Koran Padang

Pasar Tanahabang
Dominasi Rang Awak Mulai Goyah 

MENYEBUT Tanahabang, yang terbayang dibenak orang adalah hingar-bingar
sebuah  pasar,  pedagang  kaki  lima, kemacetan, plus dunia hitam yang
akrab  dengan  kekerasan  premannya.  Namun, dari masa ke masa wilayah
yang dalam sejarah kota Jakarta termasuk salah satu “kampung tua” ini,
terus  menarik  banyak  orang  untuk ambil bagian mengadu peruntungan.
Adalah  Pasar Tanahabang yang dalam perkembangannya dikenal ke seluruh
nusantara  bahkan  mancanegara sebagai salah satu pasar grosir pakaian
jadi dan tekstil utama di Jakarta.

Di  Pasar  Tanahabang  ini  pula sejak masa awal perantau Minang telah
ambil  bagian.  Bahkan  menurut H St Djamaris, 71 tahun, salah seorang
urang awak yang sekitar tahun 1962 sudah membuka warung makan di pasar
ini, perkembangan dan kemajuan Pasar Tanahabang tidak lepas dari andil
para  perantau  Minang.  Bahkan,  bila  berkunjung ke sana, suasananya
membawa kita seakan berada di sebuah pasar di salah satu kota di ranah
Minang.  Di  pasar  ini  pengunjung  dengan  pedagang,  apalagi sesama
pedagang,  lebih  akrab  berkomunikasi  memakai  bahasa daerah Minang,
bahkan logat asli dari kampung mereka masing-masing akrab di kuping.

Sekitar  75  pesen  pedagang di pasar ini adalah perantau dari Minang,
tutur H St Djamaris. Selebihnya etnis keturunan Cina, Sunda, Jawa, dan
daerah  lainnya. Pasar ini telah melahirkan banyak cerita sukses urang
awak.  Pada  gilirannya kesuksesan mereka tersebut dari waktu ke waktu
menjadikan  daya  tarik  tersendiri  buat  orang di kampung untuk ikut
merantau  ke Jakarta, ambil bagian mengadu untung di Pasar Tanahabang.
Tapi  cerita  sukses  itu kebanyakan masih berupa angan belaka, hingga
banyak pula yang terhempas di pinggir jalan, dari tahun ke tahun hanya
berkureh  sebagai  pedagang  kaki  lima.  Maka bisnis informal ini pun
makin marak pula di wilayah pasar tersebut.

Namun, meski tidak segampang yang dibayangkan untuk bisa jadi saudagar
sukses  di  Tanahabang,  perlu dicatat, hampir tidak ada urang awak di
sana yang rela menjadi buruh kasar seperti kuli angkut misalnya. Kalau
seandainya ada, paling-paling mereka adalah bagian dari karyawan toko,
yang  sesekali  juga  ikut  membantu  mengangkat barang-barang pesanan
pelanggan.

Tanahabang Doeloe 

Berdirinya   Pasar   Tanahabang  tidak  lepas  dari  sejarah  lahirnya
kampung-kampung  tua  di  Jakarta.  Nama pasar ini dulunya adalah nama
sebuah  wilayah  yang  disebut  Kampung Tanahabang. Wilayah Tanahabang
sekarang  meliputi  Kelurahan  Kampung  Bali,  Kebon Kacang, dan Kebon
Melati.  Akan  tetapi  yang  menjadi inti kampung Tanahabang sekarang,
iya, sekeliling pasar Tanahabang itu.

Buku Kampung Tua di Jakarta (terbitan Dinas Museum dan Sejarah, PemDKI
Jakarta;  1993)  mengungkapkan,  nama  Tanahabang mulai dikenal ketika
seorang  kapten  Cina,  Phoa  Bhingam,  tahun  1648  minta izin kepada
pemerintah   Belanda  untuk  membuat  sebuah  terusan.  Terusan,  yang
kemudian  dikenal  dengan nama Molenvliet itu, digali arah ke selatan.
Lalu  dipecah menjadi dua bagian, ke timur sampai Kali Ciliwung dan ke
arah barat sampai Kali Krukut. Terusan ini berfungsi sebagai prasarana
transportasi  pengangkut hasil bumi menggunakan perahu. Adanya terusan
tersebut memperlancar hubungan daerah kota ke selatan, sehingga daerah
selatan pun berkembang dengan berbagai perkebunan.

Melimpahnya hasil perkebunan di kawasan tersebut mendatangkan ide pada
Justinus Vinck, seorang Belanda pemilik tanah di Tanahabang dan Senen.
Ia  mengajukan  permohonan  untuk  mendirikan pasar di tanahnya. Pasar
Tanahabang  dan  Senen  pun  dibuka  sejak Vinck mendapatkan izin dari
pemerintah  Belanda,  30  Agustus  1735.  Arti penting keberadaan Kali
Krukut pun berkaitan dengan kehadiran pasar ini. Kali dekat Tanahabang
itu  ramai dikunjungi perahu para pedagang yang menjual maupun membeli
barang di Pasar Tanahabang.
  
Asal  usul nama Tanahabang masih diragukan. Ada dua versi mengenai hal
ini. Pertama, waktu pasukan Mataram menyerang kota Batavia tahun 1628.
Yang kedua, menceritakan kisah antara abang dan adik.

Pada  versi pertama disebutkan, pasukan Mataram menyerang ke arah kota
dari  daerah  selatan.  Mereka  menggunakan  tempat  tersebut  sebagai
pangkalan  karena merupakan tanah bukit, sedang di sekitarnya terdapat
daerah  rawa-rawa  dan  Kali  Krukut.  Karena  tanahnya  merah, mereka
menyebutnya Tanahabang, dari bahasa Jawa yang artinya merah.

Versi  kedua  menceritakan  tentang  dua  bersaudara. Karena sang adik
tidak  punya rumah, ia meminta kepada abangnya untuk mendirikan rumah.
Tanah yang ditempati itulah yang disebut tanah abang.
  
Akhir   abad   ke-18   Tanahabang  mengalami  perubahan.  Rumah  mewah
bermunculan,  dibangun  orang  Belanda dan Cina. Kali Krukut pun makin
berperanan,  terutama  bagi penduduk sekitarnya. Selain sebagai sarana
transportasi  dan  rekreasi,  sungai  ini  digunakan  untuk  keperluan
sehari-hari: mandi, cuci, kakus.

Menjelang  akhir  abad ke-19 Tanahabang mulai ramai dihuni orang Arab.
Tahun  1920  jumlah  etnis dari Timur Tengah ini di kawasan Tanahabang
mencapai  sekitar 13.000 orang. Karena etnis ini pula Pasar Tanahabang
ramai  melayani  jual  beli  kambing.  Dan  kegiatan  Tanahabang makin
meningkat  dengan  dibukanya  tempat  pemakaman,  stasiun  kereta api,
masjid, dan sebuah wihara/klenteng.

Perkembangan  penduduk  makin  pesat.  Apalagi setelah arus urbanisasi
mengalir lancar dari daerah-daerah lain di Indonesia. Pasar Tanahabang
pun tak luput dari incaran pendatang untuk mengadu nasib.

Waktu   berlalu.   Tahun  1970-an  Pasar  Tanahabang  dibangun  hampir
bersamaan  dengan  dibangunnya  Pasar  Senen.  Kedua pasar ini dulunya
dijadikan  pusat  perdagangan  utama.  Perkembangan kedua pasar inilah
yang  tidak  disia-siakan oleh pedagang urang awak. Bahkan selanjutnya
kedua  pasar  ini  dikenal  pula  sebagai  pusatnya urang awak mengadu
peruntungan  di  kota  Jakarta. Sehingga, sebagaimana diungkapkan H St
Djamaris, 75 persen pedagang di Tanahabang adalah urang awak.

Tanahabang Hari Ini 

Tapi  ternyata  waktu  telah  membawa  perubahan.  Cerita lama tentang
hiruk-pikuk  urang  awak  di  pasar  Tanahabang  sudah mulai bergeser.
Kondisi yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, kini terjadi. Sebut
saja,  dominasi urang awak yang nyaris tak tergoyahkan, sekarang sudah
mulai  bergoyang.  Menurut  data yang diperoleh Koran Padang, ternyata
angka  75  persen  yang  disebutkan  H St Djamaris, pensiunan TNI yang
berasal dari Pakandangan Pariaman tersebut, adalah populasi urang awak
di   Pasar   Tanahabang   sekitar   tahun  70-an.  Setelah  pasar  ini
dikembangkan,  etnis lain mulai masuk. Itulah kenyataan hari ini Pasar
Tanahabang.

Dari  pengamatan  langsung  yang dilakukan Koran Padang baru-baru ini,
terlihat  populasi  pedagang  dari  etnis  keturunan Cina di pasar ini
semakin  meningkat.  Di  Blok B dan D lantai I dan II di mana terdapat
1.323  buah  kios  yang  umumnya berjualan pakaian jadi, kini sebagian
besar   pedagangnya   dari   etnis  Cina.  Melihat  perkembangan  itu,
mungkinkah Pasar Tanahabang suasananya suatu saat akan berubah seperti
Pasar Mangga Dua?

Makin maraknya pedagang etnis Cina di Pasar Tanahabang berawal setelah
peremajaan  pasar  itu  diresmikan  Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin,
tahun  1975.  Hal ini diungkapkan H Bakhtiar Efendi, staf bidang Usaha
dan Pengembangan Pasar Tanahabang kepada Koran Padang.

Pak  Haji mengakui, saat ini terjadi peningkatan jumlah pedagang etnis
Cina  di  pasar  tersebut.  Ia memperkirakan, saat ini hanya 65 persen
saja  dari  pemilik/penyewa  7.563 total kios di Pasar Tanahabang yang
beretnis Minang. Etnis Cina sudah mencapai 25 persen, selebihnya etnis
lain.  Kecuali  padagang  kaki  lima,  tambah Bahktiar, di mana sektor
informal ini memang masih dikuasai 75 persen lebih oleh etnis Minang.

Menurut  Syamsulbahri,  salah seorang urang awak yang juga sudah cukup
lama  berdagang  di Pasar Tanahabang, sejak semula berkembangnya pasar
ini  hanya  etnis  Cina-lah  satu-satunya saingan pedagang urang awak.
Awalnya jumlah pedagang etnis Cina ini bisa dihitung dengan jari. Tapi
ternyata  populasi  mereka semakin lama semakin meningkat. Yang semula
hanya  dianggap  kawan,  lama-lama bisa jadi lawan, kata Syamsulbahri.
Maksudnya, lawan dalam persaingan bisnis.

Memang  sudah  menjadi  sifat  positif  orang Minang di manapun, bahwa
persahabatan dan persaudaraan adalah hal utama. “Tidak memandang siapa
dia,  dari  mana  asal-muasalnya,  asal indak manggaduah, semua adalah
kawan.   Kalau  perlu  diajak  bermitra,”  ungkap  Syamsulbahri.  Tapi
ternyata  sisi  inilah  yang  juga  dimanfaatkan oleh etnis lain untuk
leluasa menjadi pesaing.

Di  sisi  lain,  etnis  keturunan  Cina sebagai misal, masih merasakan
hubungan  emosional  satu  leluhur di antara sesama mereka. Maka sudah
sifat  mereka untuk saling mendukung dan membantu dalam hal berdagang.
Inilah yang membuat mereka semakin berkembang di Tanahabang. Bagaimana
dengan   urang   awak?  Memang,  hubungan  silaturrahmi  masih  kental
terlihat, tapi urusan bisnis?

Pendapat  lain tentang derasnya populasi etnis keturunan Cina di Pasar
Tanahabang  dikemukakan  pula  oleh Nazaruddin. Lelaki asal Solok yang
datang  di  Pasar  Tanahabang  sekitar tahun 1961 itu menyebutkan, ada
beberapa  hal  yang  membuat  etnis  Cina  ini  dapat berkembang pesat
dibandingkan  dengan  etnis  lain,  khususnya etnis Minang. Nazaruddin
yang  sampai  sekarang  masih berkureh di pasar ini, mengemukakan, ada
hal  positif  yang  dipunyai pedagang etnis Cina, ada pula negatifnya.
Menurutnya,  hal  positif  yang  patut  ditiru adalah bagaimana sangat
uletnya  mereka dalam berbisnis. Mereka juga melakukan regenerasi ilmu
dagang  kepada  anak  keturunannya.  Ketika  anak  mereka  ditempatkan
sebagai  pegawai  di  tokonya, mereka memposisikan anak mereka seperti
pekerja  lainnya.  Begitu  juga  sebaliknya.  “Beda dengan urang awak,
ketika  si  bapak  (atau  orang  tua) jadi ‘bos’, si anak bahkan lebih
‘bos’ dari pada orang tuanya,” ungkap Nazaruddin.

Sisi negatifnya, menurut Nazaruddin, nyaris tidak dilakukan oleh orang
Minang.  “Mereka berani memainkan harga, yang penting penjualan laris.
Selanjutnya,  uang yang mereka peroleh diputarkan lagi, dan bunga uang
yang mereka tetapkan berhasil mereka raih,” ungkap Nazaruddin.
  
Komentar  berbeda  diungkapkan  H  Bahktiar  Efendi. “Sepertinya sudah
menjadi  rahasia  umum,  apalagi  di  zaman orde baru dulu, etnis Cina
sering  lebih  gampang  mencairkan  pinjaman di bank. Entah itu karena
kepercayaan  dari  pihak bank kepada mereka, atau apalah namanya, yang
pasti  demikianlah  adanya.  Dengan  sendirinya  mereka  lebih  lancar
mengembangkan usaha,” jelas Bahktiar.

Giliran Si Kulit Hitam 

Setelah etnis Cina, kini kulit hitam juga mulai jadi pesaing. Maraknya
penggaleh  dari  Afrika  itu  berbisnis  di  Pasar Tanahabang, berawal
sekitar  tahun  1996.  Kedatangan  mereka  ternyata  melahirkan  warna
tersendiri  di  tengah  hiruk  pikuk Pasar Tanahabang. Omset penjualan
pedagang  saat itu naik drastis. Urang awak ikut menikmati mengalirnya
kepeng  ke kantong pedagang Tanahabang. Puncaknya, ketika nilai rupiah
anjlok  dibanding  dollar  Amerika.  Para  pedagang  kulit  hitam  ini
merasakan benar nikmatnya menggaleh. Maka pebisnis kulit hitam lainnya
pun semakin banyak berdatangan.

Ternyata,  jauh-jauh  datang  dari  negara-negara  Afrika,  itu memang
dikarenakan   naluri   bisnisnya.   Bermula   hanya  sebatas  pembeli,
selanjutnya  mereka  mulai melirik lahan bisnis lain. Di sekitar Jalan
KS  Tubun  dan  KH Mas Mansyur mereka pun menyewa ruko dan rumah-rumah
penduduk. Tak sekadar tempat menumpuk barang belanja, diam-diam mereka
juga membuka transaksi jual-beli laiknya toko. Walau hingga kini belum
satu pun di antara mereka yang membuka toko di dalam Pasar Tanahabang,
tapi  sedikit  banyak  kegiatan mereka sudah mempengaruhi transaksi di
dalam pasar.

Di  sisi  lain,  awalnya semua urusan pengiriman barang atau ekspedisi
ditangani oleh orang kita (Indonesia). Saat ini, mereka sudah ada pula
yang  merintis  usaha  di bidang ini. “Coba lihat di daerah Petamburan
(kawasan  Tanahabang  –red),  di  sana orang kulit hitam ini sudah ada
pula  yang  membuka  usaha  ekspedisi. Malah pekerjanya ada pula urang
awak,” ungkap Syamsulbahri.

Nah, baa ko sanak?! <wisj@> 


--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke