Angku Sjamsir Sjarif Yth, Tarimo kasih ambo ucapkan ateh kiriman copy artikel Rangkayo Leila Ch Budiman tantang pinyakik masyarakat kito kini di Indonesia. Sacaro khusus ambo paratikan baa bana pandangan baliau tantang pentingnyo peranan keluarga, sahinggo ambo samakin basumangaik untuak sato sakaki manangani unit masyarakat nan paliang dasar ko, basamo-samo jo pihak takaik. Saparati nan alah ambo sampaikan, langkah paratamo alah ambo langkahkan basamo jo Bundo Hayatun, dan duo komisioner Komnas HAM lainnyo. Langkah kaduo alun lai, karano banyak bana masalah lain nan indak kurang pentingnyo nan paralu ambo dahulukan, Ambo satuju jo panilaian Angku taradok Rangkayo Leila ko, tanyato baliau indak sajo psikolog nan piawai, tapi juo tamasuak katurunan 'darah biru' Minangkabau. Ambo badoa sumago baliau tatap sehat walafiat, panjang umua, dan murah rasaki. Jawaban-jawaban baliau di koran 'Kompas' sabana marupokan sitawa sidingin bagi sagalo urang. Ambo indak panah maliwaikkan artikel baliau tu. Sabana sajuak Wassalam, Saafroedin Bahar
Sjamsir Sjarif <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Maa Angku Saafroedin Bahar sarato Rang Lapau nan Basamo, Saroman ambo janjikan sabanta ko, ikolah postiang nan ambo dapek di arsip. Walaupun lah baumua 10 tahun wawancara ko, banyak saketeknyo ado hubuangan psikologi jo topik pesong-mamesong, tiru-maniru mambandiangkan kacobeh Urang Lain jo Awak, nan sadang dibaicarokan di Lapau ko. Ambo porowaikkan kasadoalahe untuak kito baco basamo. Salam, -- Sjamsir Sjarif [INDONESIA-L] UMMAT - Leila Budiman From: [EMAIL PROTECTED] Date: Mon Jan 27 1997 - 16:34:00 EST -------------------------------------------------------------------------------- From: John MacDougall Received: (from [EMAIL PROTECTED]) by explorer2.clark.net (8.8.4/8.7.1) id UAA15958 for [EMAIL PROTECTED]; Mon, 27 Jan 1997 20:34:07 -0500 (EST) Subject: [INDONESIA-L] UMMAT - Leila Budiman: Tak Seluruh Masyarakat Kita Sakit Forwarded message: >From [EMAIL PROTECTED] Mon Jan 27 20:11:38 1997 Date: Tue, 28 Jan 1997 01:58:08 +0100 (MET) Message-Id: <[EMAIL PROTECTED]> To: [EMAIL PROTECTED] From: [EMAIL PROTECTED] Subject: [INDONESIA-L] UMMAT - Leila Budiman: Tak Seluruh Masyarakat Kita Sakit Reply-To: [EMAIL PROTECTED] (Pesan/Posting - Gratis/Free) Alamat/Address Admin: [EMAIL PROTECTED] (Sub/Unsub) Catatan/Remark: Berlangganan/Subscribe INDONESIA-P (Berita/News) Ongkos/Cost INDONESIA-P: US$120 Satu Tahun/One Year Sender: [EMAIL PROTECTED] Precedence: bulk X-URL: http://www.ummat.co.id/216waw.htm Leila Ch. Budiman : Tak Seluruh Masyarakat Kita Sakit Kita makin diresahkan dengan berbagai kerusuhan sosial di banyak tempat. Berbagai tinjauan sosial, ekonomi, politik telah diuraikan untuk mencari akar masalahnya. Tapi, sejauhmana kerusuhan itu dapat dijelaskan dari sudut psikologi massa? Leila Ch. Budiman membincang soal ini, termasuk pelbagai masalah sosial lainnya dengan UMMAT, belum lama berselang. Dari rumahnya yang asri dan sejuk di Desa Kemiri, Salatiga, psikolog kondang yang bersuamikan "demonstran abadi" Arief Budiman ini membeberkan pandangan-pandangannya. "Pers juga ikut mendorong agresivitas massa itu," katanya. Apa yang Anda lihat di balik kian gampangnya emosi massa tersulut akhir-akhir ini? Ada suatu eksperimen yang membuktikan: semakin banyak terdapat makhluk hidup dalam suatu ruangan yang sempit, semakin tinggi agresivitas mereka. Mereka akan lebih mudah untuk saling menyerang. Belum lagi adanya pengaruh globalisasi, ketika kita belajar dari negara-negara lain bagaimana agresivitas diungkapkan. Dari sudut psikologi, inilah penyebab kian gampangnya emosi massa tersulut, yang berbuntut kerusuhan sosial. Faktor lain adalah stres dan frustrasi akibat berbagai keterbatasan dalam banyak bidang. Ingat, populasi manusia semakin banyak. Pilihan jadi kian terbatas. Masalah tawuran pelajar di Jakarta, misalnya, mungkin lebih disebabkan oleh frustrasi mereka yang tak dapat naik bus, karena bus-nya tak mau berhenti. Sudah capek belajar di sekolah, mau pulang tidak bisa. Tentu saja itu menjengkelkan. Secara umum, adakah hubungannya dengan praktik kekuasaan yang sewenang-wenang? Sebaiknya memang yang tua-tua memberikan contoh konkret kepada yang muda bahwa kekuasaan bukanlah segala-galanya. Jangan mentang-mentang kuasa, lalu bisa menang di mana-mana. Saya kira, memang praktik keteladanan dari kalangan pemimpin di Indonesia masih banyak yang kurang baik. Tapi, saya juga melihat, sedikit banyak media ikut berperan dalam mendorong terjadinya agresivitas itu. Maksud Anda? Memang tak salah jika sebuah media mengekspos besar-besaran masalah praktik kekuasaan yang tidak fair. Misalnya, kasus pembunuhan wartawan. Itu dapat merupakan bagian dari fungsi kontrol. Tapi, untuk hal-hal yang sadistis atau yang aneh-aneh, janganlah terlalu ditonjolkan. Misalnya, diekspos sampai setengah halaman koran. Mbok, ya, soal pencapaian ilmu pengetahuan, misalnya, juga mendapat tempat yang baik. Kalau perlu, ditampilkan sebesar-besarnya. Mengekpos secara besar-besaran anak muda atau peneliti yang mencapai prestasi ilmiah, akan menjadi pendorong bagi yang lain. Setidaknya akan timbul pandangan, wah kalau ingin masuk koran dan terkenal harus berprestasi dulu.... Selama ini, Anda melihat itu belum dilakukan media? Saya kira media lebih banyak menulis masalah perkosaan, pembunuhan, dan sebagainya. Itu memang menarik. Tapi juga mendidik orang untuk melakukan kejahatan, agar terkenal, dipotret, dan diwawancara. Coba, mana ada media yang mengungkapkan keberhasilan penelitian IPB dalam menghasilkan varietas padi berkualitas unggul, yang bisa ditanam di bawah pohon kelapa sawit dan pohon karet? Penelitian itu dilakukan bertahun-tahun, lho! Prestasi itu, bagi saya, amat mengharukan dan membanggakan. Penemuan varietas itu akhirnya membuat para transmigran di Kalimantan urung kembali ke Jawa. Mereka sebelumnya sudah mau pulang saja, karena sawah ladangnya tak menghasilkan apa pun. Kini padang alang-alang yang berhektare-hektare itu telah berubah menjadi hamparan padi. Tapi berita ini tak pernah terbaca di media. Yang ada malahan berita-berita tentang pil ekstasi dan semacamnya. Bahkan, berhari-hari! Baiklah. Selain media massa, apa lagi faktor yang ikut mendorong agresivitas? Justru dari keluarga. Kalau dalam satu keluarga itu orang tua otoriter dan suka main tampar, itu akan dipahami anak sebagai cara untuk menyelesaikan masalah secara efektif. Selain mengajar, Anda juga mengasuh ruang psikologi di sebuah harian ibu kota. Selama 12 tahun mengasuh ruang itu, apa kesimpulan menarik yang Anda temukan? Tiga tahun lalu saya pernah membuat pengkategorian berbagai masalah yang masuk. Yang terbanyak dikeluhkan adalah persoalan keluarga, disusul persoalan pendidikan dan pekerjaan. Dan kategori terendah adalah persoalan-persoalan sosial lainnya, seperti penggusuran, korban kebakaran, dan sebagainya. Kira-kira apa sebabnya? Yang menulis kepada saya, terutama adalah orang-orang yang hanya ingin memaparkan persoalan pribadinya. Atau, juga yang paling dekat dengan dirinya (keluarganya). Jadi bukan persoalan sosial yang ingin mereka keluhkan. Meskipun, sebenarnya, persoalan pribadi pun sering merupakan dampak dari berbagai aktivitas sosial yang terjadi. Dalam masalah penggusuran atau kebakaran, misalnya, akan menjadi persoalan jika yang digusur adalah ayah atau diri kita sendiri. Tentu itu akan lebih menjadi problem daripada hanya kita baca dari koran, atau kita tinggal jauh dari tempat itu. Itulah sebabnya tak banyak persoalan sosial yang sampai ke meja saya --dalam mengasuh rubrik psikologi itu. Berbagai problem itu banyak bersumber dari masalah sosial? Sumbernya bisa dari segala arah. Bisa dari problem masyarakat, bisa juga dari dirinya sendiri. Di dalam manusia modern Indonesia sekarang ini, banyak persoalan yang dulu tak pernah dipertanyakan kini mulai ditanyakan. Misalnya, soal ekstasi dan AIDS. Bahkan, beberapa tahun lalu, persoalan yang ditanyakan ada juga yang berdimensi politis, misal soal "bersih lingkungan". Dulu ada kasus seorang guru di Manado yang frustrasi gara-gara urung menjadi guru terbaik se-propinsi. Pasalnya, dia tidak bersih lingkungan, sehingga tak jadi mendapatkan penghargaan. Kalau membaca berita-berita di media tentang kebrutalan remaja, seks bebas, dan sebagainya, rasanya sudah sampai tingkat yang mencemaskan. Bisakah disimpulkan masyarakat kita sedang sakit? Agaknya tak semudah itu kita mengatakannya. Dilihat dari surat yang masuk ke meja saya, nyatanya tak hanya masalah tawuran dan seks yang dipersoalkan. Ada juga persoalan anak muda yang masuk ke dalam kantor dan merasa frustrasi, karena melihat banyaknya kasus sogok-menyogok. Padahal di sekolah dia belajar bahwa semua harus lurus, baik, dan perfect . Dari sini, kita masih bisa berharap terhadap pemuda kita. Masih ada yang baik dan sadar bahwa hal semacam itu tak boleh dilakukan. Artinya, tak seluruh masyarakat kita sakit. Tapi, bukankah kualitas problem sosial itu memang kian meningkat? Betul. Saya ingin kembali pada penjelasan di atas. Misalnya, di dalam suatu akuarium banyak sekali ikannya. Tentu saja kebebasan ikan untuk bergerak menjadi terbatas. Akan berbeda jika hanya ada dua atau tiga ekor ikan saja. Penuhnya populasi ikan akan menyebabkan meningkatnya agresivitas itu. Demikian jugalah dengan keadaan kita sekarang ini. Jika demikian, apa berarti hanya di kota-kota besar saja agresivitas itu kian mencemaskan? Lebih banyak. Bandingkan dengan desa tempat saya tinggal sekarang ini. Anda lihat, rumah kami ini hampir tak ada pintunya, kok. Toh, aman-aman saja. Perabotan saya tak ada yang hilang. Buah-buahan di depan itu juga tak ada yang mengambil. Kalau ada yang mau, mereka tinggal minta saja, kok. Saya tak bisa membayangkan keadaan rumah semacam ini ada di Jakarta. Sejauhmana Anda melihat peranan keluarga sebagai basis pengembangan nilai-nilai? Sekarang ini sangat dilematis. Akibat kemajuan pendidikan, kini bukan bapak saja yang kerja, tapi juga ibu. Padahal untuk memberikan contoh yang baik, anak perlu mendapatkan informasi riil. Mereka harus melihat sendiri secara konkret bagaimana orang yang paling dekat dengan dirinya melaksanakan nilai-nilai moral. Bila orang tuanya tak ada, dari mana si anak akan belajar? Mungkin, dia akan belajar dari pembantu yang tak begitu terdidik, atau dari teman-teman se-gengnya. Ini memang dilema yang sulit. Kalau ikatan keluarga sudah renggang, masyarakat harus menolong. Konkretnya dibuat begitu rupa, sehingga si anak tak sampai ditinggal sendiri di rumah. Mesti ada lembaga-lembaga pendidikan yang menangani si anak mulai dari bayi. Pihak yang menangani harus benar-benar berkompeten, sehingga dapat mengembangkan fisik dan jiwanya secara optimal. Saya kira ini perlu sekali. Sekarang ini banyak rumah yang mulai kosong, anak ditinggal sendiri di rumah. Ini menghasilkan bibit-bibit yang kurang baik. Apa sistem pendidikan kita sekarang belum mampu menangani? Saya pikir problem dunia pendidikan kita sangat kompleks. Guru yang seharusnya menanamkan nilai-nilai yang baik, masih disibukkan dengan belitan ekonomi keluarganya. Mereka harus mencari kerja tambahan untuk menutup penghasilan yang sedikit. Sedang yang berkualitas, justru mendapat pekerjaan yang lebih baik di luar sekolah, kecuali mereka yang betul-betul ingin menjadi dosen. Memang, tampak ada korelasi antara rendahnya pendapatan, dengan malasnya orang-orang berkualitas menjadi pengajar. Kalau memang ingin guru itu betul-betul baik, mereka harus dicukupi kebutuhannya. Diberi tunjangan yang baik, agar mereka dapat hidup layak. Bagi sebagian orang, kehidupan keluarga Arief dan Leila Budiman mungkin dianggap kelewat terbuka. Setidaknya, orang masih canggung mendengar Leila dan kedua anaknya menyapa Arief Budiman hanya dengan menyebut nama. Bisa jadi, itu cara-cara Arief dan Leila menanamkan nilai-nilai demokratis. "Kami mendidik anak secara lebih demokratis. Kita dengarkan dan tanyakan pendapat mereka. Setelah dewasa, kami menganggap mereka sebagai sahabat," tutur Leila. Sebagai suami-isteri, mereka menerapkan azas kesetaraan. "Jika saya lagi sibuk, Arief tak segan-segan membikinkan kopi untuk saya," ujar Leila memberi contoh. Tanpa gembar-gembor, sepertinya mereka sudah menerapkan apa yang selama ini diperjuangkan kaum feminis: kesetaraan. Sejauh ini bagaimana Anda memandang gerakan feminisme? Gerakan feminisme sangat berkaitan dengan kemajuan tingkat pendidikan kaum wanita. Mereka kian sadar dan mengerti akan hak-haknya, selain kewajiban. Hak lahir setiap insan adalah sebagai manusia, dan bukan sebagai budak atau pemimpin. Setiap perempuan kini sadar bahwa mereka berharga sebagai manusia. Sehingga yang diperjuangkan adalah kesetaraan dengan kaum lelaki. Konsekuensinya, yang berpotensilah yang akan berkembang --di segala bidang. Jadi, tempat perempuan tak selalu harus di dapur. Tapi kini muncul kesan, kaum feminis tak lagi hanya memperjuangkan kesetaraan, tapi lebih mengedepankan power. Contoh, dalam kasus perburuhan, kaum feminis hanya memperjuangkan buruh wanita, padahal bukankah setiap buruh kini dalam keadaan tertindas? Kalau demikian, memang tidak tepat. Setiap yang tertekan memang harus dibela. Hanya saja, dalam hal ini kedudukan buruh perempuan memang lebih tertekan dibanding laki-laki. Karena kodratnya sebagai wanita, umpamanya, suatu saat ia harus melahirkan. Nah, sering dalam kasus demikian mereka bisa langsung kena pecat. Mungkin hal-hal macam ini yang membuat mereka lebih diperjuangkan. Karena ada hal-hal tertentu yang berkaitan dengan soal keperempuanannya yang membuat dia kurang bisa lebih berprestasi. Jika demikian bukankah wajar kalau buruh laki-laki mendapat upah lebih tinggi? Kita bisa belajar dari negara yang lebih maju seperti Australia atau Swedia. Di sana, kalau seorang buruh wanita melahirkan, bukan hanya dia yang mendapat cuti. Suaminya pun mendapat hak cuti selama 3 bulan. Nah, ini kan membuat si laki-laki juga setara dengan perempuan. Jadi, perempuan --karena melahirkan-- tak "ever alone at home", atau harus menderita sendirian di rumah. Tidak si istri saja yang cuti mengurus anak, tapi juga si suami. Saya kira, ini salah satu bentuk kesetaraan yang bisa dipelajari. Artinya, dengan demikian kan tak ada masalah dalam hal produktivitas antara laki-laki dan perempuan? Anda melihat ada perbedaan antara feminisme Barat dengan yang berlatar Islam? Saya pikir dalam Islam lebih maju sekali, lho. Pada zaman Nabi dulu, bukankah ada seorang panglima perang wanita? Bandingkan dengan zaman jahiliyah, bila ada bayi perempuan lahir langsung dipendam. Di zaman Nabi, situasinya sudah lebih maju. Jika belum lama ini ada ribut-ribut soal warisan dalam hukum Islam, saya kira kita harus menerjemahkan ayat-ayat itu secara konstitusional. Hukum itu memang menempatkan laki-laki sebagai pihak yang mendapat bagian lebih besar dibanding perempuan. Menurut saya, dalam hal ini kita harus melihat laki-laki sebagai kepala rumah tangga. Sebagai kepala rumah tangga, laki-laki harus membiayai anggota rumah tangganya. Jika perempuan sebagai kepala rumah tangga, saya percaya dia mempunyai hak yang sama juga. Lagipula, saya pikir kita tak dapat hanya melihat pada satu ayat saja. Banyak ayat lain yang sangat mendukung adanya kesetaraan wanita dan pria sebagai manusia. Tuhan menciptakan manusia sama-sama dari tanah. Laki-laki dan perempuan di mata Allah sama. Yang dilihat hanyalah iman dan ibadahnya, amal salehnya. Kenapa kita tak merujuk hal-hal yang banyak menyamakan laki-laki dan perempuan? Kita memang sering terjebak hanya menyoroti satu ayat saja untuk dipersoalkan. Tulus Widjanarko, Yuyun H. --Sjamsir Sjarif X___________________________________________Sjamsir Sjarif Indonesian Translator, Interpreter, and Cultural Consultant 335 Gault St. #1, Santa Cruz, CA 95062, USA Email: [EMAIL PROTECTED] Tel. (831)-426-1333 Fax (831)426-8907 http://www.usindo.net/hambo Member of: ATA, American Translators Association http://www.atanet.org/ NCTA, Northern California Translators Association http://www.ncta.org/ IPA, Indonesian Professional Association http://www.ipanet.org/ ======================================================= No virus found in this outgoing message. Checked by AVG Anti-Virus. Version: 7.1.394 / Virus Database: 268.10.5/403 - Release Date: 7/28/2006 -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem ========================================================= --------------------------------- See the all-new, redesigned Yahoo.com. Check it out. -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

