Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu.
Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik dan bagus saya copykan ke milist ini, dan jawaban saya tertara didalamnya, semoga ada manfaatnya. Ada beberapa hal yang harus diperjelas. 1. Tolong perhatikan kembali tulisan saya mengenai bagaimana menyikapi hadist lemah dan palsu. 2. Permasalahannya adalah bagaimana memakai hukum hadist lemah, hadist palsu, tidak ada asal usulnya seperti " Cinta tanah air sebahagian dari Iman". 3. Saya membicarakan masalah hukum memakai hadist palsu, bukan makna yang terkandung didalamnya, kalau kita melihat makna, sangat-sangat banyak makna yang benar dalam perkataan seseorang, meski kafir sekalipun ia, sesuai dengan AlQuran dan hadist (maknanya,), namun kalau ia bukan berasal dari Rasulullah atau para sahabat, tidak jelas asal usulnya, tetap perkataan itu tidak bisa dijadikan dalil/hujjah pada sesuatu hukum masalah agama. Apalagi alau kita bersikeras mengatakan hal yang bukan hadist dikatakan juga hadist Rasulullah.Maka takutlah akan ancaman sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah : " Barang siapa yang dengan sengaja membuat kedustaan padaku maka hendaklah menempati tempatnya di neraka jahannam". Kalau memang ia kita mengatakan itu hadist Rasulullah, tolong beribu kali tolong, saya meminta sanad, atau perawinya.Sebutkan derajat hadistnya apa. Kalau anda telah baca dan tahu itu maudh'(palsu). Apakah anda masih bersikeras memakai hadist palsu tersebut. Hadist palsu sama sekali tidak boleh dipakai dalam hal apapun, baik untuk keutamaan ibadah, apalagi hukum. Yang bisa dipakai adalah hadist lemah yang lemahnya tidak terlalu tinggi menurut sebahagian ulama saja, dan memiliki syarat=syarat pula, dan sudah saya sebutkan sebelumnya. Untuk terjemahan buku yang saya katakan ( salah terjemahan kali), tolong baik-baik di teliti dengan baik dan dibaca dengan kepala dingin, buku mana yang saya maksudkan? Dan Imam siapa yang saya katakan tidak ada menjelaskan bahwa Cinta tanah air sebahagian dari Iman, dan bahkan beliau menjelaskan " Haadzaa ghairu shahih, itu tidak benar, hadist ini tidak ada asal ususlnya" Dan beliau menjelaskan Imam Asshaghaani mengatakan hadist ini maudhu'(palsu, karena tidak ada asal usulnya. Dan silahkan lihat juga dibuku-buku yang sudah saya sebutkan sebelumnya menguatkan bahwa ini hadist tidak ada asal usulnya.Seperti buku-buku dibawah ini: 1, Lihat buku " Al maqaasid Al Hasanah " Oleh Imam Assyakhawi hal 188-189 2. Laisa minqaulin Nabiyyi Oleh Dr Muhammad Fuad Syakir hal 170 3. Syarh Riyaadhusshaalihiin Oleh Imam Zakariya Annawawi hal 1427 4. Kasyful khafaa wa maziilulilbaas amma isthara minal ahaadist 'ala alsinatuninnaasi oleh Imam Al 'Ajuulaani jilid 1 hal 308 5. Al Albaani dalam kitabnya " silsilah hadist dha'ifah" no hadist 36(silahkan baca keterangannya, beliau mengatakan maknanya tidak benar, ghairu mustaqiimin, karena cinta tanah air sebagaimana cinta diri, cinta harta, semua manusia memiliki sifat ini, baik kafir maupun muslim..." Semua buku diatas sudah saya check, karena alhamdulillah saya memiliki buku tersebut dirumah saya, gampang menchecknya. Dan masih ada lagi buku lain yang mengatakan hadist "cinta tanah air adalah hadist palsu, tidak memiliki asal usul. Apakah kita masih bersikeras mengatakannya ini hadist, dan menjadikannya hujjah, untuk cinta tanah air sebahagian dari Iman? Sekali lagi apa tidak takut akan ancaman yang diberikan oleh Rasulullah? Kalau memang bersikeras mengatakan ini hadist, sekali lagi tolong beribukali tolong berikan pada saya juga yang ada dimilist ini akan sanadnya. Mari kita bertanggung jawab dengan statement yang kita tuliskan, agar segala sesuatu benar-benar dengan ilmu, tidak asal ngomong saja. Soal sambal menyambal, saya kasih ilustrasi begini : Ada 1 kg rendang daging atau ayam, bumbu rendang. Bahannya cabai, bawang merah, bawang putih, merica, garam, jahe, lengkuas, kemiri, kunyit jintan, tambah daun-daunan..dllnya, jangan lupa santannya yang kental. Kemudian ada satu bumbu yang tidak ada, semacam lengkuas, apakah rendang akan jadi juga? jadi tokh..hanya rasanya yang sedikit lain. Tetapi apakah garam kita katakan rendang? atau cabai kita katakan rendang? tidak bukan? gabungan dari bumbu diataslah dikatakan bumbu rendang. Bukankah cabai bisa juga jadi sambal terasi, kalau kita masukkan ia kedalam kumpulan sambal terasi. Atau jahe lengkuas, bukankah juga bisa menjadi bahan dari bumbu sayur lodeh? Bisa bukan. Semua bumbu bisa masuk dimana saja, sesuai selera yang kita inginkan. Garam, bisa masuk dimana saja kalau kita mau, tetapi tetap garam tidak bisa kita katakan rendang, hanya bisa kita katakan salah satu pelengkap bumbu rendang. Ini masalah makanan, tidak hal demikian dengan hadist Rasulullah. Karena sangat berbahaya mengatakan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Rasulullah, meski maknannya benar. Presiden Bush juga bisa benar perkataannya dengan mengatakan : " Bersihkanlah karpet=karpet dirumah kamu, atau gunting kuku kuku jari kamu, karena kuku jari yang panjang jelek kelihatanya, atau karena membersihkan karpet dirumah adalah menjaga kesehatan tubuh, ruangan rumah dan sebahagian karena itu semua sebahagian dari Iman seseorang". Benar ngak yang dikatakan Bush tersebut? Benar? Lantas kita katakankah ia hadist Rasululah, karena makna sesuai dengan AlQuran dan Hadist? Tidak bukan? Okay,..silahkan direnungkan dan dijawab pertanyaan saya yang maha peinting itu, tolong berikan perawi dan sanadnya? Soal permintaan dik Dodi dan lainnya bagaimana kita bersikap atas suatu buku yg didalamnya mencantumkan hadist dha'if, atau hadist lemah. Kalau kita tidak bisa meneliti sendiri buku tersebut. Ada baiknya membaca buku yang sudah diteliti(ditahqiq), sekarang buku-buku kebanyakan sudah ditahqiq oleh ulama muhaqqiq, dengan arti kata hadist-hadist yang disebutkan didalam buku para ulama terdahulu itu, sudah dijelaskan derajat hadistnya, ada disebutkan tercantum dibuku yang mana saja. Buku Iyah 'Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali, buku sirah Annabawiyah dllnya sudah ada tahqiqnya, beli yang itu. atau baca yang sudah dijelaskan derajat hadist tersebut. Sekarang timbul dalam pertanyaan netters, kenapa ulama dahulu masih mencantumkan hadist lemah? Jawabannya " Allahu'alam", bisa jadi dikarenakan penjelasan sebagai bahan perbandingan saja, bisa jadi karena banyaknya hafalan hadist mereka, bisa jadi ini yang terakhir, dan dugaan yang terjelek dari kita, mereka belum mengetahui derajat hadist tersebut, karena belum di teliti dimasa itu. Nah, sekarang bagaimana sikap kita terhadap hal diatas, buku-buku yang ada hadist lemahnya itu? Sikap kita setelah tahu mana benar-mana salahnya, adalah : " Ambil yang baik, buang yang buruk", "ambil yang benar, buang yang salah.". Kita tahu bukan jangankan manusia, sebatang pohon juga, apakah semua buah yang ada dipohon itu baik semua buahnya, ngak ada yang busuk, semua matang, ngak ada yang belum matang? Begitupun namanya manusia, ada kelebihan dan kekurangannya. Pandai-pandai kita sajalah memilih buah dari sebatang pohon itu, pilih yang baik, dan sudah matang serta siap di pakai, diolah, dijual dan sebagainya, teliti dengan baik. Jangan sampai pula kita tebang semua batang pohon itu, yang rugi kita sendiri bukan? Semoga bermanfaat penjelasan ini. Dan bagi yang masih bersikeras terutama saudara wr Supratman, tolong anda datangkan pada saya sanad, atau perawi hadist tersebut serta jelaskan derajat hadistnya apa. Saya telah membantu anda dengen referensi buku yang sudah saya sebutkan diatas, silahkan di check sendiri, biar lebih yakin. Kalau anda masih keras dengan mengatakan itu hadist dan jadi hujjah, takutlah akan ancaman dari Rasulullah : " Mankadzzaba 'alayya muta'ammidan falyatabawwaq maq'aduhu minannaari". Wassalam. Rahima. --- wrsupratman <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Ass Wr Wb. > > Ibu Rahima yang baik, didalam Kitab Dalilul Falihin > saya menemukan keterangan demikian : > > " AL-WATHONUL HAQIIQIYYU HUWAD DAARUL AAKHIROTIL > LATII LAA NIHAAYATA LI-AAKHIRIHAA BI-IROODARILLAAHI > WA-QUDLROTIHI KAMAA JAA-A FIL HADIITS " YAA AHLAL > JANNATI KHULUUDUN BILAA MAUTIN WALAA AHLAN NAARI > KHULUUDUN BILAA MAUTIN ".QOOLA BA'DLUHUM HAADZAA > HUWAL MUROODU MIN HADIITSIN : "HUBBUL WATHON MINAL > IIMAAN" AY FAYANBAGHII LIKAAMILIL IIMAANI AN YA'MURO > WATHONAHU BIL-'AAMALIS SHOOLIHI " > (DALILUL FAALIHIIN / 27) > > ( Sengaja saya cantumkan bahasa Arabnya agar kita > bisa sama2 mengoreksi terjemahannya) > > Artinya : > " Tanah Air yang Haqiqi ialah Negri Akhirat yang > tidak ada hingganya untuk akhirnya dengan kehendak > Allah dan dengan QodratNya, sebagaimana telah datang > didalam hadist yang bunyinya : "Wahai Ahli Syurga > kamu semuanya kekal (didalam syurga) tanpa mati, dan > wahai ahli neraka kamu semuanya kekal (didalam > neraka) tanpa mati". Berkata sebagian ulama': > hadist ini ( YAA AHLAL JANNAH ilaa akhir) ialah yang > dimaksud dari hadist " Cinta Tanah Air adalah > sebagian daripada Iman". Artinya maka seyogyanya > bagi orang yang sempurna imannya hendaklah membuat > kemakmuran tanah Airnya dengan amal Sholeh" > > Disini jelas Kitab DALILUL FAALIHIIN telah menyebut > HUBBUL WATHON MINAL IMAAN sebagai sebuah hadist > (perhatikan kalimat yang kami garis bawahi), maka > adalah kurang tepat kiranya kesimpulan anda berikut > ini : > > >Ternyata ada kesalahan terjemahan dalam bahasa > > Indonesianya(kali), disana, bila hal ini dijadikan > > dalil untuk cinta tanah air sebahagian dari Iman. > > > > Tidak benar Imam Annawawi menjadikan dalil hadist > > "cinta tanah air sebahagian dari Iman", > > Kesimpulan anda terlalu cepat, dan terkesan kurang > sabar, saya menduga kesimpulan tersebut sudah > terbentuk sebelum anda membuka Kitab Dalilul > Faalihiin. > Jadi Anggapan kalau Hadist ini adalah hadist Palsu > sementara saya anggap sebagai anggapan peribadi anda > sendiri tidak dengan Kitab Daalilul Faalihiin. > > Demikian, sekedar bantu-bantu buka Kitab. > > Wassalam > > ILHAM M > yang sedang asyik belajar dinegri sendiri --- wandysulastra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Assalamu'alaikum Uni Rahima... > > Bagaimana cara kita menyikapi buku2 yang banyak > berisikan hadits2 > yang sangat dho'if..? Apakah masih diperbolehkan > untuk kita (yang > awam) membacanya dan mengambil pelajaran dari buku > tersebut? > > Mohon penjelasannya, > > Wassalam. Wandy(48) --- dodindra <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Subhanalloh, Alhamdulillah, Astaghfirulloh, > Ibu Rahima yang baik, maaf baru balas dimajlis > ini,terima kasih sekali > atas pencerahan dari ibu soal ilmu masalah hadits > ini, semoga akan > menjadi amal sholeh bagi ibu. Amiin. > Do'akan saya agar diberi petunjuk Alloh untuk > memahami ilmuNYA, > khususnya masalah Hadits ini. > Oh iya, ibu, saya minta tolong boleh yaa,tolong > tengok lagi > hadits/perkataan :" Hubbul wathon minal > iman, di buku " Dalilul Falihin oleh Syaikh Ibnu > 'Allan as-Shiddiqi. > Juga pada kitab Al Maqosid Al Hasanah fi Bayani > Katsirin min Al Hadits > Al Masyhurah ala As Sinah, oleh Syamsudin As > Sakhawi, penerbit > Beirut, hal. 386. > Hal ini agar lebih yaqin, dan kehati-hatian, agar > kita/saya khususnya, > tidak mudah-mudah mengatakan/memvonis derajat suatu > hadits hanya > karena kekurang tahuan kita saja, karena > hadits/perkataan ini adalah > salah satu hadits yang masyhur. > Kalau pada buku Riyadush Sholihin, memang tidak > terdapat hadits/bagian > tersebut. > Namun, itu kalau ibu sempat dan ada kitab tersebut > saja, tidak usah > dipaksakan jika sibuk.... > Keterangan sebelumnya dari ibu sudah sangat > mencerahkan bagi diri saya. > > Ibu Rahima yang baik, sependek pengetahuan saya, ada > banyak ulama > salaf dan khalaf yang membolehkan menggunakan hadits > dhoif ini, > apalagi dalam hal keutamaan ibadah , beliau itu > diantaranya adalah : > > Syekh Muhyiddin An Nawawi pada kitab ringkasan > Ibnu Shalah, Al > Irsyad , dan At-Taqrib > Abu Bakar Al Khatib , dalam buku beliau Al Kifayah > Abu Abdullah Al hakim An-Naisaburi (penulis buku > Al Mustadrok) dalam > kitab Beliau Al Madkhal ila Kitabi Al Iqlil > Al Baihaqi dalam kitab beliau Madkhal As Shogir, > yang merupakan > pengantar buku Dalail An-Nubuwah > Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Majmu' Fatawa > Imam Syatibi dalam kitab Al I'tishom > Syaikh Ali Qary dalam kitab Mirfat Al Mafatih > Asy Syihab Al Khifaji dalam kitab Syarhu Asy-Syaqo > Abu Al Hasanat Al Kanwi dalam buku Al Ajwibah Al > Fadhilah. > Imam Ahmad , Imam Abu Hanifah, Abu Daud. > Al Hafiz As Sakhawi dalam buku Al Qaul Al Badi' fi > Fadli Shalat ala > Al habib Asy-Syafi' > Dan masih banyak lagi, jika ditulis disini. > > Demikian sedikit saya nukilkan dari Tesis DR. Asyraf > bin Sa'id, dengan > judul Hukmu Al `Amal bi Al Hadits Adh-Dhaif, > penerbit : Maktabah > As-Sunnah, yang diterjemahkan dengan judul : Hukum > Mengamalkan Hadits > Dha'if, penerbit : Pustaka Azzam Jakarta. > Saya setuju dengan Ibu, untuk masalah ini, harus > hati-hati, yaitu > hadits dho'if itu ada yang harus ditinggalkan, namun > juga ada yang > bias diikuti dengan syarat-syarat tertentu, seperti > yang disyaratkan > oleh para ulama salaf dan khalaf hadits tersebut, > tidak asal > mengamalkan, maupun tidak asal menolak. > Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya, semoga > Alloh melimpahkan > RohmatNYA pada Ibu, suami, dan anak-anak, serta pada > kita semua > dimajlis ini.Dan semoga cepat selesai ambil S2nya. > Amiin. > jangan lupa, walau dinegeri orang, do'akan selalu > tanah air dan bangsa > kita,umat Islam khususnya agar bersatu .... > > wasalam, > dodi indra > yangbarubelajarhidup --- Huttaqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Jadi artinya, menurut ibu Rahima, Imam Ghozali > banyak menggunakan > hadits-hadits dhoif dan hadits yang tidak jelas > asal-usulnya adalah salah ? > sebab beliau sudah menggunakan hadits yang dhoif dan > tidak jelas > asal-usulnya? > > termasuk juga Imam Tabary juga ndak bener? sebab > beliau sudah menggunakan > hadits-hadits yang lemah juga.. > > atau mungkin kalau ditambahi lagi, hadits-hadits > dhoif juga muncul di Sirah > Ibnu ishaq, apakah hal itu juga bisa kita katakan > bahwa Ibnu Ishaq termasuk > salah ? > > Sebab bukankah semua itu berarti mereka sudah > menyampaikan hadits yang Nabi > tidak pernah katakan ? > > Mohon penjelasannya > > terima kasih > > salam > huttaqi > ----- Original Message ----- > From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]> > To: <[email protected]> > Sent: Tuesday, March 07, 2006 4:57 PM > Subject: Re: [D~SPAM] [keluarga-islam] Bagaimana > menyikapi hadist dha'if dan > palsu? > > > > Saya rasa jawaban mengenai pemaiakan hadist lemah > dan > > palsu sudah saya jelaskan. Tidak pandang bulu > siapapun > > orangnya. > > > > Wassalam. Rahima. > > > > --- Huttaqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > >> So..kesimpulannya bagaimana ibu Rahima ? > >> adakah yang dilakukan para Imam itu dengan > pemakaian > >> hadits dhaif dan hadits > >> yang tidak jelas asal-usulnya itu dibolehkan ? > >> > >> atau karena kita berprasangka baik kepada mereka > >> sehingga hal itu dibolehkan > >> untuk digunakan ? (yaitu penggunaan hadits dhaif > dan > >> yang tidak jelas asal > >> usulnya) > >> dengan beranggapan bahwa hadits-hadits yang > mereka > >> sampaikan adalah sudah > >> dicek kebenarannya meski menurut ilmu hadits yang > >> sekarang dhoif atau tidak > >> jelas asal usulnya ? > >> > >> mohon pencerahannya, > >> terima kasih > >> > >> salam > >> huttaqi > >> ----- Original Message ----- > >> From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]> > >> To: <[email protected]> > >> Sent: Monday, March 06, 2006 6:18 AM > >> Subject: Re: [D~SPAM] [keluarga-islam] Bagaimana > >> menyikapi hadist dha'if dan > >> palsu? > >> > >> > >> > Tidak...tidak aneh. Karena saya sudah membaca > >> > sebahagian dari syarah (penjelasan) Ihya > >> 'Ulumuddin > >> > yang dikarang oleh Imam Al Madzi dalam bukunya > " > >> > Ittihaaf Assaadah 'Al Muttaqiin 'alal syarah > Ihya > >> > 'Ulumuddin. Alhamdulillah saya juga memiliki > buku > >> > tersebut, ada puluhan jilid. > >> > > >> > Perlu diketahui, bukan sekedar ihya 'ulumuddin > >> saja > >> > buku yang mencakup didalamnya hadist dha'if, > >> tetapi > >> > buku-buku tafsir ulama besar semacam tafsir > >> > Atthabbariy juga terdapat hadist dha'if. > >> > > >> > Lantas kenapa masih dipakai? > >> > > >> > Para ulama dahulu, terutama orang Arab, sampai > >> > sekarangpun semacam itu, memiliki daya ingatan > >> yang > >> > cukup tinggi, hafalan merekapun, sampai saat > ini, > >> > sependek saya mengenal orang Mesir,Tunis, > Kuwait, > >> > dllnya, luar biasa hebatnya. > >> > > >> > Sebanyak itu hadist, sampai puluhan,mereka > hafal, > >> dan > >> > kala itu system pentahqikan, masih belum > semarak. > >> > > >> > Sebenarnya, kalau kita mau membaca sejarah > >> penulisan > >> > hadist dari awal sampai sekarang, kita bisa > >> mengerti > >> > dan menyadari fase-fase dari perkembangan ilmu > >> hadist > >> > tersebut, sehingga rasa buruk sangka, atau rasa > >> > keanehan, berubah menjadi rasa kekaguman dan > salut > >> > pada ulama sebelum kita. > >> > > >> > Wassalam. Rahima > >> > > >> > > >> > > >> > --- Huttaqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > >> > > >> >> iya..ibu Rahima..moga-moga S2nya sukses..dan > ilmu > >> >> yang sudah dipelajari > >> >> bermanfaat bagi banyak orang... > >> >> > >> >> btw, > >> >> nurut ibu Rahima, > >> >> kalau melihat bahwa di kitab Ihya Ulumuddin > >> tulisan > >> >> Imam Ghozali banyak > >> >> terdapat hadits dhaif dan tidak jelas > >> asal-usulnya, > >> >> apakah tidak timbul > >> >> keanehan menurut ibu ? > >> >> > >> >> Sebab sebelum Imam Ghozali menulis Ihya > >> Ulumuddin, > >> >> beliau sudah menguasai > >> >> ilmu hadits, beliau adalah seorang > >> muhadats...beliau > >> >> sudah menjadi > >> >> Lector..guru besar...di University > >> >> > >> >> Nah, apakah gak timbul pertanyaan pada diri > ibu, > >> >> mengapa seorang yang memahami banget masalah > ilmu > >> >> hadits, tentulah menguasai > >> >> masalah urusan sanad dan matan, tetapi mengapa > >> >> ketika beliau menulis Ihya > >> >> Ulumuddin dan kitab-kitab yang lainnya setelah > >> >> beliau kholwat di menara > >> >> masjid Damaskus, banyak banget hadits dhaif > dan > >> yang > >> >> gak jelas asal usulnya > >> >> juga dimasukkan dikitab tersebut oleh beliau ? > >> >> > >> >> Apa tidak aneh menurut ibu? > >> >> > >> >> Bagaimana menurut ibu Rahima ? > >> >> > >> >> mohon pencerahannya > >> >> > >> >> salam > >> >> huttaqi > >> >> ----- Original Message ----- > >> >> From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]> > >> >> To: <[email protected]> > >> >> Sent: Sunday, March 05, 2006 7:43 PM > >> >> Subject: Re: [D~SPAM] [keluarga-islam] > Bagaimana > >> >> menyikapi hadist dha'if dan > >> >> palsu? > >> >> > >> >> > >> >> > Ada buku Ihya Ulumuddin, Durratunnasiihin, > >> >> > sangat-sangat banyak hadist dha'if. Kita > harus > >> >> seleksi > >> >> > dulu bila memakai hadistnya. __________________________________________________ Do You Yahoo!? Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around http://mail.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

