Apa yang ditulis oleh sanak vitra dibawah sebenarnya tidak ada yg baru. Sudah 
banyak para orang minang yang menulis seperti ini...
Tapi maaf, saya barangkali punya sudut pandang berbeda dalam hal ini.
Saya merasa tulisan ini sedikit tendensius. Kupasan yang dilakukan terkesan 
sedikit emosional. Yah, sekali lagi maaf. Mungkin bukan salah kita juga yg 
muda2 yg mewarisi versi sejarah seperti ini. Seakan2 peristiwa yg terjadi 
adalah kontradiksi 2 kutub hitam putih. Seakan2 Soekarno vs Hatta, Natsir atau 
rang awak nan lain. Seakan2 yg terjadi rang jawa vs minang, rang jawa nan ka 
manjajah minang. Seakan2 yg terjadi Komunis vs Islam... Daerah vs pusat.. 
benarkah demikian...??

Seharusnya kita juga harus jernih dan jujur melihat sejarah dan fakta2 masa 
itu. 
Para pelaku sejarah ataupun orang2tua hendaknya mau menyampaikan kejadian yg 
sebenarnya: apa yg telah berlaku. 
Jangan kebencian kita terhadap sesuatu kaum membuat kita tidak bisa berlaku 
adil. Pembangunan mercusuar yg dilakukan oleh Sukarno masa itu harus dilihat 
dalam kerangka komprehensif. Benarkah beliau tidak mengerti dan tidak 
mengutamakan ekonomi? Benarkah beliau terlibat dengan komunis...??? Sebodoh dan 
sesombong itukah Sukarno masa itu...???

Ahh... sejarah dipegang oleh penafsiran saja...
Atau, maaf sekali lagi.. kalau benar PRRI adalah pemberontakan daerah vs pusat, 
dan argumentasinya sebagaimana yg telah disampaikan. Pertanyaannya, kenapa saat 
itu para pasukan PRRI memiliki senjata yg sangat moderen dan alat komunikasi, 
darimana datangnya...? sementara TNI senjatanya masih biasa2 saja..? PRRI telah 
memiliki senjata otomatis...? Ada apakah gerangan..?
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pihak asing (Amerika dan Inggris) ikut 
terlibat dalam konspirasi ini...
Apakah memang urang awak indak tahu masalah iko... atau memang pura2 indak 
tahu...??? Kita tidak tahu, siapa yang jadi kuda atau yang diperkuda...

Mohon maaf gaya bahasa ambo nan tembak langsuang. 



Hanvitra <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
  PRRI dan Dampaknya bagi Etnik Minang

.....Ini berkaitan dengan Pemerintahan 
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Pada tahun 1958-1962. Sejumlah panglima 
divisi Banteng dan staf-stafnya yang meliputi Kolonel Ahmad Husein, 
Kolonel Tapanuli, Kolonel Simbolon, bersama sejumlah politisi seperti M. 
Natsir, Sumitro Djayahadikusumo, M. Hatta, dan membentuk Pemerintahan 
Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) yang berkedudukan di Bukittinggi. 
Maksud dari PRRI ini adalah untuk memperingatkan Yang Mulia Presiden 
Soekarno yang sudah bertindak sewenang-wenang. Kecemburuan pusat-daerah 
turut pula memperkeruh suasana. Kondisi pada tahun 1950-an mirip dengan 
kondisi sekarang. Soekarno membangun Jakarta sebagai pusat pemerintahan 
dan membangun proyek-proyek mercu suar seperti Monumen Nasional 
(Monas), Masjid Istiqlal, dan Stadion Gelora Senayan dan sejumlah patung. 
Sementara daerah dibiarkan miskin dan melarat. 
----




"Banyak yang mendengar tapi sedikit yang terpanggil, dan diantara yang 
terpanggil sedikit pula yang terpilih"

                
---------------------------------
Get your email and more, right on the  new Yahoo.com 
--------------------------------------------------------------
Website: http://www.rantaunet.org
=========================================================
* Berhenti (unsubscribe), berhenti sementara (nomail) dan konfigurasi 
keanggotaan,
silahkan ke: http://rantaunet.org/palanta-setting
* Posting dan membaca email lewat web di
http://groups.yahoo.com/group/RantauNet/messages
dengan tetap harus terdaftar di sini.
--------------------------------------------------------------
UNTUK DIPERHATIKAN:
- Hapus footer dan bagian yang tidak perlu, jika melakukan Reply
- Besar posting maksimum 100 KB
- Mengirim attachment ditolak oleh sistem
=========================================================

Kirim email ke