http://www.geocities.com/Tokyo/Ginza/8700/badagang.html
--------------------------------------------------------------------------------
BADAGANG JO "MANGGALEH"
Oleh H Mas'oed Abidin
"Badagang" bagi orang Minang sudah dikenal sejak lama. Malah dianggap
"identik dengan sebutan yang melekat kepada "Orang Minang" itu. Karena
bagi orang Minang, kiranya "Badagang" adalah suatu kebaikan, suatu
idaman dan bukan suatu celaan.
Di Minangkabau kata-kata "dagang" menyimpan banyak makna. Terkandung
fasafah hidup yang utuh dan hidup. Dagang di Minangkabau, tidak hanya
berarti "bussiness" (bisnis) tok. Kata ini bisa mengandung makna
"marantau", dengan tujuan yang pasti "mencari". Bisa dalam arti
sempit, sekedar mencari bekal untuk hidup sementara, bisa berarti
mencari "kehidupan" dalam arti yang luas. Jadi jelas tidak hanya
terbatas kebiasaan menyangkut (menggaet) materi semata. Bussines is
only bussiness, kurang melekat di Minangkabau.
Di "Ranah" ini, anak dagang tidak dianggap orang buangan. Dia
dihormati sebagaimana adanya seorang manusia. Punya hak-hak tertentu.
Mereka tidak akan dihardik atau dipermalukan. Dibuatkan "surau"
tersendiri, bahkan diberi nama "surau dagang". Penilaian orang Minang
terhadap orang dagang, tidak terbatas kepada "negeri asal" si anak
dagang, tetapi kepada "kebaikan perilakunya di ranah ini, serta hasil
karya-karyanya yang diterima sebagai "menantu" atau bahkan
dipercayakan memikul tugas-tugas didalam "negeri". Duduak samo randah,
tagak samo tinggi.
Penilaian ini, dikarenakan "orang Minang" suka "badagang". Badagang,
juga berarti "berdagang" dalam arti yang sering dipakai ditangah
balai", "manggaleh". Jual beli, tukar-menukar, dagang babelok,
bertoko, dengan seluruh transaksi yang mencakup "rugi-laba".
"MANGGALEH", suatu kosa-kata jarang tersua dalam penggunaan bahasa
lain di Nusantara. Tepat dikatakan, yang tersua hanya dalam penggunaan
istilah orang Minang, atau merupakan kata-kata yang "khas". Dari mana
asalnya, kapan mulai penggunaannya, apa-apa saja yang terkandung dalam
pesan kata ini, belum sempa diselidiki secara tuntas. Mungkin suatu
ketika perlu dibahas, dalam sebuah forum "seminar" tentang "aspek
manggaleh bagi orang Minang".
Manggaleh didalam paham orang Minang, adalah memelihara sebuah amanah.
Mungkin, asal katanya dari "galeh" atau gelas", yang diyakini sebagai
satu produk "pecah-belah". Sebagai mana lazimnya, sebuah produk
pecah-belah, sudah pasti "mau pecah" dan "bisa belah". Lebih jauh bisa
berserakan, sudah hancur berantakan, maka tidak mungkin dipertautkan
lagi. Karena itu, memegang gelas (manggaleh) perlu ada kiat, yakni
"hati-hati" dan "selalu pandai memelihara". Maklumlah yang dibawa
adalah "barang yang mudah pecah, mudah pula hancur", perlu sekali
"ketelitian".
Kepada "Orang Minang" yang akan memulai "badagang", dalam arti yang
luas, dipesankan sebuah petuah dari orang tua-tua "HIYU BALI, BALANAK
BALI, IKAN PANJAG BALI DAHULU, (dihulu)", yang kemudian dirangkaikan
dengan sebuah pesan (falsafah hidup), "IBU CARI, DUNSANAK CARI, INDUAK
SAMANG CARI DAHULU". Terkandung sebuah kaedah merantau bagi setiap
putra Minang. Kalau dikampung halaman ditinggalkan ibu, maka ditanah
perantauan ibupun harus dicari. Pelajarannya ialah, pandai menghormati
"orang tua" dimana saja.
Selanjutnya "dunsanak" dengan pengertian "teman sejawat", teman sama
besar "sepergaulan", bahkan "sesama tempat tugas", harus dianggap
sebagai saudara sendiri". Makanya, telah menjadi kenyataan selama
diperantauan itu, orang itu, orang Minang sering berkata "urang lain
(terasa akrab) Labiah dari dunsanak (dikampung sendiri)". Kemudian
yang berikut, diperlukan "induak samang" yang erat kaitannya dalam
istilah Bussinessman, ialah "teman berusaha".
Selama pesan-pesan ini kita anggap sebagai falsafah "badagang" bagi
orang Minang, maka terlihat bahwa orang Minang tidak berdagang dengan
membawa "modal fasilitas" atau "kartebeletje". Atau dengan lebih
dahulu "menggadai" dan "menjual" harta pusaka, sebagai "modal
akumulasi". Sama sekali tidak tersua hal seperti ini. Setidak-tidaknya
semasa-doeloe.
Orang Minang dalam "badagang" dengan arti "manggaleh", memulai dari
yang kecil menuju besar. Bukan dari besar, dengan manggulung dan
melahap sesama besar. Kita sangat setuju dengan argumentasi AA.NAVIS
(Singgalang, No. 6187 Tahun XXIII, Sabtu 3 Agustus 1991/ 22 Muharram
1412, sebagai pengungkapan "moral bisnis" dibawah judul wawancara
"Orang Minang Tak Pandai Bisnis Besar" , dimana AA. Navis berkata
"URANG MINANG ITU PAIBO".
Caranya, ialah "SENTENG BABILAI, SINGKEK BAULEH, BATUKA BAANJAK,
BARUBAH BASAPO". Prinsipnya, sama-sama bekerja mencapai tujuan,
bekerja sma mengangkat beban, saling mau perbaikan jika terlihat satu
kesilapan.
Kemudian dilanjutkan dengan sesuatu yang lebih "esensial" (mendasar)
kata orang kini. "ANGGANG JO KEKEK CARI MAKAN, TABANG KAPANTAI
KADUONYO, PANJANG JO SINGKEK PAULEHKAN, MAKONYO SAMPAI NAN DICITO".
Semua potensi yang ada, dalam hidup (badagang) digali dan
dipertemukan, untuk mencapai suatu "kesuksesan" tanpa harus
mengorbankan rasa persaudaraan, bahkan selalu menghargai "existensi"
sebagaimana adanya. Karena itu, orang Minang" masih memakai
kaedah-kaedah pergaulan yang nyaman, seperti "ADAIK HIDUIK TOLONG
MANOLONG, ADAIK MATI JANGUAK MANJANGUAK, ADAIK LAI BARI MAMBARI, ADAIK
TIDAK SALING MANYALANG (BASELANG-TENGGANG)".
Dan bagaimanapun kemelut yang terjadi, "sikap paibo" itu, masih
tercermin dalam perikehidupan bermasyarakat luas ("PAWAG BIDUAK NAK
RANG TIKU PANDAI MANDAYUANG MANALUNGKUIK, BASILANG KAYU DALAM TUNGKU
DISINAN API MANGKO KAIDUIK", karenanya masyarakat Minang secara umum
dengan kaedah/falsafah ini
Dikunci dengan satu perhatian : INGEK SABALUN KANAI, KALIMEK SABALUN
ABIH, INGEKINGEK NAN KAPAI, AGAK-AGAK NAN KATINGGA !!! Jeli dan
jelimet dengan perhitungan matang tentang manfaat sebuah tindakan,
bagi yang badagang (manggaleh) maupun korong kampung yang
ditinggalkan.
Teranglah sudah, disini kita menemui suatu "mental climate", suatu
iklim (suasana) sikap jiwa yang indah, subur dan bersih. Manusia
Minang tidak hanya berpandangan sebagai "homo?ekonomicus" semata
dengan mengabaikan "nilai?nilai budaya" yang diwarisinya. Bahkan tidak
economicsanimals.
Namun, tidaklah pula bearti, bahwa "orang Minang" tertutup untuk
menerima semua sistem yang dari luar, selama sistem itu baik, berguna
dan menunjang pencapaian suatu keberhasilan, selama dapat dikaitkan
kepada "pantas" dan "patut". Mereka "badagang" dengan sebuah kompas
yang jarumnya di arahkan "DIMA BUMI DI?PIJAK, DI?SINAN LANGIK
DIJUNJUNG", artinya penyesuaian, situasional dan kondisional. Karena
ini, mereka maju dan berkiprah disegala bidang.
Sebuah mentalclimate yang benarbenar indah, sesuai dengan "agama" dan
adatnya. Syara' mamutuih, adat mangato.
Badagang jo Manggaleh, bagi putra Minangkabau sejak dahulu, dimulai
dengan apa yang ada. Yang ada itu, ialah "alam" (alam takambang jadi
guru), dan potensimanusiawi. Secara awal ditanamkan "percaya diri"
untuk melaksanakan idea "selfhelp", kata para ekonomi dewasa ini.
Mencukupkan dari apa yang ada, "tulang delapan karat" dan "moralitas"
dengan panduan "Agama" serta "Adat". Adat dan Agama berjalin
berkelindan membentuk watak yang produktif , menuju "self help"
(menolong diri sendiri). Kemudian meningkat kepada "mutualhelp",
berkiprah saling membantu orang keliling. TA'AA WANUU'ALAL BIRRI
(bantu?membantu, ta'awun mutualhelp) dalam pembagian pekerjaan
(albirri/kebaikan). Membentuk suatu division of labour menurut
keahlian masing-masing, jelas ini akan berdampak percepatan mutu yang
dihasilkan. Kemudian akan menuju "take off" dengan serba keberhasilan.
Kerjasama yang terjalin rapi, dengan memfungsikan potensi yang riil,
sungguh merupakan "kiat" keberhasilan manajemen. TUKANG NAN TIDAK
MAMBUANG KAYU, NAN BUNGKUAK KASINGKA BAJAK, NAN LURUIH KA?TANGKAI
SAPU, SATAMPOK KAPAPAN TUAI, NAN KETEK PAPASAK SUNTIANG".
Konklusinya, tidak ada yang terbuang, semua dapat dimanfaatkan sesuai
kematangan dan kemampuan masingmasing, akan mengangkat "orang Minang"
nanbadagang dari selfhelp kepada mutualhelp itu. Manajemen seperti
ini, terlihat nyata dalam usaha "lapau nasi" yang sangat digandrungi
oleh pedagang Minang. Sejak dari "dapur", hingga ke lemari pajangan,
sampai "kemeja hidangan" yang terakhir "penerimaan uang"
(banking/accounting).
Seluruhnya berjalan secara otomatis, teratur, sama-sama bekerja (sama
mempunyai kewajiban), dan dengan kerjasama itu, akhirnya kelak berhak
mendapatkan pembagian, sesuai dengan modalnya masing-masing (tenaga,
waktu dan uang). Tanpa exploitasi, tapi mutualhelp dalam arti hakiki.
Bentuk inilah yang secara akademis, kelak berkembang , dan
dikembangkan menjadi satu bentuk "koperasi", dan sejarah Indonesia
mencatat, mungkin bukan secara kebetulan, kalau Bapak Koperasi
Indonesia adalah putra Minangkabau, MOHAMMAD HATTA (allahuyarham).
Kiat mutual-help, sesuai sekali dengan bentuk ideal perekonomian
menentang kapitalis (materi untuk materi), yang jelas dinegara kita
ini sikap menumpuk modal hanya pada satu tangan dan untuk kemakmuran
pihak konglomerat saja, pasti tidak akan diterima keberadaannya.
Ada dua "pemeo" yang paling menyakitkan hati orang Minang, yaitu kalau
dia dituduh badagang cino". Sebuah usaha tanpa memperhatikan
kaedah-kaedah, terbenam dalam usaha mencari hidup dan berebut hidup,
dan tidak ada kampung tempat pulang. Terbenam diperantauan, tidak
ingat lagi anak kemenakan, tidak pernah berbuat baik kekorong kampung,
tidak pula mau tahu dengan lingkungan. Untuk mengantisipasi pemeo ini,
dipesankan melalui petuah "HUJAN AMEH DI NAGARI URANG, HUJAN BATU DI
NAGARI AWAK, KAMPUANG HALAMAN DIKANA JUO".
Karena itu, materi hasil "badagang" tidaklah untuk kesejahteraan
sendiri, pemilik modal, tetapi harus dinikmati juga oleh "orang
kampung" nan jauah dimato.
Pemeo kedua, yang menyakitkan itu, ialah "dipagalehkan urang". Yakni
kehilangan jati diri, yang bisa berakibat lebih fatal terhadap orang
Minang itu sendiri (nandipagalehkan urang), bisa berbuat "menjual
kampung halaman" untuk kepentingan orang lain (penjajah/kolonial)
dimasa itu.
Jelaslah sudah, bahwa "badagang" jo "manggaleh" bagi orang Minang,
punya falsafah mendalam, dan berurat berakar baginya dalam memilih
secara teliti penerapan kiat manajemen yang tengah berkembang. Karena
akhir dari keberhasilan seseorang yang "badagang" atau "manggaleh"
adalah "selfess help", yaitu kesediaannya membantu orang lain (kampung
halaman dan karib kerabat) dengan cara ikhlas (ihsan) tanpa memerlukan
balasan apa-apa. Atau, sebagai kata orang "INDAK BAUDANG DIBALIK
BATU", itulah selfess help, menurut istilabh orang berilmu.
Sesuai dengan Firman Allah, "WA AHSIN KAMAA AHSANALLAHU ILAIKA WALAA
TABHIL FASAA DA FIL ARDHI", artinya "Berbuat baiklah kamu (kepada
sesama makhluk) sebagaimana Allah (yang menciptakan manusia) telah
memberikan segala bentuk kebaikan kepada kamu, (yakni berbuat
selflesshelp, membantu tanpa mengharapkan balasan). Dan Ingatlah,
jangan sekalikali kamu menjadi penabur bencana dipermukaan bumi; (Q.S.
XXVIII Al Qashash, ayat 77).
Sekarang mampukah orang Minang masakini mengulang sejarah, mengelola
Bisnis Besar, seperti masa lalu??? Jawabnya, tidaklah mustahil, kalau
ada kemauan dan punya kesempatan. "MAMUTIAH CANDO RIAK DANAU, TAMPAK
NAN DARI MUKO MUKO, BATAHUN TAHUN DIDALAM LUNAO, NAMUN NAN INTAN
BACAYO JUO".
Alhamdulillah, orang Minang sampai kini, masih memiliki "piala" yang
belum berpindah ke tangan orang lain, yaitu orang Minang masih "pandai
hidup", "ALAH BAKARIH SAMPORONO, BINGKISAN RAJO MAJOPAIK, TUAH
BASARAB BAKARANO, DEK PANDAI BATENGGANG DI NAN RUMIK".
Kuncinya, barangkali pertajamlah observasi, tingkatkan daya fikir,
dinamiskan daya gerak, perhalus raso pareso, perkembang daya cipta,
dan bangkitlah kembali kemauan.
Insya Allah, "Innallaha ma'ana", Allah akan selalu menyertai kita.
Amin.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================