Ysh Dt. Bandaro dan dunsanak sekalian, Secara teori, seharusnya tidak ada kemiskinan di Minangkabau. Karena sistem sosial yang telah terbentuk sejak dulu telah mengatur sedemikian rupa sistem kesejahteraan. Lahan serta sistem peruntukannya telah diciptakan untuk menampung aktivitas dasar masyarakat (pertanian) dan mampu menyediakan kebutuhan substantif, serta sistem pengolahannya telah mengatur sistem kesejahteraannya secara adil. Belum lagi sistem sosial tersebut ditambahkan dengan sistem sosial yang telah diperkenalkan secara Islam, seperti zis dll.
Bilamana ini ingin disebut juga sebagai kemiskinan, maka coba saya sebutkan faktor2nya. Pertama, saya meragukan alat ukur yang digunakan secara statistik itu. Kedua, kalau pun ada ukuran, maka itu untuk mengukur fenomena masyarakat perkotaan. Ketiga, untuk sampai pada kategori miskin seharusnya ada kategori dan perbandingan umum. Kalau alat ukurnya adalah hdi (human development index) atau setidaknya tingkat gizi, mungkin saya mempercayai data itu. Tapi kalau diukur dengan 'keterasingan' seperti yang disebutkan dalam contoh2, maka hal itu bukan kemiskinan. Memang setidaknya sejak 2 dasawarsa terakhir telah digunakan konsep baru dalam mengukur 'ketertinggalan' masyarakat perkotaan, yaitu keterasingan sosial (social inclusion). Pengertian keterasingan adalah kemampuan masyarakat untuk mendapatkan akses terhadap sejumlah fasilitas, termasuk di dalamnya adalah informasi, betapapun dia sangat dekat dengan fasilitas itu. Tidak semua masyarakat mendapatkan kesempatan yang setara terhadap 'life supporting system', baik sarana maupun prasarana, dan hal ini memang dapat menurunkan kualitas kehidupan. Misal petani, perlu mendapatkan informasi tentang aktivitas pasar, nilai produk pertanian, dsb. Demikian pula karyawan di kota, perlu mendapatkan informasi tentang lapangan pekerjaan, tingkat upah, dsb. Beberapa fasilitas juga menuntut 'keterjangkauan' (affordability) untuk dapat dinikmati. Alat ukur social inclusion sebenarnya tipikal perkotaan. Untuk masyarakat perdesaan yang bekerja di sektor reproduktif, sistem informasi telah tercukupi dengan sistem sosial yang ada. Untuk Minangkabau, dalam beberapa kasus saya malah melihat sektor perdesaan mensubsidi sektor perkotaan. Dan dalam kasus yang besar, sektor rantau mensubsidi sektor ranah. Salah satu faktor penyebab adalah, mulai ditinggalkannya aktivitas pertanian dan beralih ke aktivitas non-pertanian. Saat ini kita bisa melihat cukup banyak tanah terlantar atau tidak terolah dengan baik, atau sudah beralih fungsi. Dengan kata lain, sistem pertanian yang terkenal mampu menjamin kebutuhan substantif telah mulai ditinggalkan. Sayangnya peralihan sistem aktivitas masyarakat yang dominan adalah ke sektor merkantil (perdagangan), dan bukan ke sektor industri. Sektor merkantil sangat rentan dengan faktor eksternal, jadi tidak berbasis sumber daya sendiri. Beberapa saran untuk Pemda adalah untuk senantiasa melengkapi fasilitas yang dibutuhkan oleh masyarakat, mengembangkan sistem informasi, mendukung sektor pertanian, dan membangun promosi sektor industri. Untuk dunsanak Saudagar Minang, dalam suatu titik pencapaian usaha, mohon agar dipikirkan untuk diversifikasi juga ke sektor produksi. Untuk GM melalui DAMI-nya mohon dapat secara 'strategis' menyalurkan subsidi, terutama aktivitas yang memiliki efek multiplikasi. Demikian sementara waktu, mohon maaf kalau dinilai kurang patut. Wassalam. -datuk endang --- In [EMAIL PROTECTED], chaidir latief <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > ass ww > Ceritera yang panjang tentanmg kemiskinan ini untuk apa Bukankah yang penting adalah USAHA bagaimana mengatasi kemiskinan itu,. Apakah generaso sekarang tidak ada keinginan negrinya juga sepereti negri lain Punya fasilitas yang cukup Makmur dan tidak kere > Itulah yang sedang dilakukan segolongam anak muda dengan kendaraan Gebu Minang yang mereka namakan DANA ABADI > Itu pula yang diutarakan di melis ini dan diupayakan memalui melis lainnya berupai beberapa tulisan yang nampaknya "gayung tak bersambuik " > Reaksi sampai sekarang kalau ada yang muncul belum ada yang positif apa yang sebaiknya dilakukan disempurnakan mendoromg agar upaya yang baik ini dapat berjalan dengan baik aman mencapai sasarannya > Terima kasih > Ch N Latief Dt Bandaro 78 > > Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Menyorot Kemiskinan di Negeri Petrodollar > * Pulau Kemewahan di Tengah Lautan Kemiskinan > Padang Express, Minggu, 28-Mei-2006, 02:46:24 175 clicks > > > Boleh saja pejabat pemerintah ngomong, tak ada lagi kantong-kantong > kemiskinan di daerah yang ngakunya Petrodollar. Kalau ada hanyalah > akibat kemalasan dan pendidikan yang rendah. Namun, fakta tak bisa > dipungkiri. Kemiskinan itu ada di mana-mana. Termasuk di daerah yang > dikerubungi investor kelas kakap. > > Realitas itu terpampang jelas di depan mata kita. Lihat saja pendataan > penduduk miskin yang dilansir Dinas Koperasi dan UKM Sumbar akhir > tahun lalu. Kabupaten Pasaman total Kepala Keluarga miskinnya mencapai > 36 persen, atau nangkring di posisi kedua setelah kabupaten Mentawai, > saudara bungsunya (Pasaman Barat, Red) tak jauh beda, 29,4 persen KK > miskin. Mirisnya, Padang yang dianggap gerbang Sumbar, 21,1 persen > KK-nya miskin! > > Potret kemiskinan itu terhampar di 19 kota/ kabupaten di Sumbar. > Bahkan hasil data terakhir yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS) > Sumbar, jumlah penduduk miskin terbilang fenomenal mencapai 30 persen. -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

