Assalamu'alaikumwarahmatullahiwabarakaatuhu.

Sebuah pertanyaan yang cukup menggelitik dan bagus
saya copykan ke milist ini, dan jawaban saya tertara
didalamnya, semoga ada manfaatnya.


Ada beberapa hal yang harus diperjelas.

1. Tolong perhatikan kembali tulisan saya mengenai
bagaimana menyikapi hadist lemah dan palsu.

2. Permasalahannya adalah bagaimana memakai hukum
hadist lemah, hadist palsu, tidak ada asal usulnya
seperti " Cinta tanah air sebahagian dari Iman".

3. Saya membicarakan masalah hukum memakai hadist
palsu, bukan makna yang terkandung didalamnya, kalau
kita melihat makna, sangat-sangat banyak makna yang
benar dalam perkataan seseorang, meski kafir sekalipun
ia, sesuai dengan AlQuran dan hadist (maknanya,),
namun kalau ia bukan berasal dari Rasulullah atau para
sahabat, tidak jelas asal usulnya, tetap perkataan itu
tidak bisa dijadikan dalil/hujjah pada sesuatu hukum
masalah agama.

 Apalagi alau kita bersikeras mengatakan hal yang
bukan hadist dikatakan juga hadist Rasulullah.Maka
takutlah akan ancaman sebagaimana yang dikatakan oleh
Rasulullah : " Barang siapa yang dengan sengaja
membuat kedustaan padaku maka hendaklah menempati
tempatnya di neraka jahannam".

Kalau memang ia kita mengatakan itu hadist Rasulullah,
tolong beribu kali tolong, saya meminta sanad, atau
perawinya.Sebutkan derajat hadistnya apa. Kalau anda
telah baca dan tahu itu maudh'(palsu). Apakah anda
masih bersikeras memakai hadist palsu tersebut. Hadist
palsu sama sekali tidak boleh dipakai dalam hal
apapun, baik untuk keutamaan ibadah, apalagi hukum. 

Yang bisa dipakai adalah hadist lemah yang lemahnya
tidak terlalu tinggi menurut sebahagian ulama saja,
dan memiliki syarat=syarat pula, dan sudah saya
sebutkan sebelumnya.

Untuk terjemahan buku yang saya katakan ( salah
terjemahan kali), tolong baik-baik di teliti dengan
baik dan dibaca dengan kepala dingin, buku mana yang
saya maksudkan? Dan Imam siapa yang saya katakan tidak
ada menjelaskan bahwa Cinta tanah air sebahagian dari
Iman, dan bahkan beliau menjelaskan " Haadzaa ghairu
shahih, itu tidak benar, hadist ini tidak ada asal
ususlnya" Dan beliau menjelaskan Imam Asshaghaani
mengatakan hadist ini maudhu'(palsu, karena tidak ada
asal usulnya. Dan silahkan lihat juga dibuku-buku yang
sudah saya sebutkan sebelumnya menguatkan bahwa ini
hadist tidak ada asal usulnya.Seperti buku-buku
dibawah ini:

1, Lihat buku " Al maqaasid Al Hasanah " Oleh Imam
Assyakhawi hal 188-189

2. Laisa minqaulin Nabiyyi Oleh Dr Muhammad Fuad
Syakir hal 170

3. Syarh Riyaadhusshaalihiin Oleh Imam Zakariya
Annawawi hal 1427

4. Kasyful khafaa wa maziilulilbaas amma isthara minal
ahaadist 'ala alsinatuninnaasi oleh Imam Al 'Ajuulaani
jilid 1 hal 308

5. Al Albaani dalam kitabnya " silsilah hadist
dha'ifah" no hadist 36(silahkan baca keterangannya,
beliau mengatakan maknanya tidak benar, ghairu
mustaqiimin, karena cinta tanah air sebagaimana cinta
diri, cinta harta, semua manusia memiliki sifat ini,
baik kafir maupun muslim..."

Semua buku diatas sudah saya check, karena
alhamdulillah saya memiliki buku tersebut dirumah
saya, gampang menchecknya. Dan masih ada lagi buku
lain yang mengatakan hadist "cinta tanah air adalah
hadist palsu, tidak memiliki asal usul. Apakah kita
masih bersikeras mengatakannya ini hadist, dan
menjadikannya hujjah, untuk cinta tanah air sebahagian
dari Iman? Sekali lagi apa tidak takut akan ancaman
yang diberikan oleh Rasulullah?

Kalau memang bersikeras mengatakan ini hadist, sekali
lagi tolong beribukali tolong berikan pada saya juga
yang ada dimilist ini akan sanadnya. Mari kita
bertanggung jawab dengan statement yang kita tuliskan,
agar segala sesuatu benar-benar dengan ilmu, tidak
asal ngomong saja.

Soal sambal menyambal, saya kasih ilustrasi begini :

Ada 1 kg rendang daging atau ayam, bumbu rendang.
Bahannya cabai, bawang merah, bawang putih, merica,
garam, jahe, lengkuas, kemiri, kunyit jintan, tambah
daun-daunan..dllnya, jangan lupa santannya yang
kental.

Kemudian ada satu bumbu yang tidak ada, semacam
lengkuas, apakah rendang akan jadi juga? jadi
tokh..hanya rasanya yang sedikit lain.

Tetapi apakah garam kita katakan rendang? atau cabai
kita katakan rendang? tidak bukan? gabungan dari bumbu
diataslah dikatakan bumbu rendang. Bukankah cabai bisa
juga jadi sambal terasi, kalau kita masukkan ia
kedalam kumpulan sambal terasi.

Atau jahe lengkuas, bukankah juga bisa menjadi bahan
dari bumbu sayur lodeh? Bisa bukan. Semua bumbu bisa
masuk dimana saja, sesuai selera yang kita inginkan.

Garam, bisa masuk dimana saja kalau kita mau, tetapi
tetap garam tidak bisa kita katakan rendang, hanya
bisa kita katakan salah satu pelengkap bumbu rendang.

Ini masalah makanan, tidak hal demikian dengan hadist
Rasulullah. Karena sangat berbahaya mengatakan sesuatu
yang tidak dikatakan oleh Rasulullah, meski maknannya
benar.

Presiden Bush juga bisa benar perkataannya dengan
mengatakan : " Bersihkanlah karpet=karpet dirumah
kamu, atau gunting kuku kuku jari kamu, karena kuku
jari yang panjang jelek kelihatanya, atau karena
membersihkan karpet dirumah adalah menjaga kesehatan
tubuh, ruangan rumah dan sebahagian karena itu semua
sebahagian dari Iman seseorang".

Benar ngak yang dikatakan Bush tersebut? Benar? Lantas
kita katakankah ia hadist Rasululah, karena makna
sesuai dengan AlQuran dan Hadist? Tidak bukan? 


Okay,..silahkan direnungkan dan dijawab pertanyaan
saya yang maha peinting itu, tolong berikan perawi dan
sanadnya? 

Soal permintaan dik Dodi dan lainnya bagaimana kita
bersikap atas suatu buku yg didalamnya mencantumkan
hadist dha'if, atau hadist lemah.

Kalau kita tidak bisa meneliti sendiri buku tersebut.
Ada baiknya membaca buku yang sudah
diteliti(ditahqiq), sekarang buku-buku kebanyakan
sudah ditahqiq oleh ulama muhaqqiq, dengan arti kata
hadist-hadist yang disebutkan didalam buku para ulama
terdahulu itu, sudah dijelaskan derajat hadistnya, ada
disebutkan tercantum dibuku yang mana saja.

Buku Iyah 'Ulumuddin oleh Imam Al Ghazali, buku sirah
Annabawiyah dllnya sudah ada tahqiqnya, beli yang itu.
atau baca yang sudah dijelaskan derajat hadist
tersebut.

Sekarang timbul dalam pertanyaan netters, kenapa ulama
dahulu masih mencantumkan hadist lemah?

Jawabannya " Allahu'alam", bisa jadi dikarenakan
penjelasan sebagai bahan perbandingan saja, bisa jadi
karena banyaknya hafalan hadist mereka, bisa jadi ini
yang terakhir, dan dugaan yang terjelek dari kita,
mereka belum mengetahui derajat hadist tersebut,
karena belum di teliti dimasa itu.

Nah, sekarang bagaimana sikap kita terhadap hal
diatas, buku-buku yang ada hadist lemahnya itu?

Sikap kita setelah tahu mana benar-mana salahnya,
adalah :

" Ambil yang baik, buang yang buruk", "ambil yang
benar, buang yang salah.".

Kita tahu bukan jangankan manusia, sebatang pohon
juga, apakah semua buah yang ada dipohon itu baik
semua buahnya, ngak ada yang busuk, semua matang, ngak
ada yang belum matang?

Begitupun namanya manusia, ada kelebihan dan
kekurangannya. Pandai-pandai kita sajalah memilih buah
dari sebatang pohon itu, pilih yang baik, dan sudah
matang serta siap di pakai, diolah, dijual dan
sebagainya, teliti dengan baik. Jangan sampai pula
kita tebang semua batang pohon itu, yang rugi kita
sendiri bukan?

Semoga bermanfaat penjelasan ini. Dan bagi yang masih
bersikeras terutama saudara wr Supratman, tolong anda
datangkan pada saya sanad, atau perawi hadist tersebut
serta jelaskan derajat hadistnya apa. Saya telah
membantu anda dengen referensi buku yang sudah saya
sebutkan diatas, silahkan di check sendiri, biar lebih
yakin. Kalau anda masih keras dengan mengatakan itu
hadist dan jadi hujjah, takutlah akan ancaman dari
Rasulullah : " Mankadzzaba 'alayya muta'ammidan
falyatabawwaq maq'aduhu minannaari". 

Wassalam. Rahima.

--- wrsupratman <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Ass Wr Wb.
> 
> Ibu Rahima yang baik, didalam Kitab Dalilul Falihin
> saya menemukan keterangan demikian :
> 
> " AL-WATHONUL HAQIIQIYYU HUWAD DAARUL AAKHIROTIL
> LATII LAA NIHAAYATA LI-AAKHIRIHAA BI-IROODARILLAAHI
> WA-QUDLROTIHI KAMAA JAA-A FIL HADIITS " YAA AHLAL
> JANNATI KHULUUDUN BILAA MAUTIN WALAA AHLAN NAARI
> KHULUUDUN BILAA MAUTIN ".QOOLA BA'DLUHUM HAADZAA
> HUWAL MUROODU MIN HADIITSIN : "HUBBUL WATHON MINAL
> IIMAAN" AY FAYANBAGHII LIKAAMILIL IIMAANI AN YA'MURO
> WATHONAHU BIL-'AAMALIS SHOOLIHI " 
> (DALILUL FAALIHIIN / 27)
> 
> ( Sengaja saya cantumkan bahasa Arabnya agar kita
> bisa sama2 mengoreksi terjemahannya)
> 
> Artinya :
> " Tanah Air yang Haqiqi ialah Negri Akhirat yang
> tidak ada hingganya untuk akhirnya dengan kehendak
> Allah dan dengan QodratNya, sebagaimana telah datang
> didalam hadist yang bunyinya : "Wahai Ahli Syurga
> kamu semuanya kekal (didalam syurga) tanpa mati, dan
> wahai ahli neraka kamu semuanya kekal (didalam
> neraka) tanpa mati". Berkata sebagian ulama': 
> hadist ini ( YAA AHLAL JANNAH ilaa akhir) ialah yang
> dimaksud dari hadist " Cinta Tanah Air adalah
> sebagian daripada Iman". Artinya maka seyogyanya
> bagi orang yang sempurna imannya hendaklah membuat
> kemakmuran tanah Airnya dengan amal Sholeh" 
> 
> Disini jelas Kitab DALILUL FAALIHIIN telah menyebut
> HUBBUL WATHON MINAL IMAAN sebagai sebuah hadist
> (perhatikan kalimat yang kami garis bawahi), maka
> adalah kurang tepat kiranya kesimpulan anda berikut
> ini :
> 
> >Ternyata ada kesalahan terjemahan dalam bahasa
> > Indonesianya(kali), disana, bila hal ini dijadikan
> > dalil untuk cinta tanah air sebahagian dari Iman.
> > 
> > Tidak benar Imam Annawawi menjadikan dalil hadist
> > "cinta tanah air sebahagian dari Iman",  
> 
> Kesimpulan anda terlalu cepat, dan terkesan kurang
> sabar, saya menduga kesimpulan tersebut sudah
> terbentuk sebelum anda membuka Kitab Dalilul
> Faalihiin.
> Jadi Anggapan kalau Hadist ini adalah hadist Palsu
> sementara saya anggap sebagai anggapan peribadi anda
> sendiri tidak dengan Kitab Daalilul Faalihiin.
> 
> Demikian, sekedar bantu-bantu buka Kitab.
> 
> Wassalam
> 
> ILHAM M
> yang sedang asyik belajar dinegri sendiri



--- wandysulastra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Assalamu'alaikum Uni Rahima...
> 
> Bagaimana cara kita menyikapi buku2 yang banyak
> berisikan hadits2 
> yang sangat dho'if..? Apakah masih diperbolehkan
> untuk kita (yang 
> awam) membacanya dan mengambil pelajaran dari buku
> tersebut?
> 
> Mohon penjelasannya,
> 
> Wassalam. Wandy(48)

--- dodindra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Subhanalloh, Alhamdulillah, Astaghfirulloh,
> Ibu Rahima yang baik, maaf baru balas dimajlis
> ini,terima kasih sekali
> atas pencerahan dari ibu soal ilmu masalah hadits
> ini, semoga akan
> menjadi amal sholeh bagi ibu. Amiin.
> Do'akan saya agar diberi petunjuk Alloh untuk
> memahami ilmuNYA,
> khususnya masalah Hadits ini.
> Oh iya, ibu, saya minta tolong boleh yaa,tolong
> tengok lagi
> hadits/perkataan :" Hubbul wathon minal
> iman, di buku " Dalilul Falihin oleh Syaikh Ibnu
> 'Allan as-Shiddiqi. 
> Juga pada kitab Al Maqosid Al Hasanah fi Bayani
> Katsirin min Al Hadits
> Al Masyhurah ala As – Sinah, oleh Syamsudin As
> Sakhawi, penerbit
> Beirut, hal. 386.  
> Hal ini agar lebih yaqin, dan kehati-hatian, agar
> kita/saya khususnya,
> tidak mudah-mudah mengatakan/memvonis derajat suatu
> hadits hanya
> karena kekurang tahuan kita saja, karena
> hadits/perkataan ini adalah
> salah satu hadits yang masyhur.
> Kalau pada buku Riyadush Sholihin, memang tidak
> terdapat hadits/bagian
> tersebut.
> Namun, itu kalau ibu sempat dan ada kitab tersebut
> saja, tidak usah
> dipaksakan jika sibuk....
> Keterangan sebelumnya dari ibu sudah sangat
> mencerahkan bagi diri saya.
> 
> Ibu Rahima yang baik, sependek pengetahuan saya, ada
> banyak ulama
> salaf dan khalaf yang membolehkan menggunakan hadits
> dhoif ini,
> apalagi dalam hal keutamaan ibadah , beliau itu
> diantaranya adalah :
> 
> •     Syekh Muhyiddin An Nawawi pada kitab ringkasan
> Ibnu Shalah, Al
> Irsyad , dan At-Taqrib
> •     Abu Bakar Al Khatib , dalam buku beliau Al Kifayah
> •     Abu Abdullah Al hakim An-Naisaburi (penulis buku
> Al Mustadrok) dalam
> kitab Beliau Al Madkhal ila Kitabi Al Iqlil
> •     Al Baihaqi dalam kitab beliau Madkhal As Shogir,
> yang merupakan
> pengantar buku Dalail An-Nubuwah
> •     Ibnu Taimiyah dalam kitab beliau Majmu' Fatawa
> •     Imam Syatibi dalam kitab Al I'tishom
> •     Syaikh Ali Qary dalam kitab Mirfat Al Mafatih
> •     Asy Syihab Al Khifaji dalam kitab Syarhu Asy-Syaqo
> •     Abu Al Hasanat Al Kanwi dalam buku Al Ajwibah Al
> Fadhilah.
> •     Imam Ahmad , Imam Abu Hanifah, Abu Daud.
> •     Al Hafiz As Sakhawi dalam buku Al Qaul Al Badi' fi
> Fadli Shalat ala
> Al habib Asy-Syafi'
> •     Dan masih banyak lagi, jika ditulis disini.
> 
> Demikian sedikit saya nukilkan dari Tesis DR. Asyraf
> bin Sa'id, dengan
> judul Hukmu Al `Amal bi Al Hadits Adh-Dhaif,
> penerbit : Maktabah
> As-Sunnah, yang diterjemahkan dengan judul : Hukum
> Mengamalkan Hadits
> Dha'if, penerbit : Pustaka Azzam – Jakarta.
> Saya setuju dengan Ibu, untuk masalah ini, harus
> hati-hati, yaitu
> hadits dho'if itu ada yang harus ditinggalkan, namun
> juga ada yang
> bias diikuti dengan syarat-syarat tertentu, seperti
> yang disyaratkan
> oleh para ulama salaf dan khalaf hadits tersebut,
> tidak asal
> mengamalkan, maupun tidak asal menolak.
> Sekali lagi, terima kasih atas bantuannya, semoga
> Alloh melimpahkan
> RohmatNYA pada Ibu, suami, dan anak-anak, serta pada
> kita semua
> dimajlis ini.Dan semoga cepat selesai ambil S2nya.
> Amiin.
> jangan lupa, walau dinegeri orang, do'akan selalu
> tanah air dan bangsa
> kita,umat Islam khususnya agar bersatu ....
> 
> wasalam,
> dodi indra
> yangbarubelajarhidup


--- Huttaqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Jadi artinya, menurut ibu Rahima, Imam Ghozali
> banyak menggunakan 
> hadits-hadits dhoif dan hadits yang tidak jelas
> asal-usulnya adalah salah ?
> sebab beliau sudah menggunakan hadits yang dhoif dan
> tidak jelas 
> asal-usulnya?
> 
> termasuk juga Imam Tabary juga ndak bener? sebab
> beliau sudah menggunakan 
> hadits-hadits yang lemah juga..
> 
> atau mungkin kalau ditambahi lagi, hadits-hadits
> dhoif juga muncul di Sirah 
> Ibnu ishaq, apakah hal itu juga bisa kita katakan
> bahwa Ibnu Ishaq termasuk 
> salah ?
> 
> Sebab bukankah semua itu berarti mereka sudah
> menyampaikan hadits yang Nabi 
> tidak pernah katakan ?
> 
> Mohon penjelasannya
> 
> terima kasih
> 
> salam
> huttaqi
> ----- Original Message ----- 
> From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]>
> To: <[email protected]>
> Sent: Tuesday, March 07, 2006 4:57 PM
> Subject: Re: [D~SPAM] [keluarga-islam] Bagaimana
> menyikapi hadist dha'if dan 
> palsu?
> 
> 
> > Saya rasa jawaban mengenai pemaiakan hadist lemah
> dan
> > palsu sudah saya jelaskan. Tidak pandang bulu
> siapapun
> > orangnya.
> >
> > Wassalam. Rahima.
> >
> > --- Huttaqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >> So..kesimpulannya bagaimana ibu Rahima ?
> >> adakah yang dilakukan para Imam itu dengan
> pemakaian
> >> hadits dhaif dan hadits
> >> yang tidak jelas asal-usulnya itu dibolehkan ?
> >>
> >> atau karena kita berprasangka baik kepada mereka
> >> sehingga hal itu dibolehkan
> >> untuk digunakan ? (yaitu penggunaan hadits dhaif
> dan
> >> yang tidak jelas asal
> >> usulnya)
> >> dengan beranggapan bahwa hadits-hadits yang
> mereka
> >> sampaikan adalah sudah
> >> dicek kebenarannya meski menurut ilmu hadits yang
> >> sekarang dhoif atau tidak
> >> jelas asal usulnya ?
> >>
> >> mohon pencerahannya,
> >> terima kasih
> >>
> >> salam
> >> huttaqi
> >> ----- Original Message ----- 
> >> From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]>
> >> To: <[email protected]>
> >> Sent: Monday, March 06, 2006 6:18 AM
> >> Subject: Re: [D~SPAM] [keluarga-islam] Bagaimana
> >> menyikapi hadist dha'if dan
> >> palsu?
> >>
> >>
> >> > Tidak...tidak aneh. Karena saya sudah membaca
> >> > sebahagian dari syarah (penjelasan) Ihya
> >> 'Ulumuddin
> >> > yang dikarang oleh Imam Al Madzi dalam bukunya
> "
> >> > Ittihaaf Assaadah 'Al Muttaqiin 'alal syarah
> Ihya
> >> > 'Ulumuddin. Alhamdulillah saya juga memiliki
> buku
> >> > tersebut, ada puluhan jilid.
> >> >
> >> > Perlu diketahui, bukan sekedar ihya 'ulumuddin
> >> saja
> >> > buku yang mencakup didalamnya hadist dha'if,
> >> tetapi
> >> > buku-buku tafsir ulama besar semacam tafsir
> >> > Atthabbariy juga terdapat hadist dha'if.
> >> >
> >> > Lantas kenapa masih dipakai?
> >> >
> >> > Para ulama dahulu, terutama orang Arab, sampai
> >> > sekarangpun semacam itu, memiliki daya ingatan
> >> yang
> >> > cukup tinggi, hafalan merekapun, sampai saat
> ini,
> >> > sependek saya mengenal orang Mesir,Tunis,
> Kuwait,
> >> > dllnya, luar biasa hebatnya.
> >> >
> >> > Sebanyak itu hadist, sampai puluhan,mereka
> hafal,
> >> dan
> >> > kala itu system pentahqikan, masih belum
> semarak.
> >> >
> >> > Sebenarnya, kalau kita mau membaca sejarah
> >> penulisan
> >> > hadist dari awal sampai sekarang, kita bisa
> >> mengerti
> >> > dan menyadari fase-fase dari perkembangan ilmu
> >> hadist
> >> > tersebut, sehingga rasa buruk sangka, atau rasa
> >> > keanehan, berubah menjadi rasa kekaguman dan
> salut
> >> > pada ulama sebelum kita.
> >> >
> >> > Wassalam. Rahima
> >> >
> >> >
> >> >
> >> > --- Huttaqi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >> >
> >> >> iya..ibu Rahima..moga-moga S2nya sukses..dan
> ilmu
> >> >> yang sudah dipelajari
> >> >> bermanfaat bagi banyak orang...
> >> >>
> >> >> btw,
> >> >> nurut ibu Rahima,
> >> >> kalau melihat bahwa di kitab Ihya Ulumuddin
> >> tulisan
> >> >> Imam Ghozali banyak
> >> >> terdapat hadits dhaif dan tidak jelas
> >> asal-usulnya,
> >> >> apakah tidak timbul
> >> >> keanehan menurut ibu ?
> >> >>
> >> >> Sebab sebelum Imam Ghozali menulis Ihya
> >> Ulumuddin,
> >> >> beliau sudah menguasai
> >> >> ilmu hadits, beliau adalah seorang
> >> muhadats...beliau
> >> >> sudah menjadi
> >> >> Lector..guru besar...di University
> >> >>
> >> >> Nah, apakah gak timbul pertanyaan pada diri
> ibu,
> >> >> mengapa seorang yang memahami banget masalah
> ilmu
> >> >> hadits, tentulah menguasai
> >> >> masalah urusan sanad dan matan, tetapi mengapa
> >> >> ketika beliau menulis Ihya
> >> >> Ulumuddin dan kitab-kitab yang lainnya setelah
> >> >> beliau kholwat di menara
> >> >> masjid Damaskus, banyak banget hadits dhaif
> dan
> >> yang
> >> >> gak jelas asal usulnya
> >> >> juga dimasukkan dikitab tersebut oleh beliau ?
> >> >>
> >> >> Apa tidak aneh menurut ibu?
> >> >>
> >> >> Bagaimana menurut ibu Rahima ?
> >> >>
> >> >> mohon pencerahannya
> >> >>
> >> >> salam
> >> >> huttaqi
> >> >> ----- Original Message ----- 
> >> >> From: "Rahima" <[EMAIL PROTECTED]>
> >> >> To: <[email protected]>
> >> >> Sent: Sunday, March 05, 2006 7:43 PM
> >> >> Subject: Re: [D~SPAM] [keluarga-islam]
> Bagaimana
> >> >> menyikapi hadist dha'if dan
> >> >> palsu?
> >> >>
> >> >>
> >> >> > Ada buku Ihya Ulumuddin, Durratunnasiihin,
> >> >> > sangat-sangat banyak hadist dha'if. Kita
> harus
> >> >> seleksi
> >> >> > dulu bila memakai hadistnya.


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
Berhenti, berhenti sementara dan konfigurasi keanggotaan anda, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke