Subject: [93-l] Negeri Qur'an Date: Tue, 18 Apr 2006 12:34:04 +0700 Negeri Qur'an Oleh: M. Yayan Suryana 18 Apr 2006 07:34 WIB
(Era Muslim) Suatu senja di Kairo. Saat-saat kelelahan menyelimuti para penumpang kereta bawah tanah jurusan Helwan. Ada pekerja kantoran dengan masih menggunakan setelan jas rapi, ada mahasiswa yang berpenampilan trendi, lelaki tua dengan tas lusuhnya dan beberapa wanita setengah baya bersama anak-anaknya. Serta masih banyak lagi orang-orang yang tidak bisa saya sebut satu persatu memenuhi gerbong kereta. Saya harus menyelesaikan tugas mengajar privat di selatan Kairo hari itu. Perjalanan sekitar tiga puluh menit dari statsiun Demerdash, Abbasea. Pikiran saya tidak tenang, masih berkecamuk semenjak siang tadi. Kata teman-teman satu Fakultas ujian bisa jadi dimajukan dari biasanya. Terbayang oleh saya hafalan delapan Juz Al-Quran sudah menunggu. Ah, jika saja dulu di Indonesia sudah hafal banyak Al-Quran rasanya tidak usah pusing memikirkannya lagi, tinggal mengulang dan mendalami. Tidak seperti sekarang, terburu-buru menghafal karena ujian sudah dekat. Padahal dosen di kuliah berulang kali mengingatkan jangan menghafal Quran karena ujian, hafalkan ayat-ayat Quran karena ia kitabmu. Diam-diam saya mengeluarkan mushaf kecil, membaca sisa bacaan yang belum selesai. Di depan saya berdiri, nampak anak muda berpakaian trendi sedang membaca kumpulan surat-surat pilihan dalam Al-Quran yang disebut Sabul Munjiyat. Tidak lama ia berdiri meninggalkan tempat duduknya, bersamaan dengan henti roda-roda baja kereta. Saya pun menempati kursi kosong bekas pemuda tadi. Wajah-wajah dalam gerbong itu nampak lelah. Tetapi saya sedikit menemukan kesejukan, beberapa orang dalam gerbong itu membaca Al-Quran. Lelaki tua berambut putih yang duduk di samping saya juga mengeluarkan mushaf besar dari dalam tas lusuhnya. Memang terlihat ganjil, namun ia berusaha menyesuaikan dengan kondisi matanya yang (mungkin) sudah rabun. Masyarakat Mesir cukup religius dalam keseharian mereka, utamanya dalam interaksi mereka dengan Al-Quran di tengah arus globalisasi dan invasi budaya Barat yang merajalela di negeri-negeri Muslim. Polisi, tentara dan satpam yang sedang jaga tak segan membaca Al-Quran. Saat pergi ke pertokoan Khan Khalili di kawasan Husein saya pun beberapa kali menyaksikan pemandangan yang membuat gairah keimanan menyala, beberapa penjaga toko Khan Khalili membaca Al-Quran sambil menunggu pembeli yang mayoritas turis Asing. Dan saat kami pergi ke kuliah, dalam bis-bis kota yang sesak beberapa orang Mesir membaca dan mengulang hafalan Quran-nya. Pernah satu waktu sepulang dari perjalanan yang sama, saya ditegur seorang pemuda yang sedang mengulang hafalan Quran-nya. Apakah kamu membawa mushaf? Ya Jawab saya. Mengapa kamu tidak membacanya? katanya lagi. Saya tidak punya wudlu. Apa salahnya mengulang hafalan Quran? Saya juga tidak punya wudlu! saya mengangguk dan membenarkan nasihatnya. Beberapa waktu lalu, adik kelas saya satu sekolah dulu bertanya, Bagaimana cara menghafal Quran yang efektif? Saya tidak punya jawaban yang betul-betul saya tahu, hanya saja saya sarankan untuk terus menghafal dan banyak mengulang. Usahakan baca Quran di mana pun ada kesempatan seperti masyarakat Mesir melakukannya. Ia kemudian menjawab, bahwa untuk membaca Quran di setiap kesempatan terasa sulit jika diterapkan di kota seperti Jakarta. Saya tidak tahu pasti apakah memang benar di Jakarta susah untuk melakukannya? Karena masyarakat yang tadi saya ceritakan di atas ada di Kairo yang nota bene ibu kota Mesir. Setidaknya satu hal yang diharap para pembaca Quran itu: keberkahan. Keberhakan dalam segala hal, bukan hanya dari sisi materi, jauh dari itu keberkahan di Hari Pengadilan seluruh manusia. Karena kata Nabi SAW, Bacalah Quran. Karena ia akan menjadi pemberi syafaat kepada para pembacanya. Dan keberkahan itu sendiri telah dijanjikan Allah dalam kitab-Nya ini, Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran. (Q.S. Shaad: 29) Penulis buku Fî Dzilâlil Qurân (Di Bawah Naungan Quran) Sayyid Qutb, mengungkapkan kekagumannya kepada Al-Quran setelah lama ia bergelut dengan berbagai pemikiran Materealis, Wajadtu-l Quran (Kutemukan Al-Quran) katanya. Semenjak itu ia pun konsen mempelajari Al-Quran sampai ia menemui syahid di tiang gantungan, setelah merampungkan karya monumentalnya: Fî Dzilâlil Qurân. Inilah sedikit gambaran dari sebuah Negeri Quran bernama Mesir. Negeri Quran hanyalah sebuah nama yang terlintas di benak saya. Ia bukanlah negeri yang selalu identik dengan tanah Arab, bukan itu yang saya maksud. Negeri Quran ialah negeri yang masyarakat Muslimnya dekat dengan Al-Quran apapun bahasa nasionalnya. Negeri yang mencintai Al-Quran sebagaimana mereka menyintai Allah pemilik kitab-Nya. Negeri itu mungkin saja negeri kita tercinta: Indonesia. Yang harus selalu kita pertanyakan, Apakah kita termasuk orang-orang yang gemar membaca Al-Quran? dan Apakah kita masih mengharapkan syafaat dari Al-Quran? karena, ia (Al-Quran) datang sebagai pemberi syafaat bagi para pembacanya. Wallahu alam Kairo, 10 April 2006 sumber : http://www.eramuslim.com/i.php/atk/view/0110.htm -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

