Selasa, 20 Juni 2006 ( Jawa Pos )

  
JAKARTA - Pemda Sumatera Barat (Sumbar) tidak lagi 
bersikukuh ikut membeli saham Cemex Asia Holding di PT 
Semen Gresik. Gubernur Sumbar telah mengirim surat kepada 
Kementerian BUMN, yang intinya tidak lagi meminta hak 
kepemilikan. Pemda Sumbar hanya minta hak istimewa yang 
tertuang dalam Conditional Sales and Purchase Agreement 
(CSPA) diluruskan.

"Bagi Pemda Sumbar, (saham Semen Gresik) lebih baik 
dimiliki oleh pemerintah pusat atau perusahaan Indonesia, 
ketimbang minta hak dalam bentuk saham," kata Men BUMN 
Sugiharto dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR kemarin.

Sugiharto menambahkan, saat ini sudah tidak ada lagi 
konflik antara Pemda Sumbar dengan pemegang saham Semen 
Gresik. Apalagi, nantinya Pemda Sumbar juga akan mendapat 
dividen dari Semen Gresik. Kinerja Semen gresik tercatat 
membaik pada 2005. Tercatat, Semen Gresik mampu meraup 
laba Rp 1 triliun pada 2005 dan diperkirakan meningkat 
tahun ini menjadi Rp 1,4 triliun.

"Dengan tingkat keuntungan yang lebih baik dan manajemen 
ada yang berasal dari daerah, suasana menjadi lebih 
kondusif. Ini juga menguntungkan daerah," jelas Sugiharto.

Terkait janji pencabutan arbitrase internasional oleh 
Cemex, Sugiharto menganggap sebagai kemajuan yang 
signifikan. "Masalah arbitrase yang diajukan Cemex menjadi 
masalah yang berlarut-larut," tegasnya.

Pemerintah menjadwalkan bisa menjawab surat Cemex sebelum 
3 Juli nanti. "Yang pasti, pemerintah tetap menginginkan 4 
hal. Yakni pencabutan arbitrase, pelurusan hak istimewa, 
akomodasi aspirasi daerah, dan tak ada kartel semen," 
ungkap Sugiharto.

Penjelasan yang dikemukakan oleh Sugiaharto tersebut 
bertentangan dengan keinginan BUMD Sumbar, PT Andalas Tuah 
Sakato (ATS). Komisaris Utama ATS, Basril Taher 
mengemukakan, pihaknya masih menginginkan kepemilikan 
saham Semen Gresik tersebut.

"Posisi kami sampai sekarang tetap menginginkan saham 
tersebut. Itu telah kami tuangkan melalui surat kepada 
Kementerian BUMN," jelasnya. Basril mengaku siap bila 
kemudian kementerian BUMN mengarahkan agar ATS harus 
bernegosiasi dengan Grup Rajawali.

"Kalau dari arahan Meneg BUMN, tampaknya persoalan spin 
off akan mengemuka," ungkapnya. Basril juga berharap 
pemerintah bisa menjadi fasilitator yang netral bagi kedua 
belah pihak. "Jadi kalau memang Rajawali berniat 
menggandeng Pemda, maka pemerintah pusat harusnya menjadi 
mediator yang baik bagi kedua belah pihak," pungkasnya. 
(iw/sof)


===========================================================
TELKOM Group Peduli Jogja, ketik PEDULI, kirim SMS ke 5000

Dengan mengirim SMS berisi PEDULI ke nomor 5000, Anda menyumbang
Rp. 5.000,- per SMS bagi korban gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah.
Dana 100% akan disumbangkan TELKOM dan TELKOMSEL atas nama pelanggan
ke Palang Merah Indonesia setiap minggu selama 1 bulan, mulai 30 Mei s/d 30
Juni 2006. Pengumpulan dan distribusi dana diaudit oleh auditor independen dan
disaksikan oleh notaris. Bantuan via SMS ini dapat diikuti oleh pelanggan Flexi,
KartuHalo, simPATI, dan Kartu AS

Khusus pelanggan FLEXI, Anda dapat menyumbang dengan nilai
lebih besar dengan mengetik 10000 atau 25000 atau 50000 kirim ke 5000

Informasi lebih lanjut, klik www.telkomflexi.com
===========================================================

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke