Sebagai bahan renungan 
   
  Salam
   
  Hanifah Damanhuri

"M. Edwin" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  To: [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
From: "M. Edwin" <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Wed, 02 Aug 2006 09:04:46 +0700
Subject: [mtiui97] Hidup cukup

-----BEGIN PGP SIGNED MESSAGE-----
Hash: SHA1

Crossposting.
IMHO ini opini yang bagus. Walaupun mungkin bisa muncul pendapat yang
berbeda.

======================================================================
Bang Uki telah lebih dari 20 tahun berdagang nasi uduk di pinggir
Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Uduk yang sungguh enak. Tiap
pagi puluhan orang antre untuk makan di tempat atau dibawa pulang.
Paling lama dua jam saja seluruh dagangan Bang Uki?ada empal, telur,
semur daging,tempe goreng?ludes habis. Begitu setiap hari, 20 tahun
lebih.

Pertengahan 1980-an, ekonomi Orde Baru tengah menanjak ke puncak
ketinggiannya. Bang Uki, dengan ritme stabil batang pohon cabai yang
terus berproduksi, belanja pukul satu dini hari, masak mulai pukul
dua, berangkat pukul empat, dan seusai subuh telah menggelar barang
dagangnya. Tepat jam tujuh pagi, semua tuntas. Pukul sepuluh, ia sudah
nongkrong di teras rumah, lengkap dengan kretek, gelas kopi, dan
perkutut. "Tinggal nunggu lohor," tukasnya pendek.

Berulang kali pertanyaan bahkan desakan untuk membuka kios terbukanya
hingga lebih siang sedikit ditolak Bang Uki.
"Buat apa?" tukasnya. "Gua udah cukup. Anak udah lulus es te em.
Berdua bini gua udah naik haji. Apalagi?" Pernah sekali penulis
jumpai ia sedang memasak di rumahnya. Langit di luar masih gelap.
Kedua mata Bang Uki terpejam. Tangan- nya lincah mengiris bawang
merah. Saya menegur. Tak ada reaksi. "Abah masih tidur," istrinya
balas menegur.

Kini, 15 tahun kemudian, Bang Uki sudah pensiun. Wajahnya penuh
senyum. Hidupnya penuh, tak ada kehilangan. Kami yang kehilangan,
masakan sedap khas Betawi. Kami sedikit tak rela. Bang Uki terlihat
begitu ikhlasnya. Wajahnya terang saat ia dimandikan untuk kali
terakhirnya. Dua jam berdagang, enam jam bekerja, telah mencukupkan
hidupnya.

Dan Bang Uki tidak sendiri. Nyi Omah juga tukang uduk di Pasar Jumat,
Pak Haji Edeng tukang soto Pondok Pinang, pun begitu. Tukang pecel di
Solo, gudeg di Yogya, nasi jamblang di Cirebon, atau bubur kacang
hijau di Bandung, juga demikian. Mereka yang bekerja dan berdagang
untuk mencukupi kebutuhan hidup. Jika telah cukup, untuk apa bekerja
lebih. Untuk apa hasil, harta atau uang berlebih?
"Banyak mudaratnya," kilah Pak Haji Edeng.

Mungkin. Apa yang kini jelas adalah perilaku bisnis dan ekonomi
tradisional negeri ini ternyata mengajarkan satu moralitas: hidup
wajib dicukupi, tetapi haram dilebih-lebihkan. Berkah Tuhan dan
kekayaan alam bukan untuk kita keruk seorang. Manusia adalah makhluk
sosial. Siapa pun mesti menenggang siapa pun.

Alternatif kapitalisme
Moralitas berdagang "Bang Uki" tentu bertentangan dengan apa yang
kini menjadi moral dasar perekonomian material- kapitalistik. Di mana
prinsip laissez faire atau free will dan free market digunakan tak
hanya untuk memberi izin bahkan mendesak setiap orang
untuk "mendapatkan sebanyak-banyaknya dengan ongkos sesedikit
mungkin". Satu spirit yang nyaris jadi kebenaran universal dan hampir
tak ada daya tolak atau daya koreksinya.

Dan siapa pun mafhum dengan segera, prinsip dan moralitas ekonomi
modern itu bukan hanya melahirkan orang-orang yang sangat kaya,
bahkan keterlaluan kayanya (semacam pembeli Ferrari seharga Rp 5
miliar yang mubazir di Jakarta yang macet), tetapi juga sejumlah
besar orang yang hingga kini tak bisa menjamin apakah ia dapat makan
atau tidak hari ini.

Moralitas kapitalistik hanya menyediakan satu jalur sosial berupa
filantrofisme, yang umumnya hanya berupa "pengorbanan" material yang
hampir tiada artinya dibanding kekayaan bersih yang dimilikinya.
George Soros, misalnya, dengan kekayaan 11 miliar dollar AS (hampir
sepertiga APBN Indonesia), mengeluarkan 400 juta dollar (hanya
sekitar 4 persen atau setara dengan bunga deposito) untuk berderma
dan menerima simpati global di sekian puluh negara.

Dan siapa peduli, bagaimana seorang Bill Gates, Rupert Murdoch, Liem
Sioe Liong atau Probosutedjo menjadi begitu kayanya. Moralitas dasar
kapitalisme di atas adalah dasar "legal" untuk meng- amini kekayaan
itu. Betapapun, boleh jadi, harta yang amat berlebih itu diperoleh
dari cara-cara kasar, telengas, ilegal bahkan atau?langsung dan
tak langsung?dari merebut jatah rezeki orang lain.

Dan siapa mampu mencegah atau menghentikannya? Pertanyaan lebih
praktisnya adalah: Siapa berani? Tak seorang pun. Hingga sensus
mutakhir menyatakan adanya peningkatan jumlah harta orang- orang kaya
dunia sebanding dengan peningkatan jumlah orang yang papa. Belahan
kekayaan ini sudah seperti palung gempa yang begitu dalamnya.

Lalu di mana Bang Uki? Ia tak ada di belahan mana pun yang tersedia.
Ia ada dan memiliki dunianya sendiri. Yang mungkin aneh, alienatif,
marginal, tersingkir, luput, apa pun. Namun sesungguhnya, ia adalah
sebuah alternatif. Bukan musuh, lawan, atau pendamping kapitalisme.
Ia adalah sebuah tawaran yang membuka kemungkinan di tengah kejumudan
(tepatnya ketidakadilan) tata ekonomi dunia saat ini.

Ekonomi cukup
Prinsip "hidup yang cukup" Bang Uki adalah landasan bagi
sebuah "ekonomi cukup", di mana manusia tidak lagi mengeksploitasi
diri (nafsu)-nya sendiri, juga lingkungan hidup sekitarnya. Ia
mengeksplorasi potensi terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia,
sebatas Tuhan?yang mereka percaya?menganjurkan atau membatasinya.
Bagaimana "cukup" itu didefinisi atau dibatasi, tak ada?bahkan tak
perlu?ukuran dan standar. Seorang pengusaha dan profesional dapat
mengukurnya sendiri dengan jujur: batas "cukup" bagi dirinya. Jika
bagi dia dengan keluarga beranak dua, pembantu dua, tukang kebun,
satpam atau lainnya, merasa cukup dengan sebuah rumah indah, dua
kendaraan kelas menengah, mengapa ia harus meraih lebih?
Mengapa ia harus melipatgandakannya?

Apalagi jika usaha tersebut harus melanggar prinsip hidup,nilai
agama, tradisi dan hal-hal lain yang semula ia junjung tinggi?
Andaikan, sesungguhnya ia mampu menghasilkan puluhan miliar tabungan,
sekian rumah mewah peristirahatan bahkan jet pribadi, dapat
dipastikan hal itu hanya akan menjadi beban. Bukan melulu saat ia
berupaya meraih, tetapi juga saat mempertahankannya.

Bila pengusaha tersebut berhasil men- "cukup"-kan dirinya, secara
langsung ia telah mengikhlaskan kekayaan lebih yang tidak
diperolehnya (walau ia mampu) untuk menjadi rezeki orang lain. Ini
sudah sebuah tindak sosial. Dan tindak tersebut akan bernilai lebih
jika "kemampuan lebihnya" itu ia daya gunakan untuk membantu usaha
atau sukses orang lain. Sambil menularkan prinsip "ekonomi cukup", ia
akan merasakan "sukses" atau kemenangan hidup yang bernuansa lain
jika ia berhasil membantu sukses lain orang dan tak memungut serupiah
pun uang jasa.

Maka, secara langsung satu proses pemerataan demi kesejahteraan
bersama pun telah berlangsung. Palung atau sen- jang kekayaan pun
menipis. Kesempatan meraih hidup yang baik dapat dirasakan semua
pihak. Pemerintah dapat bekerja lebih efektif tanpa gangguan-gangguan
luar biasa dari konflik-konflik yang muncul akibat ketidakadilan
ekonomi.

Dan seorang pejabat, hingga presiden sekalipun, dapat pula
mendefinisikan "cukup" baginya: jika seluruh kebutuhan hidupku,
hingga biaya listrik, gaji pembantu hingga pesiar telah ditanggung
negara, buat apalagi gaji besar kuminta? Moralitas seperti ini adalah
sebuah revolusi. Dan revolusi membutuhkan keberanian, kekuatan hati
serta perjuangan tak henti.

Maka, "cukuplah cukup". Kita sederhanakan sebagai prinsip
hidup/ekonomi yang "sederhana". Kian sederhana, maka kian cukup kian
sejahteralah kita. Ukurannya? Yang paling sederhana, usul saya:
semakin tinggi senjang jumlah konsumsi dibanding jumlah produksi kita
sehari-hari, makin sederhana, makin cukup dan sejahteralah kita.
Jika Anda mampu membeli Ferrari, mengapa tak mengonsumsi Mercedes
seri E saja, atau Camry lebih baik, atau Kijang pun juga bisa. Dan
dana lebih, bisa Anda gunakan untuk tindak-tindak sosial, untuk
membuat harta Anda bersih, aman, dan hidup pun nyaman penuh senyuman.

Beranikah Anda? Berani kita? Tak usah berlebih, kita cukupkan saja.

Oleh : Radhar Panca Dahana Sastrawan

                
---------------------------------
Yahoo! Messenger with Voice. Make PC-to-Phone Calls to the US (and 30+ 
countries) for 2ยข/min or less.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke