Dunsanak Taufiq ysh, kebetulan masih ada sisa weekend sedikit lagi, saya
mencoba menambahkan beberapa hal.
Mengenai gerakan paderi ke utara, sebenarnya saya kurang begitu mengetahui
karena belum membaca buku Tuanku Rao itu. Namun masalah peperangan dengan utara
itu ada saya temukan di dalam tambo:
Pada akhir abad 16 dan awal abad 17, ketika Kerajaan Pagaruyung dalam
pemerintahan Alamsyah Siput Aladin, disebutkan usaha mengusir orang Batak
karena mereka melancarkan peperangan ke Rao sampai Lubuk Sikaping. Kemudiannya
diangkat perwakilan raja di tempat tersebut yang disebut Yang Dipertuan Padang
Nunang.
Selama perang paderi disebutkan, raja Sisingamangaraja X tewas dalam
pertempuran. Sebenarnya ada seorang tokoh yang cukup populer dalam sejarah
Batak, yaitu Pongki Nangolngolan. Dalam sejarah disebutkan dia adalah anak raja
Batak yang hidupnya sejak kecil terbuang dan menderita. Dia sempat melawat
sampai ke Aceh, kemudian kembali ke kampung halaman namun tidak diterima. Pada
suatu ketika dia tertangkap oleh pasukan paderi dan tertawan. Kemudiannya dia
menjadi menantu Tuanku Rao dan diserahi pasukan untuk menyerang tanah Batak.
Terkenal Perang Bonjol (Porang Monjo) di Tapanuli yang berlangsung selama 5
tahun (1825-1830) yang dipimpin olehnya. Gerakan paderi cukup jauh, sampai ke
lembah Silindung (Rura Silindung) hingga ke Tarutung. Hingga akhirnya dia
berhasil membunuh Sisingamangaraja X yang merupakan paman/mamaknya sendiri.
Saya kurang tahu versi yang diceritakan oleh Parlindungan.
Ada diskusi yang sudah lewat di milis ini mengenai kenapa orang Batak saat
ini sangat maju. Bila diperhatikan dalam sejarah Batak, sebenarnya mereka cukup
terkebelakang hingga akhir abad ke-19. Pada akhir abad 19 (?) ada seorang
pendeta Jerman bernama Nommensen yang tinggal cukup lama di tanah Batak. Upaya
kristenisasi yang dilakukannya dipadukan dengan upaya westernisasi, yang
merupakan sebuah upaya untuk menumbuhkan rasa percaya diri orang Batak. Upaya
ini sangat berhasil di antaranya membentuk budaya baru yang kebarat2an,
seperti penamaan orang, gaya berbusana, dan sebagainya. Pada masa pemerintahan
Hindia-Belanda orang Batak menjadi anak emas, terutama ketika Belanda membuka
lahan-lahan perkebunan di Sumatera Timur. Dari tempat yang tandus akhirnya
mereka mengembangkan lahan-lahan permukiman di tempat subur, seperti di Deli
Serdang, Simalungun, hingga ke Labuhan Batu; dan tentunya telah mulai
mengalahkan masyarakat Melayu secara ekonomi. Namun tempaan daerah asal
yang keras tetap terbawa, hingga saat ini. Namun sejarah mencatat, hanya orang
Minang dan orang Aceh yang dapat mengalahkan orang Batak.
Tahun lalu saya ada mengumpulkan beberapa catatan tentang sejarah Aceh dan
Batak, disampaikan di bawah.
Sementara demikian dulu sanak, dan wassalam.
-datuk endang
SEJARAH ACEH
Sekitar tahun 1, terjadi migrasi besar-besaran dari Hindia Belakang, melalui
kepulauan Andaman, lalu masuk ke Sumatera. Migrasi terjadi karena perselisihan
kasta pada saat itu (Hindu). Termasuk kemungkinan munculnya Kerajaan Indra
Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indra Pura di
Aceh. Hingga abad 13 perkembangan peradaban di Aceh masih gelap, sebaliknya
cukup jelas untuk wilayah Sumatera bagian tengah hingga ke Jawa.
Sekitar tahun 825, berdiri Kerajaan Perlak di sekitar Kota Peureulak saat ini,
dengan rajanya Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Syah.
1297, Kerajaan Pasai menjadi kerajaan Islam, dengan rajanya Malikus Saleh.
Sebelumnya Malikus Saleh bernama Merah Silu, dan berkuasa pada tahun 1275-1279.
Walaupun rajanya beragama Islam, diperkirakan sebagian besar penduduknya masih
beragama Hindu. Lokasi Kerajaan Pasai diperkirakan berada di tenggara Kota
Lhokseumawe sekarang ini.
1345, pengelana Ibnu Battutah dari Marokko mengunjungi Pasai, dan melaporkan
bahwa sebagian besar penduduk Pasai beragama Islam dengan mazhab Imam Syafii.
Dia dalam perjalanan dari Delhi-India ke Cina, menggambarkan jumlah penduduk
kota sekitar 20 ribu jiwa. Di sana terdapat istana yang ramai dengan ratusan
ilmuwan dan ulama. Pada masa itu, sultan adalah Ahmad Malik Ad-Dhahir
(1326-1371). Ia mewarisi kekuasaan di sana dari Sultan Muhammad Malik ad-Dhahir
(1297-1326).
1350, Kerajaan Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru (Deli).
1400, seluruh penduduk Aceh telah beragama Islam, pada saat ini diperkirakan
Kerajaan Pasai telah melepaskan diri dari Kerajaan Majapahit. Kerajaan Aru
sendiri lepas dari Majapahit pada tahun 1460.
1414, Parameswara sebagai Raja Malaka mengawini putri sultan Pasai, setelah
masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Iskandar Syah. Parameswara sebelumnya
adalah penguasa terakhir Srivijaya, kemudian pindah ke Singapura, dan terakhir
pindah ke Malaka setelah diusir oleh Raja Pahang. Hingga awal abad 16, Kerajaan
Malaka berkembang cukup pesat terutama karena posisi strategisnya di dalam
pelayaran inter-kontinental.
10 Agustus 1511, Portugis menaklukkan Malaka.
1513, berdiri Kerajaan Lamuri di sekitar Banda Aceh sekarang ini. Setelah
kejatuhan Malaka, banyak pedagang muslim yang hijrah ke Aceh sehingga posisi
Aceh menjadi semakin strategis. Catatan : dalam versi lain disebutkan Bandar
Lamuri telah didirikan oleh Sultan Johan Syah pada tahun 1205.
1514, Ali Mughayat Syah menjadi Sultan Aceh yang pertama, dan menetapkan Bandar
Aceh Darussalam sebagai ibukota.
1520, Kerajaan Aceh mulai menguasai pantai utara dan timur Sumatera.
1521, Portugis menaklukkan Kerajaan Pasai. Gunungjati meninggalkan Pasai dan
pindah ke Mekkah. Tahun 1523 Gunungjati menetap di Demak dan mengawini saudari
dari Sultan Trenggono.
1524, Kerajaan Aceh menaklukkan Kerajaan Pasai dan Pedir di Aceh Utara. Dalam
versi lain disebutkan Kerajaan Pedir (Pidie) pernah mengalami kejayaan di Aceh.
1530, Salahuddin menjadi Sultan Aceh.
1537, Aceh menyerang Portugis di Malaka. Sultan Salahuddin digantikan oleh
Alaudin Riayat Syah I.
1539, Aceh menyerang Batak di selatan.
1547, Aceh menyerang Malaka.
1552, Aceh mengirim duta besar ke Kerajaan Ottoman di Istambul. Sejak saat itu
suplai persenjataan diperoleh dari Turki.
1565, Aceh menyerang Johor.
1568, Portugis mematahkan serangan Aceh di Malaka.
1570, Aceh menyerang Johor kembali.
1571, Sultan Alaudin Riayat Syah meninggal. Terjadi kekacauan di Aceh sampai
tahun 1607.
1585, Sultan Aceh mengirim surat kepada Ratu Elizabeth I di Inggris.
1587, Aceh dan Portugis menandatangani gencatan senjata.
1599, Sultan Aceh membunuh Cornelis de Houtman, pemimpin ekspedisi Belanda ke
Hindia di dalam pelayaran yang kedua kalinya.
1607, Iskandar Muda menjadi Sultan Aceh.
1613, Iskandar Muda menyerang Johor, membakar kota, mengusir Sultan Johor dan
perwakilan VOC.
1614, Johor mengusir Aceh, serta membangun aliansi dengan Palembang, Jambi, dan
kesultanan lainnya melawan Aceh. Aceh memenangi pertempuran melawan Portugis di
Bintan dan mulai menguasai Selat Malaka.
1617, Aceh menguasai Pahang.
1620, Aceh menguasai Kedah.
1623, Aceh menyerang Johor.
1629, Aceh kalah di Selat Malaka dalam pertempuran melawan Portugis.
1633, Aceh menguasai Indrapura di pesisir barat Minangkabau melalui
perjanjian dengan Raja Minangkabau.
1636, Iskandar Tsani menantu Iskandar Muda menjadi Sultan Aceh.
1637, Nuruddin ar Raniri ulama dan penulis dari Gujarat India menetap di Aceh
sampai tahun 1644.
1641, Tajul Alam Syafiatuddin Syah menjadi Ratu Aceh menggantikan suaminya.
Sejak saat itu kekuasaan Aceh menjadi lemah, dan banyak wilayah taklukan
melepaskan diri atau menuntut otonomi yang sangat luas. Pada tahun itu pula VOC
dengan bantuan Kerajaan Johor mengusir Portugis di Malaka yang telah menguasai
Selat Malaka selama hamper 1,5 abad.
1838, Sulaiman mewarisi Kerajaan Aceh dengan Tuanku Ibrahim sebagai mangkubumi.
1852, Aceh mengirim utusan kepada Raja Perancis Napoleon III.
1854, Aceh memperluas pengaruh ke Langkat, Deli, dan Serdang serta sepanjang
pantai timur Sumatera. Namun pada tahun 1858, Belanda menentukan batas
kekuasaan Siak yang dikuasainya sampai Langkat dan Deli.
1869, Aceh meminta perlindungan kepada Kerajaan Ottoman.
1870, Mahmud Syah menjadi Sultan Aceh sampai 1874.
25 Januari 1873, utusan Aceh menemui Konsul Amerika di Singapura, namun
permintaan ini ditolak Washington.
26 Maret 1873, Belanda membombardir Banda Aceh dari laut.
8 April 1873, Belanda mendaratkan pasukan di Aceh. Namun 25 April 1873 Belanda
mundur dari Aceh.
9 Desember 1873, Belanda menginvasi Aceh kembali dan dengan susah payah
mempertahankan posisinya di Aceh sampai 1942.
1874, Sultan Mahmud Syah meninggal di hutan dan digantikan oleh Sultan Ibrahim
Mansyur Sah sampai tahun 1907.
1878, kaum ulama mulai mengambil peran utama dalam mengusir Belanda dari Aceh,
dipimpin di antaranya oleh Teungku Cik di Tiro.
1898, Belanda merangkul kaum bangsawan untuk menghadapi kaum ulama di Aceh,
atas saran Snouck Hurgronje, penasehat Gubernur Militer Van Heutsz. Setahun
sebelumnya telah dibentuk Korps Marechaussee. Dalam versi lain disebutkan (pada
tahun 1896?) seorang jaksa bernama Muhammad Arif menyarankan Gubernur Militer
Van Teijn membentuk sejumlah detasemen mobil kecil-kecil yang terdiri dari
orang-orang yang cukup berani untuk mencari gerilya dan melawannya dengan
senjata-senjata mereka sendiri. Pasukan marsose ini dibubarkan pada tahun 1912.
1903, Sultan Mansyur Syah menyerah kepada Belanda, selanjutnya dibuang ke
Betawi.
24 Juli 1904, Belanda menaklukkan Alas yang menandai penguasaan perang
teritorial terhadap seluruh Aceh. Walaupun demikian peperangan gerilya terus
berlangsung hingga 1913, dan sebenarnya dalam skala yang lebih kecil terus
berlangsung hingga 1942.
1942, walaupun ada peran agen Aceh dalam mengundang kehadiran Jepang di
Sumatera, namun pada akhirnya rakyat Aceh berjuang menghadapi Jepang.
..... (masih dilengkapi dan disempurnakan, dan mohon saran dan masukan) .....
Sementara waktu saya simpulkan sebagai berikut :
- Pusat pemerintahan di Aceh mengalami pergeseran geografis, mulai
dari Peureulak, Pidie, hingga Banda Aceh sekarang ini.
- Sejak penguasaan Malaka oleh Belanda pada tahun 1641, Belanda tidak
berniat menguasai Aceh hingga 1858. Hal ini memang dipertegas dalam Treaty of
London 1824, yang mengesampingkan hasrat kolonialisme Inggris-Belanda. Tetapi
penguasaan teritori oleh Belanda tercapai pada tahun 1904.
- Dasar NKRI adalah kondisi per 17 Agustus 1945, yang bentuknya adalah
Indonesia pada saat sekarang ini. Jadi argumentasi GAM mengenai teori Treaty of
London adalah tidak tepat. Lagipula pada kondisi 1824, setengah Indonesia
secara de facto dan de jure belum dikuasai oleh penjajah manapun.
- Perang Aceh melawan Belanda berlangsung cukup lama di antaranya
karena mentalitas rakyat Aceh yang ofensif yang terbina semenjak pemerintahan
Sultan Alaudin Riayat Syah atau masuknya migran dari Malaka, telah tumbuh
sistem otonomi daerah semenjak pemerintahan Ratu Tajul Alam, kemampuan
diplomasi dengan berbagai negara, serta saat mulai peperangan telah memasuki
masa perang persenjataan modern.
- Selama berabad-abad hingga saat ini, rakyat Aceh relatif sedikit
menikmati masa pemerintahan madani yang dapat menumbuhsegarkan kehidupan
kulturalnya.
- Eksperimentasi pembangunan memang benar harus memahami sejarah dan
kultur masyarakat Aceh. Namun perlu dicatat bahwa system pemerintahan yang
pernah berlangsung juga mengalami pasang-surut kejayaan. Pembangunan kembali
Aceh hanya bisa dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh bangsa Indonesia.
Perlakuan sebagai daerah istimewa dan pemberian otonomi khusus pada masa kini
hingga 1 abad ke depan merupakan alternatif terbaik, dan berbagai alternatif
selain itu adalah obsolete. Masa 1 abad ke depan merupakan masa yang cukup
untuk membangun suatu peradaban yang aman damai sejahtera serta sebuah kultur
yang segar. Berbagai perlakuan spesial oleh republik pada masa pasca bencana
saat ini merupakan sikap yang pantas untuk Aceh. Masa rehab dan rekon merupakan
momentum mengembalikan kekuasaan madani di Aceh yang telah diidam-idamkan
selama berabad-abad. Dengan demikian berbagai lagak militeristik sudah saatnya
beringsut dari bumi Aceh.
SEJARAH BATAK
Sebagai perbandingan, saya sampaikan dasar-dasar kerajaan di tanah Batak
sebelum penjajahan Belanda. Pada umumnya, kerajaan di tanah Batak bersifat
otonom yang terbagi dalam 3 jenis badan-badan pemerintahan : huta (kampung),
horja, dan bius atau bus.
- Huta, yang dipimpin oleh Raja Huta, yang berasal dari keturunan
pembuka (stichter) perkampungan.
- Horja, yang dipimpin oleh Raja Doli. Horja terjadi karena
penggabungan dari beberapa huta. Wakil-wakil yang duduk di dalam horja dipilih
oleh raja-raja huta.
- Bius, yang dikepalai oleh Raja Oloan. Bius terjadi dari penggabungan
beberapa horja. wakil-wakil yang duduk di dalam bius adalah raja-raja horja.
Kepala bius tidak bersifat menetap, dia hanya diangkat untuk memimpin sidang
bius biasa atau rapot bolon (rapat besar) dimana seluruh penduduk diharuskan
hadir. Jikalau sidang selesai, tugasnya pun selesai selaku pemimpin bius.
Di Tapanuli Tengah/Selatan, raja doli dan raja oloan dinamai Raja Pandapotan
dan Raja Junjungan. Di daerah Karo/Dairi dinamai Sibayak dan Partakki, sedang
di Simalungun dinamai Tuhan atau Pertuhanan. Di sentrum tanah Batak sendiri,
sehubungan dengan nama-nama yang berbeda-beda itu, ada juga yang dinamai Raja
Ihutan. Pejabat-pejabat
agama ialah yang dinamai Raja Parmalim, di antaranya :
- Parbaringin, untuk satu-satu turunan nenek moyang. Raja Parbaringin
berhak atas nama si Singamangaraja meminta hutan di musim kemarau.
- Pande Bolon, untuk horja, dan
- Pangulu Taon, untuk bius/bus.
Dasar kerajaan di tanah Batak adalah bersifat otonom dan federatif-otonom,
berazaskan adat dan hukum Batak. Masing-masing badan tersebut mempunyai
kemerdekaan yang penuh untuk mengatur dan memerintah lingkungannya sendiri.
Baginda Sisingamangaraja mengatakan : "masijunjung baringinna" (masing-masing
menjunjung kemerdekaannya), yaitu tiap-tiap huta, horja, dan bius merdeka
sendiri-sendiri. Kekuasaan baginda adalah menyelesaikan persengkataan,
menghentikan peperangan atau membuat perdamaian, membebaskan orang-orang
terpasung, dan sebagainya.
"Rasyid, Taufiq (taufiqr)" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
- Pada waktu itu Kerajaan Aceh sangat gigih membendung pengaruh
Portugis di Selat Malaka, dan salah satu upayanya adalah menguasai
daerah-daerah terutama di pesisir pantai timur Sumatera dan pantai barat
Malaysia. Pada masa itu Kerajaan Johor dan Kerajaan Siak bersekutu untuk
membendung pengaruh Aceh ini, namun tidak cukup kuat. Untuk itu
'diundanglah' Kerajaan Pagaruyung pada masa itu untuk membantu mencegah
intervensi Aceh. Dari ketiga luhak dikumpulkanlah sejumlah sukarelawan,
dan kemudian berangkat berperang. Akhirnya pengaruh Aceh dapat dicegah
di Riau terutama, dan ternyata banyak dari sukarelawan tersebut yang
kemudian dipersilahkan untuk menetap di Riau sebagai 'warga kehormatan'.
Kemudian beberapa daerah di Riau telah menjadi 'rantau' bagi orang
Minang, dan pada beberapa tempat adat Minangkabau dipakai. Beberapa
daerah tersebut di antaranya adalah Kampar Kiri dan Kampar Kanan,
Inderagiri, Bangkinang, hingga Kota Baru. Beberapa daerah disebutkan
membentuk sistem persukuan tersendiri seperti di Minangkabau dan juga
mengangkat datuk-datuk.
Sebenarnya tidak ada upaya intervensi dari suku bangsa mana pun ke
Minangkabau, tidak pada masa Melayu, Sriwijaya, Majapahit, maupun Aceh.
Demikian juga orang Minang, tidak memiliki ambisi untuk menyerang daerah
lain, terkecuali memang saya melihat ada beberapa waktu menyerang ke
'utara', dan itupun tidak menduduki.
// Kalau suku Sakai di Riau jo Anak Dalam di Jambi tampaknyo budayanyo
barek ka Minang dari Melayu. Kabanyo mereka tamasuak nan gagal
menjalankan misi penyerangan sahinggo takuik pulang ka Minangkabau.
Sakai bisa indak dianggap asli Riau/ Melayu karano daerah pemukimannyo
disekitar Sebanga/Minas -Duri merupakan hadiah dari sultan Siak dulu.
Baa pulo jo rang Talang Mamak salah satu suku terasing lain disekitar
Bukit Tiga Puluh/ Siberida- Indragiri Hulu. Kawasan mereka tampaknyo
dibateh akhir budaya Minang di Cerenti- Indragiri.
Sampai kini katigo suku tu masih banyak yang animisme.
Kalau Sakai lah banyak nan maju, bahkan ado yang sempat digunokan untuak
Illegal-logging dek para pengusaha kayu. Talang Mamak walau masih
animisme ado juo inyo nan punyo antena parabola untuak nonton tipi.
Nan agak lucu ambo liek suku Anak Dalam naiak sepeda motor, tapi inyo
indak basirawa. Kalau mereka kepasar untuak manjua hasia hutan dan
mambali keperluannyo lai basirawa. Tibo dihutan sarawa dibukak, tapi jam
tangan indak tangga doh. He..he..
Untuak expansi ke "Utara", tampaknyo nan agak babakeh maso parang Paderi
sajo. Konon kabanyo pasukan khusus Tuanku Lelo sabana banyak melakukan
pembunuhan dan pemerkosaan disana. Sehingga Sisingamangaraja yang mulai
simpati dengan Islam melalui Tuanko Rao, jadi berbalik.
Akhirnya yang sukses disini adalah HKBP.
Apokoh memang baitu sajarahnyo ???
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+
countries) for 2¢/min or less.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================