Assalamu'alaikum wr.wb.

Mungkin slogan-slogan untuak marubah mental kito di ranah jo di rantau paralu 
dikampanyekan dan dipajang pulo di tiok suduik rumah jo suduik nagari...

Tahukah anda bahwa dunia sudah berubah? Tahukah anda negara lain sudah berubah? 
Inginkah anda negara anda juga berubah? Sudahkah anda berubah ke arah yang 
islami? 

Kita memang miskin sumber daya alam tapi bukan berarti miskin kreatifitas 
(Korea)

Perubahan memerlukan upaya dan dimulai dari diri sendiri, dimulai dari hal yang 
terkecil dan dimulai saat ini juga (daarut-tauhiid)

Qualitas didapat dari perbaikan proses yang berkesinambungan (unknwon)

Saduran dari milis tetangga

Bangsa yang Besar Dimulai dari Pribadi-Pribadi Dignified 

Saya sering menerima e-mail dari para pembaca artikel-artikel saya di 
kolom ini maupun mereka yang kebetulan browsing di Internet dan 
menemukan Web site saya. Ada beberapa orang yang mempunyai pertanyaan 
bagi saya. Ada yang menanyakan, apakah kriteria sukses adalah orang-
orang yang telah mencapai tingkat finansial tertentu ataukah 
berdasarkan kerja keras? Ada pula yang menanyakan kepada saya 
bagaimana memacu diri untuk mencapai sukses. 

Terakhir, beberapa jam sebelum saya menulis artikel ini, salah satu 
rekan saya yang menulis blog tentang feminisme mempunyai komentar 
akan salah satu blog entry saya yang dia kutip dari rekannya di 
Inggris bahwa banyak orang Indonesia yang tidak berpikir kritis 
ketika berbicara. Jelas, hal ini sangat sering saya jumpai, termasuk 
di antara rekan-rekan asal Indonesia di tanah rantau. 

Artikel ini menggunakan premis bahwa bangsa yang besar dimulai dari 
pribadi-pribadi dignified. Bangsa Indonesia sebagaimana bangsa-bangsa 
lain di dunia merasa diri sebagai bangsa yang besar. Ini adalah 
mindset yang tepat, namun sesungguhnya, apa sih kriteria "bangsa yang 
besar" itu? 

Pertama, dignity (harga diri). Tidaklah perlu mengambil bagian yang 
bukan "milik" kita. Sejak kecil, ini saya terapkan pada diri saya 
sendiri dengan dimulai dari hal-hal kecil. Caranya mudah saja, kalau 
tidak diundang dan kebetulan kita mampir ke pesta makan-makan, 
datanglah untuk memberi salam saja, jangan ikut-ikutan 
makan "gratis." Budaya "tidak mau karena bukan milik kita" ini kalau 
dijalankan dengan sungguh-sungguh dapat dengan mudah memberantas 
korupsi dan intellectual property piracy asal Indonesia yang nota 
bene sangat "dipandang sebelah mata" oleh dunia internasional. 

Kedua, hidup adalah marathon, tidak ada quick fix. Janganlah 
mengharapkan "kaya mendadak" atau "dapat bantuan dana besar dari luar 
negeri yang akan diputihkan dalam beberapa tahun" alias "uang 
gratis," karena pada dasarnya hampir mustahil ada rezeki yang datang 
tanpa usaha. Kita bisa mulai dari diri sendiri dengan awareness penuh 
bahwa hidup adalah marathon, bukan sprint. Semua mesti dimulai dengan 
usaha-usaha kecil, yang bisa dimulai secara strategis dari "atas," 
namun tetaplah humble bahwa semua usaha kecil ini akan menjadi besar 
secara natural, bukan dengan cara karbitan. 

Ketiga, berpikir dulu sebelum berbicara. Memang cukup sulit untuk 
berpikir dulu sebelum berbicara, terutama apabila kita sendiri 
kekurangan informasi akan apa yang sebenarnya terjadi dalam proporsi 
yang tepat. Saya teringat seorang rekan yang pernah menulis posting 
di salah satu mailing list bahwa "Avian flu saja kok ditakuti, wong 
Cuma 30-an orang yang mati di Indonesia." Jelas ia berbicara tanpa 
berpikir sama sekali karena ia tidak mengenai dasar historis tentang 
flu yang mematikan (seperti Spanish Flu 1918 yang memakan jutaan 
korban) dan betapa virus flu yang telah bermutasi akan sangat mudah 
menular di antara sesama manusia (bayangkan dengan hanya menghirup 
udara di mana seorang penderita hirup, maka kita semua akan 
tertulari). Sekali lagi, mari kita berpikir dulu sebelum berbicara 
dan "do your homework" kenali sejarah dan latar belakang apa yang 
hendak kita bicarakan dulu sebelum membuka mulut. 

Keempat, empati terhadap orang lain, baik kawan maupun lawan. 
Siapapun lawan bicara Anda, cobalah "act gracefully," tidak hanya 
menggunakan tata krama dan kesopanan yang kita kenal sehari-hari. 
Cobalah mengerti sudut pandang lawan atau kawan bicara Anda dan 
mulailah dari sana. Dengan tulus, tentunya. Ketulusan hati akan 
membuka banyak pintu di masa depan, yakinlah. 

Kelima, hati penuh syukur yang dibagi kepada orang lain. Be grateful 
always for what you have and don't. Bersyukurlah akan apa yang kita 
miliki dan tidak miliki. Memang ini sangatlah sulit untuk dijalankan, 
namun dengan awareness penuh akan garis tipis yang melintasi "being 
grateful" dan "being ungrateful," mestinya Anda bisa mengenali kapan 
Anda bertindak ungrateful. Dengan bertindak "ungrateful" seperti 
tidak mengerti kapan harus mengucapkan kata "terima kasih," banyak 
pintu akan tertutup. 

Keenam, be aware of what others think of you based on what you do 
(the good, the bad and the ugly). Saya berusaha aware akan pikiran 
orang lain terhadap perbuatan saya. Ini juga membuat saya sangat 
memperhatikan kapan "menerima" sesuatu. Jelas bagi saya memberi 
adalah hal yang biasa dan tidak perlu terlalu diperhatikan, namun 
dengan "menerima" sesuatu, apalagi yang tidak semestinya diterima, 
maka dignity akan ternoda. 

Bukankah dignity (harga diri sebagai pribadi dan bangsa) lebih tinggi 
daripada "barang-barang gratis" yang bisa saya beli sendiri? Ini 
prinsip saya yang membuat saya sangat aware akan pemberian orang 
lain. Kalau pun saya terima, maka saya pasti balas dengan satu dan 
lain hal (reciprocity). Jika saya memperkirakan effortnya akan 
terlalu besar untuk saya melakukan "pembalasan budi" tersebut, maka 
biasanya pemberian apapun saya tolak dengan hormat. 

Ketujuh, kenali diri dalam "bargaining positioning" yang tepat dalam 
proporsinya dan kejar terus posisi tertinggi. Misalnya saja, sebagai 
seorang peminjam uang dari bank, jelas kita mesti memposisikan diri 
sepantasnya. Juga, sebagai bawahan, kita mesti "rela" diperintah-
perintah (sebatas wajar dan dalam job description). Ini dilakukan 
dengan hati penuh kerelaan tanpa ngedumel, karena ini adalah 
konsekuensi. Kenali konsekuensi peran-peran yang Anda lakukan. 

Kedelapan, yang paling penting adalah selalu ingat akan kejadian-
kejadian bersejarah, terutama yang mengusik hati nurani, seperti 
massacre yang dialami di tahun 1960an dan Mei 1998, serta di Aceh, 
Timor Timur dan Poso. Pelajari dari bangsa-bangsa lain bagaimana 
supaya massacre tidak terjadi sedemikian sering di tanah yang indah 
ini. Jangan cepat melupakan kepedihan kemanusiaan, ingatlah namun 
memaafkan yang masa lalu dan memastikan masa depan supaya tidak 
terulang lagi. 

Ingatlah bahwa apa yang kita lakukan sebagai pribadi akan membentuk 
perbuatan bangsa Indonesia. Jadilah duta besar (ambassador) bangsa 
Indonesia dengan menjadi pribadi Indonesia yang "tidak memalukan" di 
tingkat internasional. Hormatilah bangsa lain dengan menjadi bangsa 
yang patut dihormati. 

Salam sukses! 

Sumber: Bangsa yang Besar Dimulai dari Pribadi-Pribadi Dignified oleh 
Jennie S. Bev. Jennie S. Bev adalah penulis dan entrepreneur 
perantauan berbasis di Northern California. Baca perjuangan hidup dan 
prestasinya di JennieSBev.com. 




wassalam
Reza
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke