Wa'alaikum salam wr wb. Pak Darul, Jan lupo untuak PO ambo ciek.
Wassalam, R Sampono Sutan ----- Original Message ----- From: "darul" <[EMAIL PROTECTED]> To: "chairul djamal" <[email protected]> Sent: Tuesday, February 07, 2006 8:56 PM Subject: [EMAIL PROTECTED] Novel Negara Kelima,menemukan identitas Nusantara lewat Minangkabau | | ----- Original Message ----- | From: "darul" <[EMAIL PROTECTED]> | | | | Assalaamu'alaikum W W. | | | | Alhaamdulillah, kami kami alah dapek jatah 20 buku dari penerbit dan kini | | tingga 12 buku. Sia nan ingin mamasan capek lah manunjuak, "first come | first | | serve". Harago buku resmi adolah Rp. 52,900 ditambah ongkos kirim nan | | tacantum di www.tikijne.co.id; kalau ka dilabiahkan untuak managemen fee | dan | | packing rancak bana, bia usahoko bisa langgeng. | | | | Wassalaamu'alaikum W W. | | Darul Makmur | | | | ----- Original Message ----- | | From: "john navis" <[EMAIL PROTECTED]> | | | | | | Novel ini benar-benar membuat saya terkesan. tidak hanya menyajikan | sebuah | | petualang sejarah tetapi juga penemuan identitas. saya ingin berbagi | | pendapat tentang novel Negara Kelima ini di mailing list ini. | | | | | | "undang-undang tarimo tariak baleh, kok palu babaleh palu, nan tikam | | babaleh jo tikam, hutang ameh baia jo ameh, hutang padi baia jo padi, | | hutang kato baia jo kato" | | Kutipan itu bukan berasal dari sebuah buku Tambo atau buku adat | | Minangkabau lainnya. Saya, -seorang putera Minangkabau yang lahir dan | | dibesarkan di Bukittinggi dan baru dua belas tahun merantau di Jakarta- | | justru mendapatkannya dari sebuah novel terbitan Serambi di akhir tahun | | 2005, berjudul Negara Kelima. Sebuah novel yang menurut pengamat/kritikus | | sastra dari UI, Maman S Mahayana, | | "menjanjikan ketegangan yang tiada habis, mengalir deras, | | berkelok-kelok, penuh kejutan, spekulatif, penuh intrik dan narasinya | yang | | tidak terduga" | | Sungguh ironis, tiga perempat dari umur ini saya habiskan di | ranah | | Minang, tetapi persentuhan dengan sejarah, perjalanan adat dan lika-liku | | perjalanan budaya Minangkabau baru saya dapatkan dari novel setebal lebih | | dari lima ratus halaman ini. Beragam perasaan muncul pada saat saya | membaca | | novel ini, ketakjuban yang membuncah-buncah, kebanggaan yang meluap-luap | | dan terkadang juga perasaan melo berisi kesedihan dan kerinduan yang | tidak | | terjelaskan oleh kata-kata. Hingga pada akhirnya saya merasa, Minangkabau | | bukan sekedar ruang budaya dimana saya dilahirkan. Tetapi lebih dari itu, | | Minangkabau adalah sebuah identitas diri. Dan identitas hanya bisa | ditemukan | | lewat penelusuran dan pemahaman sejarah. | | Ide dari novel ini menurut saya sangat jenius dan boleh dikatakan | | sangat-sangat provokatif. Negara kelima dimulai dengan rentetan | pembunuhan | | di Jakarta yang diduga melibatkan sebuah kelompok yang beberapa waktu | | belakangan juga melakukan cyberteror. Dalam beberapa kemunculannya, | kelompok | | ini menyerukan sebuah tuntutan. | | Bubarkan Indonesia | | Bebaskan Nusantara | | Bentuk Negara Kelima | | Simbol piramid dengan belahan diagonal yang ditemukan pada mayat | | menjadi penghubung rangkaian cerita dalam teka-teki. Simbol itu, | | sebagaimana penjelasan dalam novel, berasal dari masa sebelas ribu enam | | ratus tahun yang silam. Pada kitab Timaues and Criteas karangan Plato, | | simbol itu disebut Pillar Orichalcum, berasal dari satu material yang | | nilainya melebihi apapun kecuali emas pada masa Atlantis. Lalu cerita itu | | berlanjut pada pemecahan misteri guna mengungkap pelaku sebenarnya. | | Keterlibatan empat orang sejarawan Indonesia lulusan Sorbonne | | dalam menggagas teori keberadaan Atlantis di kepulauan Nusantara | disajikan | | dengan argumen dan teori yang meyakinkan sekaligus menarik. Ide dan | gagasan | | dari novel ini mengalir deras dalam upaya pemecahan teka-teki yang keluar | | dari mulut dua orang yan dituduh terlibat dalam Kelompok Patriotik | Radikal | | (Keparad). Pencarian identitas nusantara, tampaknya itu yang menjadi | | gagasan utama dari pengarang novel ini. Dan medium dari pencarian | identitas | | ini adalah sebuah jalinan sejarah dengan menjadikan Minangkabau sebagai | | mediumnya. | | | | Lantas, bagaimana ES Ito, pengarang muda yang menyembunyikan | | identitasnya- ini menyajikannya secara apik, cerdas dan memukau? | | | | Kitab dialog Timaeus and Critias, -satu-satunya sumber tertulis | | yang menyebutkan keberadaan benua Atlantis, dikarang oleh Plato pada | | kisaran tahun 360 SM. Pada kisaran tahun yang sama, Aristoteles menjadi | | murid Plato. Kelak setelah Plato meninggal, Aristoteles pindah ke Pella. | | Ibukota Macedonia. Menjadi mentor dari Aleksander Yang Agung. Motif | | penaklukan separuh dunia yang dilakukan oleh Aleksander menjadi | pertanyaan | | menarik yang diajukan oleh ES Ito. Sebuah pertanyaan yang ia jawab | | sendiri -lewat tokoh Profesor Duani Abdullah- dengan meyakinkan. Bahwa | | penaklukan Aleksander terkait dengan upaya pencarian Nusantara kuno, | sebuah | | cerita yang ia dapatkan dari Aristoteles. | | Maka kemudian, kita pun dibuat kaget, bagaimana plot sejarah dari | | satu belahan dunia dengan belahan dunia lainnya bisa terhubung dengan | masuk | | akal. Timaeus and Critias Plato kemudian terhubung dengan Tambo Adat Alam | | Minangkabau. Sebuah cerita mengenai asal usul nenek moyang orang Minang | | yang mampu menjelaskan kenapa penaklukan Aleksander berakhir di anak | benua | | India. Cerita tambo pun kemudian mengalir lewat mulut seorang Tukang Kaba | | yang terpaksa merantau di Bekasi, karena ia tidak lagi dihargai di | kampung. | | Pararelitas negara Atlantis sebagaimana gambaran Plato dalam | | Timaeus and Critias dengan Minangkabau sesuai cerita kaba, sungguh | menarik. | | Mulai dari pembentukan hukum Minangkabau dari simumbang jatuah, | | sigamak-gamak, tarik baleh hingga munculnya Tuah Sakato. Hukum-hukum itu | | diperinci lagi menjadi adat nan dibuhua mati dan adat nan dibuhua sintak. | | Pembentukan hukum dan otonomi tiap nagari di Minangkabau membuat Eva | Duani, | | salah satu protagonis dalam cerita itu bergumam, | | "Minangkabau adalah Welfare state, idaman Plato. Persis seperti | | otonomi tiap negeri yang diperintah oleh sepuluh raja Atlantis" | | Penyajian cerita tambo dalam novel Negara Kelima ini mengingatkan | | saya pada novel karangan Gus tf Sakai, Tambo Sebuah Pertemuan (Grasindo | | tahun 2000). Bila pada novel Gus tf Sakai itu saya merasakan sebuah | | perasaan rendah diri dan inferioritas -yang entah menjadi ciri dari | Sakai-, | | maka pada Negara Kelima saya merasakan sebuah semangat yang meluap-luap. | | Sebuah masa lalu yang gemilang, dan sekarang tinggal menjadi puing. Gus | tf | | Sakai dalam karyanya tampak mewakili kepengecutan dan inferioritas urang | | awak pasca PRRI. Sedangkan ES Ito dalam penyampaian tambo-nya mewakili | | sebuah semangat muda yang terlepas dari kelamnya penindasan PRRI oleh | | Jakarta. | | Jalinan cerita tambo itu membantu protagonis dalam memecahkan | | teka-teki kelompok radikal. Menyajikan fakta-fakta bagaimana Darmasraya | | menjadi sentral peradaban Nusantara pada masa itu. Pengarang | | mengungkap fakta pendirian Sriwijaya oleh Dapunta Hyang yang berasal dari | | Darmasyara sesuai keterangan pada prasasti Kedukan Bukit. Enam abad | | kemudian, Darmasraya juga berperan dalam pembentukan peradaban Majapahit | | lewat pengiriman Dara Petak dan Dara Jingga. Dengan berani penulis | | memaparkan sebuah realitas semangat tribalisme Jawa kuno di dalam istana | | Majapahit hingga misteri kematian Jayanegara yang ber-ibukan Darmasraya | | sebagaimana tertulis dalam sumber Pamancangah. | | | | Pencarian Identitas! | | Itulah tema sentral yang saya lihat dari Negara Kelima. Pencarian | | sebuah identitas nasional yang berbasiskan identitas kultural daerah. | Kita | | bisa membacanya lewat pengungkapan asal usul tokoh utama, Inspektur Timur | | Mangkuto. Ia menyebut dirinya berasal dari daerah Kamang. Dengan cerdas, | | identitas ini terungkap dalam dialog antara Timur Mangkuto dengan | Profesor | | Duani Abdullah yang berisi sinisme. | | "Hee..Hee", Profesor Duani Abdullah tergelak mendengar nama | tempat | | itu, "Kamang!, Negeri para pemberontak yang justru dilupakan sejarah | | bukan?" | | Lewat dialog ini Timur Mangkuto bisa mengingat kembali sejarah | | pemberontakan kampungnya. Terutama peristiwa Perang Kamang (pemberontakan | | belasting) pada 15 Juni 1908 -sebuah peristiwa yang menurut Indra Jaya | | Piliang bisa disamakan dengan riwayat revolusi Amerika yang dimulai | dengan | | tuntutan tidak ada pajak tanpa perwakilan (lihat Seratus Tahun Bung | Hatta, | | penerbit Kompas)-. Sebuah kisah sejarah yang tidak pernah dimasukkan oleh | | Jakarta sebagai bagian dari sejarah nasional. | | "Sejarah tidak adil, bukan?", Lanjut Profesor Duani Abdullah, | | "Sebagian daerah diagung-agungkan, sebagian besar malah dilupakan. Semua | | untuk kepentingan politik dan penguasa. Aku bisa membayangkan, Kamang-mu | | itu sekarang tidak lebih dari daerah yang diisi oleh manusi kerdil yang | | dilupakan dari sejarah pemberontakannya. | | Sinisme serupa muncul dalam dialog lainnya. Ketika dua orang anak | | muda menelusuri jejak PDRI di Halaban dan Bidar Alam. Mereka menyebut dua | | negeri itu dengan sebuah ungkapan tajam, | | "Negeri yang dikalahkan oleh manipulasi sejarah!" | | Sinisme dan pencarian identitas yang bercampur aduk mempermainkan | | emosi saya. Walaupun gagasan besar dari novel ini adalah sebuah identitas | | sejarah nusantara tetapi jelas kelihatan ES Ito, pengarang novel ini, | | menjadikan Minangkabau sebagai mediumnya. Model ideal dari sebuah | | masyarakat demokratis pada masa lalu. | | Membaca Negara Kelima seolah-olah melihat kembali kelahiran | | identitas Minangkabau. Ada satu semangat besar yang dimiliki oleh ES Ito. | | Suatu semangat yang tidak lagi dimiliki oleh novelis-novelis kontemporer. | | ES Ito mengangankan sebuah perubahan tanpa harus menghilangkan akar | | identitas. | | Negara Kelima tampaknya harus dibaca oleh siapa saja yang berada | | pada simpang jalan pencarian identitas. Dan ES Ito, pengarang muda itu | | mewakili sebuah semangat muda yang tengah bangkit kembali. Semoga kelak | ia | | tidak menjadi bagian dari seniman yang disebut Rendra sebagai seniman | salon | | yang hanya bersenandung tentang anggur, wanita dan rembulan. | | | | | | -------------------------------------------------------------- | Website: http://www.rantaunet.org | ========================================================= | Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: | http://rantaunet.org/palanta-setting | -------------------------------------------------------------- | UNTUK DIPERHATIKAN: | - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply | - Besar posting maksimum 100 KB | - Mengirim attachment ditolak oleh sistem | ========================================================= | -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

