Assalamualaikum wr. wb., Terima kasih Arnoldison yang mengenengahkan tulisan mengenai Almarhum Haji Abdul Karim Amrullah atau yang lebih dikenali sebagai Imam Rasul. Saya pernah mempunyai buku kecil tulisan Almarhum Buya Hamka sendiri mengenai ayahnya itu bertajuk "Ajahku." Namun begitu saya telah kehilangan buku tersebut. Saya memang ingin mengumpul sebanyak mungkin maklumat tentang Almarhum. Mungkin para netters ada yang mempunyai maklumat mengenai penahanan Almarhum oleh pihak Belanda, dan kenapa Almarhum memilih untuk menetap di Jawa - bukan balik semula ke Minangkabau untuk meneruskan perjuangannya. Ini semata-mata untuk renungan kita bersama. Wassalam, Idris Talu.
Arnoldison <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Republika, Jumat, 02 Juli 2004 H Abdul Karim Amrullah Penyeru 'Revolusi Jiwa' Nama ulama terkemuka Buya Hamka tentu tidak asing lagi. Sumbangihnya sangatlah besar di bidang pendidikan keagamaan dan dakwah Islamiyah. Akan tetapi, bila menyebut nama Abdul Karim Amrullah, sangat sedikit yang mengenalnya. Padahal dia tidak lain adalah ayahanda dari Buya Hamka. Seperti halnya sang putra, H Abdul Karim Amrullah juga merupakan ulama besar pada awal abad 20. Berasal dari Minangkabau, selama hidupnya beliau telah mencurahkan segala perhatiannya guna mengembangkan dakwah agama di tanah kelahirannya. Masa kecilnya dihabiskan di kampung halamannya yang terletak di desa Kepala Kabun, Nagari Sungai Batang, Maninjau, Agam. Ayahnya bernama Syekh Muhammad Amrullah adapun ibunya bernama Tarwasa. Abdul Karim yang di masa kecilnya diberi nama Muhammad Rasul, mendapatkan pelajaran agamanya yang pertama di desa Sibalantai, Tarusan, Painan. Selama lebih kurang satu tahun, dia belajar Alquran di sana. Pada usia 13 tahun, kembali ke kampung halamannya untuk belajar nahwu dan saraf bersama ayahnya sendiri. Adapun pelajaran selanjutnya dia peroleh di Sungairotan, Pariaman, pada Tuanku Sutan Muhammad Yusuf selama dua tahun. Tahun 1894 tepatnya ketika berusia 15 tahun, ia dikirim ayahnya untuk belajar ilmu agama Islam ke sumbernya langsung di Makkah. Dan di tanah suci, pelajaran agama itu didapatnya dari seorang ulama asal Minangkabau pula bernama Syekh Ahmad Khatib Minangkabau yang waktu itu menjadi guru dan imam Masjidil Haram. Tujuh tahun lamanya ia menimba ilmu. Bersamaan waktunya terdapat pula beberapa putra-putra Minangkabau yang menuntut ilmu di Makkah dan menjadi teman seperguruan. Tercatat diantaranya Muhammad Jamil Jambek serta Taher Jalalludin. Di samping itu, Abdul Karim Amrullah juga pernah berguru pada sejumlah ulama terkenal antara lain Syekh Abdullah Jamidin, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Saleh Bafadal, dan banyak lagi. Usai menyelesaikan masa belajarnya, pada tahun 1901 ia ke tanah air. Pengaruh gurunya, Syekh Ahmad Khatib, membuatnya menjadi seorang yang revolusioner terhadap adat Minangkabau dan kepada tarekat-tarekat di Sumatera Barat, khususnya tarekat Naksyabandiyah. Disebutkan dalam buku Ensiklopedi Islam, bahwa Syekh Ahmad Khatib selama di Makkah, sesuai dengan beberapa pertanyaan yang diajukan kepadanya, sudah menulis sejumlah buku yang mengungkapkan kekeliruan tarekat tersebut. Selama di Makkah, Muhammad Rasul telah menerima pendirian dan sikap gurunya itu dengan baik. Di tahun-tahun awal kedatangannya, Muhammad Rasul kemudian mencoba meluruskan praktek tarekat yang menurutnya tidak ada dasarnya dalam Islam. Upayanya ini tidaklah mudah. Selain karena ulama yang sepaham dengannya tidaklah banyak, juga dia harus menghadapi ulama-ulama yang tak lain adalah pengikut ayahnya sendiri, seorang syekh dari tarekat Naksyabandiyah. Pertentangan paham antara ayah dan anak pun tak terelakan. Kendati demikian, Muhammad Rasul yang saat itu sudah mendapat gelar Tuanku Syekh Nan Mudo, tetap berusaha menjaga hubungan baik dan berbakti kepada sang ayah. Sebaliknya, timbul rasa bangga pada ayahnya ketika mengetahui keteguhan pendirian anaknya hingga menjadi seorang yang pemberani. Beberapa tahun kemudian, Muhammad Rasul kembali ke Makkah untuk menimba ilmu lebih dalam lagi. Akan tetapi, niatnya ini kurang disepakati oleh gurunya, Syekh Ahmad Khatib, lantaran menilai dia justru sudah layak menjadi guru. Anjuran tersebut dipatuhinya hingga akhirnya membuka ruang pendidikan di rumahnya di Syamiah, Makkah. Di antara muridnya adalah Ibrahim bin Musa Parabek dan Muhammad Zain Simabur. Muridnya makin lama makin bertambah banyak. Untuk itu, dia disarankan untuk mengajar di Masjidilharam mengambil tempat di Bab al-Ibrahim. Namun, kegiatan mengajarnya di Masjidilharam ini tidak disukai oleh syeh-syekh Arab waktu itu. Jadilah kemudian dia mengajar di rumah keponakan Syekh Ahmad Khatib. Tak lama dia tertimpa musibah. Istrinya meninggal dunia setelah melahirkan anak keduanya, yang juga meninggal. Sampai selanjutnya usai berhaji tahun 1906, ia pulang ke kampung halaman dan menikahi adik istrinya. Dari istri keduanya itu, Muhammad Rasul memperoleh seorang putra yang diberi nama Abdul Malik. Dikemudian hari, anaknya itu akan dikenal orang sebagai ulama besar yakni Prof Dr Hamka. Perjuangannya untuk meluruskan ajaran tarekat Naksyabandiyah semakin gencar. Dia kian bersemangat menjalankan ide-ide gurunya. Pertentangan dengan para penganut tarekat Naksyabandiyah mencapai puncaknya yang ditandai oleh istilah pertentangan antara 'kaum tua' dan 'kaum muda' (umumnya adalah murid-murid Syekh Ahmad Khatib). Saat itu, Muhammad Rasul telah berganti nama menjadi H Abdul Karim Amrullah. Sekitar tahun 1925, Abdul Karim mengadakan perjalanan ke Jawa dan sempat bertemu dengan HOS Tjokroaminoto dan KH Ahmad Dahlan. Mereka lantas saling bertukar pikiran satu sama lain. Dari situ, dia menangkap kesan yang dibawanya ke Sumatera Barat bahwa Islam perlu diperjuangkan dengan sebuah organisasi yang baik. Hingga pada akhirnya dia mengubah perkumpulannya 'Sendi Aman' menjadi cabang Muhammadiyah di Sungaibatang, kampung halamannya sendiri. Kiprahnya untuk mengembangkan agama Islam di Sumatera Barat sangatlah bernilai. H Abdul Karim banyak mengajar di berbagai tempat, menyiarkan Muhammadiyah di Minangkabau. Selain itu, dia juga peka terhadap penderitaan rakyat kecil dan kerap meluangkan waktu untuk menulis buku. Sesuai prinsip yang diajarkan oleh gurunya, dirinya meyakini bahwa perjuangan di jalan Allah tidak akan pernah berakhir selama hayat masih di kandung badan. Syiar Islam harus dikumandangkan di kalangan manapun dan di berbagi tempat. Berkat semangatnya itu, H Abdul Karim disegani oleh rekan-rekannya sesama ulama. Meski begitu, perjuangannya tadi tidak berkenan di hari para petinggi kolonial Belanda. Dia beberapa kali diasingkan. Pada 12 Januari 1941 misalnya, pernah mendekam di penjara Bukitinggi. Agustus 1941, diasingkan ke Sukabumi. Pemerintah Belanda khawatir dengan pengaruh yang dimiliki H Abdul Karim lantaran dalam berbagai kesempatan, dia selalu melontarkan kecaman terhadap hukum dan peraturan Belanda. Pun pada saat tentara Jepang menduduki Indonesia, dia dengan tegas menolak keharusan membungkukkan badan ke arah timur laut untuk menghormati Tenno Haika. Menurutnya, bagi pemeluk Islam, tidak ada yang bisa disembah selain Allah SWT. Tokoh ulama kharismatik ini di akhir hayatnya memilih tinggal di Jawa. Ia seringkali mengadakan pengajian-pengajian di Jakarta dan Sukabumi. Pengunjungnya selalu ramai. Pada tanggal 2 Juni 1945, Allah memanggilnya dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Jakarta. ( yus ) -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem ========================================================= Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com -------------------------------------------------------------- Website: http://www.rantaunet.org ========================================================= * Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi keanggotaan, silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting * Posting dan membaca email lewat web di http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages dengan tetap harus terdaftar di sini. -------------------------------------------------------------- UNTUK DIPERHATIKAN: - Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply - Besar posting maksimum 100 KB - Mengirim attachment ditolak oleh sistem =========================================================

