Malin Bandaro dan dunsanak2 ysh,
   
  Saya menghargai upaya2 untuk menuliskan sejarah yang ada walau dalam versi 
yang berbeda. Kita harus menghargai berbagai sumber yang ada, bilamana sekarang 
belum saatnya dilakukan sinergi, mungkin generasi berikutnyalah yang akan 
melakukan.
   
  Kembali mengomentari uraian di bawah, ada beberapa hal yang ingin saya 
sampaikan:
   
  Budaya tulis bukannya tidak pernah ada di Minangkabau, tapi memang 
‘dihilangkan’. Saya menduga hal ini berlangsung pada kurun waktu abad 14 hingga 
16. Saya memperkirakan ada suatu upaya besar untuk menghilangkan berbagai 
sistem penulisan, serta berbagai budaya Hindu-Budha lainnya pada masa itu untuk 
suatu alasan tertentu. Saya boleh berasumsi bahwa pada masa inilah dimulai 
dilakukan upaya sinergi sistem kemasyarakatan yang melahirkan sistem adat dan 
budaya Minangkabau yang terwariskan hingga saat ini.
   
  Karenanya falsafah adat nan ampek: adat nan sabana adat, adat yang diadatkan, 
adat yang teradatkan, dan adat istiadat; yang memenuhi syarat babuhue mati dan 
babuhue sintak, dibangun dan dimulai pada masa itu. Dengan kata lain, telah ada 
upaya inventarisasi, kompilasi, verifikasi, dan validasi sistem-sistem nilai 
pada masa itu yang dapat digunakan dalam sistem hidup kemasyarakatan.
   
  Bilamana Hindu-Budha banyak meninggalkan artifak candi, bangunan, dan 
benda-benda lainnya seperti yang dapat dilihat pada berbagai tempat di 
nusantara ini, apakah yang telah ditinggalkan di Minangkabau? Sebenarnya ada 
namun telah ‘dimusnahkan’ pada masa itu, satu-dua masih tersisa seperti yang 
kita lihat pada artifak batu batikam. Namun ada artifak yang jauh lebih besar, 
yaitu persebaran permukiman pada bentangan geomorfologis yang terjejak saat 
ini. Monumen Luhak nan Tigo adalah monumen sejarah terbesar untuk Minangkabau.
   
  Selain itu kemana lagi sistem nilai budaya itu tersimpan? Berbeda dengan suku 
bangsa lain yang banyak menggunakan material benda, orang Minang masa itu 
menatah sistem nilai tersebut ke dalam kata-kata. Itulah yang disebut pitatah 
(tatah). Untuk satu pengertian kalimat dengan kalimat lain ‘dihubungkan’ dengan 
jembatan kata yang disebut patitih (titi). Jadilah pitatah-patitih, atau umum 
disebut sebagai ‘kato’. Untuk menyampaikan pesan berantai dari generasi ke 
generasi digunakan metode yang disebut dengan ‘bakaba’. Bilamana kita melihat 
dalam suatu perhelatan dilakukan pidato-pidato adat, gayuang basambuik kato 
bajawek, sebenarnya adalah tengah berlangsungnya upaya transformasi sistem 
nilai. Saya menilai bahwa ini adalah suatu upaya pewarisan yang luar biasa, 
unique, dan incompatible.
   
  Cobalah pahami pitatah berikut ini, cukup lama saya mencoba memahami bahwa 
ada ajaran Budha di dalamnya:
  latiek-latiek tabang ka pinang
  hinggok di pinang duo-duo
  satitiek aie dalam pinang
  disinan bamain ikan rajo 
   
  Dengan populernya metode bakaba ini, sepertinya budaya tulis kian menyurut di 
Minangkabau. Kedatangan Islam jauh sebelumnya juga tidak menyebabkan orang 
Minang beralih kepada aksara Arab. Tapi orang Minang masa itu bisa ‘membaca’ Al 
Qur-an. Ketika selama dan setelah perang Paderi, mulailah tergerak untuk 
‘menuliskan’ sistem nilai itu yang melahirkan puluhan versi tambo. Hingga 
menjelang akhir abad 19, justru ‘revolusi budaya tulis’ dimulai dan merebak 
dari Minangkabau.
   
  Demikian sedikit pemahaman saya. Wassalam.
   
  -datuk endang


abp malin bandaro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:   Assalamualaikum ww

Nggak usah malu mengakui kalau nenek muyang kito buto huruf (Sangsekerta, 
Palawa etc), kan tidak satupun karya tulis yang telah diwariskan kepada kita 
anak cucunya, bandingkan dengan “wong jhowo” misalnya Mpu Sindok abad 9 dengan 
mahakaryanya ShangHyiang Manikam, Dharmawangsa (981-1016) memerintahkan 
sastrawan istana menyadur kitab Mahabhrata kedalam Bahasa Jawa, Mpu Kanwa 
sekretaris kepresidenan Erlangga (1037) dengan kitab Arjuna Wiwaha, dizaman 
Hayam Wuruk Mojopahit ada pula Nagara Kertagama oleh Mpu Prapanca belum lagi 
kitab Pararaton dan Babat Tanah Jawa entah siapa pula penciptanya 

Wasalam
abp 


 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke