menyembuhkan darah tinggi, kecing manis dan seabreg penyakit lainnya. Dan dengan mantap, pada suatu pagi sebelum berangkat kerja, walaupun dengan agak susah payah, karena tenggorokan saya agak sempit, saya berhasil mengirim 1,5 liter ke dalam lambung saya. Tapi, alaamaak, tanpa dinyana, tanpa diduga, ketika kereta yang saya tumpangi lewat setasiun Pondok Cina, sebagian dari air yang saya minum minta keluar dengan segera. Rupanya ada yang terlupa oleh saya. Seperti kebanyakan pria “aktif” seusia saya, saya mengalami pembesaran prostat, yang menyebabkan kandung kemih agak menyempit karena tertekan. Nah rupanya sebagian dari air yang saya tenggak sebelumnya yang dikirim oleh ginjal saya untuk dibuang sudah tidak tertampung lagi di sana. Saya mulai panik, karena di atas KRL tersebut WC hanya terdapat di bagian dan belakang KRL. Itupun khusus diperuntukkan untuk masinis, dan untuk ke sana bukan perkara mudah, karena terhalang penumpang yang berdiri. Lalu ke mana muka mau saya surukkan, kalau bendungan itu sampai jebol sebelum KRL sampai “berhenti dengan sempurna” di Gambir. Menarik rem darurat, urusan bisa menjadi lebih gawat. Bisa-bisa nama saya keesokan harinya masuk Koran dengan cara yang sangat tidak elegan. Dan saya JG tidak bisa membayangkan bagaimana saya turun dan lari terbirit-birit mencari tempat melepas hajat, disaksikan begitu banyak orang. Dikuduang================ Setelah itu saya buru-buru naik kembali ke lantai 3 untuk menunggu KRL yang saya tumpangi tadi kembali dari setasiun Kota untuk pulang ke Depok, untuk mandi, ganti pakaian dan berangkat kembali ke kantor dengan mobil. Begitu Pak Simatupang dan Isteri pergi, saya minta Kur membelikan saya ketupat gulai (ketupat sayur) Padang yang berjualan dekat warung tenda Kur. Gak takut kolestorel sih? Ah itu baru ketupat gulai. Kadang-kadang saya minta Kur membelikan saya sate padang yang juga ada dijual di sana. Wassalam, Darwin. -- Internal Virus Database is out-of-date. Checked by AVG Free Edition. Version: 7.1.371 / Virus Database: 267.14.13/221 - Release Date: 04/01/2006
-------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

