Darimana Datangnya Senjata Israel?



Farid M Ibrahim
Alumnus Orebro University Swedia, mukim di Tokyo

Deru mesin perang Israel di Lebanon dan Palestina kembali membuktikan
bangsa dengan anggota 6,2 juta jiwa ini sebagai salah satu kekuatan militer
terbesar di dunia. Data World Policy Institute (2006) menunjukkan, 20
persen anggaran militer Israel disediakan oleh Washington setiap tahun, dan
sekitar 70 persen di antaranya ternyata kembali ke perusahaan-perusahaan
pembuat senjata dan pesawat tempur Amerika Serikat (AS).
Frida Berrigan, peneliti senior World Policy Institute dalam wawancara
dengan jaringan media independen Democracy Now yang disiarkan Jumat (21/7)
mengungkapkan bantuan militer AS mencapai 3 miliar dolar AS per tahun.
Sejak George W Bush berkuasa, penjualan senjata ke Israel meningkat menjadi
6,3 miliar dolar AS per tahun. Ia pun menyayangkan fokus yang diberikan
media-media dalam liputan tentang agresi Israel. Kebanyakan media hanya
mengkritik bantuan persenjataan Suriah dan Iran kepada Hizbullah tanpa
diimbangi dengan pemberitaan mengenai bantuan persenjataan AS ke Israel..
Hubungan unik
Menurut Berrigan, hampir semua senjata Israel dipasok oleh AS seperti
pesawat-pesawat F-16, helikopter Apache, dan pelbagai jenis rudal canggih.
Dalam kaitan ini, tidak ada hubungan bilateral dimana pun di dunia ini yang
seunik hubungan AS-Israel. Uang cash rakyat AS yang diberikan untuk militer
Israel setiap tahun, kemudian dibelanjakan kembali ke perusahaan-perusahaan
pembuat peralatan militer seperti Lockheed Martin, Boeing, dan Raytheon..
Singkatnya, Israel menggunakan uang bantuan rakyat AS untuk kemudian
membeli persenjataan di AS, yang kini digunakan untuk menghancurkan
infrastruktur di Lebanon dan membunuh rakyat tidak berdosa. Di sinilah
signifikansi posisi Washington dalam upaya menghentikan serangan sistematis
Israel atas Lebanon, Palestina, dan mungkin negara-negara lain di
sekitarnya. AS bisa menghentikan perang itu hari ini juga jika memang ada
kemauan politik Gedung Putih. Ini sekaligus membantah asumsi bahwa tidak
ada pihak yang bisa menghentikan Israel dalam agresi kali ini, tidak PBB,
Uni Eropa, Liga Arab, atau AS.
Sebab, sudah ada preseden di zaman pemerintahan Reagan di tahun 1981. Saat
itu, Isreal menjajah Lebanon. Reagan menghentikan bantuan militer dan
membekukan penjualan senjata sembari menyelidiki apakah bantuan uang dan
senjata-senjata dari AS itu digunakan semata-mata untuk membela diri dan
menjaga ketahanan nasional.
Menurut UU Arms Export Control AS, bantuan militer hanya bisa diberikan
kepada suatu negara dengan pertimbangan hanya digunakan untuk
mempertahankan diri dan bukan untuk menginvasi negara lain. Bagi Berrigan,
kini saatnya rakyat AS mendesak pemerintahnya untuk mengambil kebijakan
serupa dalam menghentikan reaksi mesin perang Israel yang berlebih-lebihan
atas penculikan dua prajuritnya.
Ditilik dari aspek teknologi militer, roket-roket Hizbullah tidaklah
sebanding dengan rudal yang dimiliki Israel. Situasi yang terjadi di
Lebanon saat ini dapat digambarkan sebagai perang tidak seimbang antara
kecanggihan mesin perang modern dan sepasukan pejuang yang pantang menyerah
meski memiliki persenjataan yang jauh lebih sederhana.
Menurut laporan, hingga pekan ketiga perang ini berlangsung, Hizbullah
telah menembakkan lebih 1.000 roket ke sasaran-sasaran di utara Israel.
Jumlah korban tewas di pihak Israel tercatat kurang dari 50 orang, umumnya
tentara. Dengan mudah bisa disimpulkan, senjata-senjata tersebut tidak
efektif sama sekali karena dibutuhkan sekitar 20 roket untuk satu korban
jiwa. Sebaliknya, puluhan rudal canggih Israel telah memakan korban hampir
400 jiwa di pihak Lebanon, umumnya warga sipil. Belum lagi kalau kerusakan
infrastruktur ikut diperhitungkan.
Karena itu Berrigan menuding pabrik senjata Lockheed Martin di Texas,
Raytheon di Massachsetts, dan Boeing adalah perusahaan-perusahaan yang
mendapat keuntungan dari aksi-aksi yang dilakukan militer Israel.
Produk-produk mereka, mulai dari F-16, C-130, rudal Tomahawk, F-18 dan
F-14, semuanya merupakan kunci keunggulan Israel atas negara dengan
pertahanan lemah seperti Lebanon. Yang unik adalah bahwa Israel tidak perlu
sepenuhnya membiayai semua petualangan perangnya, karena uang bantuan dari
pajak orang AS yang diperoleh Israel setiap tahun, yang kemudian
dibelanjakan ke perusahaan-perusahaan bersangkutan.
Kenyataan politik di Washington menunjukkan, Kongres kelihatannya mendukung
aksi militer Israel kali ini. Sikap Gedung Putih, apalagi. Presiden Bush
mengulang-ulang frasa klise yang bisa menyesatkan, 'Israel punya hak
membela diri'. Frasa ini mengesampingkan latar belakang penculikan tentara
Israel, baik yang dilakukan pejuang di Gaza maupun oleh Hizbullah di
perbatasan Israel-Lebanon. Jika tidak diberi konteks, kalimat diplomatis
Presiden Bush ini seolah-olah benar sebagaimana adanya. Faktanya, jauh
panggang dari api.
Hukuman massal
Menurut Noam Chomsky, semuanya bermula di awal tahun ini ketika Hamas
meraih kemenangan dalam proses demokrasi di Palestina. AS dan Israel secara
serempak memutuskan untuk 'menghukum rakyat Palestina karena pilihannya
yang salah'. Hukuman itu meliputi aspek finansial pemerintahan Hamas,
menarik pasukan dan pemukim Israel dari wilayah Gaza dan menjadikannya
sebagai penjara besar untuk orang Palestina. Israel juga menganeksasi
tanah-tanah yang lebih subur dan kaya sumber air seperti Tepi Barat dan
Lembah Yordan.
Dalam wawancara dengan Democracy Now yang disiarkan 14 Juli 2006, Chomsky
mengungkapkan, pada 24 Juni lalu, seorang dokter Palestina dan saudaranya
diculik oleh tentara Israel. Tidak ada yang mengetahui bagaimana nasib
mereka selanjutnya. Nama korban tidak diketahui, beritanya pun tidak
terdengar sama sekali. Padahal, tindakan militer Israel itu merupakan
pelanggaran hukum internasional yang sangat serius.
Berikutnya, seorang tentara Israel, namanya diumumkan ke seluruh dunia,
Kopral Gilad Shalit, diculik orang di Gaza. Hamas dituding bertanggung
jawab, dan mesin perang Israel pun bergerak kembali ke Gaza.
Dalam analisis Chomsky, ada dua motivasi di balik tindakan Hizbullah
menculik dua tentara Israel lainnya di perbatasan Israel-Lebanon. Pertama,
secara resmi disebutkan bahwa partai yang gigih melawan pendudukan Israel
atas tanah-tanah Lebanon ini ingin melakukan pertukaran tawanan. Kedua, dan
ini lebih masuk akal, Hizbullah ingin mengurangi tekanan atas Gaza dengan
memaksa Israel berperang di dua front sekaligus.
Menurut penulis, tindakan Hizbullah harus dilihat dari konteks
perjuangannya melawan agresi Israel. Masih banyak wilayah di utara Israel
yang dalam pandangan Hizbullah, harus dikembalikan ke dalam kedaulatan
Lebanon. Sikap Hizbullah seperti ini, mendapat tempat di hati rakyat
Lebanon, sebagaimana tergambar dalam hasil pemilu di negara itu.
Sangat jelas fakta yang tergambar dari absennya tentara nasional Lebanon
dalam mempertahankan diri dari gempuran Israel. Hizbullah lah kekuatan
nyata pertahanan negara itu. Perdana Menteri Lebanon, Fuad Saniora, boleh
marah-marah kepada Hizbullah sebagaimana tergambar dalam pelbagai
wawancaranya dengan CNN, BBC, dan media lainnya. Tapi mengorbankan seluruh
negara demi membiarkan Israel menghukum Hizbullah, adalah tindakan yang
tidak mungkin diambil seorang kepala pemerintahan.
Sulit untuk menyimpulkan bahwa Perdana Menteri Saniora sengaja menahan
tentaranya tidak membalas serangan Israel sebagai bentuk hukuman atas
Hizbullah. Fakta sebenarnya adalah, kemampuan mempertahankan diri apalagi
membalas serangan Israel jauh lebih banyak dimiliki oleh Hizbullah daripada
tentara nasional Lebanon.
Fakta inilah yang harus disadari semua pihak, terutama kita di Indonesia,
agar tidak turut dalam kampanye global mendiskreditkan kelompok yang
berjuang melawan penjajahan Israel dengan sebutan teroris. Dalam konteks
Hamas dan Hizbullah melawan Israel, kalimat Reuters "one man's terrorist is
another man's freedom fighter" tampaknya tidak dapat dipungkiri.

Fakta Angka 20 persen Anggaran militer Israel yang dipasok Washington. 6,3 
miliar Dolar AS dana yang dibelanjakan Israel untuk membeli senjata ke AS per 
tahun, sejak George W Bush berkuasa. 20 roket Senjata yang ditembakkan pejuang 
Hizbullah untuk membunuh satu tentara Israel.

republika/kamis,27juli


Muhammad Syahreza
PT. NOK Indonesia
Plant Engineering Dept.
Telp. : 021-898 1041 Ext. 128/135
Fax. : 021-898 0764
e-mail : [EMAIL PROTECTED]
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke