Waspadalah bila Anda sering mengalami pusing atau sakit di bagian kepala
seperti sehabis terkena benturan benda keras. Jangan-jangan gangguan itu
merupakan gejala awal aneurisma.

Seperti dijelaskan Dr. Eka Julianto Wahjoepramono, SpBS, dari RS Siloam
Lippo Karawaci, Tangerang, aneurisma terjadi akibat menggelembungnya
pembuluh darah di otak. Gangguan ini dapat mengakibatkan kematian
mendadak.

Penyakit darah tinggi atau hipertensi seringkali dihubungkan dengan
terjadinya aneurisma. Emosi yang terlalu tinggi bisa memicu hormon
adrenalin, dan menyebabkan tekanan darah meningkat.

Makanan yang terlalu banyak mengandung garam, durian, daging kambing,
alkohol, juga dapat meningkatkan tekanan darah.

Penderita hipertensi sebaiknya berhati-hati. Jika ternyata menderita
aneurisma otak, emosi yang meletup-letup akan mempercepat pecahnya
pembuluh darah otak.

Namun, hipertensi bukanlah satu-satunya penyebab. Ada banyak faktor yang
melatarbelakanginya, misalnya penggunaan kokain dan pil ekstasi. Faktor
perubahan posisi kepala yang terlalu mendadak, seperti olahraga bungy
jumping, loncat indah, jet coaster, senam yoga pun berpotensi pecahnya
pembuluh darah jika orang tersebut sudah menderita aneurisma otak.

Menurut pengajar di Universitas Pelita Harapan, Tangerang ini, gejala
aneurisma umumnya dimulai dengan rasa nyeri kepala ringan hingga
kejadian koma. Namun, secara klasik tanda serangan aneurisma adalah
sakit kepala yang timbul secara tiba-tiba. Gangguan ini dapat disertai
muntah dan nyeri di bagian tengkuk.

Aneurisma, kata Dr. Eka lagi, disebabkan lemahnya dinding pembuluh darah
di otak. Tekanan darah yang relatif tinggi dapat mendesak lapisan
pembuluh yang lipis, sehingga terjadi penggelembungan.

Wanita-Pria 3:1

Di Indonesia, data akurat mengenai penderita aneurisma belum ada. RS
Siloam Lippo Karawaci, dalam 6 tahun terakhir ini sudah menangani
sekitar 90-an kasus aneurisma. Sekitar 76,8 persen penderita berusia di
bawah usia 50 tahun.

Tingkat ukuran aneurisma sedang mencapai 41,55%, sedang tingkat
aneurisma berat 37,8%. Di Amerika Serikat, tingkat kejadiannya mencapai
10 kasus per 100.000 populasi.

Aneurisma bisa terjadi pada semua kalangan usia, tetapi jarang sekali
menyerang anak-anak. Secara umum, rasio antara wanita dan pria yang
mengidap aneurisma adalah 3:1. Beberapa penelitian menunjukkan 3-5%
penderita sakit kepala yang datang ke gawat darurat di rumah sakit telah
mengalami tahap kerusakan serius, 1% di antaranya mengalami pendarahan.

Akibat fatal penyakit ini bisa dicegah, semisal melakukan check otak.
Pemeriksaan khusus, pertama artheriography otak, yaitu memasukkan zat
kontras melalui gelembung darah. Zat tersebut kemudian akan diserap oleh
pembuluh darah otak, sehingga akan terlihat pembuluh darah yang terkena
aneurisma.

Kedua, Magnetic Resonance Imaging (MRI). Ketiga, Doppler Sonnografi.
Cara-cara di atas dapat mengurangi akibat fatal dari penyakit ini, yaitu
cacat permanen sampai kematian.

Sayangnya, di Indonesia, kesadaran untuk itu masih kecil. Langkah awal,
jika sudah ada gejala sering sakit kepala mulai dari yang ringan sampai
yang berat, kaku pada tengkuk, kadang disertai muntah atau mual,
sebaiknya periksa ke dokter. Apalagi jika sudah terjadi nyeri kepala
hebat yang tidak bisa diobati oleh obat yang dijual bebas, memori
berkurang (bicara kacau), kesadaran menurun, dan kejang-kejang.

Menurut Dr. Eka diagnosis dini sangat penting dalam mencegah kejadian
fatal, seperti kecacatan, bahkan kematian. Hampir 40-50% penderita
aneurisma meninggal di bulan pertama setelah serangan. Sepertiganya
mengalami cacat permanen.

Computerized Tomography Scan (CT Scan) adalah alat utama yang menjadi
pilihan pemeriksaan awal. CT Scan selain mempunyai sensitivitas tinggi,
biayanya dijangkau masyarakat.

"Ada dua cara tindakan yang digunakan dalam menangani kasus aneurisma.
Pertama melakukan clipping atau penjempitan di daerah yang mengalami
pembengkakan, baru kemudian dilakukan pemotongan. Kedua, dengan jalan
embolisasi, yakni memasukkan serat melalui aliran pembuluh darah.
Harapannya, dapat terkumpul pada urat saraf yang bengkak, sehingga
terblokir dan membuat aliran darah menjadi lancar," ungkap Dr. Eka. @
tok    

 

 

Thanks and Regards,

 

Febrita

 

 

 

--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke