Wa'alaikumsalamwarahmatullahiwabarakaatuhu. Hadist Perbedaan Ummatku adalah Rahmat", hadist yang lemah, tidak bisa dijadikan sandaran untuk menetapkan bahwa kita harus berbeda pendapat, karena perbedaan itu merupakan rahmat. hadist itu dha'if, karena bertentangan dengan firman Allah Ta'ala : " Dan berpegang teguhlah kamu pada tali Allah dan janganlah kamu berpecah belah".
Namun bukankah kenyataannya pada ulama dahulu juga berbeda pendapat? Benar, ulama dahulu berbeda pendapat, namun itu hanyalah masalah furu', atau tata cara pelaksanaannya. Contoh shalat tarawih berapa rakaat, shalat dhuha berapa rakaat, ada yang shalat ketika shahadat menggerakkan jari telunjuknya..dsbgnya. Para ulama dahulu tidak berbeda pendapat dalam hal pokok, atau yang sudah jelas-jelas Wajib hukumnya. Sikap para ulama dahulupun bila berdiskusi atau berbeda pendapat, saling memberikan argumentasi dalil naqal(nash) tekstual, dahulu, bila tidak ada dicari perbuatan sahabat juga Tabi'in. Bila ada dalil nash, maka sang ulama yang tidak memiliki argument nash, mengikuti ulama yang berdalil(itulah sikap mereka), karena itulah yang lebih benar, mereka menyadari akan hal itu. Bila masing-masing berdalil dan sama-sama kuat, maka keduanya diam, dan tidak saling mencerca, menghina,menuduh yang bukan-bukan. Imam hadist besar Al Khuza'i pernah menyatakan bila kedua ulama yang berbeda pendapat dan keduanya memiliki argument yang sama kuatnya : " Ketahuilah bahwa apabila kalian melakukan ini dan itu, para sahabat terdahulupun melakukan hal yang sama, dan ketahuilah apabila kalian tidak melakukannya, para sahabat terdahulupun ada yang tidak melakukannya, atau meninggalkannya". Jadi bila ingin berdiskusi, silahkan berikan argument yang kuat dari nash, karena ummat Islam memang harus berpatokan pada nash-nash. Jangan sampai terjadi suatu diskusi semacam dua orang berlawan. Satu senjatanya pisau apalagi kalau pisaunya yang karatan lagi, sementara yang satunya lagi bersenjatakan padang yang tajam, apalagi bom nuklir.Yah,.jelas seringnya hancur yang bersenjatakan cuman pisau itu saja. Yang dilawan pedang, bom nuklir. Lain hal bila yang berlawanan satu jumlahnya sedikit tetapi bermutu, berkwalitas, sementara satunya lagi jumlahnya banyak, tetapi kurang. Allah berfirman : " Betapa banyaknya golongan yang berjumlah sedikit mengalahkan jumlah yang banyak dengan izin Allah Ta'ala". Disitu kita lihat jumlah kecilpun bisa menang, asalkan dengan izin Allah Ta'ala, tanpa izin Allah Ta'ala tidak akan mungkin menang, sama dengan pertanyaan Syafa'at kemaren, Rasulullah bisa memberikan syafa'at pada ummatnya,( artinya bukan pertolongan, tetapi do'a dan jalan, seharusnya masuk neraka dengan syafa'at Rasulullah atau syafaat pemilik AlQuran, yaitu pembaca, penghafal dan pelaksanaannya, akan menjadi syafa'at baginya, do'a anak yang shalilh/ah). Dan semua itu atas izin Allah Ta'ala. Izin Allah Ta'ala akan tercapai dengan ridhaNya, ridhaNya tentu dengan niat ikhlas hambanYa hanya semata-mata lillahiTa'ala. Makanya yang dicari dalam diskusi adalah kebenaran yang hakiki. Seharusnya yang salah mengikuti yang benar, tidak kebanyakan diantara zaman sekarang, yang salah merasa benar terus, karena berlandaskan pada akal semata.Kalau yang benar merasa benar itu wajar, karena kenyataannya ia benar mo diapakan.Bukankah dikatakan:"Katakanlah yang benar itu meskipun pahit", obat itu memang terkadang pahit harus ditelan juga. Ada pendidikan para ulama di Mesir ini yang sepertinya berpengaruh pada jiwa saya. Para ulamanya bisa menghadapi berbagai macam perbedaan furu'(cabang), namun sangat tegas dalam masalah prinsipil. Jarang saya mendengar dari mulut mereka kata-kata hinaan terhadap sesama muslim, tidak memiliki sifat dendam, hari ini berantam besoknya sudah baikan, seperti ngak terjadi apa-apa dengan kemaren sore, (sungguh suatu hal yang patut dijadikan contoh) tauladan, mereka ngomong apalagi kalau berantam, suaranya keras, tetapi hatinya MasyaAllah, jarang saya temukan bagi bangsa kita, watak pendendamnya tinggi , kalau musuhan itu bisa tahan bertahun lamanya, naudzubillahimindzalik. Saya pernah bertengkar habis-habisan, perang mulut dengan teman satu building orang Mesir, (lumayan buat latihan bahasa Arab, saya pikir ketika itu), saya sudah gondok sekali dengan kata-katanya yang nyelekit, dan sikapnya seenak dewe, saya balas dengan kata yang sakit juga, dan saya cuek juga..eh..kagak taunya, besok nya ia ramah dan memeluk(kalau di Mesir mencium pipi sudah kebiasaan), seperti tidak terjadi apa-apa dengan kemaren. Akhirnya saya terbiasa dengan semua itu bahkan bisa meniru sikap mereka, bahwa kita ini ummat muslim bersaudara, silang sengketa itu biasa, namun dendam dan sakit hati tidak ada. Bukan semacam kata orang, kalau kacah sudah pecah, sudah luka dan berdarah lagi, sulit disatukan dan diobati. Kadang saya heran, yang membuat luka hati dan kaca itu pecah siapa sih, bukankah kita sendiri yang memecahkannya, wajar kalau puing-puing kaca pecah itu mengenai tubuh kita, luka dan berdarahlah ia. Oleh sebab itu agar kaca tidak pecah dan tidak luka, janganlah kita mencoba memecahkannya, apalagi melemparkannya, pantulan serpihan kaca, pasti kena kekita juga, yang berdarah kita juga, yang kaca, bukankah ia juga telah luka, dan bukankah ia juga punya hati? Sayang sangat sedikit diantara kita menjadikan segala dialam ini menjadi ibrah, pelajaran, alam terkembang menjadikan guru itu jarang kita perhatikan. Kita hanya mampu menyakiti orang lain, tanpa kita menyadari hati kitalah yang bisa jadi mula utamanya yang menyakiti orang lain. Kita ingin orang lain mengerti akan kita, tetapi kita sendiri jarang menyadari untuk mengerti siapa orang lain, bagaimana ia dan ada apa dibalik ia..? Jarang..jarang sekali, karena rasa benar sendiri, rasa tinggi sendiri, dan rasa ..rasa lebih dari segalanya, membuat kita sulit menyadari bahwa kitapun telah berbuat salah, kitapun telah menyakiti hatinya, melukai hatinya. Di Mesir ini, saya melihat dan mendengar kata-kata yang paling kasar, kalau ia sudah marah sekali adalah kata-kata " Ya ..Khimaar..ya khrabbaitak..wahai keledai,..atau terbakarlah rumahmu". Yang halusnya kalau sudah marah, paling kata " Minhu lillah", hanya pada Allahlah saya kembalikan semua urusan kejahatannya pada saya" Tidak pernah saya mendengar kata-kata semacam " Allah mengutuk kamu, Allah melaknati kamu,.....dst..meski orang tua terhadap anaknya sekalipun" Berbeda dengan di Indonesia yang sering saya baca " Terkutuklah engkau wahai anakku..laknat Allah atas kamu..menjadi batulah kamu...dst...". Saya jadi ngeri dengan bangsa saya sendiri, karena seringnya membaca di internet, majalah dan surat kabar kata-kata kutukan semacam itu. Saya berfikir, kenapa begitu sekali bangsaku terhadap sesama muslim,...? Kata laknat itu setahu saya untuk orang kafir laknatullah, atau semacam pelecehan terhadap orang kafir yang melecehkan Nabi Muhammad kemaren, benar wajar kita mendo'akan laknat Allah terhadap mereka yang dengan sengaja menghinakan nabi Muhammad itu. Namun untuk sesama muslim, apalagi ortu ke anak(ini yang paling sering saya baca ibu mengutuk anaknya, naudzubillahimindzalik), apalagi sesama muslim. Di Al Azhar University, semua mata bidang kuliyah dipelajari, dari ilmu filsafat, Aristoteles, falaq, mantiq, akidah, tafsir, hadist lughoh,..banyak sekali, kalau seperti mata kuliyah yang saya pelajari ushuluddin, 13 mata kuliyah, yang paling banyak adalah jurusan dakwah, yang sedikit mata kuliyahnya jurusan syari'ah. Dan semua buku madzhab dipelajari, tidak satu mazhab saja. Mungkin ini penyebabnya kali, saya melihat masyarakat Mesir meski berbeda-beda tata cara shalat, nikah, mereka aman dan damai saja sesamanya, tidak saling menuding, menuduh yang bukan-bukan. Satu kelebihan masyarakat Mesir yang saya lihat, sangat lihai dan pintar dalam berdebat. Subhanallah, semenjak dari kecil anak-anak Mesir itu sudah berani-berani untuk berbicara, namun cukup beradab dan sopan santun.Dari kecil memang yang utama adalah hafalan AlQurannya, kemudian hadist, setelah itu umum dipelajari. Antara ortu dan anak sudah terbiasa dengan sikap bermusyawarah, bukan otoriter, A kata ortu harus A yang dijalankan sang anak. Anak dibiasakan mengeluarkan pendapatnya. Ngak heran, banyak para doktoral di Mesir, banyak para penulis, pintar-pintar dan alim-alim, agamanya cukup kuat, walaupun mereka spesialist umum, kedokteran, pertanian, tapi agamanya. MasyaAllah. Demikian sekedar telaah ringan. ada yang salah mohon dimaafkan, yang benar semata-mata dari Allah. Wassalamu'alaikum. Rahima --- Bani Murro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamualaikum warchmatullohie Taála wabarokatouh. > > Perihal sholat,apakah seseorang mau sholat atau > tidak itu haq dia,tapi > setelah kita atau sebagai ortu wajib menyampaikan > terhadap anak atau teman > yg kebetulan bersamaan terlebih dahulu,karena itu > kewajiban setiap muslim > utk menyampaikan kepada saudarany seiman,dan > meneruskan risalah Rasululloh > saw,adalah pesan2 beliau. > > Disini ana tidak perlu mencantumkan hadits2nya ana > tahu enta pun mengerti > dan mengetahui itu ada .Seandainya kita apalagi > seorang ortu terhadap anak , > membiarkan mereka tidak sholat dan kita diam > saja,maka kita pun mendapat > perhitungan dari ALLAH Taála. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

