Sdr Syahreza dan para rekan
   
  Saya ingin juga menyampaikan suatu kisah menarik yang mengharukan saya Cucu 
saya yang sejak kecil di Inggris ingin  belajar bahasa Minang melalui melis dan 
bersama saya membaca melis  Dia tertarik dengan artkel anda
   
  Ada suatu pertanyaannya  yang mengggelitik Kenapa orang Indonesia tidak 
seperti yang diceriterakan oleh penulis melis ini Pertama kali dia datang dia 
terkagum melihat orang Indonesia pesta kawin  undangan lebih seribiu pasang  
Perkawinan  raja dan bangsawan orang kaya di Eropah tidak sebesar itu 
   
  Dimelis  diungkapkan banyak sekali ceritera dan teori menarik  Tapi kenapa 
keadaan kita makin buruk Di Eropah kalau ada yang baik dilempar keluar adalah 
untuk dipelajari dan ditiru disempernakan Saya belum bisa menjawabnya  
Barangkali para dunsanak dapat membantu saya menjelaskannya
   
  Terima kasih
  Ch N Latief Dt Bandaro 78
   
   

"M. Syahreza" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  Rahasia Sukses Bos-bos Jepang!
> 
> Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-
> rekan di Barat. Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu 
> barang harus ada fungsinya. 
> 
> Pernah orang Jepang dijuluki les marchands des transistors (pedagang
> transistor) oleh de Gaulle. Namun sekarang mereka bukan hanya juara 
> dunia dalam hi-fi, tetapi juga dalam microprocessor, mobil, 
> bioindustri dan lain-lain. 
> 
> Dalam sepuluh tahun terakhir produksi Jepang meningkat dua kali lebih
> cepat daripada Amerika Serikat. Apa rahasianya? 
> 
> Berikut ini kita akan menjenguk orang-orang yang mempunyai andil
> besar dalam kemajuan tehnik Jepang. 
> 
> Mula-mula kita jumpai Akio Morita si pencipta perusahaan Sony. Dia
> menyukai olahraga golf, sekaligus menjadi pengagum musikus Beethoven. 
> Saking gandrungnya pada musik sampai-sampai di lapangan pun dia ingin 
> bermain golf sambil mendengarkan Symphony kesembilan. 
> 
> "Saya membutuhkan sebuah alat kecil dengan pengeras suara," kata Akio
> Morita pada anak didiknya. Tak lama kemudian tcrciptalah walkman. 
> 
> Dia berusia sekitar enampuluhan, kurus, rambutnya putih dan matanya
> hampir kuning. Tapi ia nampak seperti umur duapuluh karena 
> semangatnya yang tak kenal lelah. 
> 
> Rumahnya di daerah kedutaan, di Tokyo. Bertingkat, dengan kebun dan
> sebuah kolam renang. Boleh dikata dia seorang boss Jepang yang sudah 
> berorientasi ke Barat. Dia tak berkeberatan istrinya turut menjamu 
> tamu dalam pakaian Barat. Tetapi, ia tetap menjalani hidup sederhana 
> dan kekeluargaan menurut tradisi. 
> 
> Setiap pagi pukul delapan tepat Akio Morita tiba di kantor. Ia selalu
> mengenakan seragam yang sama dengan yang dipakai anak buahnya, 
> meskipun jas luarnya buatan Inggris. Ini untuk menunjukkan semangat 
> demokratis yang menjiwai setiap perusahaan Jepang. 
> 
> Pada tahun 1947 Akio Morita mendirikan perusahaan Sony; memasarkan
> transistor yang pertama, televisi berwarna pertama, dan walkman 
> pertama. Saat ini perusahaan sedang maju-majunya, ia mengekspor 70% 
> dari produknya. "Pasaran kami adalah seluruh dunia," katanya. 
> 
> Kemajuan teknologi Jepang didorong oleh semangat untuk menyegerakan,
> dengan penuh kesadaran dan rasa kebanggaan. Tidak sampai dua generasi 
> untuk mewujudkan mukjizat ini. Sebelumnya, orang Barat mengejek, 
> Jepang hanya bisa membuat sepeda yang rodanya tidak bisa berputar dan 
> jam-jam yang tidak bisa dipercaya. Karikatur tahun tigapuluhan pernah 
> menunjukkan gambar seorang pemburu menyandang sepucuk senapan, yang 
> ketika picunya ditarik maka larasnya menggembung. Capnya: made in 
> Japan (bikinan Jepang). 
> 
> Tetapi tiba-tiba orang Jepang tergila-gila pada perlombaan matematika
> dan fisika. Ujian-ujian di berbagai universitas menjadi sangat berat 
> dan terjadi persaingan mati-matian. Ini menghasilkan orang-orang yang 
> pandai. Di Pusat Penelitian Sony, jejak kaki para direktur yang 
> sukses dicetakkan di atas tanah, seperti halnya jejak kaki para 
> bintang Hollywood di studio MGM. 
> 
> Saingan istrinya sebuah komputer
> 
> Sama dengan majikannya, Makoto Kikuchi direktur baru pada Pusat
> Penelitian Sony ini bisa berbahasa Inggris, dengan tujuan dapat 
> berbicara dengan robotnya; sebuah "Apple" Amerika. 
> "Masih yang terbaik untuk saat ini," ucapnya jujur. Laki-laki berusia 
> 45 tahun ini sebelumnya sudah sangat terkenal di Jepang sebagai 
> ilmuwan yang paling mengagumkan dari Pusat Penelitian Negara. Ia 
> mengkhususkan diri dalam microprocessor. Ia pindah ke Sony enam tahun 
> yang lalu. 
> 
> Dalam sebuah rumah yang amat kecil berbentuk bujur sangkar dan
> terbuat dari kertas minyak itulah ia tinggal bersama istrinya dan 
> hidup dengan sederhana. Dengan kimononya dan berlutut di atas tikar 
> Jepang, istrinya dengan setia menemani suaminya bermain dengan 
> komputer. 
> 
> Mottonya: Research Makes The Difference, menggambarkan keambisiusan
> Makoto Kikuchi. Motto ini ditulis pada truk-truk perusahaan dalam 
> bahasa Inggris supaya menimbulkan kesan eksotis. 
> 
> Ia punya rencana untuk beberapa tahun mendatang: membuat komputer
> yang bisa menguraikan bahasa percakapan orang Jepang supaya setiap 
> orang Jepang dapat berbicara dengan komputer. 
> 
> Dengan senang hati, dia mengundang 190 penyelidik datang ke pusat
> penelitiannya. Kata Makoto: "Sony memberikan 3,5 sampai 5% 
> penghasilannya untuk penelitian." Tambahnya: "Sebelum ini saya 
> bekerja di sebuah laboratorium di Amerika Serikat. Di Sony, cukup 
> hanya satu jam bagi saya untuk memperoleh sebuah alat yang harganya 
> setengah juta dolar. Saya lalu bisa menghargai perbedaan ini." Ia 
> tetap seorang Jepang Tulen meskipun lama tinggal di Amerika Serikat. 
> 
> Para peneliti Sony mempelajari sinar energi matahari, teknologi
> silikon dan lainnya. Tetapi bidang yang paling disukainya adalah 
> semiconductor. Dia memulai segalanya dari nol pada tahun 1976. 
> 
> Di perusahaan Sony, kaitan penelitian produksi dengan pemasaran
> merupakan satu keharusan yang permanen. Contohnya, setiap Minggu pagi 
> Makoto sarapan bersama Akio Morita dan Direktur Marketingnya. 
> Hubungan yang begitu wajar dan akrab antara peneliti dan pemimpin ini 
> jarang sekali terjadi di Amerika maupun di Eropa. 
> 
> Morita yang sudah begitu kebarat-baratan, yang kalau bermain golf
> memakai kemeja dan topi Amerika, tetap membungkukkan badan sampai ke 
> tanah bila berjumpa dengan kawan. Dalam mobil ia memiliki telepon, 
> televisi dan magnetoskop; tetapi ia tetap mengenakan seragam yang 
> sama seperti 35.000 anggota Sony. 
> 
> Honda tidak memberi warisan kepada anak
> 
> Soichiro, 78 tahun, adalah pendiri Honda Motor. Ia juga mengenakan
> seragam karyawan biasa di perusahaan, kemeja dan topi putih. Dia 
> lebih suka bekerja di bengkel, meskipun tersedia ruangan di setiap 
> perusahaannya. Sebelum pecah perang, ia pernah menjadi montir biasa. 
> > Sedikit demi sedikit ia turut meletakkan dasar perusahaan. Sekarang
> ia mengepalai 23.000 buruh dan membawahi 43 perusahaan di 28 negara 
> (enam ada di Jepang). 
>> Anak buahnya diberi kepercayaan total dan tanggung jawab pribadi atas
> apa yang dihasilkannya. 
> Soichiro tidak memiliki harta pribadi. Dia tinggal dalam sebuah rumah
> sederhana. Kegemarannya melukis di atas kain sutra dan bermain golf. 
> Barangnya yang berharga cuma sebuah helikopter dan mobil biasa. 
> Penghasilannya dipakai untuk penelitian dan bea siswa kaum muda. Dia 
> bahkan tak memberi warisan kepada anak-anaknya. 
> > "Warisan paling berharga yang dapat saya berikan adalah membiarkan
> mereka sanggup berusaha sendiri," katanya. 
> 
> Hadiah untuk gagasan yang paling baik
> 
> Kyoto Ceramics adalah salah satu pabrik pembuat microchips (elemen-
> elemen kecil komputer) yang paling kuat di dunia. 
> 
> Omset Kyoto Ceramics 400 juta dolar dan menghasilkan keuntungan luar
> biasa, 12% setelah dipotong pajak. 
> 
> Ada tujuh buah perusahaan di Amerika Serikat dan tiga di Jepang.
> Inamori sang pemimpin, seperti juga Soichiro Honda dan Kaku pemimpin 
> Canon, menganggap dirinya sebagai karyawan biasa. Selisih gaji 
> direktur dan buruh baru di Jepang lebih kecil bila dibandingkan 
> dengan di Eropa dan Amerika Serikat. 
> 
> Cara hidup pemimpin Jepang sangat sederhana dibanding dengan rekan-
> rekan di Barat. Rasanya mereka memandang rendah kemewahan. Suatu 
> barang harus ada fungsinya. 
> 
> Bagaimana mereka bisa memegang prinsip sebaik itu?
> 
> Mari kita menengok ke Gamo, salah satu pabrik keramik di Kyoto.
> Kurang lebih 50 kilometer dari Kyoto. Di sini pada pukul delapan pagi 
> seluruh karyawan Gamo berkumpul dalam ruang-ruang besar. Dari tiap 
> ruang, di atas sebuah panggung seorang laki-laki meneriakkan: 
> berdiri, bersiap, luruskan kaki dan istirahat. Ratusan laki-laki dan 
> perempuan dalam seragam biru berdiri siap. Laki-laki lalu melaporkan 
> hasil pekerjaan bulan lalu dan menambahkan delapan pesan produksi, 
> tentang mutu, penurunan ongkos dan sebagainya. 
> 
> Selesai laporan, dia memanggil lima orang maju ke depan. Mereka
> diberi hadiah, karena telah menyumbangkan gagasan yang paling baik, 
> pada bulan sebelumnya. Di semua perusahaan Jepang, para insinyur dan 
> buruh diundang menyumbangkan gagasan untuk lebih memajukan 
> produktivitas, keamanan dan semua bidang yang berkaitan dengan 
> kehidupan perusahaan. 
> 
> Di Canon, setahun yang lalu, masuk sekitar 146.242 gagasan yang
> ternyata dapat menghemat lebih dari tujuh juta yen! 
> 
> Sebulan sekali mereka berkumpul, memberi laporan pekerjaan selama
> ini, bertukar pengalaman dan mutu pekerjaan mereka. 
> 
> Hadiah bagi gagasan mereka yang terpilih antara lain medali, jam
> tangan, tiket kereta atau pesawat terbang. Yang kurang berinisiatif 
> tak akan mendapat apa-apa. Tak pernah terjadi seseorang mendapat 
> sanksi negatif. 
> 
> Setiap pekerja memiliki saham dan dividen dari perusahaan. Benar-
> benar merupakan perwujudan demokrasi yang didasarkan pada penghargaan 
> hasil kerja dan atas hierarkinya. Di Jepang, persaingan ditumbuhkan 
> sejak kanak-kanak. Keluaran sekolah bereputasi tinggi lebih mudah 
> mendapatkan pekerjaan yang baik. 
> 
> Di tiap perusahaan ada serikat buruh, yang setiap tahunnya
> mengorganisir pemogokan untuk memperoleh kenaikan gaji yang disebut 
> Shunto. Tetapi Shunto ini cuma suatu upacara tradisi, bukan pemogokan 
> seperti layaknya di Barat. 
> 
> Robot membuat robot
> 
> Di kaki Gunung Fuji ada robot membuat robot. Robot-robot itu bekerja
> dengan diam-diam. Beberapa manusia membaca lembaran kertas besar yang 
> keluar dari terminal robot. 
> Di Honda Motor Cie, di sebuah dusun dekat Tokyo, kita bisa melihat 
> mobil yang di-assembling oleh robot, yang mematri 160 kali setiap 
> detiknya. Grup-grup yang terdiri dari lima atau enam buruh memeriksa 
> hasil kerja robot. Setiap buruh diizinkan menghentikan pekerjaan 
> dengan cara menekan tombol merah, bila ada yang kurang beres. 
> Hasilnya: pada produksi akhir hanya ada 0,1% yang apkir, dibanding
> dengan 20% di Eropa. Di Sony, semua karyawannya teliti. Para majikan 
> di Eropa memimpikan pabrik mereka bisa menyamai Jepang, dan 
> mendambakan buruh-buruh yang serupa pula. 
> Di perusahaan Canon, Tuan Kaku yang adalah presiden direkturnya itu
> dan para buruhnya, saling menundukkan kepala mereka sama dalamnya. 
> Percakapan antara mereka bisa membuat heran telinga-telinga Perancis. 
> Tuan Kaku menjelaskan secara mendetil target keuangan dan tehnik yang
> ingin dicapai perusahaan. Kepala serikat buruh Canon meyakinkan 
> majikannya, keberhasilan Canon merupakan satu kepuasan bagi seluruh 
> karyawan dan mereka ingin bekerja sama sepenuhnya bersama direksi. 
> Majikan-majikan Eropa sangat kagum melihat modernisasi Jepang. Kagum
> bukan hanya karena melihat sindikat-sindikat buruh dapat bekerja sama 
> begitu baik dangan majikannya, tetapi juga melihat para majikan yang 
> tak pernah memecat buruhnya itu. 
> Mereka melihat suatu industri di mana otomatisasi tidak menciptakan
> pengangguran, dan setiap buruh mau dan dapat memahami apa pun yang 
> mereka lakukan. Mereka juga mendapat penjelasan mengenai jalannya 
> perusahaan. Yang nampak di depan mereka adalah sebuah dunia, di mana 
> disiplin yang mirip disiplin militer itu dapat berjalan berdampingan 
> dengan rasa hormat pada setiap individu. Inilah rahasia kemajuan 
> Jepang. (Paris Match/Intisari) 



--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke