Dunsanak Afda ysh,
Sebelumnya saya mohon maaf dengan sebutan sebelumnya. Di bawah adalah catatan
yang pernah saya kumpulkan 2 tahun lalu mengenai Perang Paderi, melengkapi
informasi yang ada.
Adapun tulisan lengkap akan saya coba kirim via japri. Wassalam.
-datuk endang
Banyak versi mengenai Perang Paderi di Minangkabau. Penulis menemukan catatan
yang cukup rinci mengenai peperangan ini dari catatan Abdul Qadir Djaelani yang
tersimpan dalam milis Apakabar (tahun 2000) di internet, yang diperkirakan
merupakan terjemahan dari arsip yang dimiliki oleh Belanda pada saat itu.
Dengan meringkas, mencocokkan, dan menambahkan dari sumber-sumber lain, riwayat
Perang Paderi ini dapat dibaca sebagai berikut :
1802
3 orang haji yang lama bermukim di Mekah kembali ke Minangkabau, yaitu Haji
Miskin dari Pandai Sikat (Luhak Agam), Haji Abdur Rahman dari Piabang (Luhak
Lima Puluh Koto) dan Haji Muhammad Arief dari Sumanik (Luhak Tanah Datar).
Mereka membawa paham Wahabi (dari Muhammad bin Abdul Wahab 1703-1787) yang
sangat keras dalam menjunjung praktek keagamaan.
1803
Gerakan Paderi bermula di Minangka-bau, dan mendapatkan tentangan yang cukup
keras dari masyarakat. Haji Muhammad Arief akhirnya pindah ke Lintau, Haji
Miskin pindah ke Ampat Angkat, dan hanya Haji Abdur Rahman yang tidak
mendapatkan perlawanan.
Perpindahan Haji Miskin ke Ampat Angkat disambut hangat oleh Tuanku nan
Renceh dari Kamang, Tuanku di Kubu Sanang, Tuanku di Padang Lawas, Tuanku di
Koto Padang Luar, Tuanku di Galung, Tuanku di Koto Ambalau, dan Tuanku di Lubuk
Aur. Mereka berbaiah, kemudian kelompok ini dikenal sebagai Harimau nan
Salapan. Mereka mengharapkan dukungan dari Tuanku nan Tuo di Ampat Angkat;
namun ditolak dan akhirnya mengangkat Tuanku di Mansiangan putera dari Tuanku
nan Tuo sebagai pemimpin. Pada kenyataannya kelompok tersebut dipimpin oleh
Tuanku nan Renceh. Pasukan Paderi ini mengenakan pakaian putih-putih sebagai
lambang perjuangan suci mereka.
Kaum adat menantang gerakan Paderi ini dengan mengadakan perhelatan adat yang
penuh dengan kemaksiatan, seperti : menyabung ayam, berjudi, minum minuman
keras, madat, dan sebagainya bertempat antara Bukit Batabuah dengan Sungai Puar
(sebagian kisah menyebutkan Pandai Sikek) di lereng Gunung Merapi. Tantangan
ini ditanggapi oleh Pasukan Paderi sehingga menyerbu tempat tersebut, dan ini
memulai Perang Paderi (tahap pertama) yang meliputi peperangan antara Pasukan
Paderi dengan Kaum Adat.
1804
Peperangan Paderi berlanjut ke Kamang, Tilatang, Padang Rarab, Guguk,
Candung, Matur, sehingga pada tahun 1804 seluruh Luhak Tanah Agam telah berada
dalam kekuasaan Paderi. Tahun-tahun setelah itu Pasukan Paderi menguasai Luhak
Lima Puluh Koto, dengan tanpa perlawanan yang berarti. Operasi Pasukan Paderi
ke Luhak Tanah Datar mengalami perlawanan yang berimbang, terutama karena di
luhak ini merupakan pusat kekuasaan Kerajaan Minangkabau yang bertempat di
Pagarruyung.
1806
Republik Batavia Belanda berubah kembali menjadi Kerajaan Belanda, tapi masih
dalam pengaruh Perancis. Tahun 1807 Belanda menunjuk H.W. Daendels sebagai
Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Inggris mulai agresif menguasai
wilayah-wilayah jajahan.
1808
Setelah melalui perjuangan yang panjang, pada tahun 1808 dilakukan
perundingan antara Pasukan Paderi dengan Raja Pagarruyung di Koto Tangah. Raja
Sultan Arifin Muning Alam Syah datang bersama staf kerajaan dan sanak keluarga,
sedangkan dari Pasukan Paderi hadir Tuanku Lintau lengkap bersama seluruh
pasukannya. Karena terjadi perselisihan paham antara Tuanku Belo dan staf
kerajaan, akhirnya terjadi pertikaian yang mengakibatkan rombongan raja
terbunuh. Sebuah versi menyebutkan raja berhasil melarikan diri. Beberapa
penghulu dan cucu raja berhasil menyelamatkan diri sampai ke Sijunjung dan
Kuantan Lubuk Jambi. Akibat peristiwa ini Tuanku nan Renceh sangat marah
kepada Tuanku Lintau; begitupun seluruh Luhak Tanah Datar berhasil dikuasai
oleh Pasukan Paderi.
Beberapa waktu setelah itu Tuanku nan Renceh memerintahkan muridnya, Peto
Syarif atau Muhammad Syahab atau kemudian dikenal dengan sebutan Tuanku Imam
Bonjol untuk membuat benteng di Bukit Tajadi sekitar Alahan Panjang. Benteng
dibangun pada areal seluas 90 hektar, dengan tembok setinggi 4 meter dan tebal
3 meter. Lokasi Alahan Panjang ini yaitu di hulu sungai Alai Panjang, sebuah
tempat antara Kota Lubuk Sikaping dan negeri Bonjol, dan pada saat ini berada
di tepi jalan lintas Sumatera.
1812
Hamengkubuwono II ditangkap oleh Inggris kemudian diasingkan ke Padang.
Kaum adat di Alahan Panjang dengan pimpinan Datuk Sati menyerbu Benteng
Bonjol, namun penyerangan ini mengalami kegagalan. Selanjutnya Datuk Sati
melakukan perdamaian dengan Pasukan Paderi, sehingga sejak saat itu Pasukan
Paderi menguasai seluruh Alahan Panjang.
Keberhasilan Tuanku Imam Bonjol, menyebabkan beliau ditugaskan untuk memimpin
Pasukan Paderi di Pasaman. Beliau memimpin pasukan mulai dari Lubuk Sikaping,
Rao, Talu, Air Bangis, Sasak, Tiku, dan seluruh pantai barat Minangkabau
sebelah utara.
1814
Belanda melepaskan diri dari pengaruh Perancis. Inggris setuju menyerahkan
Hindia Belanda kepada Belanda.
1815
Peperangan Paderi di Minangkabau telah menelan korban yang cukup besar.
Pasukan Paderi telah menguasai Pasaman, selanjutnya Pasukan Paderi mengarahkan
perjuangannya ke Tapanuli Selatan. Tuanku Imam Bonjol menunjuk Tuanku Rao untuk
memimpin benteng di Rao, sedangkan Tuanku Tambusai memimpin benteng di
Dalu-dalu.
1818
Sutan Muning Alam Syah (raja Minangkabau di wilayah pelarian) mengutus Tuanku
Tangsir Alam dan Sutan Kerajaan Alam untuk menemui Jenderal Inggris Sir
Stamford Raffles di Padang. Namun Gubernur Jenderal Inggris Lord Minto yang
berkedudukan di Calcutta India menolak campur tangan terhadap permasalahan di
Minangkabau.
1819
Belanda masuk ke Padang. Raffles yang sebelumnya menjadi Gubernur Jenderal
Inggris di Bengkulu dan pindah ke Singapura, mulai menghasut rakyat Minangkabau
untuk membenci Belanda.
Tuanku Pamansiangan di Luhak Agam meminta Tuanku Imam Bonjol untuk menarik
pasukannya dari Tapanuli untuk menghadapi Belanda di Padang. Namun keinginan
ini ditolak oleh Tuanku Rao, Tuanku Tambusai, dan Tuanku Lelo, sehingga Tuanku
Imam Bonjol hanya memantau gerakan Belanda dari kejauhan.
1820
Tuanku nan Renceh meninggal dunia, selanjutnya kepemimpinan Pasukan Paderi
diserahkan secara mufakat kepada Tuanku Imam Bonjol.
Belanda mulai menyebarkan pengaruh di Minangkabau.
1821
Mulainya perang Paderi (tahap kedua) di Minangkabau, yang meliputi peperangan
antara Pasukan Paderi melawan Belanda, yang kemudiannya Belanda dibantu oleh
Kaum Adat. Peperangan sengit berlangsung di 3 tempat, yaitu : Simawang untuk
menyerang kubu Pasukan Paderi di Sulit Air, Air Bangis, dan Lintau. Peperangan
di Air Bangis mengakibatkan Tuanku Rao gugur dalam pertempuran.
Peperangan bermula dari pertemuan 14 orang Penghulu yang mengatasnamakan Yang
Dipertuan Minangkabau mengikat perjanjian dengan Residen Belanda di Padang
bernama Du Puy untuk memerangi Pasukan Paderi, terjadi pada tanggal 10 Februari
1821. Belanda kemudian mengerahkan 100 pasukan dan 2 meriam di bawah pimpinan
Letnan Kolonel Raaff untuk menggempur pertahanan Paderi di Simawang. Dengan
susah payah Belanda akhirnya menguasai Sulit Air, Simabur, dan Gunung.
Belanda membangun benteng Fort de Kock di Bukittinggi.
Belanda memasuki Batusangkar, kemudian membangun benteng Fort van der
Capellen.
1822
Belanda menyerang Pagarruyung, sehingga Pasukan Paderi mundur ke Lintau.
Penyerangan Belanda ke Lintau dapat dipatahkan. Selanjutnya Belanda memblokade
Lintau, dan secara bertahap merebut Tanjung Alam, Koto Lawas, Pandai Sikat, dan
Gunung dalam rangka menguasai Luhak Agam. Tuanku Pamansiangan dapat ditangkap,
selanjutnya dihukum gantung oleh Belanda.
Tuanku Imam Bonjol melancarkan serangan balasan ke Air Bangis, walau gagal,
selanjutnya melancarkan serangan ke Luhak Agam, dan berhasil menguasai kembali
Sungai Puar, Gunung, Sigandang, dan daerah lainnya.
Juli, sekitar 13.000 Pasukan Paderi merebut pos Belanda di Tanjung Alam.
15 Agustus, Pasukan Paderi merebut Penampung, Kota Baru, dan Lubuk Agam.
1823
Dengan adanya tambahan pasukan dari Batavia, Kolonel Raaff melakukan serangan
ke Luhak Agam. Terjadi pertempuran sengit di Bukit Marapalam, kemudian Biaro,
serta wilayah sekitar Gunung Singgalang.
12 April, Belanda mengerahkan kekuatan terbesar sebanyak 26 opsir, 562
serdadu, dan 12.000 pasukan adat untuk menggempur Lintau, namun serangan ini
berhasil dipatahkan.
1824
22 Januari, Belanda melakukan perjanjian gencatan senjata dengan Pasukan
Paderi di Masang. Perjanjian ini hanya berlangsung sebulan, setelahnya Belanda
melakukan serangan ke Luhak Agam dan Tanah Datar. Pada pusat kedua luhak
tersebut, Belanda bertahan di benteng Fort de Kock, yang sekarang wilayah di
sekitarnya berkembang menjadi Kota Bukittinggi. Tuanku Imam Bonjol selanjutnya
memusatkan kekuatan Pasukan Paderi di benteng Bonjol.
17 Maret, Inggris dan Belanda menandatangani Treaty of London, yang membagi
wilayah jajahan : Sumatera, Jawa, Maluku, Irian Jaya, dan sebagainya sebagai
wilayah Belanda; sedangkan Malaya, Singapura, dan Kalimantan Utara sebagai
wilayah Inggris.
1825
Gerakan Paderi telah sampai ke Tapanuli Selatan. Raja Batak Sisingamangaraja
X terbunuh dalam peperangan.
Perang Jawa pecah yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro.
15 Nopember, Belanda mengajukan gencatan senjata dengan mengakui
wilayah-wilayah kekuasaan Paderi yang memang telah dikuasai oleh Pasukan
Paderi. Belanda menarik 4300 pasukannya dari Minangkabau untuk berperang ke
Jawa, dan hanya menyisakan 700 pasukan yang ditempatkan di benteng-benteng
Belanda.
1831
Dengan usainya Perang Jawa, Belanda berkonsentrasi kembali di Minangkabau.
Katiagan sebagai kota pelabuhan Pasukan Paderi dikuasai oleh Belanda. Kemudian
Belanda menguasai Bukit Marapalam.
1832
Belanda berhasil merebut Kapau, Kamang, dan Lintau. Keberhasilan Belanda
dalam berbagai pertempuran serta kekejian yang ditinggalkannya menggusarkan
Kaum Adat. Pada tahun 1832 ini dilakukan perjanjian antara Pasukan Paderi dan
Kaum Adat untuk bersama-sama mengusir Belanda dari Minangkabau. Tempat
perjanjian di Bukit Tandikat di lereng Gunung Merapi. Versi lain yang beredar
umum selama ini menyebutkan tempat perjanjian tersebut berlangsung di Bukit
Marapalam.
1833
11 Januari, dilakukan serangan oleh Pasukan Paderi, Kaum Adat, bersama-sama
dengan seluruh masyarakat kepada Belanda. Serangan ini berhasil memecah blokade
Belanda di Bonjol hingga ke daerah Sipisang dan Alahan Panjang. Sedangkan untuk
wilayah Luhak Agam dan Tanah Datar, belum terdapat koordinasi serangan.
Serangan ini menandai Perang Paderi tahap ketiga, yaitu perang antara Belanda
dengan kesatuan masyarakat Minangkabau.
23 Agustus, Gubernur Jenderal Van den Bosch berkunjung ke Padang, dan
memerintahkan penyerangan besar-besaran ke benteng Bonjol.
10-12 September, Jenderal Riesz memimpin pasukan dan mengerahkan 2.400 rakyat
Lima Puluh Koto, Agam, dan Batipuh yang setia kepada Belanda untuk menyerang
benteng Bonjol. Namun serangan ini dapat dipatahkan oleh Pasukan Paderi.
13-14 September, Mayor de Quay memimpin pasukan Belanda dari Suliki untuk
menyerang basis pertahanan Paderi di Kota Lalang. Serangan ini berhasil dengan
dikuasainya Kota Lalang oleh Belanda. Namun dalam pengejaran di Air Papa,
pasukan Belanda dijebak sehingga meninggalkan korban yang banyak sekali. Sisa
pasukan kembali ke Payakumbuh. Sementara pasukan Jawa dan adat menjaga Kota
Lalang.
11 September, Letnan Kolonel Elout memimpin serangan dari Manggopoh, namun
dapat ditahan oleh Pasukan Paderi. Belanda bergerak mundur ke Kota Merapak,
namun selama perjalanan mendapatkan banyak serangan dari Pasukan Paderi
sehingga meninggalkan banyak korban dan persenjataan.
Serangan Belanda dari utara dipimpin oleh Mayor Eilers dengan kekuatan 80
prajurit. Dalam perjalanannya dari Rao menuju Lubuk Sikaping mendapatkan
bantuan sekitar 2.000 masyarakat lokal, sehingga melanjutkan perjalanannya
sampai ke Bonjol. Tanggal 18 September 1833 pasukan ini telah sampai di Alai,
kurang lebih 2 km dari benteng Bonjol. Peperangan pecah, namun pada tanggal 19
September 1833 pasukan ini dapat dipukul mundur oleh Pasukan Paderi sehingga
meninggalkan korban yang sangat banyak.
21 September, Gubernur Jenderal Van den Bosch menerima pasukannya yang kalah
di Padang, serta mengatur strategi untuk peperangan berikutnya.
25 Oktober, Belanda dan Pasukan Paderi menandatangani perjanjian damai
Plakaat Panjang, namun kemudiannya Belanda ingkar janji.
1834
Belanda berhasil merebut Matur dan Masang. Belanda juga berhasil merebut
jalur pelayaran sungai ke timur yang melalui Sungai Rokan, Kampar Kanan, dan
Kampar Kiri, serta wilayah Pelalawan. Sebenarnya selama tahun 1834 ini tidak
ada peperangan yang terbuka antara Pasukan Paderi melawan Belanda.
1835
16 April, Belanda memutuskan untuk melakukan serangan besar-besaran ke
benteng Bonjol.
21 April, 2 kolonne pasukan Belanda bergerak dari Matur dan Bamban menuju
Masang melalui jalur hutan.
23 April, pasukan Belanda telah sampai di tepi Sungai Batang Ganting untuk
selanjutnya menuju Sipisang. Terjadi pertempuran di sepanjang perjalanan selama
3 hari 3 malam, hingga akhirnya Sipisang jatuh ke tangan Belanda.
24 April, 1 kolonne pasukan Belanda bergerak menuju Simawang Gedang, dan
menghadapi pertempuran melawan 500 Pasukan Paderi. Sementara itu 1 kompi
pasukan tentara Bugis dibantu pasukan adat dari Batipuh dan Tanah Datar
bergerak mengusir Pasukan Paderi di luar Simawang Gedang, sehingga Pasukan
Paderi terdesak hingga ke Batang Kumpulan. Pertempuran besar terjadi, dimana
telah menunggu 1.200 Pasukan Paderi. Dengan bantuan pasukan Belanda, akhirnya
Kampung Melayu dapat dikuasai.
27 April, pasukan Belanda mengejar sisa Pasukan Paderi di sepanjang lembah
terjal dan Sungai Air Taras, namun serangan ini dapat dipatahkan.
3 Mei, dengan adanya tambahan dan konsolidasi pasukan, Belanda melanjutkan
serangan. Namun baru serangan dimulai, Letnan Kolonel Bauer komandan pasukan
Belanda telah terluka terkena ranjau. Pertempuran pecah menjadi perang tanding
yang menguntungkan Pasukan Paderi. Pasukan Belanda bergerak mundur dengan
melakukan bumi hangus.
8 Juni, pasukan Belanda merebut Padang Lawas yang merupakan front terdepan
Alahan Panjang.
16 Juni, pasukan Belanda telah sampai 250 langkah dari kampung Bonjol.
Pertempuran pecah, Belanda menggunakan howitser, mortir, dan meriam besar;
sementara Pasukan Paderi membalas dengan menembakkan meriam dari Bukit Tajadi.
Karena posisi kurang menguntungkan, Letnan Kolonen Bauer meminta tambahan
pasukan dari Residen Francis sebanyak 2.000 pasukan.
21 Juni, dengan tambahan pasukan yang datang pada 17 Juni, Belanda bergerak
maju mengepung benteng Bonjol. Sementara di dalam benteng Bonjol telah
berkumpul komandan-komandan Pasukan Paderi dari Tanah Datar, Lintau, Bua, Lima
Puluh Kota, Agam, Rao dan Padang Hilir yang telah ditaklukkan Belanda.
Pada awal Agustus pasukan Belanda yang telah terkonsolidasi telah mencapai
14.000 pasukan. Pada pertengahan Agustus, dengan adanya tambahan pasukan Bugis,
Belanda mulai melakukan serangan.
5 September, Pasukan Paderi melancarkan serangan ke kubu-kubu Belanda di luar
benteng Bonjol, dan menimbulkan korban jiwa yang cukup besar dari kedua belah
pihak. Pasukan Paderi mengintensifkan perang gerilya.
11 Desember, blokade yang berlarut-larut menimbulkan keberanian rakyat untuk
memberontak, sehingga rakyat Alahan Panjang dan Simpang melakukan perlawanan.
Hanya dengan bantuan pasukan Madura, Belanda dapat memadamkan pemberontakan ini.
Setelah itu Belanda cukup direpotkan dengan pemberontakan rakyat di daerah
taklukkan. Sambil menunggu tambahan pasukan dari Batavia, Belanda mengajak
Pasukan Paderi untuk berunding, namun ditolak Tuanku Imam Bonjol.
1836
3 Desember, dengan datangnya tambahan pasukan dari Batavia, Belanda melakukan
serangan besar-besaran ke benteng Bonjol. Paha Tuanku Imam Bonjol terkena
tembakan termasuk terkena 13 tusukan. Serangan ini berhasil membunuh keluarga
dan anak Tuanku Imam Bonjol. Namun serangan balik dari Pasukan Paderi dapat
mengusir pasukan Belanda keluar dari benteng.
Kegagalan penaklukkan benteng Bonjol memukul Gubernur Jenderal Hindia Belanda
di Batavia, sehingga untuk kesekian kalinya mengirim panglima tertingginya
Mayor Jenderal Coclius ke Bukittinggi untuk memimpin secara langsung serangan
ke Bonjol.
1837
Serangan besar-besaran dilakukan selama 8 bulan lamanya.
15 Agustus, Bukit Tajadi jatuh ke tangan Belanda.
16 Agustus, benteng Bonjol akhirnya jatuh ke tangan Belanda. Namun Tuanku
Imam Bonjol berhasil melarikan diri ke daerah Marapak.
Tuanku Imam Bonjol mencoba mengkonsolidasi pasukannya yang tercerai-berai,
namun hanya sedikit yang masih bertempur.
Melihat hal ini Tuanku Imam Bonjol menyerukan kepada pasukannya yang terserak
di berbagai tempat untuk kembali ke kampung halaman masing-masing untuk memulai
hidup baru sebagai rakyat biasa, dan bila memang benar-benar tak memiliki lagi
semangat juang dibenarkan untuk menyerah kepada Belanda.
Dalam pelarian dan persembunyiannya, Tuanku Imam Bonjol menerima tawaran dari
Residen Francis di Padang untuk mengajak berunding. Setelah menimbang dengan
staf-stafnya, tawaran ini diterima. Tempat perundingan dipilih Palupuh, dimana
Tuanku Imam Bonjol akan bertemu langsung dengan Residen Francis.
28 Oktober, Tuanku Imam Bonjol bersama stafnya keluar dari Bukit Gadang
menuju Palupuh. Namun sesampai di Palupuh, Tuanku Imam Bonjol bersama stafnya
ditangkap oleh Belanda. Dari Palupuh Tuanku Imam Bonjol dibawa ke Bukittinggi,
dan terus ke Padang.
1838
23 Januari, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Cianjur, dan pada akhir 1838
dipindahkan ke Ambon.
Tuanku Tambusai melanjutkan peperangan Paderi, di antaranya melalui
peperangan besar di Dalu-dalu; namun akhirnya pada tahun 1838 ini seluruh
perjuangan Paderi dapat dipatahkan oleh Belanda.
1839
19 Januari, Tuanku Imam Bonjol dipindahkan ke Manado, hingga akhirnya
meninggal pada tanggal 6(8) Nopember 1984 setelah berada di masa pembuangan
selama 27 tahun lamanya.
Afda Rizki wrote:
Mamanda Datuak Endang, Ambo laki-laki Mak :-),
Kalau mamak indak keberatan, dikirimkan saja japri ka ambo. Dek kebetulan
ambo baru sajo gabuang ka milis ko.
sungguah pun baitu, ambo cubo pulo cek ka web, untuak nomor arsip milis nan
mamak agiahkan di bawah
Wassalam,
\\Afda di Duri
--Tobacco Kills
---------------------------------
Do you Yahoo!?
Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail Beta.
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================