Sekedar bercerita.....

Pagi ini (Indonesia)
    Depan sebuah warung, menunggu bus jemputan ke perusahaan. Sekonyong konyong 
berhenti truk penuh muatan lalu menurunkan sedikit muatannya ke gerobak yang 
sudah menunggu untuk diangkut ke dekat pasar disekitar situ.
Dan.....
Pak Polisi datang, "kesiangan nih?" sapanya ramah.... :-)
Apa yang terjadi dapat ditebak?, sopir truck itu menghampiri dengan tersenyum 
tak kalah ramahnya dan menyalaminya dengan "salam tempel". Kemudian sedikit 
basa basi pak Polisi pun berlalu melanjutkan tugas rutinnya "mengatur lalu 
lintas" yang entah sampai kapan bisa diatur kesemrawutannya.....

Musim Panas, 2001 (Jepang)
    Kerja lagi.... 
Kami memang biasa berangkat kerja (part time) sepulang sekolah naik sepeda, 
bahkan kemana-mana pun transportasi yang murah meriah dan menyehatkan itu 
selalu menjadi pilihan kami, bahkan bagi kebanyakan masyarakat Jepang yang 
negaranya sudah sangat maju dan modern dan memiliki moda system transportasi 
yang sudah maju pula.
    Bukan, bukan pula karena mereka tidak mampu untuk beli kendaraan bermotor, 
mobil atau menggunakan kendaraan umum (kereta, bis) yang sudah sangat maju, 
nyaman dan terjangkau disemua pelosok. Hampir semua orang (Rumah tangga) 
memiliki mobil, bahkan bisa 2 sampai 3 dalam 1 rumah. 
Tapi bersepeda memang sudah membudaya disana. Trotoar jalan rayanya sangat 
nyaman untuk bersepeda, ada semacam jalur khusus untuk dilewati kendaraan roda 
dua ini, sehingga tidak takut untuk "disenggol" kendaraan bermotor. Dan yang 
lebih bikin nyaman adalah sikap para pengguna jalan raya (kendaraan bermotor) 
mereka sangat menghargai pengendara sepeda apalagi pejalan kaki. Semacam ada 
hierarki penghormatan, Pejalan kaki diurutan teratas, kemudian pengguna sepeda, 
lalu kendaraan bermotor roda dua atau 3, mobil kecil dan mobil besar. Jadi 
bukan seperti di Indonesia yang sepertinya pejalan kaki atau pengguna sepeda 
sangat di "marjinalkan".
    Seperti hari itu, siang jam 13.00 waktu setempat. Sepulang college kami 
berangkat sama2 ke perusahaan yang jaraknya sekitar 30 menit bersepeda. Kami 
beriringan bersepeda sambil asyik ngobrol. Saking asyiknya teman didepan agak 
"meleng" sehingga tak begitu memperhatikan ada seorang POLISI bersepeda di 
depan kami. 
Kemudian seperti tiba tiba polisi tersebut mau berbelok mendadak sehingga 
tertabrak  sepeda teman kami, dan hampir tejatuh walaupun tidak sampai terluka. 
Kami semua kaget dan berhenti. Kami berharap tidak terjadi apa apa karena kami 
juga merasa bersalah agak lalai berkendara. Tapi yang lebih mengejutkan adalah 
bapak polisi tersebut turun dari sepeda dan meminta maaf dengan membungkukkan 
badan khas orang jepang kepada kami, begitupun tentu saja kami melakukan hal 
yang sama meminta maaf kepadanya, suimasen...suimasen (maaf...maaf...). 
Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami dengan lebih hati2.
    Walaupun itu juga menjadi indikasi dari keprofesionalan negara maju atau 
bahkan karakter orang Jepang yang "unik" tapi satu pelajaran berharga kami 
dapat hari itu, betapa "pangkat" tidak menjadi "beban" untuk mengakui kesalahan 
diri dan meminta maaf dengan tulus. Memang hati hanya bisa disentuh dengan hati.
    Bukan cuma itu, pernah suatu ketika apartemen saya yang kebetulan 
bersebelahan dengan pos polisi yang juga merupakan tempat tinggal dia dan 
keluarganya, suatu malam seorang teman datang berkunjung kebetulan bawa mobil. 
Masalahnya mobilnya bersuara agak bising karena knalpotnya racing, dan malam 
itu kami keluar jalan bersama dan pulang dinihari dan teman2 menginap ditempat 
saya. 
Esoknya sekitar jam 9.00 pagi pak polisi itu datang mengetuk pintu apartemen 
saya berpakaian dinas. Dengan sopan dia bertanya mengenai mobil teman saya, 
yang menurutnya bising dan agak melampui batas toleransi kebisingan kendaraan 
bermotor. Dia minta agar mobil tersebut diperiksa ke bengkel atau diperbaiki 
agar tidak mengganggu pendengaran. Dia juga bertanya apakah teman saya punya 
SIM karena bagi orang asing (bahkan orang jepang) mendapatkan SIM disana sangat 
sulit dan ketat. (bandingkan dengan negara kita!)
Saya tentu saja menjawab "maaf pak, kalau tidak punya SIM kan tidak boleh bawa 
mobil di Jepang ini?", tentu saja dia tersenyum dan meng-iya-kan tanpa 
memperpanjang pertanyaan. Padahal saya tau teman saya tidak memiliki SIM saat 
itu. Pak polisi itu kemudian pamit setelah sebelumnya minta maaf karena sudah 
datang pagi2 dan mungkin menggangu istirahat saya. 
    
rgds
[EMAIL PROTECTED]



Muhammad Syahreza
PT. NOK Indonesia
Plant Engineering Dept.
Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135
Fax. : 021-898 0764
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke