Assalamualaikum WW
Dari Kompas 1 minggu nan lalu.
Apo yo sarupo iko keadaannyo?
NRM -39
==================================

Sabtu, 19 Februari 2005  

Merisaukan, Generasi Muda Minang Tak Kenal Adat dan Budaya 


Padang, Kompas - Adat dan budaya Minang ke depan dalam tantangan dan bahaya.
Sebab, banyak generasi muda sebagai generasi pelanjut dewasa ini kurang
mengenal, bahkan tak kenal lagi dengan adat dan budayanya. Budaya Minang
dianggap tak lebih hebat dari budaya suku bangsa lain. Padahal, kalau mereka
selami, adat dan budaya Minang bisa menjadi perisai diri dan sekaligus
perisai agama. Makanya filosofi hidup orang Minang berbunyi adat basandi
Syara', Syara' basandi Kitabullah.

Kerisauan itu dikemukakan Ketua Umum Lembaga Kerapatan Adat dan Alam
Minangkabau (LKAAM) Sumatera Barat H Kamardi Rais Datuk Panjang Simulie,
Jumat (18/2) ketika berbincang-bincang dengan Kompas di Padang.

"Betul, etnis Minang suku yang paling cepat berubah karena filosofinya
antara lain di mana bumi dipijak, di sana langit dijunjung. Namun, adat dan
budaya Minang jangan diabaikan, apalagi dilupakan. Karena benteng diri dan
benteng agama," katanya.

Ia menjelaskan, kerisauan yang kini semakin mencemaskan itu, tatkala,
misalnya, melihat perilaku generasi muda kini yang begitu longgar, misalnya,
memakai pakaian ketat dan tampak pusar, tidak bisa berbahasa Minang. Ada
pula yang berpandangan, dan seolah itu suatu kebenaran, bahwa perempuan
Minang cenderung berselingkuh, kebebasan seksual yang luas, dan
promiskuitas.

"Ini sudah tidak benar lagi dan perlu diluruskan. Adat Minang adalah adat
islami dengan filosofi adat basandi Syara', Syara' basandi Kitabullah.
Bahkan, untuk membentengi diri dari perbuatan yang keji itu, maka dalam
norma adat dan budaya Minang ada yang dinamakan Sumbang 12, seperti sumbang
duduk, sumbang tegak, sumbang tanya, sumbang jawab, sumbang berpakaian, dan
sumbang diam," ujarnya menambahkan.

Apa maksudnya sumbang duduk? Sumbang duduk artinya bila seorang perempuan
Minang duduk, harus merapatkan lutut. "Supaya bareh jan taserak (beras
jangan terserak) di bawah," katanya dengan bahasa kias.

Hanya saja, kata Datuk Simulie, kini kondisinya mulai merisaukan karena
adanya "serangan gencar" dari luar sebagai dampak globalisasi. Ini
diperparah lagi karena ajaran adat tak lagi diajarkan dan dipraktikkan para
orangtua.

Sebenarnya, menurut Datuk P Simulie, dengan kembalinya ke sistem
pemerintahan nagari di Sumbar, diharapkan ada perubahan, setidak-tidaknya
pemahaman adat dan budaya itu. Namun, dalam praktiknya hidup ber-nagari
belum berubah, kecuali yang berubah itu sistem pemerintahan nagarinya. (NAL)
 
 
 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke