Dt. Bandaro, St. Sinaro, Palai Rinuak, dan dunsanak ysh. Saya izin menyampaikan dalam bahasa populer sehubungan dengan thread ini. Pertama, sependek pengetahuan saya mengenai sistem pertanian di Jepang memang sudah sangat maju. Walaupun demikian, belum ada produk pertanian dari Jepang yang diekspor, sebaliknya nilai impor bahan- bahan makanan lebih 10% dari total impor setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan pertumbuhan ekonomi di Jepang tidak didasarkan pada pertanian. Ke depan, dengan semakin luasnya peralihan lahan pertanian menjadi permukiman dan industri, ketergantungan Jepang terhadap impor bahan-bahan pertanian juga akan semakin tinggi. Walaupun demikian Pemerintah mensubsidi habis-habisan petani Jepang, untuk menjaga `sejarah' dan ketahanan pangan. Dan tentunya tidak benar bila petani mampu mendikte pasar.
Kedua, teori ekonomi juga membuktikan bahwa sektor pertanian adalah inelastis. Sebaliknya, sektor industri dan jasa-jasa perkotaan adalah sangat elastis. Jadi sektor pertanian `saat ini' belum bisa menjadi andalan dalam pertumbuhan ekonomi. Bila mengkaji masa lampau, memang sektor pertanian pernah sangat berjaya, terutama di era kolonialisme. Namun untuk mengembalikan kejayaan itu diperlukan kerja keras dan disiplin luar biasa. Mencontoh praktek monopoli tempo doeloe, diperlukan pengorbanan, cultuur stelsel, strong leadership, dan jalur distribusi `strategis'. Ketiga, secara `budaya tempo doeloe' orang Minang adalah masyarakat agraris, terutama keberanian menyandang predikat `kabau' sebagai identitas komunal (:Minangkabau). Dalam sejarah, kerbau adalah `mesin pertanian', dan bila menyusuri sejarah Nusantara, sebagian besar masyarakat Nusantara menggunakan kerbau untuk `manaruko' lahan-lahan pertanian. Begitupun, hanya orang Minang dan orang Toraja yang menghargai demikian tinggi `mesin pertanian' itu sebagai lambang budaya. Dalam kaitan ini, keinginan untuk mengembangkan sektor pertanian adalah dipacu pada kehendak sejarah. Keempat, saya mendukung pengembangan pertanian di ranah Minang dengan alasan: sebagai pertimbangan romantik untuk memanfaatkan lahan-lahan yang ada, yang juga tidak benar bila diperbiarkan terlantar. Namun jangan mengharapkan pertanian ini akan menjadi sektor andalan dalam waktu dekat. Keberhasilan sektor pertanian hanya dimungkinkan oleh `kebebalan' dan `kekeraskepalaan' seorang pemimpin daerah yang ditunjang oleh pengorbanan masyarakatnya. Kelima, saat ini saya melihat pertumbuhan ekonomi di Sumbar lebih didasarkan pada faktor eksternal serta sektor perdagangan. Untuk sektor perdagangan ini juga mengalami pasang surut. Pada abad ke-6 menurut artefak di Maek, wilayah itu pernah menjadi sentra perdagangan di Sumatera. Termasuk juga laporan pengelana Portugis pada abad 16, 25% penduduk di Sumatera berada di ranah Minang. Mungkin sejak abad 20 sektor ini berkembang kembali hingga saat ini. Karenanya Saudagar Minang memiliki peran strategis dan historis untuk mengembalikan kejayaan ekonomi ini. Hanya perlu diperhatikan, permainan di dunia perdagangan terletak pada jalur distribusi, dan saat ini jalur-jalur tersebut telah banyak berubah seiring perkembangan teknologi. Keenam, bila di era Maek, perdagangan masih mengandalkan jalur darat, maka pada era abad 16-18 sangat mengandalkan jalur laut. Jalur Selat Malaka adalah sangat strategis, sehingga kita lihat memang pada masa itu orientasi kita adalah ke timur. Namun dengan dibukanya jalur barat (Samudera Indonesia) oleh Belanda sejak abad 17, maka perdagangan kembali marak di pesisir barat Sumatera. Namun memang pada saat ini orientasi perdagangan ke wilayah itu kurang begitu menarik. Walaupun demikian perlu diperhatikan perkembangan di sekitar Samudera Indonesia pada saat ini. John Naisbitt dalam Megatrends 2000 memang menyebutkan bahwa saat ini perputaran ekonomi dunia terletak di tepi Pasifik, yang telah banyak melahirkan raksasa-raksasa ekonomi baru. Namun juga John Naisbitt dalam Global Paradox menyebutkan, pada tahun 2020 perputaran ekonomi dunia ini akan beralih ke Samudera Indonesia. Beberapa negara di sekitaran ini juga telah mulai bersiap, seperti Pakistan, India, Dubai, Mesir, hingga ke negara-negara Afrika lainnya. Jadi dalam aspek geostrategi global, Sumatera Barat akan sangat strategis di masa depan. Saya menyarankan kepada Saudagar Minang sebagai ujung tombak terdepan untuk mulai bersiap diri, di antaranya membangun jaringan pasar ke wilayah ini. Ketujuh, sudah terbukti dalam berbagai peradaban, bahwa yang mampu membangkitkan ekonomi adalah sektor industri. Untuk itu perlu dicari suatu skim industri yang dapat dikembangkan di Sumatera Barat, dan itu tidak mesti agro-industri. Selain itu pengembangan sumber daya manusia di bidang ini sudah saatnya diperhatikan. Sudah hampir 2 bulan ini saya berada di Jepang, dan insya Allah minggu depan kembali ke tanah air. Saya ada mengumpulkan beberapa video terbaru tentang bagaimana Jepang berhasil membangun dirinya di berbagai bidang walaupun sudah dihantam habis-habisan dalam peperangan dan bencana. Memang dalam bahasa Inggris dan kurang lebih ada 7 set, namun cukup mudah dipahami. Saya pikir ini bagus untuk disosialisasikan kepada masyarakat kita untuk inspirasi lebih lanjut. Saya kurang tahu bagaimana didistribusikan, mungkin akan saya serahkan saja kepada redaksi RN atau sdr. Hadi yang sudah terbiasa untuk itu. Demikian sementara waktu, dan mohon maaf bila ada kesalahan. Wassalam. -datuk endang --- In [EMAIL PROTECTED], Sutan Sinaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Amo satuju ko Palai Rinuak.... sabab Japang maju dek karano pertaniannyo kuat. Patani kayo-kayo di sinan. Tapi apo nan disabuik dek sanak Rasyid ko batua juo ko,... dalam kenyataannyo nampak dek awak iyo takah itu. Itu dek karano ulah para "tengkulak" nan "manembak di ateh kudo". Urang-urang ko (alias para distributor) nan baruntuang samantaro petani menderita. Kini ko baa caronyo mailangkan iko, mailangan "urang-urang bagak" tukang-tukang pangua nan maambek aktifitas penjualan dari petani ko sahinggo petani indak dirugikan lai. Sabab di Japang, petani manantukan harago "pasa". Lado saonggok samo haragonyo di tampek batanam nyo jo di super market. ... baa gak agak...? > > Wassalam > > St. Sinaro > > > "Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Baa ka basitungkin ka sawah pak. > Hasia nan didapek, banyak nan indak bisa manutuik biaya produksi > > -----Original Message----- > From: [EMAIL PROTECTED] > [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of Z Chaniago > Sent: Thursday, June 22, 2006 3:52 PM > To: [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED] > Subject: [EMAIL PROTECTED] Pijaklah Bumi, Garap Pertanian...! > > Assalamu'alaikum WW > > Kalau kemarin Pak Ridwan mengetengahkan tentang potensi....khususnya > Sumbar....artikel ini sebagai pelengkap-nya.... > > Wassalam > > Palai Rinuak -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

