--- Syafrinal Syarien <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> 
> 
> --- Ahmad Ridha <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
> > On 4/4/06, Syafrinal Syarien <[EMAIL PROTECTED]>
> > wrote:
> > 
> Ya benar, itu sinyalemen saya karena kabarnya ada
> hadits yang berbunyi kira-kira: "Perbedaan pendapat
> di
> antara umatku adalah rahmat".
> Anda lebih tahu apakah hadits tsb sahih atau tidak.

Untuk derajat hadist ini, saya copikan kembali dari
milist sebelah.


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuhu,

Hadist No. 57

"Perselisihan diantara umatku adalah rahmat."

Hadits ini tidak ada sumbernya. Para pakar hadits
telah berusaha
mendapatkan sumbernya dengan meneliti dan menelusuri
sanadnya, namun
tidak menemukannya. As-Subuki mengatakan "Hadits
tersebut tidak dikenal
di kalangan para pakar hadits dan sayapun tidak
menjumpai sanadnya yang
sahih, dha'if ataupun maudhu'. Pernyataan itu
ditegaskan dan disepakati
Syeikh Zakaria Al-Anshari dalam mengomentari tafsir
Al-Baidhawi II/92.
Disitu ia mengatakan "Dari segi maknanya terasa sangat
aneh dan
menyalahi apa yang diketahui para ulama peneliti."
Ibnu Hazem dalam
kitab Al-Ahkam fi Ushulil Ahkam V/64 menyatakan, "Ini
bukan hadits."
Barangkali ini termasuk sederetan ucapan yang paling
merusak dan membawa
bencana. Bila perselisihan dan pertentangan itu
merupakan rahmat,
pastilah kesepakatan dan kerukunan itu merupakan
kutukan. Ini tidak
mungkin akan diucapkan apalagi diyakini oleh kaum
muslim yang berpikir
tenang dan teliti. Masalahnya hanya dua alternatif,
yaitu bersepakat
atau berselisih, yang berarti pula rahmat atau kutukan
(kemurkaan).
Menurut saya, kata-kata ini akan berdampak negatif
bagi umat Islam dari
masa ke masa. Perselisihan yang disebabkan perbedaan
antar mazhab
benar-benar telah mencapai klimaksnya, bahkan para
pengikut mazhab yang
fanatik tidak segan-segannya mengkafirkan pengikut
mazhab lain. Anehnya,
jangankan para pengikut mazhab, para pemimpin atau
para ulamanyapun yang
mengetahui syariat dan ajaran Islam tidak seorangpun
yang berusaha
kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah Nabawiyah yang
sahih. Padalah
itulah yang diperintahkan oleh para imam mazhab yang
mereka ikuti.
Imam-iman yang menjadi panutan mereka itu telah dengan
tegas berpegang
hanya pada Al-Qur'an dan As-Sunnah, ijma dan qiyas.
Karena itulah para
imam dengan tegas pula menyatakan secara bersama,
"Bila hadits itu
sahih, maka itulah mazhabku. Dan bila ijtihad atau
pendapatku
bertentangan dengan Al-Qur'an dan Sunnah yang sahih,
ikutilah A-Qur'an
dan Sunnah serta campakkanlah ijtihad dan pendapatku.
Itulah mereka.
Ulama kita dewasa ini kendatipun mengetahui dengan
pasti bahwa
perselisihan dan perbedaan tidak mungkin dapat
disatukan kecuali dengan
mengembalikan kepada sumber dalilnya, menolak yang
menyalahi dalil dan
menerima yang sesuai dengannya, namun tak mereka
lakukan. Dengan
demikian, mereka telah menyandarkan perselisihan dan
pertentangan ada
dalam syariat. Barangkali ini saja sudah cukup menjadi
bukti bahwa itu
bukan datang dari Allah SWT, kalau saja mereka itu mau
benar-benar
mengkaji dan mempelajari Al-Qur'an serta mencamkan
firman Allah SWT
dalam surat An-Nisa ayat 82, yang artinya : "....
Kalau sekiranya
Al-Qur'an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka
mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya." (An-Nisa' :
82).
Ayat tersebut menerangkan dengan tegas bahwa
perselisihan dan perbedaan
bukanlah dari Allah SWT. Kalau demikain bagaimana
mungkin perselisihan
itu merupakan ajaran atau syariat yang wajib diikuti
apalagi merupakan
suatu rahmat yang diturunkan Allah SWT? La haula wala
quwwata illa
billah!
Karena adanya ucapan itulah, banyak umat Islam setelah
masa para imam -
khususnya dewasa ini - terus berselisih dan berbeda
pendapat dalam
banyak hal yang menyangkut segi akidah dan amaliah.
Kalau saja mereka
mau mengenali dan mencari tahu bahwa perselisihan itu
buruk dan dikecam
Al-Qur'an dan Sunnah pastilah mereka akan segera
kembali ke persatuan
dan kesatuan.
Ringkasnya perselisihan dan pertentangan itu dikecam
oleh syariat dan
yang wajib adalah berusaha semaksimal mungkin untuk
meniadakan dan
menjauhkannya dari umat Islam sebab hal itu menjadi
penyebab utama
melemahnya umat Islam seperti yang difirmankan Allah
SWT : "Dan taatlah
kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu
berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang
kekuatanmu......." (Al-Anfal
: 46).
Adapun merasa rela terhadap perselisihan dan
menamakannya sebagai rahmat
jelas sekali menyalahi Al-Qur'an dan hadits-hadits
sahih. Dan nyatanya
ia tidak mempunyai dasar kecuali ucapan diatas yang
tidak bersumber dari
Rasulullah SAW.
Barangkali muncul pertanyaan : para sahat Rasulullah
SAW telah
berselisih pendapat, padahal mereka adalah
seutama-utamanya manusia.
Lalu apakah mereka juga termasuk yang dikecam
Al-Qur'an dan Sunnah?
Pertanyaan semacam itu dijawab oleh Ibnu Hazem :
Tidak! Sama sekali
tidak! Mereka tidak termasuk yang dikecam Al-Qur'an
dan Sunnah sebab
mereka masing-masing benar-benar mencari mardhatillah
dan demi untuk-Nya
semata. Diantara mereka ada yang mendapat satu pahala
karena niat yang
baik dan kehendak demi kebaikan. Sungguh telah
ditiadakan dosa atas
mereka karena kesalahan yang telah mereka lakukan.
Mengapa? Karena
mereka tidak sengaja dan tidak bermaksud (berselisih)
dan tidak pula
meremehkan dalam mencari (kebenaran). Bagi mereka yang
mendapat
kebenaran baginya dua pahala. Begitulah umat Islam
hingga hari kiamat
nanti.
Adapun kecaman dan ancaman yang ada dalam Al-Qur'an
dan Sunnah ditujukan
bagi mereka yang dengan sengaja meninggalkan Al-Qur'an
dan Sunnah
setelah keduanya sampai di telinga mereka dan adanya
dalil-dalil yang
nyata di hadapan mereka serta kepada mereka yang
menyandarkan pada si
Fulan dan si Fulan, bertaklid dengan sengaja demi satu
ikhtilaf,
mengajak pada fanatisme sempit ala jahiliyah demi
menyuburkan firqah.
Mereka sengaja menolak Al-Qur'an dan Sunnah Nabawiyah.
Kecaman dan
ancaman tadi khusus untuk mereka yang bila isi
Al-Qur'an dan Sunnah
sesuai dengan hawa nafsu dan keinginannya lalu mereka
ikuti; tetapi bila
tidak sesuai, mereka kembali pada ashabiyah
jahiliyahnya.
Karena itu, berhati-hati dan waspadalah terhadap semua
itu bila Anda
mengharapkan keselamatan dan kesuksesan pada hari yang
tiada guna harta
dan keturunan kecuali orang-orang yang menghadap Allah
SWT dengan hati
bersih. (Lihat Al-Ihkam fi Ushulil-Ahkam V/67-68). 

[Diambil dari SILSILAH HADITS DHA'IF DAN MAUDHU' JILID
1, Oleh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani]

  ----- Original Message ----- 
  From: Rahima 
  To: [EMAIL PROTECTED] 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan, silahkan ke: 
http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan 
tetap mendaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke